
Dari tadi Arnav mencari keberadaan Audia, tapi ia tak menemukan nya, dari selesai sholat subuh tadi hingga jam enam pagi ia masih bingung karena Audia tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Arnav.
"Biasanya dia pagi-pagi sudah bangunin aku, tapi sekarang dia kemana?
"Suara nya juga tak aku dengar!"
Selesai Arnav siap dengan seragam pilot nya, ia pergi kebawah, satu tangan nya sudah memegang gagang koper.
"Pagi mama!" sapa Arnav
Sang mama sedikit kaget dengan putra nya itu, mama Ima tidak tau jika Arnav pulang semalam.
"Nav, kamu pulang?" tanya mama Ima
Arnav mengangguk lalu duduk di kursi meja makan, mama Ima dari tadi sedang menyiapkan sarapan pagi.
Mama Ima melihat putra nya itu dengan tatapan iba dan juga kecewa.
"Ma... kenapa lihat ku seperti itu sih?, ada salah dengan penampilan Arnav? tanya Arnav.
"T--tidak!" ujar si mama
Arnav celingak-celinguk mencari Audia, dia pikir Audia sedang di dapur membantu mama nya, tapi ia juga tak melihat Audia.
"Lihatin apa nav? tanya mama Ima
Mama Ima tau sebenarnya Arnav sedang mencari Audia, tidak biasanya Arnav mau ikut sarapan, karena selama ini Arnav selalu buru-buru pergi dan tidak menyempatkan makan.
"Cari apa nav? tanya Ima lagi.
Mama Ima tidak mau memberi tau tentang dimana keadaan Audia, biarkan Arnav sendiri yang nanya duluan.
"Nggak!" jawab nya
"Sudah mau berangkat aja? tanya mama nya
"Iya ma, jadwal penerbangan Arnav jam 7.30 wib nanti!"
Mama Ima mengangguk saja, mata elang Arnav masih mengelilingi sekitaran dapur ini, ia juga nampak kesal karena Audia yang ia cari tidak ada.
"Ck! decak kesal nya.
Mama Ima hanya geleng-geleng kepala dengan tingkat nya itu.
"Terlalu gengsi! batin mama Ima
Semua orang di rumah ini belum ada yang ke ruang makan, waktu masih pagi, mereka masih bersiap-siap.
Arnav makan dengan kesal, nasi dalam piring nya jadi sasaran empuk arnav, mama Ima geleng-geleng kepala saja.
Arnav jadi tidak nafsu makan gara-gara pagi ini ia tak melihat keberadaan istrinya, mama Ima masih diam dan belum memberi tahu sebenarnya kepada Arnav.
"Jangan salahkan makanan yang tidak tau apa-apa! tegur mama Ima
__ADS_1
Arnav cemberut sambil mengunyah makanan yang ia suap tadi.
"Mama perhatiin dari tadi kamu kelihatan kesal, karena apa ha? tanya mama Ima
"Hmm...!" Arnav tampak memikirkan sesuatu yang akan ia katakan ke mama nya.
"Ini... ma, nasinya kurang masak! ujar nya
Mama Ima mengerutkan keningnya, tidak biasanya Arnav mengomentari masakan mama nya, perasaan mama Ima memasak nasi nya juga benar.
"Ngawur kamu, mama kalau masak nasi selalu masak ya, apa lagi buat nasi goreng, otomatis nasinya masak dengan sempurna!" ujar mama Ima melihat Arnav yang garuk-garuk kepala.
"Bukan, bukan itu maksud--!"
"Sudah, kamu sebenarnya kenapa? potong mama Ima.
"Oh, nggakkk...! ujar nya
"Masih aja gengsi an, kebanyakan gengsi jadi nggak tau kebenaran nya!" batin mama Ima
Selesai ia sarapan Arnav masih duduk di sana, satu persatu anggota keluarga nya sudah berdatangan ke ruang makan.
"Arnav, kamu pulang!" ujar papa Tejo
"Iya pa!"
"Kenapa pulang?" tanya papa nya
Arnav tampak bingung dengan pertanyaan ambigu papa nya itu.
Arnav bangkit dari duduk nya ia akan pergi berkejaran lagi, jam sudah menunjuk pukul setengah tujuh, berati satu jam lagi ia akan menerbangkan pesawat nya.
