
Anas bermalaman di kampung itu karena tim medis itu belum usai melaksanakan tugasnya, Anas menghela napas karena ia tidak terbiasa tidur di tempat yang kumuh seperti ini, sebenarnya tempat nya bersih tapi Anas beranggapan jika tempat tidurnya tidak bersih.
"Kenapa gue harus tidur di kasur kotor seperti ini sih, gue kan nggak biasa tidur di tempat seperti ini, apa lagi kasurnya sangat kecil, tempat nya juga panas sekali!" gerutu Anas
Anas duduk di pinggir kasur kecil itu ia melihat teman-teman nya sudah tidur dengan lelapnya.
"Kok mereka bisa tidur nyenyak di tempat seperti ini sih?" ujar Anas melihat teman-teman nya itu.
Karena merasa panas dan udaranya terasa sesak, Anas lebih memilih pergi ke luar untuk mencari udara segar, Anas duduk di bangku yang tersedia di depan balai pos kampung itu.
Suasana sangat sepi hanya terdengar suara jangkrik, apa lagi di sekeliling balai pos itu tempatnya masih semak-semak belukar, Anas tidak merasa takut ia malah menikmati suasana malam yang sepi seperti ini.
"Suasananya sangat nyaman sekali!"
Anas berdiri dari duduknya ia melangkahkan kakinya ke halaman balai kampung ini, Anas menghirup udara segar saat malam seperti ini, ia menghela napas saat teringat dengan ucapan mama dan papa nya.
Anas memicingkan matanya saat perkataan orang tuanya terngiang-ngiang jelas di pikiran nya.
"Umur kamu sudah menginjak kepala tiga, kapan kamu akan memiliki pendamping hidup?"
"Papa tau kamu wanita karir, apa salahnya kamu mencari pasangan hidup, benar yang mama kamu bilang jika umur kamu itu tidak terbilang muda lagi!"
Anas menggeleng-nggelengkan kepalanya saat ucapan orang tua nya itu teringat lagi oleh nya, selama ini Anas tidak pernah memikirkan untuk mencari pasangan hidup, dan sekarang Anas baru menyadari jika umurnya sudah masuk kepala tiga saja, ia tidak menyangka saat ia baru menyadari nya.
"Kenapa gue tidak pernah kepikiran untuk mencari pasangan hidup?, dan sekarang umur gue sudah 32 tahun saja!"
Anas menjambak rambutnya karena frustasi, selama ini Anas hanya terfokus kan oleh pekerjaannya, ia tidak pernah mau bergaul dengan laki-laki.
Teman seumuran dengan Anas sudah menikah dan sudah memiliki seorang anak, apa lagi anak-anak temannya sudah ada yang bersekolah.
Di antara teman-teman nya itu hanya Anas seorang yang belum memiliki pasangan.
"Sekarang gue baru menyadari!"
Anas duduk di bangku yang ada di halaman balai kampung itu, suasana masih sama masih sunyi seperti tadi, ia melihat ke arah langit malam yang cerah dengan cahaya bulan dan kelap-kelip cahaya bintang.
"Dokter cantik belum tidur?" ujar seseorang membuat Anas tersentak dari lamunan nya, seorang pria dengan kain sarung ia tenggerkan di bahunya dan tangan kanan nya memegang sebuah senter.
Anas menatap pria itu dari bawah sampai atas, pria itu melempar senyum pada Anas, "saya manusia dok, bukan hantu!" ujar pria itu dengan gaya santainya menatap Anas.
"Saya tau!" ujar Anas mengalihkan pandangan dari pria itu.
Pria ini yang siang tadi yang mengantarkan ayahnya ke sini untuk pemeriksaan kesehatan, pria itu mengulurkan tangannya pada Anas.
"Saya Wisnu!" ujar pria itu, Anas tidak menjabat tangan Wisnu itu, karena Anas sangat enggan menjabat tangan orang kampuanga ini menurut Anas.
"Saya Anastasya!" jawab Anas
Anas sangat tidak suka dengan pria di depan nya ini, apa lagi pria ini tidak masuk kriteria Anas.
__ADS_1
"Dokter ngapain di sini sendirian, tidak takut masuk angin apa?" ujar Wisnu
"Angin takut sama saya bukan saya yang takut sama angin!" jawab Anas sangat dingin
Wisnu tertawa karena menurutnya perkataan Anas itu sangat lucu baginya, "dokter humoris juga ya ternyata!" ujar Wisnu
Mereka berdua menikmati angin malam ini, Anas terus diam tanpa suara, ia hanya menikmati suara-suara jangkrik yang sangat enak di dengar.
"Kalau boleh tau dokter kerja di rumah sakit mana?" tanya Wisnu
"Bukan urusan mu!" jawab Anas jutek
"Jutek banget!" lirih Wisnu tapi ia sangat senang bisa berkenalan dengan dokter ini, dari siang tadi sebenarnya Wisnu ingin berkenalan dengan nya tapi selalu tidak bisa.
"Dokter cantik pasti sudah punya pacar, suami atau yang lain gitu!" ujar Wisnu
Anas menghela napas kasar, baru kali ini ia bertemu dengan laki-laki yang membuat moodnya jadi hilang, apa lagi Wisnu menyinggung tentang pasangan.
