I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 22. POV Author (Audia Pergi)


__ADS_3

Pagi ini Audia sedang memasukkan baju-baju nya ke dalam tas besar, air matanya mengalir begitu saja.


Betapa sakit nya hati Audia, saat suaminya itu berangkat kerja, ia bahkan tak berpamitan dulu dengan diri nya.


"Hiks... aku memang tak pernah kamu anggap mas, apa salah ku?, aku hanya ingin mendapatkan cinta kamu saja, hanya itu yang aku minta mas!"


"Sekarang aku benar-benar lelah mas, aku pergi dari kehidupan kamu!"


Selesai Audia menyiapkan baju-baju yang akan ia bawa, kini ia pergi ke bawah untuk melihat situasi.


Di lantai bawah ia di kaget kan oleh sang mertua perempuan dan laki-laki nya, yang lagi duduk santai di sofa ruang tengah.


"Audia kamu hendak kemana?" tanya mama Ima penuh selidik, apa lagi Audia membawa tas besar berisi baju-baju nya.


"Iya, kamu mau ke mana? tanya papa Tejo


Audia tak sanggup bicara ia tertunduk diam, air mata nya kembali mengalir, kedua mertuanya itu paham dengan menantu nya ini.


"Apa hari ini keputusan yang kamu ambil? tanya mama Ima


"Hiks... mama, papa, aku tidak sanggup lagi, aku mohon izinkan aku pulang ke tempat orang tua ku!" ujar Audia dengan pilu nya.


Mama mertua nya itu juga ikut menangis seraya memeluk tubuh Audia dengan erat.


"Maafkan anak papa, Audia, papa tidak bisa mendidik dia dengan baik, sehingga dia tega menyakiti kamu, maafkan papa!"


"Tidak pa, papa tidak perlu minta maaf!"


"Mama, papa jaga diri kalian, sehat-sehat selalu!"


"Jangan bilang ke siapapun itu aku pergi, aku pamit ma, pa!" ujar Audia terakhir kali nya.


Mama mertua nya itu tidak mau melepaskan menantu sebaik Audia, mama Ima juga tidak bisa mencegah keputusan yang di ambil Audia.


"Kami antar ya nak! ujar papa mertua nya.


"Tidak usah pa, aku bisa pulang naik bus! tolak Audia.


"Papa tidak enak dengan bara, apa kata orang tua kamu nanti nya, kalau tau kamu pergi dari sini!"


"Papa tidak usah pikiran itu, ayah biarkan aku saja yang jelaskan nanti nya! ujar Audia.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Audia benar-benar pergi dari kota ini, ke terminal dia di antar oleh mertuanya sendiri, Audia jadi sangat sedih meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.


Namun, mau bagaimana lagi, inilah keputusan yang terbaik untuk dia, dia tidak akan pernah mau kembali lagi, jika Arnav sendiri yang minta dan menjemput nya nanti.


"Hati-hati di jalan nak!"


"Nanti kalau kamu sudah sampai, tolong kabari kami!" ujar mama Ima


"Iya ma, Audia sayang kalian, jaga diri kalian ya, entah kapan Audia akan bertemu kalian lagi!" ujar nya sudah menaiki bus.


"Assalamualaikum mama, papa!" ujar nya terakhir kali melambaikan tangan nya ke mertua nya itu.


"Wa'alaikumussalam!"


Audia masuk ke dalam bus dan duduk di bangku yang sudah di sediakan, ia menghela nafas berat.


Kedua mertuanya itu masih menatap bus yang akan segera berangkat dari terminal.


"Papa, tolong cegah Audia pa, mama tidak mau dia pergi pa!"


"Ma, papa tidak bisa berbuat apa-apa, ini keputusan Audia, kita tidak bisa melarang nya, mama tau kan Audia sudah sering di sakiti oleh Arnav, mungkin ini jalan yang terbaik!"


"Kita do'akan saja, semoga Arnav bisa melunak hati nya dan mau menjemput Audia kembali!"


