
Sepanjang jalan ia masih saja cemberut sudah mau hampir sampai ke rumah ia masih aja cemberut.
"Mas pilot!" panggil ku
"Hmm!"
"Mas awas mas!" pekik ku
Dia langsung kaget dan gelagapan wajah nya sudah berubah jadi merah.
"Astagfirullah alhazim apa lagi Audia...? ujar nya dengan geram.
Lagi-lagi aku nyengir lebar tanpa dosa.
"Ada batu mas nanti kamu bisa tersandung!' ujar ku.
"Astaga Audia kamu dari tadi bikin aku kesal saja!" ujar nya.
Aku menyingkirkan batu itu menggunakan kaki ku, aku memegang tangan mas Arnav agar aku tak jatuh.
"Modus kamu ya!" ujar nya
"Modus dari mana sih mas, aku cuma nyingkirin batu doang!"
"Ini apa maksudnya pegang-pegang? ujar nya menunjuk tangan ku yang memegang tangan nya tanpa sengaja.
"Eeh!" ujar ku langsung melepaskan pegangan tangan ku.
Aku sedikit menjauh dari nya aku tau dia pasti tidak mau aku pegang, dia nya belum bisa mencintai ku berarti dia masih belum bisa menerima kenyataan ini.
"Buru mas udah mau magrib!" ujar ku lebih dulu jalan dari nya.
Kami sampai di rumah saat azan magrib berkumandang aku langsung membersihkan badan ku.
Mas Arnav masih duduk di sisi tempat tidur seraya melihat ku, aku menaikan sebelah alis ku untuk bertanya.
"Baju ganti aku nggak ada!" ujar nya memelas
"Emang kamu ke sini nggak bawa baju ganti?" tanya ku. Dia menggeleng kecil
Aku keluar lagi aku pergi ke kamar bunda berencana mau minjam baju ayah untuk mas Arnav, entah apa isi kepala nya dan nggak kepikiran buat bawa baju ganti.
"Ayah sama bunda di kamar? ujar ku dari luar pintu kamar.
"Iya! sahut bunda
Aku masuk ke dalam kamar bunda, bunda ternyata lagi mengambilkan baju untuk ayah.
"Ada apa?"
"Ayah punya baju lain tidak yang bisa muat untuk mas Arnav? tanya ku.
"Ada tapi baju ayah tidak sebagus baju nya Arnav! ujar ayah
"Tidak apa yah!" ujar ku menerima baju yang di julurkan oleh bunda.
"Emang Arnav nggak bawa baju ganti apa? tanya bunda.
"Nggak bun, entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai baju aja nggak dia bawa!" ujar ku
"Hmm!"
__ADS_1
Aku mengangguk kecil lalu pergi ke kamar lagi buat memberikan baju ayah ini.
"Hanya ada ini mas!" ujar ku memberikan baju itu pada nya, dia melihat aku lalu tertuju pada baju yang aku julur kan pada nya.
Aku mengerutkan keningku pasti dia tidak mau memakai pakaian ayah ini.
"Nggak mau ya? lirih ku menarik baju itu lagi, aku hanya memasang wajah datar, kamu b*doh sekali Audia mana mau dia memakai baju murahan seperti ini.
"Makasih ya kamu rela pergi ke kamar ayah buat minjamin aku baju!' ujar nya dengan senyum manis, aku tertegun dengan senyum manis nya itu baru kali ini aku melihat dia tersenyum sangat manis.
"Senyum nya Masya Allah!" tanpa sengaja aku mengeluarkan kata-kata pujian itu pada nya, aku langsung menutup mulutku karena malu.
"Baru nyadar kalau senyum suami kamu ini manis? ujar nya mengangkat sebelah alisnya.
"Udah ah aku sholat dulu! ujar ku
"Mau aku imami lagi? tanya nya
"Mau! ujar ku dengan senyum bahagia.
Dia mendekati aku, aku menahan nafas ku karena wajah kami sangat dekat, astagfirullah... bisa-bisa aku kena serangan jantung mendadak refleks aku menutup mataku.
Dia memegang pipi ku, aku semakin gelagapan sudah di pastikan kalau wajah ku memerah seperti tomat busuk.
Aku tersentak lalu membuka mata ku, ku tatap dia dengan marah aku kan sudah ambil wudhu terus dia megang aku alhasil wudhu aku batal.
"Mass...! protes ku
Dia hanya tersenyum tanpa dosa aku pukul dia dengan tangan ku, nyebelin banget dia ini.
"Ambil wudhu bisa lagi kok!" ujar nya lalu pergi ke arah dapur tempat kamar mandi berada.
Aku ngedumel sendiri saat ia sudah pergi dari hadapan ku, jahil nya emang beda tuh si Arnav.
Aku menunggu dia di depan kamar mandi semua orang di rumah ku ini sudah melaksanakan sholat magrib aku dan dia saja yang belum melaksanakan sholat magrib.
"Iiss dia di kamar mandi ngapain sih?"
