
Aku sudah kembali di rumah ku kini aku sedang menuangkan air kelapa ke dalam dot bayi, kata orang zaman dahulu air kelapa bisa untuk menurunkan panas si kecil, jadi aku membeli kelapa muda di perempatan jalan menuju rumah kami, Adnan ku tinggalkan bersama ayahnya, kata mas Arnav biar dia saja yang menunggu Adnan, ya walaupun mas Arnav juga sakit tapi dia bisa menjaga Adnan.
"Eh anak bunda nggak rewel lagi!" ujar ku saat Adnan lagi anteng di pangku oleh mas Arnav, sementara ayahnya lagi menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Bunda kenapa lama?" tanya mas Arnav
"Nggak kok bunda cuma sebentar, ayahnya aja yang nggak sabaran!" ujar ku mengambil alih Adnan dari mas Arnav
"Terus kelapa mudanya mana?" ujar nya
Aku membelikan dua buah kelapa muda untuk Adnan satu dan satu nya lagi buat mas Arnav yang sedang sakit juga. Aku memberikan gelas berisi air kelapa muda itu pada mas Arnav, ia meraih gelas yang aku julurkan padanya.
"Anak bunda harus minum kelapa muda juga ya biar cepat sembuh!" ujar ku memberikan dot berisi air kelapa muda.
Adnan meminum sedikit air kelapa muda itu, putra kecil ku itu memicingkan matanya karena ada rasa kecut-kecut gitu di air kelapa, putra ku itu membuang dot yang sempat ia pegang.
"Anak bunda nggak mau ya?" ujar ku
"Kalau nggak mau sini biar ayah aja yang minim!" ujar mas Arnav
"Mimik su...hiks...mimik susu...hiks...Buna mimik su!" suara cadel Adnan seraya menangis, aku membuka kancing baju bagian atas ku untuk menyusui Adnan.
Mas Arnav kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur, ku rasakan dahinya menggunakan punggung tangan ku, panas badannya masih tinggi.
"Ayah mau makan siang?" tanya ku karena sekarang waktunya makan siang.
"Nggak bun!" jawab mas Arnav
"Mau sakitnya lama?" ujar ku
"Bunda kan ada untuk mengurus ayah!" ujar nya
Aku menghela nafas sambil mengusap keringat di dahinya, seperti nya air kelapa tadi manjur untuk mas Arnav, buktinya saja keringat nya keluar.
Repot juga kalau mereka berdua saling sakit seperti ini, setelah menyusu tadi Adnan kembali tidur, aku bisa leluasa jika Adnan tidur.
Aku menghela nafas ku saat melihat rumah sebesar ini berantakan, malah cuma aku lagi yang mengurus rumah ini, pertama aku membereskan mainan Adnan terlebih dahulu baru aku menyapu lantai, setelah lantai ku sapu kini aku mengepel lantai.
"Semangat Audia...!" ujar ku memberi semangat untuk diri ku sendiri.
Selesai mengepel lantai kini aku pergi ke dapur, Masya Allah dapur ku berantakan seperti kapal pecah saja, ku tarik nafas panjang lagi dan lagi.
"Mas Arnav tega sama aku, masa art di liburkan, jadinya aku sendiri yang membersihkan rumah sebesar ini!"
Selesai sudah aku membersihkan rumah sebesar ini, kini aku tinggal masak makan siang, baru aku bisa nyantai setelah ini.
"Bunda... Adnan nangis!" teriak mas Arnav dari lantai atas
Terpaksa aku mematikan kompor dan meninggalkan masakan yang sedang aku masak, aku berlari ke kamar untuk menenangkan putra ku itu.
__ADS_1
"Hiks... Buna... hiks...Buna!" tangis putra kecil ku di gendongan ayahnya.
"Iya... ini bunda sayang!" ujar ku mengambil Adnan dari gendongan mas Arnav.
"Bunda ngapain aja kok lama?" tanya mas Arnav
"Beres-beres rumah yah, ayah sih bikin bunda repot coba aja art tidak di liburkan pasti bunda bisa ngurus kalian!" ujar ku
Mas Arnav mengambil telepon genggam nya entah apa yang ia lakukan dengan telepon genggam nya itu.
"Dalam waktu tiga puluh menit kalian harus sampai ke sini!" ujar mas Arnav lalu mematikan panggilan telepon
"Siapa yang kamu telepon?" tanya ku penasaran
"Art kita!" jawabnya
Aku melongo dengan tindakan mas Arnav ini, masa dalam waktu tiga puluh menit art bisa sampai ke sini, apa lagi rumah mereka pada jauh.
