I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 37. Jahilnya Arnav


__ADS_3

Siang pun tiba sekarang aku sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah yang pernah aku tinggali bersama dengan nya dulu.


"Ayah bunda aku pergi lagi ke kota ya, aku sayang kalian, jaga diri ayah dan bunda!" ujar ku memeluk ayah dan bunda.


"Jangan khawatiri kami!" ujar bunda


Aku mengangguk kecil lalu aku beralih ke Yudia di sana adik ku melihat ku dengan tatapan sedih.


"Kak Audia aku pasti bakalan kangen sama kakak!" ujar nya


"Kakak juga pasti kakak akan merindukan kalian, kamu jaga diri baik-baik ya jangan membangkang sama ayah ataupun bunda!"


"Iya kak, aku akan mendengarkan nasehat kakak, di sana kakak harus jaga diri juga!" ujar Yudia.


Kini mas Arnav yang berpamitan kepada ayah berserta bunda.


"Ayah terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan ku dengan Audia, aku janji yah akan melindungi putri kalian!"


Mas Arnav memeluk ayah, "kamu jaga putri ayah sesuai dengan janji kamu!" ujar ayah


"Siap yah!"


"Bunda terima kasih juga telah memberi izin pada ku untuk melindungi putri bunda!' ujar mas Arnav pada bunda.


Kami berdua mencium punggung tangan ayah dan bunda.


"Ayah bunda aku pamit!" ujar ku


Mereka berdua tersenyum kedua mata mereka nampak berkaca-kaca, aku sangat sedih meninggalkan ayah dan bunda, tapi mau bagaimana lagi ini sudah kewajiban ku untuk ikut suamiku.


"Assalamualaikum ayah bunda!" ku ucapkan salam pada mereka.


"Wa'alaikumussalam...!"


Aku naik ke dalam mobil mas Arnav juga ikut naik juga, mobil pun melaju dengan pelan, ku lihat ayah dan bunda melalui kaca spion mereka bertiga melihat kepergian kami.


Berat rasa nya jika aku meninggalkan kampung halaman ku ini.


Perjalanan kami masih panjang aku hanya diam tanpa ingin berkata apa-apa pada mas Arnav.


"Masih sedih?" tanya nya


"Nggak!" jawabku singkat


"Terus kenapa manyun aja?"


"Malas aja ngomong!" ujar ku.


Mobil memasuki jalan tol kalau sudah masuk jalan tol ini kenapa bawaan nya aku ingin muntah?


Aku paling tidak suka kalau seperti ini jalan nya begitu panjang bikin kepala ku puyeng muter-muter jadi nya.


"Mas lebih baik kita berhenti sebentar!" ujar ku, aku sudah payah menahan muntah ini yang sudah sampai di tenggorokan ku.


"Kenapa? tanya nya


Kalau aku bilang muntah bisa-bisa ia jijay lagi, lebih baik tidak aku beri tahu kenapa aku minta berhenti sebentar.


"Mas berhenti!" ujar ku sudah tidak tahan lagi.


Mobil pun di berhentikan di tepi jalan aku buru-buru turun lalu menjauh dari mobil.


"Huek... huek... huek...!"


Aku mengeluarkan isi perutku mas Arnav membawakan aku air mineral.


"Kenapa nggak bilang dari tadi! ujar nya


"Malu!" ujar ku


Ya aku sangat malu jika aku mengatakan ingin muntah pada nya, waktu itu aku juga pernah muntah seperti ini juga tapi itu bersama mertuaku.

__ADS_1


"Kenapa malu? tanya nya


Aku menggelengkan kepalaku kini ku minum air mineral yang ia berikan tadi, apa tidak ada teh hangat di sini?


"Kenapa lagi?" tanya nya karena aku memuntahkan air mineral yang aku minum tadi.


"Tambah eneg!" ujar ku.


Tanpa berkata apa-apa ia langsung pergi dari sini ku lihat dia sedang pergi ke warung yang dekat di sini, mau ngapain dia?


Tidak lama ia kembali membawakan aku teh hangat aku tersenyum saat ia peka dengan apa yang aku minta.


"Makasih mas!" ujar ku


Dia mengangguk kecil aku masih merasa pusing, perutku rasa nya masih di aduk-aduk bagaimana ini?


"Sebentar ya!" ujar nya


Aku mengangguk saja ia sedang mencari sesuatu di dalam mobil tidak lama mas Arnav kembali membawa air mineral dan obat.


"Minum ini nanti kamu tidak akan merasakan pusing dan muntah lagi!" ujar nya aku menerima obat itu lalu meminum nya.


Kini kami melanjutkan perjalanan aku tertidur saat meminum obat tadi.


...


