
1 minggu kemudian...
Sudah satu minggu saja Arnav berangkat kerja, ia belum sempat pulang karena jadwal penerbangan nya sangat padat, kadang ia juga resah karena memikirkan Audia yang di tinggal sedang mengandung, Arnav masih khawatir meninggalkan istri tercinta nya dengan keluarga nya sendiri.
Bukan tidak percaya dengan keluarga nya sendiri tapi Arnav punya firasat kalau mbak nya itu akan berbuat tidak-tidak kepada istri dan calon anak yang Audia kandung.
Sama seperti hal nya waktu itu Arnav kembali dilanda rasa gelisah dan resah ia sampai tak fokus pada pekerjaan nya.
Jam 11.00 wib ini Arnav sudah bersiap untuk menerbangkan pesawat, ia masih tidak fokus dengan pekerjaan nya.
"Focus Arnav focus!"
Irfan melihat rekan kerja nya itu Irfan menghela nafas nya, "hadeh... gimana sih?, fokus dong nav tanggung jawab kita besar lho!" peringat Irfan
"Iya gue tau, tapi pikiran gue tertuju pada istri gue!" jawab Arnav
"Istri ndak tuh?"
"Bucin banget lo sama istri lho!" ledek Irfan
"Bukan bucin tapi gue hanya khawatir aja!" ujar Arnav
Sembari ngobrol dengan Irfan, Arnav mencek dokumen kelengkapan terbang, pesawat akan take off yang mengendalikan pesawat yaitu si Irfan, Arnav mengambil keputusan agar kali ini ia tak mau menerbangkan pesawat dulu, yang ia takutkan nanti ia tidak fokus saat mengendalikan pesawat.
"Flight attendant prepare for arrival”
Pesawat yang di bawa oleh Irfan hampir sampai di bandara Ngurah Rai Bali, Irfan memberi instruksi kepada pramugari agar penumpang juga bersiap-siap juga.
Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Ngurah Rai Bali itu, Arnav dari tadi hanya diam.
Sampai semua penumpang turun Arnav masih duduk di kursi kemudi itu, kalau Irfan tidak menegur Arnav mungkin ia akan tetap duduk di sana.
"Turun, sekarang bukan sesi kita bro, gantian sama yang lain!" ujar Irfan
Arnav baru sadar dari lamunan panjang nya ia menoleh pada Irfan yang sudah mau turun, akhirnya Arnav mengikuti Irfan untuk turun.
"Cerita hidup lo seperti nya tidak akan pernah berakhir deh, galau melulu kayak bocah SMP yang lagi cinta monyet aja!" ujar Irfan
Arnav menatap Irfan dengan garang nya tapi tak membuat Irfan takut malahan Irfan senang membuat Arnav marah.
"Lo nggak tau ya udah diam aja!" ujar Arnav menendang koper milik Irfan
"Damn it!" umpat irfan
__ADS_1
"Stupid!" umpat Arnav pada Irfan
Arnav pergi ke kamar hotel nya ia merebahkan diri nya di atas kasur empuk itu, kemudian Arnav mengeluarkan telepon genggam nya dari saku celana nya.
Tak menunggu lama Audia mengangkat telepon dari Arnav.
"Assalamualaikum mas!"
"Wa'alaikumussalam, kamu lagi apa sayang?, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Arnav bertubi-tubi.
"Aku baik, kenapa sih mas?, khawatir ya sama kami!"
"Jelas banget aku khawatir dengan kalian, maaf ya aku baru bisa menghubungi kamu!" ujar Arnav
"Tidak masalah mas, di sini aku baik-baik saja kamu tidak usah khawatir!"
"Syukur Alhamdulillah aku senang dengarnya, kamu jangan lupa minum vitamin dan jangan kamu banyak tingkah, kamu lagi hamil tak boleh melakukan pekerjaan yang berat-berat!" pesan Arnav
"Iya tau!" jawab Audia sangat pelit dengan kata-kata.
