
Akhirnya di tunggu – tunggu telah tiba juga gadis ABG berusia delapan belas tahun akan segera menjadi seorang nyonya besar dengan impian menjadi istri paling muda di keluarga Kusuma. Pada awal pertemuan itu tidak sengaja oleh gadis pendek – cebol – putih – aneh bin ajaib – somplak - gemas – suka membuat orang harus tepuk jidat dengan tingkah absurd tidak beda dengan ibunya yaitu Nella.
Gadis ini sekarang mengena baju pengantin pernah dia pakai dan dibawa pulang langsung ke rumah gara-gara melakukan aktivitas gulat di kamar. Memang paling aneh pasangan calon pengantin ini. Namun mereka merasa terhibur oleh sikap absurdnya membuat suasana di rumah semakin bahagia dan penuh canda tawa.
"Sudah selesai," ucap Dina mendandani wajah sahabatnya itu
Gadis itu membuka kedua matanya perlahan dan merasa buram karena terlalu lama memejam mata saat dihias oleh sahabat kecilnya yaitu Dina. Sementara Didi, Marcello, keluarga lainnya menyambut para tamu yang hadir di pernikahan Tiara Adilla Kusuma & Dennis Lawendra Lee.
Pengantin pria sedang bercengkerama dengan rekan bisnis kerja dan beberapa para sahabat yang ikut datang hadir rela turun ke Indonesia demi acara selamatan. Mereka itu datang mengira Dennis akan menikah dengan wanita yang dia cintai yaitu Laura dan prediksi mereka salah. Ternyata pria itu menikah dengan putri tunggal dari pengusaha hotel terbesar di Jakarta yaitu Tiara Adilla Kusuma – Putri tunggal dari Edy Susanto Kusuma.
"Jadi setelah acara ini rencana honeymoonnya di mana?" tanya salah satu temannya tengah memegang gelas berwarna merah hanya minuman biasa bukan beralkohol.
"Belum ditentukan," jawab pria itu memakai jas kausal yang keren bermerek dan elegan beberapa sepasang mata memasang lirik terhadap pria pengantin tersebut.
"Bagaimana bisa kamu kenal putrinya Pak Edy? Apa ini sudah takdirmu jodoh menikah dengan wanita yang masih usia sebelasan tahu darimu? Ini masih ABG loh, Den," tanya pria rambut tersisir rapi.
"Itu ketemu mendadak saja, awalnya aku cuek saja itu tapi lama-lama semakin jauh malah dia makin dekat dan omongannya itu benar tidak ada beda dengan sifat ibunya," jawab Dennis.
Dua puluh menit kemudian pengantin perempuan muncul juga dari kamar ruang hias. Di ruang gedung resepsi pernikahan sepasang mata memperhatikan mempelai perempuan di dampingi oleh salah satu wanita tidak kalah cantik juga tentunya Dina dong.
Pria pengantin yang tengah berbincang-bincang ikut menoleh dan delik kedua mata tidak bisa mengedipkan matanya karena gadis aneh bin ajaib ini sebentar lagi akan menjadi istrinya yang resmi. Penampilan kali ini lebih dewasa dan anggun beda pertama kali di acara pesta ulang tahun temannya.
Gadis itu turun secara perlahan dari anak tangga karena gaun yang dia pakai lebih merepotkan panjang menutup kedua kakinya alunan musik mengitari seluruh ada di dalam gedung ini. Dennis berdiri tidak jauh dari tempat terakhir anak tangga tersebut.
Dina menyerahkan sahabatnya kepada calon suami yang sebentar lagi menjadi suami sebenarnya, Rara tersenyum manis membuat pria tinggi sulit berkutik sama sekali.
__ADS_1
Dia (Rara) melingkar tangannya di pergelangan pria itu. Dengan hati-hati dia melangkah melewati para tamu yang hadir ada juga teman-teman seangkatan sekolah hadir di pesta pernikahannya. Tepat di atas depan pendeta mereka akan disaksikan oleh semua orang pernikahan suci seumur hidup hingga mereka dijemput yang berkuasa.