"Dokter sudah punya suami ya!" ujar Wisnu
"Cukup, saya tidak memiliki siapapun!" ujar Anas meninggalkan Wisnu
Wisnu mengerutkan keningnya saat Anas pergi begitu saja, "salah ngomong atau gimana ya?" gumam Wisnu menutup mulutnya.
Wisnu tersenyum saat Anas bilang jika dia tidak memiliki siapapun, berarti Anas masih single.
...
"Pagi dokter cantik!" ujar Wisnu membuat Anas terkejut.
"Mau saya bantu?" ujar Wisnu
Anas menghela napas kasar karena Wisnu selalu menganggu dirinya, "saya tidak perlu bantuan anda!" ujar Anas menyingkirkan bahu Wisnu saat ia akan melangkah.
Wisnu menatap punggung Anas, ia hanya tersenyum simpul saja.
"Sadar diri Wisnu, dia mana mau orang kampung seperti kamu ini!" batin Wisnu.
Seperti kemarin Anas di tugaskan untuk meriksa tekanan darah, ia duduk di posko kesehatan nomor 1 di sana sudah ada teman Anas yang akan membantunya.
"Ck!" Anas berdecak saat telepon genggam nya tertinggal di dalam balai pos kampung ini, ia balik lagi ke sana.
Saat Anas melangkah ia tidak sengaja tersandung, Wisnu yang melihat itu langsung mengejar Anas, Wisnu dapat menangkap tubuh Anas itu, mereka berdua seperti orang berpelukan, Anas melotot saat ia tidak sengaja memeluk tubuh Wisnu.
"Menyingkir!" ujar Anas mendorong tubuh Wisnu sampai jatuh terjungkal ke belakang, Wisnu mengerutkan keningnya, bukan meminta terima kasih tapi Anas malah mendorong tubuh Wisnu.
"Sakit dok!" ujar Wisnu
"Pantas lo dapat itu!" ujar Anas
__ADS_1
Wisnu menghela napas berat ia berdiri lalu mengusap tangan nya yang luka akibat di dorong oleh Anas.
"Makasih!" ujar Wisnu lalu ia pergi dari sana, Anas menatap kepergian Wisnu itu, ia merasa bersalah saat ia mendorong Wisnu tadi, seharusnya dia berterima kasih pada Wisnu.
"Dokter Anas!" panggil rekan nya karena pasien sudah mulai berdatangan ke posko kesehatan nya.
Anas tidak jadi mengambil telepon genggam nya ia lebih memilih untuk memeriksa kesehatan warga kampung sini.
Anas tidak fokus dengan kerja nya karena ia teringat dengan wajah kecewa Wisnu tadi, ia merasa bersalah sudah menjahati Wisnu.
"Dok, dokter Anas!" ujar Mila saat Anas melamun padahal warga kampung sini sudah mengantri menunggu giliran.
"Mil, gantiin saya, badan saya tidak enak!" ujar Anas, Mila mengangguk lalu duduk di kursi tempat Anas duduk tadi.
Anas ingin mencari Wisnu ia ingin meminta maaf, gara-gara itu membuat Anas tidak fokus.
"Kenapa gue jadi kepikiran sama cowok tadi sih!" gerutu Anas.
Anas menghela napas ia mencari-cari Wisnu tapi tidak terlihat oleh nya, Wisnu sedang membersihkan luka nya ia sedang duduk di belakang posko kesehatan nomor 2, Anas memutari balai pos kampung ini, ia mengelilingi pandangan untuk mencari sesosok Wisnu.
Anas tersenyum saat melihat Wisnu lagi duduk di belakang posko kesehatan nomor 2 itu, Anas mengambil kapas dari tangan Wisnu itu ia membersihkan luka Wisnu itu dengan hati-hati, Wisnu kaget ia menatap wajah dokter yang membuat ia tidak bisa tidur semalam.
"Maaf, saya tidak sengaja!" ujar Anas
Wisnu mengangguk seraya tersenyum menatap wajah cantik Anas, di lihat dari dekat wajah Anas sangat cantik.
"Sudah!" ujar Anas selesai membalut luka Wisnu dengan perban.
Anas tetap duduk di samping Wisnu, Wisnu mendiami Anas biasanya ia akan selalu kepo dengan Anas tapi kali ini dia diam, Anas menatap wajah Wisnu dari samping, ketampanan pria ini akan nampak kalau di lihat dari samping.
"Lumayan juga!" batin Anas
"Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana?" tanya Anas memulai percakapan
"Di ujung sana!" jawab Wisnu tanpa menoleh menatap Anas, Anas mengangguk.
"Kamu asli orang kampung sini?" tanya Anas
"Iya!" jawab Wisnu singkat
Anas mengangguk lagi, "kamu kerja di mana?" tanya Anas
"Kenapa?" tanya Wisnu menatap Anas dengan tatapan sulit di artikan, "kamu jangan mentang-mentang orang kaya bisa menghina saya, saya tau saya ini hanya pria kampung, pekerjaan saya hanya buruh pabrik, kamu jangan banding-bandingkan saya dengan diri kamu yang kaya raya ini!" ujar Wisnu lalu pergi meninggalkan Anas.
"Tidak begitu maksud saya!" ujar Anas
Wisnu tidak menggubris ucapan Anas ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan balai kampung ini, Wisnu bela-belain datang ke sini hanya untuk menemui Anas tapi cara pandang Anas terhadap nya seperti si kaya dan si miskin.
"Apa gue salah ngomong?" gumam Anas
__ADS_1
...
Bersambung...