
Ini hari ke lima Audia pergi dari rumah mertua nya, terakhir kali nya Arnav pulang sewaktu ia mencari-cari Audia, tapi karena gengsi yang teramat ia belum mengetahui tentang istri nya yang pergi dari rumah.
"Flight attendant prepare for arrival” ujar Arnav saat pesawat yang ia bawa akan sampai ke kota tujuan.
“Flight attendant disarm slide bar and crosscheck"
Pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Minangkabau, ia sampai di Padang pada pukul 10.30 wib.
Para penumpang turun dari pesawat Boeing 737 Batik Air ini. Arnav bersama Irfan masih di dalam ruang kemudi pesawat.
"Hmm... masih lama!" gumam Arnav melihat jam di pergelangan tangan nya.
Jadwal penerbangan mereka sedikit lama dari biasa nya, mereka akan kembali ke Jakarta pada jam 15.00 wib nanti.
Arnav bersama awak kabin lain nya turun dari pesawat, mereka akan di gantikan oleh awak kabin yang bertugas sesuai sesi nya.
"Lebih kurang lima jam lagi!" gumam Arnav melihat jam di pergelangan tangan nya lagi.
Irfan memicingkan matanya saat teman nya itu melihat jam nya terus.
"Sampai lo gila pun, jam itu akan berputar sesuai dengan ketentuan nya!" ujar Irfan menyenggol bahu Arnav
Arnav menaikan sebelah alisnya.
"Gue heran sama lo nav, sebenarnya lo kenapa sih?
"Akhir-akhir ini kerjaan lo nggak becus banget, heran deh gue sama lo, untuk apa gunanya teman dekat jika lo nggak mau curhat sama gue, dengan lo curhat lo pasti akan merasa hati lo itu plong dan lo juga dapat solusi juga, siapa tau gue bisa bantu lo!" ujar Irfan
Arnav memutar bola matanya, "bilang intinya aja fan, jangan ngomong nggak penting!"
"Oke, sebenarnya lo kenapa dan ada apa? tanya Irfan.
Arnav menghela nafas berat dan mengendihkan bahu nya ke atas, ia menggelengkan kepalanya.
"Huff... nggak tau!" desah berat Arnav
Kini mereka lagi di dalam kamar hotel milik Arnav, Irfan menghampiri Arnav di dalam kamar hotel nya itu.
"Terus kenapa sebenarnya? tanya Irfan.
"Nggak tau gue fan!" ujar Arnav mengusap kasar wajah nya.
Dia merasa ada yang janggal juga dengan diri nya ini, tapi dia juga tidak tau, tapi ada satu nama yang tak pernah tinggal di kepala nya yaitu Audia, ya, selama ini Arnav terus saja kepikiran dengan istri nya itu.
"So what?" ujar irfan
"Who knows!" ujar Arnav dengan wajah masam.
Irfan sebagai teman dekat Arnav juga merasa iba, dan merasa tidak beres dengan teman nya ini, Irfan juga takut untuk menerka-nerka nya, sebenarnya Irfan curiga jika Arnav sedang memikirkan Audia.
__ADS_1
Dari awal Arnav menikah dengan Audia, ia telah menceritakan semuanya kepada Irfan, Arnav sering curhat ke Irfan, tapi untuk kali ini Arnav memendam perasaan dan ia tidak ingin curhat.
Padahal Arnav bisa bercerita kepada Irfan siapa tau Irfan bisa membantu dan menasehati nya, tapi entah kenapa Arnav malas untuk curhat.
"Yakin lo nggak mau curhat gitu sama gue, gue ini sahabat lo lho, jika lo butuh curhat lo bisa sharing ke gue!" ujar Irfan menepuk pundak Arnav lalu ia pergi dari sana, Irfan memberi waktu kepada Arnav untuk menenangkan pikiran nya.
Arnav menghela nafas panjang, "apa aku sudah mulai jatuh cinta pada nya?"
Arnav menerka-nerka dan ia merasakan dadanya yang berdegup kencang.
Ada sesuatu yang menjalar ke tubuhnya saat ia teringat dengan Audia, ada gelenyar aneh saat ia kepikiran dengan Audia.
"Is that true? ujar Arnav dengan senyum mengembang.
Tapi ia langsung merubah ekspresi wajah nya kembali ke wajah jutek, ia menepis pikiran nya tentang Audia.
