I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 65. Flashback On ( Melahirkan)


__ADS_3

Usia kandungan Audia sudah memasuki ke usia siap melahirkan, saat ini Arnav lagi nugas ia tidak berada di rumah saat-saat kehamilan Audia sudah mau melahirkan, Arnav sendiri mau menemani istrinya itu pada saat-saat seperti ini, tapi pekerjaan nya tidak bisa ia tinggalkan.


Bagi Audia tidak ada Arnav di samping nya hanya biasa saja, tapi kalau saat-saat seperti ini pasti Audia membutuhkan suaminya itu, apa lagi usia kehamilan nya sudah masuk sembilan bulan.


Saat ini Audia tinggal bersama mertua nya tidak mungkin ia tinggal di rumah mereka sendiri, Arnav sudah menitip pesan pada semua orang untuk menjaga istri dan anak yang di kandung oleh Audia.


Dan saat ini juga keluarga Audia akan menginap sementara di Jakarta karena mereka mau menemani Audia saat Audia mau lahiran nanti.


"Aman kan ayah bunda?" tanya Audia saat kedua orang tua nya itu sudah sampai di rumah besan nya


"Alhamdulillah kami aman!" jawab ayah bara


Yudia adiknya Audia sudah masuk pesantren ia tinggal di pondok pesantren yang telah ia pilih waktu itu.


"Kalian berdua pasti capek istirahat dulu, kami telah menyiapkan kamar untuk kalian!" ujar mama Ima


"Terima kasih Ima!" ujar bunda Diani


Mama Ima tersenyum seraya mengangguk, kini ayah dan bunda Audia itu lagi beristirahat di kamar tamu yang telah di siapkan oleh mereka, Audia masih duduk di sofa ruang keluarga.


"Kaki kamu bengkak sekali nak!" ujar mama Ima


"Iya ma, Audia udah beri minyak urut juga kok, emang kalau hamil tua itu seperti ini ya ma?" tanya Audia


"Iya, mama juga mengalami seperti kamu dulu kok, lebih parah lagi mama, dulu mama kalau lagi hamil tua seperti ini mama nggak bisa lakuin apa-apa selain duduk aja, beda sama kamu walaupun kamu hamil tua seperti ini kamu masih bisa banyak gerak dan melakukan aktivitas ringan!" ujar mama Ima


...


Audia selalu tidur bareng Aquila itu permintaan Arnav untuk menjaga Audia saat malam hari, Aquila sebagai adik ipar paling baik sangat senang hati tidur dengan kakak ipar nya itu.


Mereka tidur di kamar Audia, setiap malam Aquila selalu bercerita dengan kakak ipar nya itu, dia selalu curhat dengan mbak nya itu yang di curhati pasti tentang cowok yang ia suka.

__ADS_1


"Quila nggak salah kan mbak ada rasa sama seseorang?" tanya Aquila


Audia tersenyum kecil dengan pertanyaan adik ipar nya itu, memiliki rasa kepada seseorang itu tidak masalah tapi kita harus tau juga batasan nya, mencintai orang itu tidak salah tapi kita tidak boleh mencintai seseorang terlalu berlebihan melebihi cinta kita kepada Allah SWT.


"Tidak, asalkan kamu masih tau batasan nya, mencintai seseorang itu tidak boleh berlebihan melebihi cinta kita terhadap Allah SWT!" ujar Audia


"Iya juga ya mbak, tapi aku cuma cinta nya itu kayak mengangumi gitu aja, ya kali mbak aku mau cinta-cintaan di usiaku yang masih belia ini!" ujar Aquila dengan senyum di buat-buat


Audia menaikan sebelah alisnya karena tidak percaya dengan ucapan adik suaminya ini, waktu itu saja Audia pernah melihat kalau Aquila jalan sama laki-laki malahan mereka seperti pasangan romantis.


"Yakin!" ujar Audia


Aquila menampakkan senyum termanis nya, dia antara yakin dan tidak yakin.


