
Keesokan harinya Rara menjerit luar biasa kamar sendiri membuat sebagian ada di rumah minimalis terperanjat bangun berhamburan keluar kamar masing-masing.
"Ada apa, Rara!" pintu terbuka lebar oleh Nella kemudian disusul oleh Edy sedangkan Dennis membuka pintu ada didalam pintu kamarnya.
"Nggak ada apa-apa," respons kemudian memasang wajah polos.
Padahal yang lain sudah jantungan dengan teriakan petir recehannya, Dennis yang masih keadaan mengantuk rambut berantakan wajah kusut, sedangkan Nella dan Edy mesraan di kamar tertunda kembali.
"Om, ke sini deh!" Rara memanggil pria bermata sipit mendekat. Dennis hanya menurut saja.
Nella dan Edy kembali ke kamar melanjutkan aktivitas mesraan. Pria itu duduk di tepi ranjang ukuran sedang.
"Om, pernah merasakan belah sesuatu nggak?" pertanyaan macam apa itu, pagi-pagi buat otak pria ini bangun penuh semangat.
Cuek-cuek begini ternyata Dennis memang tipe mesum juga. Pantas saja Laura tidak tau sifat aslinya, takut di sebut pria nafsuan. Terus bagaimana dengan Rara, gadis remaja polos ini. Masih tetap mau jadi istri masa depannya.
"Memangnya kenapa dengan belah? Kamu mau aku belah sekarang? Nggak mau tunggu menikah dulu? Sudah nggak sabaran?" Dennis malah balik bertanya.
Rara langsung menciut bibir dalam-dalam , dia yang bertanya malah di balik pertanyaan itu.
"Jawab dulu pertanyaan Rara, baru Om beri pertanyaan itu suka banget alih pembicaraan, huh!" Dilipat kedua tangan dan membuang muka karena kesal sama pria bermata sipit itu.
Dennis jadi malas menjawab, dia menguap lebar lalu bangun dari tempatnya. Rara menoleh lalu lirik perilaku calon suaminya itu.
Iihh... Om Oli kok resek banget sih! Dasar Mr. Cuek! Sebel ... Batinnya kesel pada diri sendiri.
"Om, mau kemana?" Rara bertanya lagi Dennis menoleh "mau mandi," jawabnya
"Jawab dulu pertanyaan Rara tadi baru mandi!" Gadis itu turun dari ranjangnya yang benar menyesakan, entah berapa lapis selimut di sana.
"Nanti baru dijawab, Om mau boker dulu," ucapnya berlalu pergi tidak menghiraukan gadis itu mengoceh dan mengikuti dia dari belakang.
__ADS_1
"Om, jawab dulu pertanyaan Rara! Ih, sebel kumat lagi cueknya!" merepet Rara.
Dennis yang tidak sengaja atau memang disengaja. Pintu tembus dari kamarnya tertutup sendiri, membuat benturan keras terkejut kembali oleh pria bermata sipit itu.
BUK!
"OM OLLLLIIII...!!! SAKIIITTTT...!!!" teriakan kembali terdengar sekarang ini lebih keras.
Rara terbentur daun pintu yang keras dan tebal dibandingkan dengan kepalanya itu. Dennis benar tidak sengaja, salahkan pintunya sendiri kenapa bisa tertutup tanpa perintahnya.
Beberapa menit kemudian, suara tangisan dari kamar gadis remaja masih terdengar. Dennis terpaksa cuti satu hari mengurus gadis aneh nauzubillah ini. Dapat hukuman benar menyedihkan.
"Sudah jangan menangis lagi jelek tuh mukanya," hiburnya si Dennis kepada Rara.
"Biarin jelek! Om nggak sayang sama Rara!" cecar nya makin bersalah kan Dennis nya.
"Ya, aku kan sudah minta maaf, masa salahkan Om lagi, sih? Seharusnya salahi pintunya dong kenapa bisa ketutup sendiri," ucapnya mengobati benjolan pada keningnya.
"Percuma salahi pintunya sama-sama cuek juga! Rara kan cuma minta jawaban dari Om pakai acara pergi!" ngambek mulai kumat lagi, kalau gadis remaja ini sedang keadaan ngambek Dennis nggak bisa apa-apa cukup diam seribu bahasa.
"Ya itu kan beda dengan pertanyaan Rara. Memang belah itu hanya satu jawaban saja, kan banyak, Om."
"Bedanya di mana?" Dia selesai mengobati benjolan kening gadis remaja itu.
"Bedanya itu antara belah roti sama belah buah-buahan," jawabnya.
"Yang penting belah, kan? Sama saja dong."
"Iih ini Om beda loh, sini deh, Rara kasih tau."
Dennis duduk lebih dekat mungkin jaraknya hanya beberapa senti saja. Tetap tidak buat gadis remaja ini gugup, grogi, atau jantungan deh. Beda lagi dengan pria saat ini sedang memperhatikan celotehnya gadis yang bentar lagi jadi istrinya.
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Jantungnya itu terus berdebar apalagi nafasnya menggebu-gebu tidak beraturan aneh saja rasanya benar buat suasana ingin segera mengakhirinya.
"Om, dengari Rara penjelasan nggak sih?" Rara malah memiringkan kepalanya menatap wajah pria sipit itu tidak mengedipkan sedikit pun kedua matanya.
Nella dan Edy baru saja pulang dari pasar belanja beberapa sayuran untuk masak nanti siang dan malam, tidak lupa dengan es krim kesukaan putrinya.
Ke guncangan kembali terjadi kamar milik Rara, teriakan itu benar buat para penghuni mengikat jantung masing-masing.
"Om sakit!" Suara Rara tidak ada beda dengan teriakan Nella
"Maaf, Om nggak sengaja!" jawabnya
"Nggak mau tau, Om tanggung jawab!"
"Iya, Om tanggung jawab, sudah diam dong!"
"Gimana mau diam, sakit ini!"
"Ya sudah sini Om cium biar nggak sakit lagi,"
Suara mereka benar buat dua dewasa tua itu kesemsem. Saling menatap bergantian, Edy jadi teringat masa mudanya waktu barbar istrinya itu.
"Sepertinya, bakalan dapat cucu banyak nih, Ma," gombal si Edy
"Husss... Papa ini, sabar sedikit lah, belum juga menikah."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Ma. Nyicil lebih bagus."
Nella senyum-senyum juga nggak sabar menimang cucu. Rasanya bagaimana kalau benaran punya cucu imut. Tidak bisa bayangi.