****
Selama berjam-jam acara pemberkatan akhirnya mereka berdua bisa sejenak untuk istirahat. Rasanya kedua kaki gadis itu hampir patah terlalu lama berdiri menyimak pidato dari pendeta. Pria itu masuk ke kamar pengantin wanita melihat gadis itu tengah melepaskan sepatu hak tinggi yang beberapa senti tersebut.
"Sudah tahu nggak bisa pakai hak tinggi masih juga dipakai, sekarang baru terasa pegal nya itu bagaimana?" Pria itu membantu melepaskan sepatu dari kakinya yang mungil itu.
"Habisnya aku pendek nanti kalau nggak di pakai tinggi, kapan aku bisa cium suamiku yang kayak tiang listrik begini!" protesnya merasa kedua kakinya lega terhirup udara segar.
"Kalau nggak sampai, aku bisa bantu mengangkatmu, biar lebih romantis," ucapnya malah nggak bisa berhenti debatannya.
"Memangnya aku beras di angkat - angkat begitu?" jawabnya
Dennis memijat kedua kaki istrinya ini. Gadis itu merasa keenakan dipijat tapi lama kelamaan kok makin aneh dan dia buka mata yang sempat dia pejam tadi.
"Sssttt..." Pria itu mencium bibir istrinya sudah nggak sabaran untuk buat adonan kembali.
"Hmm... Om..." Rara melenguh
TOK TOK TOK!
"Rara, kalian ada didalam, kan! Ayo cepat keluar sebentar sudah dimulai!" teriak Nella dari luar kamar pengantin tersebut.
"I-iya, Ma, sebentar... Ahhh... Om..." Bisa-bisanya gadis itu mendesak tidak mengingat tempat.
__ADS_1
"Nanti kita lanjutkan lagi, ya, muach..." Dennis membantu istrinya rapikan gaun serta rambut yang sedikit berantakan itu.
Para tamu sudah menunggu pengantin tidak kunjung untuk turun. Padahal mereka sudah membuat sebuah permainan yang mungkin akan lebih seru.
Abel sedang mencoba untuk pedekate dengan cowok tampan manis. Untuk usia beda jauh tidak masalah asal cinta tetap terjamin. Sementara Dina malah bergosip dengan teman-teman seperjuangannya. Terus dua mata itu dari jauh memperhatikan sosok cewek tomboi yang dia kenal mimisan jauh berbeda dan sedikit dewasa.
Marcello mendekati para ladies dekat kolam renang. Sebenarnya dia ikut bergabung cuma ingin mengajak cewek tomboi ini berdansa. Tapi sedikit jaga image biar terlihat cool di depan semua cewek-cewek disini.
"Sepertinya pembahasan kalian seru, aku boleh bergabung, kan?" Mulai aksi Marcello menaklukan seorang para ladies ada di sini.
Ada lima ladies berdiri menatap cowok playboy yang tampan dan wow banget untuk mereka berlima.
"Tentu boleh," sambung cewek rambut pirang.
Cewek tomboi itu malah menoleh tempat lain dan sepertinya dia mencoba menjauh dari cowok playboy itu deh. Marcello perhatikan sikapnya sedikit beda saja. Suara riuh dari dalam gedung hotel itu akhirnya pengantin wanita dan pria telah muncul.
"Hei, Din..." Marcello memanggilnya.
"Ya!" sahutnya bersemangat, tentu dia tidak bisa menghindar padahal dia ingin sekali mencueki cowok playboy - abang sepupu sahabatnya.
"Kamu benar akan kuliah di Swiss?" tanyanya tiba-tiba. Dina kembali menjadi datar ekspresinya.
"Begitulah!" jawabnya datar
"Jadi kita tidak bisa ketemu lagi?" tanyanya lagi. Dina tidak salah dengan dengan sebutan kata "Kita"
__ADS_1
Dina tidak beri jawaban kepada Marcello, Teman-teman seangkatan telah meneriaki namanya. Marcello mengharap pasti bisa ketemu karena dia merasa cewek tomboi yang dia jumpai lebih berbeda.