"Maafkan aku, aku tidak bisa lagi menahan derita yang aku alami selama ini!"


Audia masih saja menangis, tangisan tak bersuara itu bahkan orang-orang di sekeliling nya menatap dengan sedih juga melihat nya.


"Hai, jangan sedih seperti itu!" seorang laki-laki yang duduk di samping nya langsung bersuara untuk menenangkan Audia.


Audia hanya menggelengkan kepalanya sambil berinsut agar pemuda itu tak terlalu dekat dengan nya.


"Kamu sedih karena apa?


"Oh maaf saya bukan ikut campur dengan urusan mu, tapi saya kasihan dengan kamu, wanita cantik seperti mu ternyata bisa menangis juga, ck, ck, ck!" ujar pemuda itu sok kenal sok dekat dengan Audia.


"Boleh bersedih, tapi jangan berlarut dalam kesedihan itu, surat Yasin ayat 76!"


Audia langsung menghapus air matanya itu, ia melihat sekilas pemuda itu, lalu pemuda itu menjulurkan tangannya ke Audia, tapi Audia menautkan kedua tangan nya ke dada.


"Oh, maaf, kita bukan mahram hehe...!" cengeges laki-laki itu.


"Nama saya Adam, umur saya 29 tahun!" ujar nya, Audia hanya mengangguk kecil saja menanggapi ocehan pria ini.

__ADS_1


"Hmmm... kalau boleh tau, kamu sedih karena apa, siapa tau saya bisa membantu masalah mu, dan bisa curhat juga dengan saya!" ujar pria itu semakin menjadi-jadi berceloteh dengan Audia.


Audia yang sedang di landa kesedihan hanya bisa menahan emosi nya karena pria di samping nya ini tak mau diam.


Pikiran gadis itu sudah penuh dengan beban yang ia tanggung, tapi dengan lancang nya pria di samping nya ini menambah beban pikiran nya lagi.


"Aku bisa bantu kamu, jika kamu butuh bantuan ku, aku ini ahli dalam segala bidang, kamu boleh mencoba nya nanti!" ujar pemuda ini.


Ini bukan tentang bidang yang kamu bilang Adam, tapi ini tentang hati, bukan yang lain, jadi sebaiknya kamu diam sebelum Audia mengamuk dengan cara halus.


"Bisa diam!" ujar Audia dengan lembut tapi menusuk ke rulang hati pria itu.


Nah, kan baru di bilang, kamu sudah kena mental duluan.


Adam langsung mengunci mulutnya rapat-rapat saat ucapan Audia membuat mentalnya menciut.


Dokter psikiater apa nama nya itu, kalimat halus yang di ucapkan Audia, tapi bisa membuat mental Adam menciut.


Ya, pria di samping Audia ini merupakan dokter psikiater, ia merupakan dokter muda yang banyak gaya, tapi dengan cara pengobatan nya banyak pasien nya yang sembuh.


Jangan di salah-salah kan, dokter Adam nan ganteng ini banyak penggemar nya, tapi ia malah tidak tertarik dengan wanita yang selalu mengejar-ngejar nya, bukanya dia belok tapi dia sendiri yang tidak suka dengan cara wanita mendapatkan nya.


"Pak, saya turun di sini!" ujar Adam.


Audia melihat pria yang baru ia kenal itu, Adam memberikan kartu nama ke Audia.


"Bisa call me!" ujar dokter itu mengedipkan sebelah matanya ke Audia, Audia baru sadar jika pria itu seorang dokter, karena dia baru melihat kartu nama itu.


Bahkan Adam turun di depan rumah sakit yang sangat besar di kota dekat Audia tinggal Audia berpisah dengan dokter muda banyak gaya itu.


"Dokter songong!" ujar Audia geleng-geleng kepala.


Sebentar lagi Audia akan sampai di kampung halaman nya.


...


Bersambung...


Yang mau berteman dengan author silahkan follow Instagram author.


Ig : purna_yudiani


fb : purna yudiani

__ADS_1


Nanti author konfirmasi πŸ‘Œ


__ADS_2