Benaran saja art rumah kami ini sampai juga dalam waktu tiga puluh menit, wah hebat ya mereka bisa sampai di sini dengan cepat nya.
"Istri saya lagi mengurus saya karena sakit, tolong kalian yang beres-beres rumah ini!" pesan mas Arnav lalu mas Arnav kembali lagi ke kamar bersama dengan ku.
Adnan putra kami lagi bermain karena panas badannya sudah mulai turun, tapi ayahnya yang belum turun-turun panas tubuhnya.
"Makan dulu ya biar bisa minum obat!" ujar ku
"Nggak ada selera!" ujar nya
"Kepala aku sakit Audia!" keluh nya
"Sini biar aku pijatin buat kamu!" ujar ku sambil memijat kepala nya itu, tidak lama dari itu terdengar dengkuran halus dari mas Arnav.
Kasihan sekali kamu mas, siang malam selalu berkerja, di larang entahlah di suruh berhenti mana mau dia secara pekerjaan pilot itu sedari kecil ia cita-citakan.
Aku hanya bisa memberi semangat untuk suamiku ini agar dia selalu semangat dalam hidupnya, ku belai rambutnya itu dengan kasih sayang yang ada untuk nya.
"Bunda!" ujar nya
Mas Arnav bangun lagi dari tidurnya, "iya ada apa?" tanya ku
"Buatin aku teh hangat boleh!" ujar nya
"Boleh, untuk ayah apa pun itu akan aku lakukan asalkan kamu jangan minta planet mars pada ku!" ujar ku sedikit bercanda menarik hidung bangir nya itu.
"Bisa aja kamu bercanda bun!" ujar nya mengusap pipi ku
Aku pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat untuk nya, aku membaut teh hangat ini penuh dengan cinta untuk nya.
"Nih pesanan kamu!" ujar ku meletakkan secangkir teh hangat itu di meja.
__ADS_1
"Makasih bunda!" ujar nya
Aku tersenyum seraya mengangguk, ku lihat mas Arnav yang lagi menyeruput teh hangat nya itu.
"Bunda!" ujar nya
"Ya!" jawabku
"Mbak Naya sama mbak Anas masih menyakiti atau membully kamu?" tanya mas Arnav
Aku mengerutkan keningku kenapa suamiku tiba-tiba membahas itu?
"Tidak!" ujar ku
Semenjak aku memutuskan untuk tinggal di rumah ini bersama suamiku, aku jadi jarang bertemu mereka bahkan sampai saat ini aku belum bertemu mereka lagi.
"Kenapa ayah ngomong gitu?" tanya ku
"Tidak ada, hanya saja mas kasihan sama mbak Anas!" ujar mas Arnav
Aku mengerutkan keningku kasihan bagaimana maksud nya?
"Kenapa begitu?" tanya ku
"Mas takut mbak mas itu di katai perawan tua, secara mbak Anas belum bersuami di umurnya sudah masuk kepala tiga!" ujar mas Arnav
Aku juga baru tau sekarang jika umur mbak Anas sudah memasuki kepala tiga bahkan sudah lebih juga, secara umur mas Arnav saja sudah 29 tahun.
"Kamu saja nikah dengan mas baru berumur 19 tahun waktu itu, sekarang umur kamu sudah 21 tahun dan sudah memiliki anak!" ujar nya lagi
Aku menggaruk kepalaku ya mau gimana lagi ya, jodoh ku datangnya saat umur ku masih 19 tahun waktu itu, tapi kalau mbak Anas mungkin Allah belum mempertemukannya dengan jodohnya.
"Gimana ya mas, aku juga nggak tau!" ujar ku
"Kamu punya kenalan tidak?" tanya mas Arnav
Aku berpikir sejenak kalau aku jodohkan mbak Anas dengan dokter Adam bagaimana ya?, soalnya dokter Adam belum menikah sampai saat ini.
"Kalau dokter Adam gimana mas!" ujar ku
Mas Arnav langsung menarik dagu ku dengan lembut, "mas nggak suka sama dia, ya kali mas mau punya ipar songong seperti dia!" ujar mas Arnav
"Di coba aja dulu mas, siapa tau jodoh!" ujar ku
"Nggak!" tolak mas Arnav
Aku tidak punya kenalan lagi selain dokter Adam, aku banyak teman laki-laki hanya di kampung saja kalau di sini mana ada.
Sulit juga ya ternyata cari jodoh buat mbak Anas yang umurnya sudah menginjak kepala tiga.
__ADS_1
...
Bersambung...