"Mau kemana? tanya papa nya
"Kerja pa... terus mau kemana lagi, udah rapi gini! ujar Arnav
"Iya tau, tapi kamu nggak mau nanya dimana istri kamu gitu? ujar papa Tejo.
Arnav yang mau menyeret kopernya jadi mengurungkan niatnya, kata-kata ambigu papa nya itu bikin ia jadi bingung, sehingga ia mengerutkan keningnya.
"Dia di rumah kan! ujar Arnav kembali memperlihatkan wajah tidak pedulinya, nyatanya hati nya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran istri nya itu, tapi dengan ke gengsian yang terlalu, membuat hatinya tertutup.
"Arnav sudah telat ma, pa, aku pergi dulu! ujar Arnav.
Arnav sudah pergi keluar rumah ia hendak masuk ke dalam mobil, tapi ia malah mengurungkan niat nya.
"Maksud papa bagaimana tadi?, jelas Audia ada di rumah ini, terus kenapa papa bilang begitu?"
Sementara papa Tejo dan mama Ima hanya menghela nafas berat.
"Dasar, terlalu gengsi ya begitu! umpat mama Ima.
"Kenapa? tanya papa Tejo
__ADS_1
"Itu lho, dia padahal nyari-nyari istri nya lho pa... dia itu terlalu gengsi banget, geram mama lihat anak satu itu, ingin mama ulek-ulek aja tuh anak!" ujar mama Ima sambil mengulek tangan nya dengan tangan yang ia kepal kan.
"Sudah... mama jangan terlalu emosi nanti darah tinggi mama kumat!" ujar sang suami menegur istrinya
πΌπΌπΌ
Arnav masuk ke dalam mobil nya ia di antar oleh supir nya, dari tadi Arnav kepikiran dengan ucapan papa nya tadi.
"Maaf tuan, bukannya saya lancang, apa tuan tidak mencari nyonya Audia? ujar pak Dadang.
"Maaf ya tuan, bukanya saya ikut campur dengan urusan rumah tangga tuan, tapi yang saya tau nyonya Audia itu sangat baik, apa tuan tidak menyesal telah menyia-nyiakan istri tuan?, sekali lagi saya minta maaf ya tuan! ujar pak Dadang.
Arnav tidak mendengarkan ucapan supir nya itu, karena dia dari tadi kepikiran dengan ucapan papa nya tadi.
"Tuan!" ujar pak Dadang melirik tuanya melalui spion mobil.
"Owalah, tuan Arnav ternyata tak dengar saya ngomong, hmm... berarti dari tadi saya ngomong sendiri dong, macam radio rusak saja!" ngedumel pak Dadang.
"Apa pak? tadi pak Dadang ngomong apa tadi? tanya Arnav
"Tidak jadi tuan! ujar pak Dadang, ia juga tidak mungkin mengikut campur urusan rumah tangga majikan nya sendiri.
Itu terlalu lancang bukan?
"Nggak mau nanya dimana istri kamu gitu?
Pikiran Arnav selalu dengan kata-kata papa nya tadi, Arnav memukul kursi mobil dengan kesal nya. Pak Dadang juga kaget dengan tuan nya yang tiba-tiba marah tidak menentu.
Arnav sampai di bandara pada pukul tujuh pagi, ia langsung pergi menuju pesawat yang akan ia bawa.
Kini Arnav sedang mengecek dokumen kelengkapan terbang, lalu ia juga mengecek seperti bodi pesawat, lampu, ban, hingga sayap pesawat, ini semua dilakukan bertujuan untuk menjamin keselamatan selama penerbangan.
Sementara Irfan memastikan teknisi perawatan, inspeksi visual lengkap pesawat, menguji sistem darurat dan keselamatan, mengkonfigurasi GPS dan instrumentasi, memeriksa cuaca, perutean, serta berat dan keseimbangan.
Kini Arnav masuk ke dalam pesawat ia masuk ke tempat ruang kemudi pesawat.
"Sudah nav? tanya Irfan
"Dah!" jawab nya singkat, lagi-lagi Arnav tidak semangat bekerja.
"Heran gue sama lo, sehari aja lo nggak kayak gini napa, kayak mau mati besok aja!" ujar Irfan.
"Auah!" ujar Arnav.
...
Bersambung...
jangan lupa tinggalkan jejak π
Ig : purna_yudiani
fb : purna yudiani
__ADS_1
Follow Instagram author ya nanti author konfirmasi π