I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 31. Merasa Sangat Amat Bersalah


__ADS_3

Malam ini cuacanya sangat terang, aku duduk di teras rumah sambil menikmati angin malam.


Aku tersenyum melihat bintang kecil yang berkelip-kelip di langit terang akibat cahaya bulan.


"Mas Arnav, ha dia apa kabar?"


"Sampai sekarang ia belum juga menjemput ku, berarti ia benar-benar tidak menganggap ku, sudahlah Audia, dia sudah punya kehidupan nya sendiri!"


Miris sekali hubungan ku dengan dia, baru beberapa bulan menjalin hubungan halal dengan nya, tapi berakhir begitu saja.


Aku memang harus mengambil keputusan secepat mungkin, kemungkinan aku tidak akan balik lagi ke sana.


"Audia, ngapain di sini?" ujar ayah memegang bahu ku, aku mendongak ke atas melihat wajah ayah.


"Menikmati malam yang cerah yah!" ujar ku menundukkan kepalaku, sebenarnya aku lagi memikirkan keputusan yang akan aku ambil.


Ayah duduk di samping ku, ku tatap wajah ayah yang sudah mulai keriput di makan usia, aku sangat beruntung memiliki ayah bara, ayah yang selalu menyayangi ku dari kecil hingga saat ini.


Ayah termenung sambil menatap lurus, aku tau ayah pasti kepikiran juga dengan masalah ku ini.


Dari dulu sampai sekarang aku hanya jadi beban di keluarga ku saja, aku tak pernah membahagiakan kedua orang tua ku.


Hanya masalah terus menerus yang aku berikan kepada orang tua ku.


"Ayah tidak melarang kamu mengambil keputusan, ini hidup kamu, ayah hanya bisa mendukung nya, kalau kamu ingin kembali lagi dengan nak Arnav, ayah dukung-dukung saja!"


"Kalau kamu ingin berpisah atau bercerai, ayah juga mendukung nya, ini keputusan kamu, ayah sama bunda tidak akan ikut campur urusan kamu!"


"Jika kamu sudah lelah dan tidak bisa lagi bertahan, lebih baik kamu mundur dan menjalani kehidupan yang baru tanpa ada dia!"


Aku hanya diam mendengar ucapan ayah, sebenarnya aku belum siap mengambil keputusan, aku takut jika aku mengambil keputusan sepihak, nantinya pasti akan ada penyesalan.


"Audia belum memikirkan nya yah!" ujar ku.


"Audia juga tidak mau mengambil keputusan secara sepihak dan terburu-buru, yang ada salah satu dari kita akan menyesal nantinya, aku ingin mengambil keputusan bersama dengan dia yah!' ujar ku.


Ya, aku ingin mengambil keputusan bersama dengan dia, aku juga harus tau apa yang akan dia ambil.


"Kapan?"


"Belum tau yah, mungkin mas Arnav masih bekerja, dia jarang pulang!"


"Atur waktu kalian untuk bertemu!" ujar ayah

__ADS_1


"Insyaallah ayah!"


Ayah kembali masuk ke dalam, aku masih mau duduk di luar.


Ternyata menikah di usia muda itu banyak tantangan yang harus kita lewati, masalah yang kita hadapi juga sangat sulit, mungkin ada sebagian dari orang menikah muda membuat hidup mereka bahagia, tapi tiba di aku tidak sebahagia itu.


...


Jalanan cukup macet saat malam ini, perkiraan waktu kemungkinan aku sampai di kampung Audia pada jam dua dini hari


Alasan apa yang akan aku berikan kepada orang tua Audia, apa aku mengakui saja kesalahan ku selama ini.


"Audia, saya minta maaf selama ini saya salah!"


Jalan malam ini sangat ramai sekali, jadinya aku tidak terlalu khawatir jika ada pembegalan.


Aku singgah terlebih dahulu di sebuah masjid, karena aku tadi belum melaksanakan sholat isya.


Aku mengambil wudhu terlebih dahulu, lalu baru aku melaksanakan shalat isya empat rakaat.


Aku berdo'a kepada Allah agar aku bisa di beri kemudahan saat bertemu dengan wanita yang telah aku sia-sia kan beberapa bulan ini.


