
Kami berdua sampai di rumah sakit, aku terlebih dahulu mendaftarkan nama ku untuk pemeriksaan kehamilan, selesai mendaftar kini kami berdua langsung pergi menuju ke arah ruang dokter kandungan, di luar ruangan itu sudah banyak ibu-ibu hamil yang sedang memeriksa kandungan mereka juga.
Mereka semua di temani oleh suami mereka masing-masing sama seperti ku yang di temani oleh mas Arnav, baru pertama kali ini mas Arnav menemaniku untuk pemeriksaan yang ke sekian kali nya, biasa lah suamiku pergi kerja dan pulang nya tidak menentu.
"Ramai ya bun!" ujar mas Arnav
"Iya ayah!" ujar ku
Kami duduk di kursi tunggu sambil menunggu nama ku di panggil, mas Arnav menggenggam tangan ku.
Jadi begini rasanya ya di temani suami saat check up kehamilan ke dokter kandungan ada rasa senang di hatiku ini.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya mas Arnav
Ya, aku mesem-mesem karena senang aja gitu.
"Senang aja, karena ayah mau nemani bunda untuk check up kehamilan!" ujar ku
Dia tersenyum lalu mencubit hidung ku, "maaf ya aku sering tidak ada waktu untuk kalian!" ujar mas Arnav, aku paham sekali dengan kamu mas, bekerja sebagai seorang pilot itu harus tanggung jawab yang tinggi.
Aku meletakkan jari telunjuk ku pada bibir nya, "tidak usah minta maaf kamu tidak salah!" ujar ku.
"Tapi mas sering ninggalin kalian!" ujar nya dengan wajah masam
"Udah biasa di tinggal kamu, aku nggak sedih kok, pekerjaan kamu memang seperti itu, waktu berkumpul dengan keluarga sangat sulit karena pekerjaan kamu banyak menghabiskan waktu di luar!" ujar ku memberi pengertian.
Aku sebagai seorang istri tidak harus juga mengekang suamiku, ia bekerja untuk kami juga.
"Pengertian banget sih istri ku ini!" ujar nya
"Harus!" jawab ku
Aku menunggu di ruang tunggu itu, untuk menghilangkan rasa jenuh aku memilih untuk memainkan handphone, kami berdua saling diam aku sudah asik dengan permainan yang ada di handphone ku.
Aku melihat ibu-ibu yang baru saja di panggil, tidak sengaja aku melihat mas Arnav yang lagi termenung, entah apa yang ia pikirkan.
"Kenapa mas?" tanya ku
Dia sedikit kaget dengan suara ku, ia menggusar-gusar wajah nya, aku mengusap punggung nya mengunakan tangan ku.
"Maaf ya!" ujar nya
Aku mengerutkan keningku, maaf untuk apa lagi?, perasaan dari kemarin-kemarin dia minta maaf mulu.
"Maaf mulu emang kamu ada salah?" ujar ku sedikit bercanda agar suasana tegang ini sedikit mencair.
__ADS_1
Dia menatap dalam mataku aku langsung bungkam oleh nya, seperti nya dia sangat serius untuk bicara.
"Maafin aku yang sudah menyakiti hati kamu, aku laki-laki yang tidak bertanggung jawab, maafin aku Audia!" ujar nya
"Aku sudah memaafkan kamu, jadi jangan bersedih lagi!" ujar ku
Seperti nya mas Arnav sangat merasa bersalah dengan apa yang telah ia perbuat oleh ku, hatinya mungkin tidak tenang karena kesalahannya itu terlalu terngiang oleh nya.
"Tapi ak--! ujar nya jari telunjuk ku sudah menempel di bibir nya.
"Sudah jangan minta maaf mulu, capek kuping ku dengar maaf, maaf terus!" ujar ku sedikit merayu nya
Dia tersenyum menatap ku, aku menaik naikan alis ku pada nya, ia tambah melebarkan senyum nya.
"Pasien atas nama Audia Ananda Putri!" bertepatan itu aku di panggil oleh perawat.
