
Malam harinya Arnav tidak dapat tidur karena badannya terasa panas, pada waktu ke sini ia juga merasa tidak enak badan juga tapi ia tetap memaksa untuk sampai ke kampung istri nya ini buat mengantar Audia.
Sementara itu Audia sudah nyenyak tidur di samping Arnav, dari tadi ia hanya gelisah matanya juga tak bisa di bawa tidur, Arnav takut menyusahkan istri nya ia tidak membangunkan Audia.
Dengan pergerakan yang terasa oleh Audia ia jadi terusik dan terbangun juga, tidak sengaja Audia mengenai kulit Arnav yang terasa panas itu, Audia membuka matanya ia melihat Arnav yang gelisah.
"Mas, kamu sakit?" tanya Audia
Arnav tidak menjawab ia merasa panas di tubuhnya ini semakin menjadi-jadi saja, Audia turun dari tempat tidur ia menempelkan tangannya di kening Arnav.
"Mas kamu sakit!" ujar Audia sangat khawatir karena suhu tubuh Arnav sangat tinggi.
Audia pergi ke dapur untuk mengambil air untuk mengompres kepala Arnav, kebetulan juga bunda Diani baru keluar dari kamar mandi, ia melihat Audia yang sangat sibuk mencari baskom kecil untuk meletakkan air kompresan.
"Nyari apa malam-malam gini udia?" tanya bunda Diani
"Mas Arnav sakit bunda, aku nyari baskom untuk meletakkan air kompresan!" ujar Audia
Audia kembali ke tempat Arnav saat ini Arnav menggigil menahan dinginnya hari, Husna menyelimuti seluruh tubuh Arnav yang menggigil itu.
"D-i-ngin b-a-nget!" lirih Arnav
Audia sangat takut dengan keadaan Arnav yang tidak seperti biasanya kalau demam, Audia mengompres kepala Arnav mengunakan handuk kecil.
"Mas... kok kamu jadi demam gini sih tadi siang saja kamu tidak kenapa-napa!" ujar Audia mengurus suaminya itu.
Audia duduk di lantai seraya melihat wajah Arnav yang sangat pucat itu, Audia mengusap-usap tangan Arnav untuk memberikan kehangatan untuk nya.
"Mama kepala Arnav sakit!" ngigau Arnav
Jadi kalau demam tinggi seperti ini Arnav akan memanggil mama nya, begitulah seorang anak laki-laki itu walaupun dia sudah besar ataupun sudah menikah ia akan selalu mengingat orang tua nya yang membesarkan nya dulu.
"Iya mas, ini Audia pijatin kepala mas!" ujar Audia memijati kepala suaminya yang merasa sakit itu.
"Mama, Arnav mau minum!" ujar Arnav dengan mata yang tertutup, Audia memberikan suaminya itu air minum.
Setelah memijat kepala Arnav lalu ia mengompres kepala Arnav, Audia terjaga sampai malam untuk merawat suaminya yang sedang sakit ini.
Kesabaran nya sangat luas untuk merawat suaminya ini, Audia mengerjakan dengan ikhlas tanpa harus membantah sekalipun.
"Cepat sehat mas!" ujar Audia tidak lupa mengecup pipi Arnav
__ADS_1
Arnav sudah mulai tertidur dan tidak mengigau lagi barulah Audia bisa merehatkan tubuh nya lagi, Audia memeluk Arnav sangat erat.
...
Arnav terbangun saat azan subuh berkumandang ia merasakan ada handuk kecil menempel pada keningnya, Arnav mengambil handuk bekas kompresan itu, ia berusaha duduk walaupun kepalanya masih berat.
Arnav melihat Audia yang masih tidur, ia tersenyum lalu menyibak rambut istrinya itu yang menutupi separuh wajah nya.
"Makasih sayang kamu sudah mau merawat ku!" ujar Arnav mengusap pipi Audia, tidak lupa pula Arnav mengusap perut Audia yang ada calon anak mereka di dalam sana.
Audia juga ikut bangun karena ia merasa ada seseorang yang mengusap pipinya, ia membuka matanya ternyata di depan nya sudah ada wajah Arnav yang tersenyum pada nya.