Perasaan sudah sepuluh menit yang lalu ia masuk ke kamar mandi.
"Buru mas nanti waktu sholat magrib keburu habis!" teriak ku dari luar seraya mengetuk-ngetuk pintu.
"Bentar...!' sahut nya
Bentar, bentar mulu aja nih orang tidak lama setelah itu ia keluar aku mengerutkan keningku saat...
Tawa ku langsung tersembur keluar lucu sekali mas Arnav pakai baju ayah, kekecilan di tubuh atletis nya.
"Ck, malah ketawa!" ujar nya kesal
Aku langsung menutup rapat mulut ku yang sempat tertawa tadi, susah payah aku menahan tawa, kini aku yang mengambil wudhu.
Kami melaksanakan sholat magrib berjamaah, suara merdu membaca ayat suci Al-Qur'an itu bikin hati ku teduh.
"Assalamualaikum warahmatullah...!"
"Assalamualaikum warahmatullah...!"
Aku juga mengikuti gerak kepala nya, selesai sholat ia langsung berdo'a entah apa yang ia do'a kan sampai lama seperti itu.
"Aamiin...!" lirih nya di akhir do'a nya.
__ADS_1
Aku menghampiri dia dan aku duduk pas di hadapan nya, ku raih tangan itu lalu ku cium punggung tangan itu sangat lama, ia mengusap lembut kepala bagian belakang ku.
Aku sudahi mencium punggung tangan nya lalu aku menatap lekat wajah bersih nya itu.
"Do'a apa yang kamu ucapkan mas kenapa begitu lama?" tanya ku
Dia mendekati wajah nya ke telinga ku, "hanya aku dan Allah saja yang tau, kamu tidak perlu tau!" ujar nya setelah itu ia mengedipkan sebelah matanya.
Aku hanya mengangguk kecil kami saling menatap mata, aku masih terkagum-kagum dengan mata hitam dengan bulu mata lentik serta alis tebal itu, sungguh sempurna ciptaan Allah ini.
"Masya Allah ganteng nya diri kamu mas!" aku langsung menutup mulutku menggunakan tangan ku, kenapa aku selalu keceplosan sih di depan dia.
Aku mengerututi diri ku yang terus keceplosan ini, bego banget sih kamu Audia.
"Sudah berapa kali kamu keceplosan? tanya nya dengan seringai mencurigakan.
"T--tidak aku tidak bilang apa-apa!" elak ku
"Iya, aku ini ganteng maka nya kamu selalu muji-muji kegantengan ku!" ujar nya sangat sombong dan angkuh.
Aku tidak suka dengan ucapan angkuh nya itu lalu ku tutup mulut nya itu dengan tangan ku, aku cemberut lalu menggeleng-nggelengkan kepalaku pada nya.
"Aku nggak suka kamu ngomong gitu, sangat angkuh dan sombong aku tidak suka dengar nya mas, tidak boleh ngomong seperti itu lagi, semua kecantikan dan ketampanan seseorang itu milik Allah, kita harus patut bersyukur!" ujar ku masih cemberut pada nya tangan ku masih menempel di mulut nya.
Dia mengangguk sambil memegangi tangan ku lalu ia turunkan tangan ku dari mulut nya ia mengusap lembut punggung tangan ku lalu mencium nya.
"Iya maaf! ujar nya
Ia masih mengelus lembut punggung tangan ku, ada sesuatu yang aneh menjalar ke seluruh tubuh ku. Jantungku juga berdegup sangat kencang melebihi batas normal jangan sampai ia mendengar bunyi detakan jantungku yang sangat keras ini.
Ia memegang jantung nya aku mengerutkan keningku, kenapa tiba-tiba ia juga memegang dada nya.
Dia tersenyum lalu meletakkan tangan ku yang ia pegang tadi ke dada yang ia pegang juga.
"Kamu merasakan nya? tanya nya
Aku mengangguk kecil sangat malu sekali aku ini aku sangat merasakan detakan jantung nya yang sangat keras juga.
"Apa jantungku baik-baik saja Audia? tanya nya
"Mungkin!" ujar ku
"Tidak!" bantah nya.
"Kamu tau selama ini jantungku berdegup sangat kencang, aku tidak tau penyebab nya yang aku tau dari Irfan jika jantung kita berdegup kencang itu berati kita mempunyai perasaan lain pada seorang wanita!"
"Saat aku mengingat wajah dan nama itu aku merasakan sesuatu yang menjalar di seluruh tubuh ku!" ujar nya
Aku tidak paham dengan maksud nya itu nama?, wajah?, siapa yang ia maksud?
"Maksud kamu apa mas? tanya ku
"Ck!" dia berdecak kecil lalu mencubit hidung ku.
"Kamu nggak peka!" ujar nya
...
Bersambung...
Skuy baca terus tekan tombol like, komentar, dan vote nya juga.
__ADS_1
Ig : purna_yudiani
fb : purna yudiani