I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 45. Merasa Kecewa


__ADS_3

"Oh my god... kenapa kamu selalu ketemu dengan saya?"


Aku menghapus air mataku saat seseorang berbicara dengan ku, aku melihat dokter Adam lah yang ada di samping ku.


"Kamu!"


"Iya aku!" ujar nya


"Nangis lagi!"


"Gaje!" ujar ku


Kenapa dimana-mana aku selalu bertemu dengan orang ini, dunia ini apakah sempit?, atau dia ada banyak di dunia ini.


"Kenapa sih setiap aku ketemu sama kamu, kamu selalu nangis?" tanya nya


Aku tidak menjawab pertanyaan nya itu, kenapa dia sok kenal sok dekat dengan ku?


"Kalau kamu butuh teman curhat bisa sharing ke aku lho!" ujar nya


"Aku ini dokter psikiater yang bisa menyelesaikan masalah kamu!"


"Aku nggak nanya!" ujar ku membentak nya.


Tidak semua masalah bisa di selesaikan oleh dokter psikiater, dokter psikiater itu hanya bisa menyelesaikan masalah mental saja bukan masalah keluarga.


Hening


Dia masih duduk di samping ku, kenapa dokter ini selalu ada saat aku sedang ada masalah sih, kenapa dia selalu datang pada saat waktu nya aku membutuhkan teman.


"Kamu bekerja di sini?" tanya ku


"Iya, aku di sini bekerja setiap hari Senin sama Rabu saja, dan hari-hari lain nya aku bekerja di rumah sakit jiwa mutiara!" ujar nya


"Kamu sendiri di sini lagi membesuk siapa?"


"Mama ku!" ujar ku


Dia mengangguk kecil seraya tersenyum tipis, "seperti nya kamu banyak beban pikiran!" ujar nya


Ya sekarang aku memang banyak beban pikiran, di satu sisi aku terus di hina oleh saudara suami ku, dan di satu sisinya lagi aku terus memikirkan mas Arnav.


Bagaimana tidak aku banyak pikiran begini, dan pikiran ku saat ini tertuju pada mama mertua ku yang lagi terbaring lemah di rumah sakit ini.


"Tidak juga!" ujar ku


Mana mungkin aku curhat dengan orang yang baru aku kenal, apa lagi dia seorang cowok, aku harus menjaga privasi keluarga ku.


"Kalau kamu butuh teman curhat boleh hubungi aku!" ujar nya memberikan kartu nama nya lagi pada ku.


"Saya harus kembali karena pekerjaan saya belum selesai!" ujar nya pamit kepada ku.


Dokter Adam itu pergi dari sini aku masih memegang kartu nama yang ia berikan pada ku tadi.


cklekk


Pintu kamar di buka oleh mbak Naya, ia menghampiri ku.


"Ngapain kamu di sini lagi?"

__ADS_1


"Pulang sana, kamu tidak di butuhin di sini, jangan sok baik sama mama mertua ya, di sini itu aku lah yang paling berkuasa karena aku menantu pertama di keluarga ini!" ujar mbak Naya mendorong tubuh ku, aku sampai terhuyung ke belakang.


...


POV Author


Adam belum terlalu jauh dari Audia, Adam menoleh ke belakang hanya untuk melihat Audia, tapi ia merasa ada yang aneh saat ada perempuan yang baru keluar dari ruang inap itu.


Adam memperhatikan gerak-gerik wanita itu, Adam lebih mendekat lagi agar dia tau apa yang mereka bicarakan.


"Ngapain kamu di sini lagi?"


"Pulang sana, kamu tidak di butuhin di sini, jangan sok baik sama mama mertua ya, di sini itu aku lah yang paling berkuasa karena aku menantu pertama di keluarga ini!"


Adam melihat perempuan berpakaian modis itu mendorong tubuh Audia, sampai-sampai Audia terhuyung ke belakang.


"Benar dugaan ku, ada yang tidak beres dengan gadis itu!"


Adam masih memperhatikan itu Audia tak melawan nya.


Sampai perempuan yang di lihat Adam itu pergi dari tempat Audia, wanita itu melewati Adam, Adam memperhatikan wajah wanita yang jahat itu.


"Cantik-cantik kok jahat!" gumam Adam


...


