
Pagi yang sangat indah dan cerah seperti wajah ceria gadis belia dipenuhi oleh suara recehan dimana-mana.
"Pagi, Papa, Mama, Om Oli...!" sambutnya dengan suara kebahagiaan.
Nella dan Edy terdiam bengong memperhatikan sikap aneh dari putrinya saat menyambut mereka, ciuman pagi untuk pria tinggi bermata sipit itu tidak memberikan ekspresi apa pun.
"Pa, putri kita kenapa jadi aneh begini? Kok main cium - cium segala sama Lee?" Nella bertanya kepada suaminya.
"Namanya juga lagi bahagia. Bilang saja kamu juga mau di cium seperti putri kita, kan?" lirik Edy beri kode kepada Nella.
"Iih, apaan sih, Papa ini. Ingat umur sudah tua, jangan mulai mesumnya!" balas Nella senyum malu, padahal juga mau dianya.
"Mesum juga karena kamu, kalau dulu nggak asyik pancing Papa. Papa juga nggak bakal tergila sama barbar-mu."
Perdebatan dua manusia dewasa di meja makan bukan hal biasa malahan sudah terbiasa. Lalu bagaimana dengan pasangan baru yang lagi di ambang kebahagiaan.
Dennis duduk dengan sikap cueknya kembali, sementara Rara suka jaili pria bermata sipit itu. Untuk hari ini Dennis tidak ke kantor.
"Om, senyum kek? Kok jadi serius begitu. Apa semalam ciuman hot-hot itu hanya mimpi ya!" Rara mulai mengoceh tidak jelas itu.
Dennis lagi fokus sama kegiatan kerja di laptop. Sangat terganggu sama ocehan gadis remaja ini. Dia lagi serius sesuatu tidak bisa tertunda, banyak email masuk di websitenya.
Rara ikut fokus memperhatikan sebuah grafik berwarna itu. Ada beberapa angka di sana tercantum di garis dekat grafik itu. Dia pernah melihat bentuk grafik itu biasanya sebuah saham atau grafik turunnya emas kurs dollar.
Pusing untuk gadis remaja itu, dia bangkit duduknya pergi meninggalkan tempat ruang santai.
Sudah hampir satu jam sosok mungil, cebol tidak kunjung kembali. Dennis menutup laptopnya lalu bangkit dari duduk membawa laptop tipis itu. Mencari gadis aneh bin ajaib. Rumah sebesar ini benar sepi, Nella dan Edy sedang keluar jalan-jalan berdua ingin bermesraan kembali jaman muda lagi.
Gadis aneh itu lagi menikmati es krim alice selalu belikan oleh Mamanya yaitu Nella. Nella sudah tua pun tetap masih belum bisa lepas dari es krim nya. Es krim jagung dan durian. Kalau Rara malah suka dengan es krim semangka sama melon. Rasanya tidak jauh bedalah dengan merah bintik hitam.
__ADS_1
Duduk sendirian itu paling menyenangkan buat dirinya. Merasa seseorang ikut bergabung di sini.
"Masak masak sendiri
Makan makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurpun sendiri
Cinta aku tak punya
Kekasihpun tiada
Semuanya tlah pergi tak tahu kemana
Hidup terasa kaku bagaikan angka satu
Pria bermata sipit tengah menyanyikan lagu zaman dulu. Buat gadis remaja ini melirik sebal, tetap tidak dipedulikan pria yang galau gemalau, yang penting es krim tidak boleh meleleh atau pun cair.
"Sedih banget, diriku di cuekin sama Mrs. Absurd, sakitnya itu di sini..." tawanya si Dennis kalau lagi gombali gadis aneh itu.
"Kok aku ngerasa ada yang nyamuk di siang begini sih, pasti lagi bergado sama lalat betina. Pindah ah," ujarnya bangun dari duduknya pura-pura tidak tau kalau Dennis coba di perhatikan sama gadis cebol ini.
Bukan itu saja, tempat yang di duduki pria bermata sipit kurang dalam. Di tepi banget sehingga dia terjatuh ke samping. Tidak di sengaja oleh gadis absurd itu. Benaran itu pantat Dennis sakit sebelah.
Rara yang darotadi menahan tawanya berhasil mengerjai Om Oli. Dennis benar malu banget, dia bangun menunjukkan muka jengkelnya.
"Kamu ... jangan lari...!"
__ADS_1
Di kejar nya lah gadis itu oleh Pria bermata sipit. Haduh kembali main kejar - kejaran. Sepertinya masa kecil pria bermata sipit itu suram banget.
"Wlek! Coba saja tangkap Rara!" menjulurkan lidahnya, mengejek Om Oli yang sudah ngosh-ngoshan belum bisa menangkap gadis cebol ini.
Gila, terbuat apa sih tenaganya, kecil-kecil cabe rawit larinya macam angin topan! Capek juga! keluh Dennis dalam hati.
Dia berhenti sejenak mengatur kan napasnya terlebih dahulu, mengumpulkan tenaga yang hanya tinggal sisa setengah. Lalu si Rara bosan menunggu dia pun mencoba mendekati pria yang tengah duduk menghirup angin sepoi siang menjelang sore.
Ketika Dennis berdiri dari duduknya, Rara refleks lari terbirit-birit kayak melihat setan. Tidak sempat menghindar benda mati di tabrak membuat kaki gadis itu menjerit kesakitan. Berbunyi tulang bagian tumitnya.
Langit sudah menampakan diri menjadi warna gelap, wajah kesakitan serta di campuri suara isak tangisan dari gadis belia aneh bin ajaib itu.
Pria yang duduk di sebelahnya perlahan mengompreskan kakinya dengan air dingin, mata kakinya bengkak, terkilir akibat berkelahi dengan batu besar dan pasukan batu kecil.
"Hiks ... ini gara-gara, Om Oli ..." Masih bisa mengomeli Dennis lagi.
"Kok, Om sih yang kamu salahkan? Salahkan batu sama kerikilnya, bukannya kamu lagi berkelahi dengan mereka?" bantahnya setia mengompres kakinya.
"Kok, Rara sih, Om, salahi? Rara mana tau kalau batu sama kerikilnya ada di sana. Pasti Om sengaja taruh biar Rara jatuh! Ayo, ngaku! Kalau nggak nanti Rara benaran cium Om, loh." Ancamnya.
Pakai acara pancing pula si gadis cebol ini. Tentu Dennis nggak keberatan di cium sama dia. Malahan nanti kewalahan dia-nya kalau di cium.
"Eh, nggak deh.. Kalau Rara cium, Om keenakan," ditariknya lagi kata-katanya.
"Nggak masalah, kalau kamu mau cium. Asal jangan minta lebih, ya!" jailnya senyum kemenangan.
"Apaan sih! Ogah! Siapa mau minta lebih," di tarik kakinya dari pangkuan pria itu.
Dia lupa kalau kakinya itu masih sakit dari terkilir nya. Teriakan petir dari gadis aneh bin ajaib itu siap menjerit. Sunyi dan sepi hanya suara jangkrik bersembunyi di semak-semak pada malam hari. Tak hanya itu dua manusia dewasa bungkam menonton gratis tanpa sensor.
__ADS_1
"Pa, sepertinya Mama mengantuk, kita tidur saja, yuk!" ajaknya, "Iya, Papa juga." lanjutnya.
Di atas kepala sepasang baru yang di landa bumbu cinta. Telah di saksikan oleh Bintang dan Bulan serta jangkrik berikan nyanyikan merdu.