
Ayah sama bunda lagi berduaan di tengah-tengah sawah, mereka berdua lagi mengusir burung yang hinggap di padi yang belum di panen.
Aku tersenyum melihat kedua orang tua ku, kapan ya aku bisa seperti mereka?
Aku juga ingin seperti orang tua ku, memiliki hubungan rumah tangga yang harmonis, saling berbagi suka dan duka.
Tapi itu hanya impian yang tak pernah terwujud, sampai sekarang saja ia tak pernah mencari ku.
Sudah lima hari aku di kampung ia tak juga mencari ku, kemungkinan ia sudah pulang dari kerjaan nya.
"Kapan ya aku bisa seperti ayah dan bunda, mereka nampak bahagia!"
Seperti nya kamu tidak boleh berharap lagi dengan dia Audia, kamu ini sudah di campak kan, jadi kamu tidak boleh memikirkan dia lagi.
"Audia!" ujar bunda
Aku langsung menghapus air mata ku yang sedikit meleleh, ah, kamu jangan lemah Audia!
"Bunda!" cicit ku tak sadar aku langsung memeluk bunda.
Sungguh aku ingin berbagi masalah yang aku pendam selama ini pada bunda. Beban ku sangat berat, aku tidak bisa memikul beban ini sendirian lagi.
"Hiks...hiks...hiks... bundaa...!"
"Kenapa nak?"
Aku terus saja menenggelamkan wajah ku di perpotongan leher bunda, aku menangis sesenggukan. Bunda mengelus punggung ku.
"Menangis lah, keluarkan semua yang selama ini kamu pendam!"
"Menangis bisa membantu beban yang kita pikul bisa berkurang, walaupun berkurang hanya sedikit!"
"Bunda di sini, bunda akan selalu ada untuk kamu, bunda tidak akan pernah meninggalkan kamu, bunda sayang kamu, bunda sayang keluarga bunda!"
"Menangis lah nak...!"
Aku semakin menjadi-jadi menangis di perpotongan leher bunda ku, aku tidak bisa memendam nya sendiri, nyatanya aku hanya wanita yang sangat lemah dan mudah rapuh.
Bunda aku ingin menceritakan semua masalah ku selama ini, tapi keberanian itu belum ada pada diri ku bunda.
Bunda, mungkin engkau akan menangis juga setelah anak mu ini menceritakan semua keluh dan kesah nya.
Tapi aku tidak bisa bunda, aku terlalu takut untuk mengatakan nya sebenarnya.
Aku takut bunda akan kepikiran juga dengan masalah ku.
"Hiks...hiks...hiks... Bunda aku lelah bunda, aku lelah...!"
__ADS_1
"Bunda tau kamu lelah, menangis lah untuk meluapkan segala masalah yang kamu pendam!"
Runtuh sudah pertahanan ku selama ini, aku sebenarnya tidak ingin menceritakan masalah ku pada bunda, tapi aku benar-benar tidak sanggup.
"Hiks... bunda... hiks...!"
Telah puas menangis di pelukan bunda kini aku melonggarkan pelukan bunda, ayah ternyata juga telah berada di dekat kami.
"Ini salah ayah, maafkan ayah, seharusnya ayah tidak membuat kesepakatan konyol itu, jadinya putri ayah yang menanggung beban ini, maafkan ayah!"
Aku menggelengkan kepalaku, ini bukan salah ayah, ini salah ku, kenapa waktu itu aku menerima lamaran itu, seharusnya aku menolak nya, dan ini sudah takdir yang telah Allah berikan untuk ku.
"Ayah yang egois, ayah memaksa kamu untuk menerima lamaran itu, ayah sangat jahat pada putri ayah!"
"Tidak yah... hiks... ini bukan salah ayah!"
"Tapi kamu tersiksa gara-gara ayah, ayah terlalu naif!"
Aku tambah sedih saat ayah ku mengatakan jika ia yang bersalah, tapi ini bukan salah ayah.