POV Audia


Sudah di hina tadi sekarang aku di hina lagi, kenapa mereka sangat membenci diri ku, padahal aku tidak pernah salah pada mereka.


"Aku harus menelepon mas Arnav, aku harus beri tahu dia kalau mama sakit!"


Aku takut nanti dia akan kepikiran sama mama, tapi jika aku tak beri tahu apa kata dia nanti nya?


Sudah dua hari mama sakit tapi saudara nya tidak memberi tahu kami tentang mama, masa aku harus menyembunyikan nya lagi.


Aku terpaksa memberi tahu mas Arnav dari pada nantinya dia kecewa. Saat aku ingin menelepon mas Arnav, papa Tejo datang menghampiri ku.


"Audia!"


"Pa, papa sudah balik!" ujar ku


"Iya, kenapa kamu di luar?" tanya papa


Aku tersenyum tipis tidak mungkin aku beri tahu papa kalau mereka menghina ku.


"Pengen di sini aja pa!" ujar ku


"Oh iya, kamu sudah menelepon Arnav? tanya papa, aku menggeleng aku memang belum menelepon mas Arnav.


"Beri tahu Arnav!" titah papa


Karena sudah di beri izin oleh papa akhirnya aku menelepon mas Arnav, tapi tunggu dulu jika mas Arnav lagi menerbangkan pesawat nya bagaimana?


"Papa ke kamar mama dulu!" pamit papa


Aku mengangguk kecil lalu duduk kembali di kursi tunggu, aku menelepon mas Arnav, handphone nya tersambung.


Tut... Tut... Tut...

__ADS_1


Tidak lama kemudian mas Arnav mengangkat telepon dari ku, aku diam terlebih dulu aku mau menyusun kata-kata untuk memberi tahu mas Arnav kalau mama sakit.


"Assalamualaikum!" terdengar dari seberang sana suara bariton mas Arnav. Aku belum bersuara.


"Audia...!" panggil mas Arnav di seberang sana


"Sayang!" panggil nya dengan kata-kata manis


Aku menghela nafas berat lalu mulai bicara, air mata ini tak di undang malah menitik begitu saja.


"W--wa'alaikumussalam!" ujar ku dengan suara begitu lirih.


"Kenapa?" tanya nya di balik seberang sana


Mas Arnav pasti sudah tau jika aku ada apa-apa nya, saat ia mendengar suara ku yang sedikit berbeda.


"Mas dimana?" tanya ku


"Aku masih di Kalimantan!" jawab nya


"Ada apa sayang?" tanya nya lagi


"Mama mas hiks... hiks... mama masuk rumah sakit!" ujar ku menangis


"Inalillahi... mama baik-baik saja kan?" tanya mas Arnav terdengar sangat khawatir


"Mama sudah mulai baik mas, apa kamu bisa pulang?"


"Sebentar!" ujar nya


Ku dengar mas Arnav berbicara dengan orang di seberang sana, mas Arnav menanyakan kapan ia akan kembali ke Jakarta.


"Hallo sayang, mas pulang nanti malam, kamu jaga mama ya dan jangan lupa pula kamu harus jaga diri kamu baik-baik!" ujar nya.


Sambungan telepon kami putuskan aku kembali masuk ke dalam kamar mama, saat aku masuk mbak Anas keluar dari kamar rawat mama.


"Eh, lo jangan bicara macam-macam sama mama dan papa, kalau Lo bahas yang nggak-nggak awas aja lo nanti!" ancam mbak Anas


"Mbak tenang saja! ujar ku.


Aku masuk ke kamar rawat mama lalu aku duduk di kursi yang berada di samping brankar mama.


"Belum pulang?" tanya mama dengan suara lemas.


"Belum ma, aku mau menunggu mama di sini saja!" ujar ku.


Mama menggenggam tangan ku lalu mengelus dengan lembut, "Arnav sudah tau?" tanya mama


"Sudah ma!" jawab ku


Aku sebenarnya masih kecewa dengan keluarga suamiku ini, sudah dua hari mama mertua ku sakit, tapi mereka tidak memberi kabar sedikit pun pada ku.


Sebenarnya aku dan mas Arnav masih keluarga nya atau tidak sih?


Aku merasa kecewa saja.


...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2