
Dari pagi hingga siang ini aku merasa aneh saja dengan tubuh ku ini, kalau di periksa ke dokter palingan aku cuma kecapekan saja, kata mas Arnav mbak Anas memeriksa ku semalam kata beliau aku cuma kecapekan saja.
Sudah benar aku cuma capek saja tapi tubuh ku rasanya tidak biasa saja gitu.
Apa aku ikuti saja saran dari mas Arnav untuk periksa ke dokter ya?
"Tapi aku malas lho!"
Aku pergi mencari Aquila di kamar nya di baru pulang sekolah tadi, biasanya Aquila akan membersihkan tubuhnya dulu sebelum ia makan siang.
"Aquila, kamu di dalam?" panggil ku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar nya itu.
"Iya mbak, aku di kamar!" ujar nya
Aku masuk ke kamar Aquila ternyata ia lagi memasang jilbab nya, syukur Alhamdulillah akhirnya Aquila mau berhijrah aku sangat bangga dengan adik ipar ku itu.
"Ada apa mbak?" tanya nya
"Tidak, mbak cuma mau ke sini saja!" ujar ku
Ku urungkan niat ku untuk mengajak dia pergi ke rumah sakit, kasihan adik ipar ku ini kalau ku ajak dia kan baru pulang sekolah.
"Kamu sudah makan?" tanya ku basa-basi saja.
"Belum mbak, mbak sendiri udah makan?" tanya nya.
Aku saja sampai sekarang masih tidak mau makan karena semua makanan membuat aku eneg saja, apa lagi bau ayam panggang itu bikin perut ku bergejolak saja.
"Belum!" jawab ku
"Kok belum sih mbak?, bukanya mbak sakit ya?" tanya Aquila
"Mbak nggak sakit!" ujar ku
"Ya sudah ayo kita makan!" ujar nya
Kami tiba di meja makan aku juga ikut duduk di samping Aquila, kebetulan di meja makan ini hanya ada kami berdua yang lain sudah pada makan.
"Ayam panggang nya enak lho mbak, ayo makan!" ujar Aquila menyantap ayam panggang itu dengan lahap nya, aku yang melihat nya kok jadi mual ya?.
"Huek!" aku mulai mual kan jadinya, ku tutup mulut ku agar Aquila tidak melihat ku kalau aku mual.
Aquila dengan lahap nya menyantap ayam panggang yang ia ambil itu, aku geleng-geleng kepala saja, bau nya itu lho bikin aku mual.
"Makan mbak jangan di lihatin aja!" celoteh Aquila masih memakan makanan nya itu, aku mencubit daging ayam panggang itu sedikit lalu aku mencoba nya.
Bukanya enak tapi malah bikin aku muntah, aku berlari ke wastafel untuk memuntahkan isi perut ku yang aku tahan-tahan tadi.
Aku kembali lagi ke tempat Aquila dia sudah selesai makan nya, sedangkan aku makan saja tidak mau.
__ADS_1
"Mbak nggak jadi makan?" tanya Aquila
"Tidak, nanti saja!" ujar ku
"Oh, baiklah!" ujar Aquila lalu ia meletakkan piring kotor nya di tempat pencuci piring.
"Aku tinggal dulu nggak papa kan mbak, soalnya aku mau bikin tugas!" ujar nya
"Iya!" ujar ku
Seiring Aquila pergi handphone ku juga berdering, aku tersenyum kecil saat mas Arnav yang menelepon ku.
"Assalamualaikum mas!"
"Wa'alaikumussalam!"
"Kamu sudah periksa ke dokter, terus apa hasilnya?, kamu tidak sakit parah kan?" cecar mas Arnav di sebalik telepon
"Aku nggak jadi ke rumah sakit nya!" jawab ku
"Lho kok gitu?, kamu harus periksa Audia, nanti kamu kenapa-napa lho!" ujar nya
"Aku baik-baik saja titik nggak pakai bantahan!" ujar ku sangat kesal
Kenapa sih semua orang menganggap ku sakit, bikin kesal saja, jelas-jelas aku tak sakit, yang sakit itu kalian yang menganggap diri ku kenapa-napa, ini lagi mas Arnav bikin aku bete aja bila mendengar suara cempreng nya itu.
