I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 68. Naik Pesawat


__ADS_3

Audia terus mendiami Arnav karena ucapan Arnav tadi menandakan jika ia akan pergi selama-lamanya dari hidup Audia, Audia meneteskan air matanya karena ucapan Arnav tadi terngiang-ngiang di pikiran nya.


Ibu muda itu menghapus air matanya saat suaminya menghampiri nya.


"Bunda!" ujar Arnav


Audia tidak menjawab karena sangat susah baginya untuk mengeluarkan suara akibat tangis yang ia tahan.


"Bunda!" ujar Arnav sekali lagi


Audia tidak menjawab ia terus fokus dengan putra mereka yang lagi menyusu itu, Arnav mulai kesal dengan istrinya yang mengabaikan panggilan nya.


"Bunda!" ujar Arnav sekali lagi.


"Ayah bisa diam tidak!" bentak Audia


"Lho kenapa bunda bentak aku?" ujar Arnav


"Habisnya ayah berisik terus, Adnan mau tidur aja jadi nggak bisa!" alasan Audia padahal putra mereka itu baru bangun tidur.


Arnav menghela napas, niat hati Arnav ingin minta bantuan istrinya itu untuk memasangkan dasi kerja nya, karena Arnav sudah mau berangkat.


Audia masih membelakangi suaminya itu, entah apa yang suaminya butuhkan saat ini, Audia masih tetap untuk diam, ia masih kepikiran dengan ucapan suaminya itu yang membuat dia merinding.


Bagaimana tidak merinding, Arnav berucap jika ia tidak ada di dunia ini lagi apa yang harus Audia lakukan, itulah yang membuat pikiran Audia penuh dengan semua ucapan suaminya itu.


"Bunda Adnan gigit apan tuh!" ujar Arnav saat ia melihat putra mereka itu lagi menggigit mainan yang sudah kotor karena berserakan di lantai.


Audia masih tetap diam, semua pikiran nya tertuju pada ucapan Arnav tadi pagi.


"Kamu kenapa berucap seperti itu sih yah, aku takut jika nanti ucapan kamu itu kejadian, aku belum siap untuk menerima nya!" batin Audia


Arnav yang lagi kesusahan memasang dasinya, malah atensinya teralihkan oleh Adnan yang menggigit mainan nya yang kotor.


"Bunda kenapa sih, ayah ngomong malah di abaikan!" ujar Arnav melihat wajah istrinya itu, Arnav kaget melihat wajah istrinya itu yang sudah sembab akibat menangis.


Arnav jongkok untuk melihat istrinya itu, sementara Audia duduk di tepian ranjang.


"Bunda nangis?" tanya Arnav


Karena Arnav sudah tau jika istrinya menangis barulah Audia mengeluarkan suara tangisan nya yang ia tahan lagi, sungguh pintar sekali wanita itu menyembunyikan suara tangisan nya.


"Hiks... jangan pernah tinggalkan aku!" ujar Audia


Arnav mengerutkan keningnya lalu ia berdiri dan membawa Audia dalam pelukannya, Arnav mengusap punggung istrinya itu, ia jadi bersalah dengan ucapan pagi tadi, soal pagi tadi dengan ucapan nya itu hanya candaan Arnav saja, tapi Audia malah memasukkan ke dalam hatinya.

__ADS_1


"Mas tidak akan tinggalin kalian berdua, sudah ya sayang jangan nangis lagi!" ujar Arnav menenangkan hati istrinya itu.


"Mas bohong, kenapa mas bicara seolah mas akan pergi meninggalkan kami, aku tidak suka mas bilang seperti itu, ucapan itu adalah do'a mas!" ujar Audia


"Iya, maafin mas ya, tadi hanya candaan saja!" ujar Arnav


"Bukankah kata mas serius tadi, mas jangan bikin aku takut dan merinding seperti ini!" ujar Audia


Arnav mengangguk-angguk kecil sambil mengusap kepala istrinya itu penuh cinta dan kasih sayang.


"Ana Uhibbuka Fillah!" ujar Arnav


"Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu!" jawab Audia


Karena hati Audia sudah membaik kini ia sedang membantu suaminya itu untuk memasang dasinya yang dari tadi tak jadi-jadi Arnav pasang.


"Mau menghina aku atau gimana mas?" ujar Audia karena tubuh Arnav sangat tinggi sehingga Audia menjijitkan kakinya agar dasi itu bisa sampai di leher Arnav.


"Eh lupa kalau istriku kurcil!" ujar Arnav seraya mencubit hidung Audia.


"Kurcil itu apa mas?" tanya Audia soalnya ia baru tau dengan kata kurcil itu.


