I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Sebelas Dua Belas


__ADS_3

Dennis tengah mengisap rokok dalam - dalam dan di hembuskan secara perlahan-lahan. Serasa plong dengan sebatang tembakau ini.



Tengah memikirkan sesuatu yang sulit di lupakan. Hari sabtu malam minggu bukan tipe pria dalam keadaan galau seharusnya jalan-jalan ke klub-klub minum bir buat pikiran yang penat hilang.



Jauh beda dengannya malam ini dia butuh menyendiri membuang masa lalu telah terkhianati.



Laura...



Itu terus yang di ingat nama wanita terngiang di dalam ingatannya. Parasnya benar buat dirinya sulit untuk melupakan setiap hari.



Ketika kedua mata baru saja terpejam ponsel miliknya yang paling canggih IPhone berbentuk apel itu. Berdering nyaring seluruh kamarnya.



Di lihat layar ponsel segi empat nomor tidak diketahui +628777222019 ... memanggil. Di abaikannya panggilan itu. Dia milih untuk kembali memejam matanya. Datang lagi ponselnya berbunyi.



Dia mendecak kesal, "Halo!" jawabnya ketus.



"Halo, Om Oli..." suara dari seberang itu Rara.



Bagaimana bisa gadis aneh ini mendapatkan nomor teleponnya. Dia bangun dari tidurannya itu. Masih tersambung.



"Hayo... Om heran ya, kenapa gue bisa tau nomor telepon lo," suara manja masih tersambung.



Dennis tidak menanggapi sambungan itu. Benar aneh, sebenarnya mau gadis ini apa sih? batinnya dalam hati. Dinyalakan speaker panggilan itu.

__ADS_1



"Om, Halo... Om oli... lah, mati ya? jangan mati dulu, kalau mati kasihan napasnya." celoteh Rara di seberang.



Dennis malah masuk bathroom bersihkan diri. Suara ponsel di seberang masih berkicau.



Kebalikan di kamar Rara sendiri, tengah mengoceh bagaikan radio rusak.



"Om... halo... Om... ihh... ini orang, lagi ajak bicara juga. Sebal!" di matikan ponselnya kemudian dia bangkit dari tempat tidur. Keluar dari kamar menuju kamar kedua orang dewasa.



"Papa, Rara mau tanya..."



Ceklek.




"Ups! Sorry, Pa. Nggak kelihatan, kok!" serunya membalikkan tubuhnya di balik daun pintu.



Kok mukaku merah begini. Ya ampun, itu, kan papa sama mama memang sudah lakuin begituan. Tapi kok... Ya Tuhan... buang jauh-jauh godaan setan maut...



"Ada apa, Ra?" tanya Edy sudah rapi dengan pakaiannya.



"Eh... itu pa, aduh... Papa ini sudah tua masih juga kawin-kawinan. Nanti Rara kasih cucu deh untuk Papa mama." ceplos tanpa berpikir.



Edy melotot, apalagi Nella, "huss... mulut kamu ini!"

__ADS_1



Rara cengiran, "Btw, enak nggak begituan, Pa, Ma?" Rara bertanya to the point



Edy sama Nella saling bertatapan seling berganti, "Seperti kamu akan belah durian," jawab Nella kemudian.



"Hah? Belah durian? Memang sakit belah durian? Kok Rara baru tau." betapa polosnya si Rara.



"Nanti kamu sudah berumur dua puluh tahunan, pasti mengerti apa itu belah durian," ucapnya si Edy.



"Loh, memang kenapa, Pa? Kenapa harus tunggu Rara berumur dua puluh tahunan. Sekarang belum boleh tau, ya?"



Edy menggaruk jenjang lehernya tidak gatal sementara Nella pura-pura menggaruk hidungnya tak gatal itu.



"Ya memang sudah begitu zamannya. Pokoknya sekarang kamu belajar untuk masuk perkuliahan," kata Edy



"Kuliah lagi, bosan ah, Pa. Rara mau kerja saja sekalian lihat Om Oli..." Dua alisnya naik turun senyum paling aneh buat Nella mengerut dua alisnya.



"Om Oli? Siapa itu, Pa?" Nella balik bertanya kepada Edy.



"Itu loh, Ma, Om Oli yang kerja di kantor hotel papa, bagian General Manager. Orangnya tinggi kayak tiang listrik, terus dia itu benaran manusia paling tidak peka. Lalu dia itu super cuek banget setiap Rara ajak ngobrol, di acuhi terus. Benaran tipe Rara deh, Ma. Apalagi kalau lihat muka dia, Rara benaran ingin tarik itu kedua pipinya biar senyum sedikit gitu." Terangnya menjelaskan kepada Ibundanya.



"Maksud kamu Om Dennis?" tebak Nella


__ADS_1


Rara mengangguk cepat sangat cepat, Nella menepuk jidatnya. Apa lagi Edy masuk ke kamar sifat anak sama ibunya nggak jauh beda sebelas dua belas.



__ADS_2