"Udah sembuh?" tanya Audia
Arnav menggeleng-nggelengkan kepalanya, kepalanya masih terasa berat apa lagi suhu tubuhnya masih belum normal. Audia meletakkan punggung tangan nya ke jidat Arnav untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Masih panas, kita ke klinik saja gimana!" ujar Audia
"Nggak papa, aku udah mendingan!" tolak Arnav
Audia terpaksa mengiyakan tolakan dari suaminya itu, kini Arnav sedang di dalam kamar mandi ia sedang mengambil wudhu, sementara Audia sudah lebih dulu mengambil wudhu.
Arnav kembali ke kamar untuk menunaikan ibadah sholat subuh bareng Audia, seperti biasa Arnav menjadi imam untuk istrinya ini, walaupun dia sakit tapi sholat nya tidak pernah ia tinggalkan.
"Assalamualaikum warahmatullah..."
"Assalamualaikum warahmatullah..."
"Allaahumma antas salaam, wa minkas salaam, tabaarokta dzal jalaali wal ikroom."
(Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang memberi keselamatan. Dari keselamatan. Maha Suci Allah, Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan).
Selesai berdo'a Arnav menjulurkan tangannya agar Audia bisa mengambil dan mencium punggung tangan suaminya itu.
"Cepat sembuh mas!" ujar Audia
"Iya, aamiin...!" jawab Arnav
Arnav kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur ia masih belum kuat untuk berdiri, saat sholat saja ia hampir saja jatuh tapi ia tetap kuat dan Allah SWT memberikan kekuatan untuk hambanya dalam menjalankan ibadah nya.
"Kamu sanggup untuk balik ke Jakarta mas?" tanya Audia saat Arnav membaringkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"Nggak tau, kayaknya mas libur lagi deh!" ujar Arnav
"Kalau kamu libur apa kamu tidak kena tegur sama atasan kamu mas?" tanya Audia
Karena sering libur dan minta cuti sudah pasti atasan Arnav akan memberikan kompensasi kepada Arnav, tapi ini masalah nya Arnav sakit tidak mungkin juga dia bekerja dalam keadaan sakit begini, yang ada pesawat yang ia bawa akan mengakibatkan hal yang tidak bisa di bayangkan juga.
"Duh kasihan sekali kamu sayang!" lirih Audia mengusap kepala Arnav
Arnav hanya tersenyum saja seraya memejamkan matanya, Arnav memeluk kedua kaki Audia yang selonjoran di samping nya seakan ia mau menyalurkan rasa panas di tubuhnya ini.
"Mau aku buatin teh hangat nggak?" ujar Audia
"Nggak mau!" tolak Arnav
"Terus mau nya apa?" tanya Audia
"Nggak mau apa-apa selain kamu ada di sini, udah itu aja!" ujar Arnav
Audia tersenyum seraya mengusap rambut Arnav, suaminya sangat manja saat lagi sakit begini, untuk sekedar keluar kamar saja Arnav tidak mengizinkan Audia, cuma ambil sarapan untuk mereka berdua saja Arnav hanya memberi waktu lima menit saja untuk Audia keluar kamar.
Betapa manjanya captain pilot ini kepada istrinya!
"Mas pilot harus makan ya!" ujar Audia menyuapkan Arnav bubur, Arnav menggeleng-nggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau makan!" ujar Arnav
"Terus kapan sembuhnya kalau begitu!" ujar Audia
Arnav menyembunyikan wajah nya di balik bantal, bak anak kecil yang tidak mau dipaksa oleh ibu nya, sikap Arnav ini membuat Audia jadi gemas sendiri.
"Makan dikit aja mas!" ujar Audia
"Aku nggak mau!" ujar Arnav
Audia meletakkan bubur itu di atas nakas ia juga bingung dengan Arnav ini yang tidak mau apa-apa, baru sekali ini Audia di hadapi oleh Arnav yang sakit.
"Kalau kamu sakit kamu maunya apa?" tanya Audia
Arnav tidak menjawab ia hanya diam menatap wajah Audia dengan tatapan mata sedih. Audia memasang wajah memelas tidak tau harus berbuat apa.
...
__ADS_1
Bersambung...