Aku menggeliat kan tubuhku kenapa rasanya sangat nyaman sekali, rasanya aku tidur di kasur yang sangat empuk.


Aku membuka mataku ku lihat di sekeliling ku, lho bukanya kami di dalam mobil tadi?


Apa sudah sampai?


Nyawa ku belum terkumpul betul maka dari itu aku masih seperti orang linglung, sekali lagi ku lihat sekeliling kamar ini aku terpaku pada salah satu foto yang sangat besar, ya foto itu foto mas Arnav.


Berati kami sudah sampai tapi kenapa dia tak membangun kan aku?


"Mas!" panggil ku


Eh dia kemana?


Aku beranjak dari tempat tidur ini apa dia meninggalkan ku di sini sendirian?


"Mas Arnav!"


"Kamu di mana?"


"Mas...!" pekik ku


Cklekk


Pintu di buka oleh sang pemilik kamar aku langsung melihat ke dia sambil terdiam, ia mendekati ku.


"Kenapa teriak-teriak? tanya nya


Aku menggelengkan kepalaku kenapa juga aku harus teriak, di tinggal sebentar oleh nya kenapa aku tidak siap?


Ini karena aku cinta sama dia atau gimana sih?


"Kamu dari mana?" tanya ku


"Bawah!" jawab nya


"Nggak berniat ninggalin aku kan?" tanya ku


"Niat nya gitu sih!" ujar nya tanpa dosa


Aku memicingkan mataku melihat nya ia menaikan sebelah alisnya, ia mendekati ku lalu jantung ini berdebar kencang lagi.


Stop! di situ mas jangan mendekat jantung ku kali ini tidak aman aku menjauh dari dia tubuh ku sudah tegang di buat oleh nya, aku yakin mungkin wajah ku kelihatan tegang juga.


Stop mas stop!

__ADS_1


"Mau ngapain?" ujar ku


Dia tidak menjawab ia terus melangkah aku mundur saat langkah kaki nya sudah dekat dengan ku.


"Stop!"


"Jangan mendekat!" ujar ku menunjuk nya dengan ekspresi takut entah kenapa aku takut dengan dia saat ini.


Dia langsung menghentikan langkah nya aku dengan refleks nya aku memegang dada ku yang berdetak kencang.


"Kenapa sih?" ujar nya


"Iya pokonya kamu jangan mendekat!" ujar ku


"Itu aku cuma kasih tau di mata kamu ada belek nya!" ujar nya lalu mengambil handuk di belakang ku.


Aku malu bukan main kenapa aku sangat takut jika dia mendekati ku, apakah jantungku ini sudah tidak aman lagi?


Jam menunjukkan pukul lima sore aku belum melaksanakan sholat ashar. Di dalam kamar mandi masih ada mas Arnav.


Aku kembali duduk di sisi ranjang aku masih kepikiran sejak kapan kami sampai ke sini?


Terus aku sampai ke kamar ini bagaimana?


Apa iya dia membopong tubuh ku ke kamar?


Sudahlah aku tidak perlu memikirkan itu, tapi dia sangat lama di kamar mandi sedang apa dia di sana?.


"Mas masih lama? tanya ku dari luar


"Sudah!" sahut nya


Aku membuka pintu kamar mandi itu tanpa aku ketahui ia ternyata masih memakai handuk separuh badan nya.


"Astagfirullah!" kaget ku mengucapkan istighfar.


Dia juga kaget karena aku masuk secara tiba-tiba.


"Audia kamu kenapa kemari? ujar nya


Wajah ku memanas karena menanggung malu yang sangat-sangat, kenapa kamu sangat b*d*h Audia?.


"I--tu a-aku mau a-ambil wudhu!" ujar ku terbata-bata.


"Oh, itu kran nya!" tunjuk nya pada sudut ruang kamar mandi ini aku langsung bergegas ke kran air itu ku segera ambil wudhu dia masih di kamar mandi.


Selesai ambil wudhu ia melihat ku dengan senyum jahil nya, wah nggak benar ini.


"Aku sudah ambil wudhu!" ujar ku


"Terus?" ujar nya


"Minggir!" ujar ku dia menghalangi pintu kamar mandi ini bagaimana aku bisa keluar, di dorong mana mungkin kan aku sudah ambil wudhu.


Tanpa aba-aba apa pun ia langsung mencium pipi ku, jantungku berdetak kencang lagi kenapa dia sangat berbeda sih.


"Tegang banget!" ujar nya tanpa dosa


"Mas....!" geram ku


Dia tertawa saja sambil melenggang pergi aku sangat mengerututi diri kamu mas!


...


Bersambung...


Like, komentar dan vote


Ig : purna_yudiani


fb : purna yudiani

__ADS_1


__ADS_2