I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Ketemu Mantan


__ADS_3

Acara ulang tahun teman Rara, ramai banget. Dia datang tidak sendirian, dia datang bersama seorang pria tinggi bermata sipit yaitu Dennis.


Awalnya Dennis menolak pergi bersama dengan gadis aneh nauzubillah ini. Sebuah desakan yang tidak lazim dari mulutnya, mau nggak mau dia pun ikut.


Pestanya berkelas, memakai kostum yang berelite banget. Kenapa dirinya dan gadis aneh ini malah datang memakai baju biasa?


Gadis aneh nauzubillah ini melangkah kaki bukan ke dalam rumah itu, melainkan arah lawan berbeda.


"Om, tunggu di sini, ya! Jangan kemana-mana. Gua sebentar saja kok," ucapnya masuk ke toilet wanita.


Kalau dia sih sudah pas banget pakaiannya tidak mencolok, cuma beberapa semata mata meliriknya. Dia sih cuek maut saja deh, tidak pedulikan sepasang mata rubah berkedip - kedip.


"Lee?" suara kaget menyebutkan namanya. Dia pun menoleh arah suara itu, Dennis mendelik matanya lebar penglihatan seseorang wanita berdiri di dampingi oleh seseorang pria yang boleh di katakan lebih sempurna di banding dirinya.


Wanita itu adalah Laura Christy Valencia, mantan kekasih yang baru beberapa hari putus dengan Dennis.


Dennis sendiri terdiam menatap wajah wanita yang terakhir mencintainya, dan berusaha menyakinkan bahwa dia bisa membahagiakan dan membuktikan perasaan kepada wanita di depannya sekarang, Laura.


Tapi, yang dia dapat pertahanan itu runtuh dan harapan untuk kembali menyakinkan kepada Laura, dia bisa membuktikan segalanya.


"Kamu di sini, juga?" tanya Laura kepada Dennis.


Dennis tidak menanggapi, matanya masih tertuju wajah cantik, senyumannya, sikapnya. Hampir buat dirinya gila segala perilaku itu.


"Ini yang tidak aku sukai dari sifatmu. Setiap aku bertanya kepadamu, selalu saja mendiamiku. Kapan kamu berubah, Lee. Apa pertanyaanku seperti radio rusak?" Lanjut Laura berbicara


Dennis masih menatapnya intens, dia seperti orang tuli setiap kata-kata keluar dari mulut wanita yang pernah buat hati tergila-gila hilang kesadarannya.


"Om, sorry lama ya tunggunya..." suara unik keluar dari toilet wanita.


Dennis dan Laura menoleh bersamaan ketika suara membuyarkan lamunan pria bermata sipit itu. Lebih lagi, pria ini berdiri tepat di tengah bayang - bayang dua wanita sekaligus.

__ADS_1


Bedanya adalah kedua mata Dennis tidak berkutik sama sekali, karena penampilan gadis aneh nauzubillah ini sangat berbeda saat datang bersamanya.


Gaun hitam, benaran Dennis terpukau dengan apa dia lihat. Sosok gadis aneh nauzubillah penampilan absurd menjadi putri salju.


Sementara Rara memperhatikan dirinya sendiri ada yang salah dengan gaun ia pakai. Tidak ada sih, semua oke.


"Kenapa sih, Om? Lihati Rara seperti itu? Jelek, ya?" cicitnya mendekati Dennis tepat di depannya.


"Eng-nggak!" responsnya, Laura sendiri mengerut keningnya.


Siapa gadis ini? Kok...


"Kalau gitu, yuk! Mereka sudah menunggu kita!" Senyumnya si Rara menjepit kan lengan Dennis tanpa ada rasa malu.


Dennis sih bagaikan anjing peliharaan menuruti kemauan majikannya. Laura ada di posisi berdiri melongo tidak percaya yang dia lihat tadi.


Lee tersenyum?


"Hei, Ra!" sapa cewek tomboi rambut berwarna hijau hitam.


"Hai," sambutnya ramah.


"Sendirian saja, lo! Katanya bawa gebetan! Mana nih?" tanya sedikit menyindir.


"Ada, ini?" Eh... Rara ke carian sosok pria tinggi bermata sipit menghilang dari pengawasannya.


"Loh, kemana sih, dia! Iihh... sudah di bilang jangan kemana-mana!" merepet nya si Rara.


"Kenapa, lo!" tanya temannya heran-heran "gua cabut dulu ya! Mau cari dia, takut nyasar..." sambungnya meninggalkan teman-temannya.


Rara melangkah kakinya begitu cepat, untung dia pakai sepatu rata kalau tinggi benaran bermasalah banget deh pokoknya.

__ADS_1


Dennis tengah berdiri di salah satu tempat yang mungkin sejuk dan tenang. Di dalam sana terlalu ramai, dia tidak menyukai suasana kebisingan.


"Sendirian?" Dia menoleh belakang, Dennis tersenyum.


"Soal ucapanku tadi, maaf ya! Aku tidak bermaksud..."


"Tidak apa-apa, kamu boleh ungkapkan semuanya rasa kekesalanmu itu. By the way, siapa pria bersamamu? Apa dia tunangan atau calon suamimu?" potong nya.


Laura senyum ciut, "Dia, tunanganku, setelah hubungan kita putus, aku sudah menjalani hubungan dengan nya selama dua tahun. Ketika kamu pergi tanpa beri alasan yang jelas."


"Begitu, ya! Maaf, kalau aku tidak bisa memberikanmu segalanya, kamu pasti kecewa banget setelah aku pergi tanpa berikan alasan sesungguhnya," kata Dennis


Laura tidak melanjutkan perkataan dari pria yang pernah berikan cinta kasih tersebut.


"Lalu kapan menikah?" Dennis bertanya kembali.


"Sebenarnya aku..."


"Om Oli...!" suara teriakan dari belakang menghentikan percakapan dua manusia dewasa ini.


Dennis menoleh, dan mendapatkan sosok mungil, cebol, tengah melangkah kaki tergesa-gesa sekaligus menenteng sepatu rata tanpa alas kaki di sana.


"Om ini ya! Kan Rara sudah bilang jangan suka hilang-hilang kayak jelangkung saja! Datang tak di undang pulang pun tak di antar!" ngomel Rara, tidak peduli dengan kaki ayamnya.


"Maaf."


"Maaf, maaf! Gara-gara, Om ini! Lihat sepatu buntut Rara terbelah dua! Bikin malu sama teman Rara, jadinya!" merepet belum berhenti di tunjukin sepatu telapak kakinya terbuka mulut buaya.


"Ya sudah, nanti kita beli yang baru." ucapnya pelan.


Laura masih perhatikan pasangan itu, sepertinya Dennis akan berubah ketika kehadiran gadis aneh nauzubillah ini.

__ADS_1


__ADS_2