"Tidak, mungkin ini cuma mimpi saja!'
🌼🌼🌼
Jam delapan malam Arnav sudah kembali ke rumah nya, baru mendarat di bandara Soekarno-Hatta ia langsung buru-buru pulang ke rumah nya.
"Assalamualaikum! Arnav mengucapakan salam saat ia melihat keluarga nya berkumpul di ruang tengah.
"Wa'alaikumussalam!"
Apa mungkin di dalam kamar?
Awalnya Arnav berpikir jika Audia berada di dalam kamar, ia mengerutkan keningnya saat Aquila tidak beranjak dari sana.
Biasanya Arnav pulang Aquila lah yang akan memanggil Audia, soalnya Arnav tiap kali pulang bekerja Audia tidak pernah menyambut ia pulang, entahlah mungkin Audia sudah terlalu lelah akan sikap Arnav dulu.
Semua orang hanya diam, mereka tak mengajak Arnav bicara, tatapan mata mereka seakan kecewa dan juga marah, Arnav mengerutkan keningnya.
Awalnya Arnav tidak memikirkan tatapan kecewa itu, tapi lama kelamaan Arnav malah bingung sendiri.
"Mama, papa, Aquila, kenapa melihat Arnav seperti itu?" akhirnya Arnav buka suara
"Tanya pada diri kamu! ujar papa Tejo
"Lah, kenapa begitu, kan kalian menatap aku seperti itu, kenapa tanya pada diri ku?" ujar Arnav
Emosi Aquila sudah sampai ke ubun-ubun, selama ini ia diam karena ia menghargai kakak laki-laki nya ini.
"Abang jahat, Abang tidak menganggap mbak Audia, Abang harus tau kalau Mbak Audia pe--!
Mama Ima melarang Aquila untuk memberi tahu sebenarnya, mama Ima menarik tangan Aquila sampai-sampai Aquila terduduk kembali, tadi itu Aquila berdiri sambil menunjuk-nunjuk Abang nya, ia sangat marah pada Abang nya saat ini.
"Ma... biar dia tau ma!" ujar Aquila
__ADS_1
Mama Ima menggeleng-nggelengkan kepalanya untuk tetap diam.
"Mama gimana sih, biar dia tau rasa ma...! ujar Aquila.
"Shut up!" ujar papa Tejo dengan rahang sudah mengeras.
Aquila langsung tertunduk ia sangat takut papa Tejo saat marah.
Arnav dari tadi tidak tau maksud dari ucapan adiknya tadi, soal ia jahat dan tidak menganggap Audia itu emang ada benarnya.
Tapi kalimat terakhir nya tadi maksud nya apa?
"Ada apa dengan Audia? Arnav yang bicara sekarang.
Selama ini Arnav tidak mau tau dengan Audia, tapi entah kenapa ia sangat ingin tahu tentang istri nya itu.
"Papa, beri tahu aku ada apa dengan Audia istriku!" ujar Arnav, spontan tatapan mama nya teralih ke Arnav
Biasa nya Arnav tak pernah menyebut Audia dengan kalimat 'istriku', tapi sekarang ia menyebut istriku dengan lancar dan fasih tanpa jeda.
Mama Ima dan papa Tejo tersenyum sinis dan mengejek Arnav.
"Sudah pergi baru mengakui sekarang, sudah terlambat!" ujar papa Tejo dengan suara sedang tapi membuat Arnav mematung.
"Pe-pergi! ujar Arnav langsung paham dengan ucapan papa nya itu.
"Mama, papa bohong kan!" ujar Arnav mulai gelisah dan takut.
"Ya!" ujar mama Ima
"Tidak kan ma, Audia di kamar kan!" ujar Arnav seperti orang linglung sambil memijit pelipisnya.
"Abang terlalu naif, Abang terlalu egois, Abang tidak pernah memikirkan perasaan mbak Audia, Abang JAHAT!" ujar Aquila sangat marah.
"Abang...! ujar Arnav menjeda ucapan nya.
Arnav baru tau sekarang jika istrinya pergi dari rumah, Arnav seperti orang linglung saat kehilangan sosok seorang yang sudah mulai mengisi hidup nya.
...
Bersambung...
Yang follow Instagram author nanti author konfirmasi 👌
Ig : purna_yudiani
fb : purna yudiani
Jangan lupa dukung terus karya receh author 😁
__ADS_1