"Ayah... hiks... ayah tidak salah yah!" ujar ku
Kedua orang tua ku mata nya juga sudah berair, bunda tidak kuat melihat aku, aku putri sulung nya sedih, tapi lebih hancur lagi hati ku saat bunda ku menangis.
"Bunda...!" ujar ku
"Maafkan aku bunda hiks... aku sudah membuat bunda menangis hiks... ini karena aku, karena masalah ku, bunda... hiks... maafkan aku!"
Bunda mengusap di belakang kepala ku yang tertutupi oleh hijabku.
"Tidak nak, bunda hanya sedih saja, karena selama ini anak bunda menyimpan masalah itu sendiri, tanpa sepengetahuan kita berdua!"
"Sekarang keputusan ada di tangan kamu, terserah kamu, kamu mau apa sekarang itu urusan kamu, pilihlah jalan sesuai dengan isi hati kamu!"
Aku masih sesenggukan sambil mencium punggung tangan bunda.
Sampai sekarang aku belum menentukan keputusan ku, aku masih ragu, jauh di dalam lubuk hatiku aku masih ingin berharap jika mas Arnav mau mencintai ku.
πΌπΌπΌ
Sore nya kami baru pulang dari sawah, aku kembali ceria seperti semula, beban yang selama ini aku pendam sendirian, kini sudah aku lepas semua nya.
Maafkan aku bunda, ayah, aku membagi beban ku pada kalian, aku tidak bermaksud untuk membuat kalian sedih, maafkan aku!.
"Jangan pernah memendam masalah itu sendirian lagi nak!"
"Maafin Audia bunda!' ujar ku.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf, memang seharusnya kamu itu harus membagi keluh kesal mu ke orang-orang terdekat kamu, supaya kami bisa membantu dan memberi solusi nya, jika di pendam sendiri, bunda yakin pasti kamu tidak akan bisa mencari solusi nya sendiri!"
"Sekarang keputusan ada di kamu, apa pun itu keputusan yang kamu ambil, bunda akan selalu mendukung nya!"
"Jadi, kamu tidak boleh sedih-sedih lagi!" ujar bunda.
Aku mengangguk kecil mata ini berkaca-kaca lagi, aku tidak tau harus apa sekarang.
Aku takut mengambil keputusan untuk saat ini, entah apa yang akan aku ambil nanti, aku masih memikirkan nya. Agar keputusan yang aku ambil tidak akan menyesal nanti nya.
"Aku belum tau keputusan apa yang aku ambil bunda, ayah, untuk saat ini Audia ingin menenangkan pikiran dan hati Audia dulu!"
"Tidak apa kan ayah bunda? ujar ku.
"Ayah ngikut kamu saja nak, yang bunda ucapakan tadi ada benar nya, ayah akan dukung apa pun itu keputusan yang kamu ambil!"
Aku mengangguk seraya memeluk mereka berdua.
"Nah kan, Yudia pasti di tinggal mulu, Yudia pengen di peluk juga sama kalian!" ujar Yudia adik ku yang sangat manja ini.
Aku sangat bahagia karena aku bisa merasakan hangatnya pelukan keluarga kecil ku ini.
Semoga kita selalu di beri kebersamaan seperti ini terus.
Kini aku hanya berdua dengan Yudia, adik ku itu lagi mengerjakan pr nya, aku jadi ingat dengan Aquila, dia apa kabar sekarang ya?.
"Kak, di kota itu kakak berteman sama siapa saja?"
"Hmm... teman kakak di sana tidak ada, tapi kakak punya adik perempuan juga di sana!"
"Adik perempuan? beo Yudia mengerutkan keningnya, ia memonyongkan bibirnya, aku tau pasti dia lagi cemburu.
"Kak Audia punya adik lagi, siapa? bagaimana orang nya! ujar nya
"Dia adik ipar kakak, dia baik sama seperti kamu!" jawab ku.
Dia hanya ber 'oh' ria saja, dasar pencemburu akut!
...
Bersambung...
Yang follow Instagram author nanti author konfirmasi π
Ig : purna_yudiani
fb : purna yudiani
__ADS_1