"Kurcaci kecil!" ujar Arnav


"Iya deh iya!" ujar Arnav mengacak jilbab istrinya itu dengan gemas.


"Ayah... jilbab ku berantakan!" ujar Audia mencubit pipi suaminya itu.


"Cantik kok sayang!" ujar Arnav berhasil mencuri kecupan di bibir istrinya itu.


"Ayah...!" protes Audia


"Mau lagi?" ujar Arnav dengan menaik turunkan alisnya.


Karena selesai memasang dasi suaminya itu, kini Audia beralih ke putra mereka itu, Audia mengalihkan atensinya kepada putra nya itu ketimbang suami nya yang jahil itu.


Seperti inilah kehidupan mereka saat ini, kadang ada sedihnya kadang ada bahagia nya, selama dua tahun lebih mereka berumah tangga.


"Mau kami antar ke bandara nggak?" tanya Audia menawarkan dirinya untuk mengantarkan suaminya bekerja, sangat jarang Audia ingin mengantarkan suaminya itu ke Bandara.


"Boleh, bunda nggak capek ngurusin Adnan seharian?" tanya Arnav mengendong tubuh mungil putra mereka itu.


"Tidak, dari tadi kan mas yang nolongin aku!" ujar Audia.


"Boleh, ayok sayang kita ke bandara kita naik pesawat!" ujar Arnav mencium pipi gembul Adnan.

__ADS_1


Mereka bertiga di antar oleh pak Dadang ke bandara, Adnan putra mereka itu sangat senang sampai-sampai menepuk-nepuk tangan nya karena gembira bisa pergi jalan-jalan.


"Jagoan ayah senang ya, kita naik pesawat nanti ya!" ujar Arnav


"Ayah, jangan janjiin anaknya naik pesawat, emang ayah mau bawa Adnan kerja apa!" ujar Audia.


"Kalau bunda ingin naik silahkan, nanti ayah bilang ke atasan ayah kalau istri ayah ngidam naik pesawat, biar di bolehin!" ujar Arnav


Audia memukul lengan Arnav, semenjak kapan Audia ngidam lagi, "Ayah apan sih, aku nggak hamil, masa aku ngidam naik pesawat!" ujar Audia


"Ngidam nggak harus hamil bunda, emang bunda mau punya anak lagi?" ujar Arnav


"Eh, jangan sekarang yah!" protes Audia


Mereka bertiga sudah sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta itu, Adnan masih di gendongan oleh ayahnya, setelah mendapat izin dari atasannya, Arnav mengajak anak dan istrinya itu naik ke atas pesawat.


"Ayah aku takut!" ujar Audia


"Lah takut apa bunda, pesawat nya aja nggak terbang, nanti ayah yang nerbangin pesawat ini, kalau kamu lupa jika suamimu ini pilot!" ujar Arnav


Arnav mengajak anak dan istrinya itu ke tempat ruang kemudi pesawat, Arnav kecil di dudukan oleh ayahnya di kursi tempat pilot duduk itu, Arnav membuka topi pilotnya itu lalu ia pasangkan ke Arnav kecil itu.


"Yee... jagoan ayah sudah jadi pilot!" ujar Arnav sangat senang melihat putra kecilnya itu memakai topi pilot milik nya.


Audia tersenyum saja melihat kelakuan suaminya itu terhadap anaknya, "kalau besar nanti anak ayah harus jadi pilot juga, gantiin ayah kalau udah pensiun!" ujar Arnav


"Bunda lihat deh anak kita!" ujar Arnav


"Iya, bunda udah lihat, Arnav kecil sangat senang ya duduk di sini!" ujar Audia membuka topi pilot milik Arnav lalu mengembalikan nya pada Arnav.


"Bunda sama Adnan turun dulu yah, seperti nya kalian sudah mau berangkat!" ujar Audia


Arnav mengangguk lalu ia mengendong tubuh mungil Adnan, dan satu tangan Arnav menggenggam tangan istrinya, mereka bertiga turun dari pesawat yang akan Arnav bawa nantinya.


"Ayah hati-hati ya, jangan lupa selalu berdo'a minta perlindungan dari Allah SWT!" pesan Audia saat Audia ingin pulang.


"Siap sayang!" ujar Arnav memberi hormat.


"Anak ayah baik-baik ya di rumah sama bunda!" ujar Arnav


Mereka berpisah di parkiran mobil, Audia melihat suaminya itu di kaca spion, "semoga kamu baik-baik saja, Allah selalu melindungi mu, aamiin...!" ujar Audia.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2