"Cempreng!" ujar ku lalu mematikan panggilan telepon dari nya.
"Pak antar saya ke rumah sakit!" ujar ku
Pak Dadang mengantar ku ke rumah sakit aku sangat kesal dengan mereka karena mereka menganggap aku sakit, jelas-jelas aku sehat walafiat gini eh mereka malah bilang aku sakit.
Sampai nya aku di rumah sakit ini lalu aku mendaftar kan nama ku ke dokter umum, aku menunggu antrian terlebih dahulu.
Tiga puluh menit kemudian akhirnya aku di panggil juga, yang memeriksa ku mbak Anas, nah kan aku harus ke temu lagi sama mbak Anas ini, menyebalkan sekali.
"Aku baik-baik saja kan mbak?" tanya ku
"Baik? beo nya
"Tuh kamu harus di rujuk!" ujar mbak Anas
Deg
Jantungku berdetak kencang kenapa musti di rujuk?, apa aku sakit nya begitu sangat parah?, sampai-sampai aku harus di rujuk.
Huaaa... aku tidak mau sakit parah, bagaimana ini?, mas Arnav pasti sangat cemas dengan penyakit ku ini.
"Mbak Anas jangan bercanda dong, aku tau mbak Anas tidak suka dengan ku, tapi mbak Anas jangan bercanda gini dong!" ujar ku
__ADS_1
"Bawa dia ke tempat yang sudah saya bilang tadi!" ujar mbak Anas ke asisten nya.
Mau di bawa kemana aku?
"He? mbak Anas kenapa memaksa dia untuk membawa ku?" ujar ku
"Bawa!" titah mbak Anas
Aku dibawa ke dokter yang lebih mengherankan lagi bagi ku, masa aku di bawa ke dokter kandungan?
"Nona tunggu di sini, sampai nama nona di panggil baru nona ke dalam!" ujar asisten nya mbak Anas itu.
Oh my god kenapa aku harus di periksa ke dokter kandungan, apa kalian salah kasih aku pencerahan seperti ini?
Banyak ibu-ibu yang sedang mengantri untuk di panggil, mereka pergi bersama suami mereka lah aku cuma sendiri!
"Nyonya Audia Putri Ananda!"
Nama ku di panggil lalu aku masuk ke ruangan dokter itu, kali ini dokter yang memeriksa ku wanita paruh baya.
"Apa keluhan nona?" tanya dokter itu
"Keluhan?" beo ku tak mengerti
Dokter itu tersenyum ramah, "rileks nona, kami tau ibu hamil itu suka nerfes terlebih lagi usia kandungan nya baru-baru!" ujar dokter paruh baya itu
Apa hamil? mana mungkin masa aku nerfes sudah di anggap hamil saja, ini dokter kenapa bisa menganggap ku seperti itu.
"Apa nona punya keluhan?" tanya dokter itu lagi
Keluhan apaan sih ini?
"Keluhan seperti apa dok?" tanya ku polos
Dokter paruh baya itu terkekeh saat aku menanya pada nya, aku tidak ngelucu lho dokter!
"Jadi nona ini masih baru pertama kami hamil ya, apa orang tua nona tidak memberi tahu nona tanda-tanda kehamilan itu seperti apa saja?"
"Baiklah saya akan memberi tahu nona, sebelum itu mari ikut saya terlebih dahulu.
Setelah pemeriksaan aku di bawa kembali ke kursi tadi, lalu dokter itu menjelaskan pada ku, aku hanya melongo seperti orang b*doh saja, keluhan yang di sebutkan oleh dokter tadi ada pada aku semua nya.
Selesai aku konsultasi dengan dokter itu lalu aku di berikan resep obat oleh dokter itu dan dokter ini juga memberikan aku sebuah copy an gambar warna hitam yang tak aku paham maksud gambar ini.
"Simpan saja dulu!" aku menyimpan copy an tadi dalam tas ku, lalu aku pergi ke apotik untuk menembus resep obat yang di berikan tadi.
"Aneh sekali obat-obatan ini, masa vitamin saja isi nya?"
...
__ADS_1
Bersambung...