I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 23. POV Author (Audia Pulang Membawa Luka)


__ADS_3

Audia turun dari bus yang ia tumpangi itu di tepi jalan besar dimana jalan itu menuju akses ke rumah Audia.


"Alhamdulillah... akhirnya aku sampai juga di kampung halaman ku!"


Audia berjalan menuju ke rumah nya, ia lebih memilih jalan kaki dari pada naik ojek.


Audia menikmati pemandangan sawah yang ia lalui, dia tersenyum saat dia bisa melihat kampung nya ini.


"Hmm... kampung yang selalu aku kangenin!'


Dia berhenti di halaman rumah yang tidak terlalu besar, rumah sederhana itulah tempat kedua orang tua nya berteduh selama ini.


"Ayah, bunda aku kembali! tidak terasa air mata nya menetes begitu saja.


Audia masih berdiri di halaman rumah nya ini, kaki nya seakan tak bisa melangkah saat ia ingin masuk.


Yang ia pikirkan apa alasan yang akan ia berikan kepada ayah bunda nya, saat ia pulang tanpa kehadiran suaminya, dan suaminya juga tak mengantarkan ia pulang.


Akankah Audia berkata jujur kepada ayah dan bunda nya nanti?


Atau ia berkata bohong demi menyelamatkan harga diri suaminya, walaupun suaminya tidak cinta pada nya, tapi ia tetap menutup kejahatan suaminya di depan orang tua nya.


"Bismillah!" gumam nya melangkah kan kaki nya untuk masuk ke rumah nya.


Ia sudah sampai di depan pintu rumah sederhana itu, tapi Audia masih ragu untuk mengetuk pintu rumah nya itu.


Sebelum ia mengetuk pintu rumah itu ia di kejutkan oleh sang adik yang sudah lama merindukan kakak nya ini.


"Kak Audia....!" teriak sang adik dengan lantangnya.


Ayah bara yang sedang duduk menikmati kopinya langsung kaget dengan teriakan dari putri bungsu nya itu, yang meneriaki sang kakak.


"Bunda, apa bunda dengar, Yudia memanggil kakak nya?"


"Dengar yah!"


"Putri kita kembali yah! ujar sang bunda dengan senyum kesedihan.


"Bunda... bunda jangan memperlihatkan kesedihan bunda pada Audia!"


"Tapi yah... bunda tidak tega dengan putri kita itu!"


"Ayah juga sama dengan bunda, tapi kita harus bersikap biasa saja, seolah kita tidak tau dengan beban yang putri kita pikul!"


"Kita harus memberi semangat saja untuk Audia!"


Ayah dan bunda nya telah tau dari besan nya, jika Audia akan kembali ke pada nya, besan nya juga telah menceritakan apa saja yang telah di alami oleh Audia selama ini.

__ADS_1


Sang besan sangat menyesal karena tidak bisa membantu Audia, papa Tejo sudah meminta maaf kepada ayah bara karena kelakuan putra nya itu terhadap Audia.


Audia masuk ke dalam rumah bersama Yudia sang adik, ia menunduk dalam saat ia sampai di depan kedua orang tua nya. Tas besar yang ia bawa masih ia genggam dengan erat.


"Audia tidak kangen bunda? ujar bunda Diani membuka suara, karena dari tadi mereka hanya diam.


"Assalamualaikum anak ayah...!" ujar sang ayah dengan suara lembut.


Mata Audia sudah mulai berkaca-kaca saat kedua orang tua nya itu menyapa dia lebih dulu.


"W--wa'alaikumussalam ayah...!" ujar Audia dengan suara sedikit terbata-bata.


"Kenapa menunduk nak? ujar bunda nya itu.


Audia berusaha menghapus air mata nya itu, tapi ia tak bisa, bahkan air mata itu dengan lancar nya mengalir di pipi chubby nya.


"Bunda.... ayah.... Audia... a-audia kangen kalian!" barulah ia melihat kedua orang tua nya yang sangat ia rindukan itu, Audia langsung menghambur ke pelukan hangat sang bunda yang selama ini ia rindui.


Bunda Diani juga merasakan kesedihan yang di rasakan oleh sang putri sulung nya itu.