"Yang waktu itu apa? yang sama cowok!" ujar Audia mengingatkan lagi.


"Eh nggak kok!" ujar Aquila


Karena mereka sudah banyak bicara dan lelah juga kini mereka merebahkan tubuh mereka masing-masing ke tempat tidur.


"Aquila!" ujar Audia membangunkan adik iparnya itu


"Quila!" ujar Audia sekali lagi, tapi Aquila tidak mau bangun juga, akhirnya Audia menepuk-nepuk pipi adik ipar nya itu.


Aquila terbangun karena terganggu oleh Audia yang menepuk-nepuk pipinya.


"Mbak kenapa?" tanya Aquila melihat Audia meringis kesakitan


"Perut mbak mules!" ujar Audia


"Astagfirullah alhazim... kayanya mbak mau lahiran deh!" panik Aquila tidak tau harus bagaimana.

__ADS_1


"Aduh... sakit banget hiks...!" tangis Audia membuat Aquila tambah panik.


Audia yang mau lahiran, Aquila yang malah mengatur nafas, lalu Aquila berlari keluar kamar, ia memanggil semua penghuni rumah nya ini.


Audia di bawa ke rumah sakit oleh keluarga suaminya itu, kedua orang tua Audia juga ikut mengantarkan putrinya yang akan melahirkan itu, sesampainya mereka di rumah sakit Audia di bawa ke ruang bersalin langsung.


"Bunda... ayah... sakit hiks... sakit... mas Arnav... hiks... sakit... mama... sakit hiks...mas Arnav...!" semua orang di panggil oleh Audia karena ia tidak tahan rasa sakit saat bersalin, Audia menangis sejadi-jadinya di dalam ruang bersalin itu.


Tidak ada Arnav yang menemani istrinya saat melahirkan itu, saat ini Audia sangat membutuhkan kehadiran suaminya itu tapi mau bagaimana lagi pekerjaan Arnav tidak bisa di tinggalkan, keluarga nya juga telah menghubungi Arnav berkali-kali tapi tidak aktif, berarti saat ini Arnav sedang menerbangkan pesawat karena handphone nya tidak aktif.


"Mas Arnav... hiks... sakit mas... hiks... mas... sakit!" teriak Audia kesakitan


Yang menemani Audia di dalam ruang bersalin itu bunda dan mama mertuanya, Audia terus menangis kesakitan.


Setelah satu jam lamanya akhirnya Audia berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki ke dunia ini, saat ini anak yang di lahirkan oleh Audia sedang di bersihkan sementara itu Audia pingsan sesudah melahirkan karena tenang nya sudah habis saat melahirkan.


"Alhamdulillah bayi yang di lahirkan sehat!" ujar dokter yang membantu proses persalinan Audia.


Bunda Diani dan mama Ima jadi terharu dan sangat bahagia dengan kelahiran cucu laki-laki di keluarga mereka ini.


Bayi Arnav dan Audia itu di azani oleh ayah bara, selesai di azani bayi laki-laki itu di tidurkan dekat dengan ibunda nya.


"Tampan sekali!" ujar Audia pertama kali melihat wajah putra nya itu.


Semua orang yang berada di ruang itu jadi bahagia dengan kelahiran cucu mereka, Audia sangat bersyukur karena melahirkan seorang anak laki-laki, walaupun Arnav tidak bisa mendampingi nya.


"Mas Arnav sudah tau?" tanya Audia


Semua orang yang ada di ruang rawat itu menggeleng dengan kompak, sampai saat ini Arnav masih belum bisa di hubungi, handphone nya masih tidak aktif.


Raut wajah Audia berubah jadi masam karena suaminya itu sangat sulit di hubungi, ia menitikkan air matanya karena merasa sedih tidak ada suaminya saat anak mereka lahir ke dunia ini.

__ADS_1


...


Bersambung...


__ADS_2