Kami berdua masuk ke dalam ruang dokter kandungan itu, dokter tersebut tersenyum saat aku duduk di depan meja nya, dokter inilah yang pertama kali memeriksa ku dan menyatakan jika aku hamil.
"Apa kabar nona Audia!" ujar dokter paruh baya itu
"Bayi nya sehat?" tanya dokter itu
Aku mengangguk kecil seraya tersenyum sambil melihat mas Arnav yang hanya diam mendengar perbincangan kami.
"Iya dok!" ujar ku
"Wah, sekarang pemeriksaan dedek bayi nya di temani oleh ayah nya ya!" ujar dokter itu
Mas Arnav tersenyum seraya mengangguk kecil, kini dokter kandungan itu menyuruh aku timbang badan terlebih dahulu, lalu tekanan darah ku juga di periksa, banyak sekali yang di periksa oleh dokter.
"Alhamdulillah, perkembangan janin nya sangat pesat ya, mungkin ini pengaruh dari ayah nya yang selalu ada buat ibu nya!" ujar dokter itu
Aku sangat senang sekali saat dokter beritahu kami kalau janin yang aku kandung sangat sehat.
Kami kembali duduk di kursi tempat tadi, dokter tersebut memberikan ku resep obat yang harus aku tebus di apotik rumah sakit ini.
"Jadi kapan istri saya periksa lagi dok?" tanya mas Arnav
Dokter tersebut tersenyum, "umur kandungan nya sudah mencapai empat bulan baru istri bapak di bawa ke sini lagi!" ujar dokter tersebut
"Terus kapan saya bisa lihat jenis kelamin nya dok?" tanya mas Arnav
"Waktu kandungan berusia empat bulan, baru bapak bisa melihat jenis kelamin nya!" jelas dokter tersebut
...
__ADS_1
Selesai pemeriksaan tadi kami tidak langsung pulang, mas Arnav mengajak ku ke mall untuk beli baju.
Sepanjang jalan mas Arnav selalu memegangi tangan ku, kami masuk ke pusat perbelanjaan ini, mas Arnav terus memganggam tangan ku seolah dia tidak ingin terpisah dari ku.
Aku di bawa oleh mas Arnav ke toko pakaian yang sangat besar di mall ini, aku sering menemani Aquila ke toko ini, toko ini termasuk toko dengan harga baju di atas level orang kaya.
"Mas yakin mau beliin aku baju?" tanya ku
"Untuk kamu apa pun itu akan aku belikan, mau planet mars sekali pun kamu mintak akan aku belikan untuk istri ku ini!" ujar nya
Kami berdua memilih baju yang akan aku beli, mas Arnav pergi ke pakaian yang khusus untuk ibu hamil sedangkan aku pergi melihat baju gamis, mata ku sangat terpesona dengan baju gamis syar'i ini, aku ingin membeli nya lagi tapi takut mas Arnav tidak memperbolehkan.
"Udah bunda?" tanya mas Arnav menghampiri ku
Aku menggeleng karena dari tadi aku tidak memilih baju, aku hanya melihat baju gamis yang tergantung di toko ini.
"Boleh yang ini nggak mas?" izinku mengambil salah satu baju gamis itu
Dia tersenyum lalu mengangguk aku sangat berbinar lalu aku langsung pergi ke kasir untuk membayar nya.
"Semua nya sudah di bungkus mbak?" tanya mas Arnav
"Sudah mas!" ujar mbak kasir itu
Ada lima paper bag yang di berikan oleh mbak kasir itu kepada mas Arnav, aku mengerutkan keningku.
"Mas aku belum beli baju, baju ku ke kecilan semua!" ujar ku
"Sudah, ini baju nya sudah mas belikan!" ujar nya
Aku melongo jadi mas Arnav yang memilih baju untuk ku, di dalam paper bag ini berarti baju untuk ku semua gitu?
"Baik banget sih!" ujar ku
"Pengertian lagi!" tambah ku tersenyum pada nya
Dia mengangguk kecil, tapi apa mas Arnav tau apa baju yang akan aku beli?
"Makasih sayangku!" ujar ku
"Sama-sama istri tercinta ku!" ujar nya
...
Bersambung...
__ADS_1