"Ssttt... bunda kangen juga sama putri bunda, Audia apa kabar hm? ujar bunda Diani mengelus punggung Audia dengan lembut.


"Audia baik bunda, bunda apa kabar juga?" ujar nya.


"Bunda baik!"


Seakan beban yang ia pikul ia tumpahkan ke sang bunda yang sangat erat memeluk nya.


Ayah bara mata nya sudah berkaca-kaca juga saat melihat kesedihan dari mata sang putri sulung.


Ayah nya itu juga mengelus punggung Audia, dari tadi Yudia hanya memperhatikan ayah, bunda dan kakak nya itu.


"Terus Yudia di abaikan?" rengek sang adik.


"Sini, sini!" ujar bunda Diani


Pelukan hangat itu pun di lepaskan mereka kembali duduk di sofa.


"Kak Audia ke sini tidak bersama kak Arnav? tanya Yudia


Audia yang di tanya tentang suaminya jadi diam sesaat, ia melihat bunda dan ayah nya.


Bunda dan ayah nya hanya tersenyum seolah mereka tidak tau dengan apa yang Audia pikirkan.


"Mas Arnav kerja!" ujar nya tidak berkata bohong juga, memang kenyataannya jika Arnav sekarang ini lagi berkerja.


"Kenapa tidak cuti dan ikut sama kakak?" tanya Yudia

__ADS_1


"Sudah, jangan bicara mulu, lebih baik kakak kamu itu istirahat, perjalanan dari kota ke sini lumayan jauh, pasti kakak kamu capek!" ujar ayah bara, memotong ucapan kedua anak nya itu.


"Audia kamu istirahat saja! ujar bunda Diani


Audia langsung mengangguk ia juga ingin menghindar dari ayah dan bundanya, supaya orang tua nya ini tidak bertanya-tanya tentang Arnav.


Kini Audia sudah di kamar nya, ia tidak langsung merebahkan diri nya, ia mengeluarkan sebuah bingkai foto dari dalam tas nya.


Bingkai foto itu ia letakkan di atas meja kecil, bingkai foto itu ia ambil di rumah nya yang sebelum nya. Di dalam bingkai itu terdapat foto seorang laki-laki tampan dengan seragam pilot nya, ya, foto itu adalah foto Arnav.


"Walaupun kamu tidak cinta padaku, tapi aku tidak akan pernah melupakan mu, selama ini hari-hari ku terisi penuh dengan kehadiran mu, walau kamu tak pernah melihat ku ada di samping mu!"


"Aku tidak tau mas, aku pergi dari hidup kamu, kamu akan sedih atau tidak, itu hanya kamu yang tau!"


Audia tersenyum pahit, mana mungkin suaminya itu sedih dengan kepergian nya itu, tapi kita juga tidak tau hal itu.


"Haha... cuma mimpi ku saja jika aku pergi kamu akan sedih, mana mungkin itu terjadi, haha... Audia kamu terlalu berharap!" tawa kesedihan Audia.


Ia melihat foto itu lagi, ada luka di hati nya yang tidak akan pernah terobati.


"Hiks... aku pulang membawa luka!" tangis nya.


Audia menghapus air matanya lalu membaringkan tubuhnya di kasur kecil nya.


🌼🌼🌼


Di sisi lain Arnav dari tadi tidak tenang, ia akhir-akhir ini merasa tidak fokus dengan pekerjaan nya.


Ini yang kedua kalinya ia di tegur oleh rekan kerja nya.


"Captain Arnav jika anda tidak fokus lebih baik anda cuti saja!"


"Ini pekerjaan kita tidak main-main, kita bertanggung jawab atas keselamatan 150 penumpang!"


"Antara hidup dan mati!" ujar sang pilot lain menegur Arnav.


Pesawat yang akan ia bawa belum take off, akhirnya Arnav di gantikan oleh pilot lain.


Arnav dari tadi hanya diam saat pilot lain menegur nya, ia tak mempermasalahkan hal itu, karena di sini memang dia yang bersalah dan kurang fokus.


Padahal mereka akan terbang ke Jepang, tapi dengan mudahnya Arnav jadi tidak fokus.


...


Bersambung...


Ig : purna_yudiani

__ADS_1


fb : purna yudiani


__ADS_2