"Ya Allah hamba tau hamba mu ini seorang laki-laki pendosa, tapi hamba mohon ya Allah izinkan lah hamba bertemu dengan istri hamba, hamba sangat berdosa sekali dengan istri hamba waktu itu ya Allah, pertemukan lah hamba dengan kekasih hati hamba lagi ya Allah!"


Sekarang aku baru menyadari jika Audia sangat penting dan berharga untuk diri ku.


Aku menghapus air di mata ku, kesalahan ku banyak sekali.


"Assalamualaikum nak!"


Aku mendongak ke atas tadinya kepala ku, ku tundukkan kebawah.


"Wa'alaikumussalam ustadz!


Ternyata ustadz masjid sini yang menyapa ku.


"Seperti nya kamu tidak orang sini, kamu dari mana dan hendak kemana?"


"Saya memang bukan orang sini pak ustadz, saya dari Jakarta hendak ke kampung B!"


"Perjalanan dari sini ke kampung B masih sangat jauh!"


Aku mengangguk kecil kini aku kembali menundukkan kepalaku ke bawah.

__ADS_1


"Pak ustadz bolehkah saya bertanya?


"Boleh, silahkan!" ujar pak ustadz sambil mempersilahkan ku bicara.


"Bagaimana jika seorang suami tidak menghargai perasaan istri nya?"


Pak ustadz mengangguk kecil seraya tersenyum.


"Dalam menghadapi persoalan rumah tangga, fokus kita adalah pada solusi yang menyatukan, bukan memecahkan. Jangan dulu orientasinya minta cerai, walau minta cerai, jika alasannya syar’i bukan hal terlarang.


Masalah ini tidak semata-mata diselesaikan secara fiqihnya: boleh atau tidak. Akan tetapi, usahakan dulu sekuat tenaga untuk bertahan dalam keadaan, dan sebisa mungkin melewatinya dengan baik.


Dalam rumah tangga, kadang ujian datang lewat pasangan sendiri, atau anak, atau ortua/mertua, atau ekonomi, atau kerabat, bahkan tetangga. Jika satu upaya perbaikan belum ada hasilnya, coba lagi yang lain. Terus seperti itu.


Pahami budaya yang membentuk istri, lalu maklumi, dan maafkan jika ada yang salah. Nikah dengan siapa pun jika tidak ada sikap saling memahami pasangan atau keluarganya, memaklumi, dan memaafkan, maka akan menemukan masalah.


Selama suami dan keluarganya masih ada hati, dan hati itu dikuasai oleh Allah, maka jangan putus asa untuk tetap berharap kepada Allah semoga membimbingnya agar lebih baik dalam mempergauli istrinya.


Wallahu a’lam!"


Aku mengangguk mengerti, jadi selama ini aku tak pernah memahami perasaan istriku sendiri, aku lebih asik dengan dunia kerja ku sendiri, sekarang aku baru paham, selama ini aku selalu membentak dan tak pernah acuh pada istriku.


"Apakah berdosa jika suami tidak menghargai perasaan istrinya atau sering membuat nya menangis?" tanya ku


"Nah itu telah di jelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits, Maka haram hukumnya jika seorang suami membuat istrinya menangis tanpa hak dan menyakiti istri. Hal tersebut telah disebutkan di dalam Al-Quran dan Hadits ya, Saat suami berbuat zalim kepada istrinya, maka dia telah melakukan dosa yang amat besar dan tubuhnya tidak lagi diharamkan dari api neraka!"


Aku semakin merasa teramat bersalah atas apa yang telah aku lakukan pada istriku.


Setelah menayangkan dan mendapatkan nasehat dari ustadz tadi, kini aku kembali melanjutkan perjalanan ku menuju kampung B.


Aku sampai di depan rumah sederhana itu pada jam 02.30 dini hari.


"Sepi sekali, semua orang pada tidur, tidak mungkin aku bertamu sepagi ini!"


...


Bersambung...


Follow Instagram author ya


Ig : purna_yudiani


fb : purna yudiani

__ADS_1


__ADS_2