I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 43. Merasa Takut


__ADS_3

Pagi pun tiba mas Arnav sudah bersiap ia sudah memakai seragam pilot nya, aku juga membantu menyiapkan baju-baju yang di butuhkan nanti di sana.


Aku menghampiri mas Arnav yang lagi bercermin di meja rias, ia sedang menyisir rambut nya.


"Sini aku bantu!" ujar ku, ia tak membantah lalu mengasih kan sisir itu pada ku, aku menyisir rambut hitam nya itu.


Dia bahkan tak menaruh curiga pada ku bisa saja aku mengacak-acak rambut nya ini, tapi dia malah mempercayai ku sebesar itu kah hati nya dengan mudahnya ia percaya pada ku.


Pagi ini kami masih saja diam-diaman tidak ada yang ingin kami bicarakan, dia memutar duduk nya pandangan mata nya tertuju pada ku.


"Jelaskan pada ku!" ujar nya


"Yang mana?" tanya ku


"Laki-laki kemarin yang ketemu sama kamu!" ujar nya


"Bukan ketemu sama aku aja tapi sama kita!" ujar ku memperbaiki ucapan nya.


Aku mulai dari mana cerita tentang dokter Adam itu, yang sangat jelas aku tak mengenal dia lebih bahkan kami hanya kenalan biasa saja, sudah di pastikan pula dokter Adam itu tak mengenal nama ku, aku tau namanya di waktu ia memberikan kartu nama nya pada ku.


"Kok diam?" tanya mas Arnav


"Oke aku jelasin ke kamu agar suamiku ini tak marah lagi!"


Aku ceritakan lah pada mas Arnav saat aku pergi dari rumah waktu itu, aku juga tak sengaja bisa bertemu dengan dokter Adam itu, saat di kampung waktu itu aku juga tak sengaja pula bertemu dengan nya, pertemuan kami selama ini tak sengaja saja, apa lagi di mall kemarin.


"Dia tidak ada hubungannya sama kamu kan?" tanya mas Arnav


"Tidak!" jawab ku singkat.


Wajarlah jika mas Arnav cemburu pada ku, dia kan seorang suami mana mungkin seorang suami tidak cemburu melihat istri nya bicara dengan laki-laki lain.


Aku sudah selesai menyisir rambut nya kini aku mengambil dasi bermotif batik itu, dasi yang sering di pakai mas Arnav untuk berkerja.


"Aku pakaikan boleh?" tanya ku terlebih dahulu, dia mengangguk kecil


Ku kaitkan dasi itu terlebih dahulu di leher nya lalu baru aku simpulkan dasi itu dengan benar, dulu aku sering memakai dasi ke sekolah maka nya aku bisa memasang dasi ini pada nya.


"Tujuan penerbangan kamu di mana saja?" tanya ku, aku masih merapikan dasi nya itu.


"Sesuai jadwal ku!" ujar nya


Kini kami berdua lagi sarapan di meja makan aku tak mood pagi ini entah kenapa aku tidak suka jika mas Arnav pergi berkerja.


"Jaga diri di rumah ya! ujar nya

__ADS_1


"Audia!"


Dia sudah selesai saja makan nya, aku mengantar nya ke depan rumah, aku terus saja cemberut.


Art di rumah ini sudah berjejeran berdiri di depan rumah.


"Aku pergi dulu, kamu jaga diri di rumah jangan melakukan pekerjaan apa pun itu, art di sini sudah banyak, kalau kamu bosan kamu bisa main ke rumah mama, di sana pasti kamu tidak akan bosan.


Aku pergi bekerja untuk kita dan anak-anak kita kelak, jangan bertingkah aneh-aneh, seminggu lagi aku akan pulang. Maafkan ya jika terjadi sesuatu dengan aku nanti kamu jangan terlalu bersedih karena inilah resikonya menjadi seorang pilot tanggung jawab nya sangat besar, Do'a kan saja keselamatan ku!" ujar nya mengecup lama keningku


Art di sini tampak sedih saat mas Arnav akan pergi.


"Aku yakin kamu pulang masih utuh seperti ini, aku akan menunggu kamu mas, cepat pulang ya!" ujar ku mencium punggung tangan nya.


