
Aku belum bisa tidur akibat mas Arnav berada dekat dengan ku, jadi kepikiran dengan perilaku manis dia tadi, ini apa benaran nyata atau bukan aku juga masih belum mengerti.
Tapi dia kenapa bisa sampai ke sini dan sikap nya juga sangat manis pada ku.
Sekali lagi aku menepuk-nepuk pipi ku, rasanya sakit berarti ini memang nyata. Jadi mas Arnav memang berada dekat dengan ku.
Dengkuran halus terdengar dari dia, aku menghadap ke arah dia lagi, tangan ku refleks mengusap wajah tampan nya itu.
"Ini benaran kamu mas, aku pikir hanya mimpi! gumam ku masih mengusap wajah tidur nya itu.
Aku juga berusaha memejamkan mataku, hati ku rasanya sangat senang saat ia ke sini, aku kira dia tidak akan lagi mencari ku.
Mas Arnav aku sangat berharap pagi nanti kamu masih ada di samping ku.
...
Subuh pun tiba aku terbangun saat azan subuh berkumandang sangat merdu, aku masih berbaring.
Bukankah malam tadi mas Arnav kemari menjemput ku?, ya dia malam tadi datang, aku memeriksa di sebelah ku ternyata aku tidak menemukan siapa pun.
Aku langsung duduk dan melihat di samping ku, tidak ada siapa-siapa di sini.
"Tadi aku hanya bermimpi!"
Aku mengerututi diri ku yang terlalu berharap pada nya, jelas-jelas itu hanya mimpi tidak nyata dan tidak pun asli.
"Kenapa aku terus berharap pada nya?"
Cklekk
Pintu kamar ku di buka oleh seseorang, aku langsung melihat ke arah pintu. Laki-laki yang sangat tampan berdiri di pintu yang sudah ia tutup kembali.
"Kenapa lihatin aku segitunya?"
Deg
Jantungku berdebar sangat kencang aku mengucek-ngucek mata ku, mataku memang tidak salah kan?
Atau ini...
"Mas!"
"Iya!"
Benar ini memang dia ini memang nyata, jadi semalam aku tidak bermimpi, dan harapan ku untuk dia yang masih ada di samping ku juga sungguh terkabulkan juga.
"Kenapa sih?" ujar nya mengahmpiri ku yang lagi duduk di sisi ranjang.
"K-kamu... ini benaran kan? ujar ku terbata-bata.
"Iya, kenapa hm?" ujar nya mengusap kepala ku, aku susah payah menghirup oksigen karena kami sangat dekat.
Aku masih memandang wajah nya dengan amat lekat, ia menaikan sebelah alis kanan nya.
"Kamu habis dari mana? tanya ku
"Luar, ngecek mobil, aku lupa kunci mobil tadi malam!" ujar nya
Aku mengangguk kecil, aku hendak ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengambil wudhu, dia menahan tangan ku.
"Mau kemana?"
"Ambil wudhu ini sudah subuh mas!" ujar ku
__ADS_1
"Maksud nya, kamu mau kemana pakai mukenah gitu, masa ambil wudhu mukenah masih kamu pakai!" ujar nya.
Aku melihat ke cermin kecil yang berada di kamar ku ini, jadi semalam aku masih memakai mukenah.
"Eh iya!" ujar ku, aku hendak melepas mukenah yang masih melekat sempurna, tapi ku urungkan niat ku.
Aku mengendarkan penglihatan ku ke seluruh kamar ini, jilbab instan yang biasa aku pakai aku letak dimana tadi malam ya?
"Kenapa, ada masalah? tanya nya
Aku mengangguk kecil, pasalnya aku tak pernah membuka jilbab ku di depan mas Arnav.
"Buka aja, kita kan sudah mahram!" ujar nya
Seakan dia tau dengan masalah ku tak ingin memperlihatkan aurat ku pada nya.
Aku masih ragu memperlihatkan rambut ku pada nya, selama ini aku selalu menutup aurat ku di depan laki-laki lain, dari kecil ayah dan bunda sudah mengajarkan ku untuk menutup aurat.
"Hmm... tapi...!" ujar ku sangat ragu.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau tidak apa-apa juga!" ujar nya
Aku mengambil jilbab instan ku di dalam lemari, lalu ku gunakan jilbab instan itu di balik mukenah ku, lalu barulah mukenah yang ku pakai tadi ku buka.
Selesai mengambil wudhu aku pergi lagi ke kamar ku, di sana sudah ada mas Arnav yang juga telah siap untuk sholat subuh.
Tadi dia sudah mengambil wudhu terlebih dahulu dari ku.
"Mau aku imam kan? tanya nya, aku mengangguk cepat, ini yang aku mau dari dulu di imam kan oleh imam ku.
"Mau!" jawabku
Dia mengambil saf paling depan, aku berdiri di samping kiri nya agak di belakang nya posisi ku sekarang.
Ia mengucapkan takbir dengan suara yang sangat lembut dan mampu membuat aku terbuai.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Alhamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,
الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ar-Rahmaanir-Rahiim
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
Maaliki Yawmid-Diin
Pemilik hari pembalasan.
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
__ADS_1
Iyyaaka na'budu wa lyyaaka nasta'iin
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim
Tunjukkilah kami jalan yang lurus
صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ
Siraatal-laziina an'amta 'alaihim ghayril-maghduubi 'alaihim wa lad-daaalliin
yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang ia bawakan sangat merdu sekali, aku menitikkan air mataku saat ayat-ayat Al Qur'an itu ia bawakan.
Selesai sholat ia menjulurkan tangannya pada ku, ku sambut tangan itu dengan seksama.
Aku mencium punggung tangan nya sangat lama, sampai aku kembali menitikkan air mataku.
"Kenapa menangis? tanya nya
"Senang dan juga terharu!" jawabku menatap mata hitam indah nya.
Dia tersenyum sangat manis, sampai sejauh ini ia masih memperlakukan ku sangat baik, apa dia sudah benar berubah?
Aku sangat bersyukur jika ia berubah lebih baik seperti ini pada ku.
"Maaf, mungkin kamu selama ini hati kamu sering aku sakiti, aku minta maaf!"
"Aku laki-laki pendosa yang tidak pernah menghargai perasaan istri ku sendiri, aku laki-laki jahat, kamu boleh menghukum ku, kamu boleh menghina ku, aku terima itu, karena sakit hati kamu selama ini tak akan pernah terobati walaupun kamu menghukum ku, aku sangat menyesal Audia, maafkan aku!"
Mata nya sudah berkaca-kaca aku tertegun saat ia meminta maaf pada ku, aku juga tidak percaya dengan ucapan nya tadi.
Ku tatap mata hitam itu dalam-dalam aku mau mencari kebohongan di mata nya, tapi tidak aku temukan.
"Aku sudah memaafkan kamu, aku juga tidak mungkin menghukum atau pun menghina suamiku sendiri!"
Air mata yang ia tahan tadi akhirnya menetes begitu saja, aku juga ikut menangis, ia langsung memeluk ku dengan erat.
...
Bersambung...
Jangan lupa like, komentar dan vote nya ya, biar author semangat update nya.
Ig : purna_yudiani
fb : purna yudiani
Follow juga Instagram author
__ADS_1