I Love Mr. Cuek

I Love Mr. Cuek
Ciuman Pertama Didi


__ADS_3

Sampai dirumah Rara segera turun dari mobil Marcello. Dia memilih kabur lebih dulu sebelum diikat oleh dua lelaki gila itu. Suara Rara paling heboh diantara para penghuni rumah ini.


"Aku nggak mau! Kak Didi... Tolong Rara!" teriaknya mencari sosok cowok tengil itu. Didi lagi berenang sama kakak kembarnya.


Dennis malah santai berjalan masuk kedalam rumah minimalis itu. Didi yang tengah telanjang dada hanya dibaluti oleh handuk melingkar dipinggangnya berotot terlihat jelas kotak-kotak sejajar disana.


Gadis aneh itu mendadak berhenti bukan dibantu sesuatu harus membuatnya bertabrakan dengan lelaki paras biasanya namun imut itu.


Gedebruk!


Gadis remaja aneh membuka matanya terperanjat mundur tidak sengaja mencium bibir lelaki itu tak lain adalah sahabatnya sendiri. Ini hanya insiden mendadak saj. Pria bermata sipit sangat jelas menyaksikan adegan kedua matanya sendiri. Rahangnya mengeras, cemburu lagi dirinya.


"Aduh...! Sorry, kak! Kakak nggak apa-apa, kan?" Rara malah tanya keadaan Didi.


Didi tersenyum tipis melebar senang dicium sama cinta pertamanya walau bertepuk sebelah tangan.


"Nggak apa-apa," jawabnya pelan.


Didi mengkhayal aneh bagaimana kalau benaran ciuman ini adalah terakhir dari gadis absurd itu. Apa kata dunia ciuman pertama dan terakhir meskipun sakit tetap ini bahagia sekali.


"Kak Didi kenapa sih? Dari tadi senyum-senyum terus awas kesurupan loh bisa-bisa Rara lempar Kak Didi kolam busuk!" Mengoceh gadis absurd ini.

__ADS_1


"Senyum karena bahagia saja, bolehkan?" ucapnya mendekati wajah gadis absurd ini. Sepasang mata mengkilat siap untuk membunuh sasaran musuh.


"Bahagia sama siapa?" tanyanya si gadis absurd ini. Rara belum menyadari atau pura-pura polos sih. Seseorang duduk tengah mengawasi dan memantau dua remaja tengah bercengkerama mesraan.


Lelaki imut ini senyum semakin gila, dia tahu kalau calon suami sahabatnya itu sedang diambang cemburu. Menyenangkan memang cemburu dengannya itu bisa dibuktikan kalau pria itu benar tulus sama sahabat absurd ini. Ide Marcello benar gila, kenapa harus dia jadi pelaku pertama untuk korban ini..


Nah, Marcello dan Dina kemana ada yang tahu? Tentu nggak ada yang tahu kemana mereka. Dina itu lagi mengincar dambaan hati dari playboy tampan itu, Marcello.


Diam bukan berarti nggak ketahuan, Marcello menyadari seseorang tengah mengintip setiap gerak - gerik sehari-hari. Ide gilanya lagi cowok sinting ini mencoba membuka baju dikamarnya sendiri. Dina masih setia mengintip sampai mimisan pun terjadi.


Oh my... Oh my... itu... benar gila...


Cewek tomboi itu terperangah makin sulit bernapas, darahnya semakin mengalir dari pangkal hidungnya. Rasanya dia benar ingin pingsan, semakin banyak mengeluarkan darah maka tekanannya pun menurun.


"Kamu nggak apa-apa?" suara serak basah menajamkan telinga cewek tomboi itu. Bluusshh!


"Hei! bangun! Ya ampun..." Marcello malah panik sama cewek tomboi ini. Terpaksa bawa dia ke kamarnya. Merepotkan banget kalau ketemu sama cewek kayak begini.


Kembali gadis aneh absurd itu... Dennis menahan amarah, sangat malahan. Tidak tahan dengan sikap cowok tengil itu semakin aneh saja. Dia pun bangkit dari duduknya kemudian menghampiri dua remaja aneh bin ajaib itu.


"Kalah lagi!" Rara lesu memajukan wajahnya siap untuk dicium oleh sahabat baiknya itu.

__ADS_1


Didi mulai mendekati wajahnya untuk mencium, tiba seseorang muncul tanpa diundang. Pipi pria mata sipit itu mengenai bibirnya cowok tengil. Didi terkejut tentunya sebaliknya denganĀ  Rara juga makin kaget sejak kapan calon suaminya ada di sini.


"Jangan coba nodai pipi calon istri ku, kalau mau cium cukup pipiku saja!" ucap Dennis tegas menghalangi batas kedekatan dua remaja ini. Pria mata sipit itu duduk ditengah mereka berdua.


"Lah, kok Om Oli duduk di sini? Kayak mana kami mainnya?" protes gadis aneh ini.


"Main saja tidak ada pengaruhnya. Pokoknya Om tidak suka kalau dia cium kamu, cukup sekali bibirmu ternoda olehnya. Siap-siap nanti malam hukuman berlanjut!" balasnya dan memperingatkan kepada gadis aneh itu.


Rara mengernyit kedua alis, "Hukuman apa? Memang Rara ada janji apa sama Om Oli?" tanyanya


Dennis mulai membisikkan di telinga gadis aneh ini dua bola matanya melebar dan menatap sahabatnya itu, Didi mengankat kedua bahunya.


"NGGAK MAU! OM OLI MESUM!" pekik Rara histeris.


Dennis beranjak berdiri kemudian mengangkat tubuh mungil itu dari posisi duduknya. Didi malah melambaikan tangannya mulutnya seperti mengucapkan sesuatu. Rara makin membayangkan bagaimana kalau itu terjadi.


"Om Oli turunin Rara!" teriaknya lagi, Dennis tetap membawa gadis aneh masuk ke kamarnya.


"Om Oli mesum! Rara nggak mau!" masih berteriak gadis itu.


Padahal dalam hati dia penasaran seperti apa sih permainan dari Dennis semesum otak pria dewasa itu.

__ADS_1


__ADS_2