"Jangan iya iya aja!" ujar Arnav
"Iya, cempreng banget suara kamu, bikin sakit telinga aku!" ujar Audia mematikan sambungan telepon.
"Hallo, hallo!"
Audia melempar hp nya itu di atas kasur ia memanyunkan bibirnya.
"Bikin mood aku turun aja!"
Di telinga Audia ia sering mendengar kalau suara Arnav itu tak enak di dengar alias cempreng, aslinya suara Arnav itu sangat memabukkan Audia, tapi semenjak ia ngisi ia jadi tak suka mendengar suara Arnav.
Audia kembali mengambil telepon genggam nya itu, ia menonton sholawat di channel YouTube, ia sering mendengar sholawat-sholawat.
Audia mengusap-usap perut nya yang sudah mulai nampak membesar itu, "semoga anak bunda jadi anak yang Sholeh dan Sholehah!"
Audia kembali menonton sholawat itu sampai-sampai ia ketiduran.
...
Malam ini Arnav akan pulang ke rumah nya karena malam ini jatah pulang nya bareng rekan-rekan kerja nya.
Arnav kembali ceria kini ia yang akan menerbangkan pesawat itu, Arnav nampak berbinar.
__ADS_1
"Mau pulang ni ye!" goda Irfan
"Iya lah!" ujar Arnav
"Bagaimana captain Irfan kita siap untuk terbang ke Jakarta?" ujar Arnav saat mereka akan terbang.
Irfan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Cleared for takeoff" sebelum pesawat yang akan ia bawa Arnav mengucapakan kalimat ini terlebih dahulu, semua penumpang sudah duduk dengan tenang di kursinya masing-masing.
"Flight attendant takeoff station” pesawat yang Arnav bawa akhirnya lepas landas juga dari bandara Ngurah Rai Bali menuju bandara Soekarno-Hatta.
Pesawat lepas landas juga dari bandara Ngurah Rai Bali itu, mereka berada di ketinggian 1000 kaki di atas langit, sepanjang penerbangan Arnav selalu menampakkan senyum nya.
"Selamat para tamu yg terhormat, disini kapten anda berbicara dari ruang kemudi, selamat datang di pesawat Boeing 737 Batik Air
Saat ini kita sedang menjelajah di ketinggian 1000 kaki dengan kecepatan rata-rata 1500 Posisi kita saat ini tepatnya berada di barat laut kota Bali cuaca di sisa perjalanan dilaporkan sangat baik suhu diluar saat ini menunjukkan 30 derajat celcius.
Sedangkan di bandar udara tujuan, cuaca dilaporkan 29 derajat celcius diharapkan kita tiba di kota Jakarta pada pukul 17.16 Wib waktu setempat dimana waktu di kota tujuan lebih cepat atau lambat dari jam kota tujuan.
Akhirnya atas nama crew yg bertugas kami ucapkan terimakasih telah terbang bersama, selamat menikmati penerbangan.
Mereka menikmati penerbangan mereka, Arnav sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan istri tercinta nya.
Pesawat yang di bawa Arnav pun lending di bandara Soekarno-Hatta, Arnav sangat antusias saat pesawat yang ia terbangkan sudah mendarat.
"Alhamdulillah!" ujar mereka serentak karena selamat sampai tujuan.
"Yes akhirnya bisa libur juga tiga hari tidak apa-apa lah, yang terpenting bisa ketemu istri dan calon anakku!" gumam Arnav
"Dih, baru pulang udah bucin aja!" ledek Irfan
"Biarlah, dari pada elo, masih jomblo jodoh mana jodoh?" sindir Arnav
Irfan langsung terdiam karena sindiran Arnav langsung kena tepat menusuk hati nya.
"Jodoh gue masih di Lauhulmahfudz!" jawab Irfan
"Semoga lo cepat ketemu sama jodoh lo deh!" ujar Arnav
"Aamiin...!"
Mereka turun dari pesawat, Arnav sudah di jemput oleh supir nya ia langsung pulang setelah seminggu lebih berterbangan terus.
__ADS_1
...
Bersambung...