Beresiko sekali pekerjaan kamu mas, aku takut jika apa yang kamu pikirkan akan terjadi, astagfirullah... aku tak boleh memikirkan itu juga.


"Maafin aku ya!" ujar nya, aku mengangguk saja buliran bening mengalir di pipi ku, sakit rasanya saat ia meminta maaf seperti itu.


Kini mas Arnav meminta maaf kepada art rumah ini, mas Arnav pergi ke bandara di antar oleh supir pribadi nya, aku melihat kepergian dia.


Seminggu lagi aku akan bertemu kamu lagi mas, pulanglah dengan keadaan utuh tanpa kurang satupun dari kamu.


...


Hati aku sangat sedih dan hancur dia pergi bagaikan dulu yang sering tak mempedulikan ku, rasanya sangat sama tidak ada beda nya.


Rasa kehilangan itu yang membuat hati aku hancur berkeping keping, aku ingin dia ada di sini tanpa pergi ke mana pun.


Tok tok tok


"Nyonya Audia!"


Aku menoleh ke arah pintu itu pasti mbok Ijah, selama ini aku sering curhat pada mbok Ijah, beliau sudah aku anggap seperti bunda ku sendiri.


"Mbok bawain nyonya makan malam!"


Aku membuka pintu kamar itu tampaklah mbok ijah yang membawa mapan berisi sepiring makanan dan satu gelas air.


"Makan ya nyonya!" titah mbok Ijah


"Nanti aja mbok!" ujar ku


Aku tak berselera makan karena aku kepikiran terus dengan mas Arnav.


"Makan dulu nya, nanti nyonya sakit!" ujar mbok Ijah

__ADS_1


Aku menggeleng saja lalu duduk kembali di tepian ranjang, mbok Ijah mengikuti ku lalu mengusap lembut punggung ku sama hal nya bunda yang sering menenangkan ku dengan cara seperti ini.


"Mbok tau nyonya itu sedih karena tuan pergi bekerja, apa lagi pekerjaan tuan sangat berisiko tinggi, tanggung jawab nya juga sangat besar, lebih dari seratus nyawa orang yang di bawa nya!


Kita sebagai orang terdekat tuan harus mendo'akan kebaikan untuk nya, agar mereka selamat sampai tujuan!" ujar mbok Ijah


"Audia sedih dan takut bik jika terjadi sesuatu dengan pesawat yang mas Arnav terbangkan bagaimana, Audia tidak sanggup mendengarkan berita itu bik Audia sangat cemas!" ujar ku


Aku tidak sanggup mendengar berita ada pesawat yang jatuh nanti nya, aku belum siap.


"Kita do'akan saja mereka!" ujar mbok Ijah


...


Malam begitu cepat berlalu kini sudah subuh saja, aku terbangun saat azan subuh berkumandang rasanya aku baru menutup mata ku.


Semalam aku tak bisa tidur karena terus kepikiran dengan mas Arnav. Aku bangkit dari tidurku lalu aku pergi ke kamar mandi buat bersih-bersih dan mengambil wudhu.


Kini aku melaksanakan shalat subuh dua rakaat, selesai sholat aku membaca ayat kursi terlebih dahulu.


"Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim.


Terus aku berdoa untuk dia yang jauh di sana.


"Ya Allah jagalah dia di sana ya Allah, karena hanya kepada engkaulah aku meminta, aku takut jika pesawat yang ia bawa tidak terkendalikan, aku hanya berharap dia pulang utuh seperti dia pergi, jagalah dimana pun dia berada ya Allah...!"


Aku membantu art yang ada di sini biasanya aku akan selalu membantu mbok Ijah.


"Pagi mbok!" sapa ku


"Pagi juga nya!"


Aku langsung mengambil alih pekerjaan mbok Ijah yang lagi mengaduk-aduk sambal yang ia masak.


"Nyonya biar mbok saja!"


"Tidak, biar aku saja!" ujar ku


Pekerjaan dapur dan beres-beres rumah telah usai, selesai sarapan tadi kini aku menonton televisi, tidak ada yang menarik sekali pun.


"Bosan!"


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2