I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 64. POV Author (2 tahun kemudian)


__ADS_3

2 tahun kemudian...


Umur pernikahan mereka sudah hampir tiga tahun saja, saat ini Audia merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga nya, awal pernikahan nya dulu mereka banyak merasakan lika-liku kehidupan yang kurang menyenangkan dan banyak juga drama dalam rumah tangga nya.


Sudah dua tahun lebih lamanya mereka menikah baru kali ini kebahagiaan itu Audia rasakan, dengan kesabaran dan keikhlasan hatinya untuk bertahan akhirnya pernikahan nya itu bertahan juga sampai sekarang.


Saat ini Audia di susahkan oleh suami dan anak nya, pagi ini anak mereka sangat rewel apa lagi Arnav yang dari tadi minta di kelonin karena dia sakit.


"Mas nanti aja ya, anak kamu nih nangis mulu!" ujar Audia memberi pengertian


"Kapan bunda?" ujar Arnav sangat lirih


Audia sedang mengendong putra nya yang sedang menangis, umur Adnan sudah satu tahun lima bulan, Audia melahirkan seorang putra yang sangat mirip dengan Arnav, Audia melahirkan pada saat Arnav lagi nugas dan tidak ada di rumah waktu itu.


Hati Arnav sangat senang karena ia mendapatkan seorang putra yang di lahirkan oleh istrinya itu, Arnav sangat menyayangi Adnan, setiap pulang kerja pasti Arnav mencari putranya itu ketimbang mencari istri nya, atensinya sudah teralihkan ke putra nya itu.


"Adnan ayolah jangan ambil bunda, ayah pengen di kelon sama bunda!" ujar Arnav tidak terima


Audia duduk di tepi ranjang, Arnav sedang berbaring di atas ranjang itu dengan selimut tebal membungkus tubuhnya, tangan Audia mengusap kepala suaminya itu sedangkan satu tangannya mengendong tubuh kecil Adnan.


"Ayah jangan gitu juga dong, anak kita kayak nya juga demam deh!" ujar Audia merasakan kalau tubuh Adnan panas juga.


"Benaran?" ujar Arnav lalu ia duduk dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


Adnan memberontak saat Audia gendong mungkin tubuh mungil Adnan itu merasa tidak enak, maka dari itu ia menangis terus dan memberontak dari gendongan bunda nya.


"Hiks... Buna... atit buna hiks...Buna!" suara cadel Adnan memenuhi kamar itu, Adnan menangis terus dari subuh tadi.


"Iya... kepala adek juga sakit ya... kasihan anak bunda!" ujar Audia menenangkan putra kecilnya itu.


"Mau mimik susu?" ujar Audia


Audia mengambil dot berisi susu yang sudah ia perah untuk Adnan, ia memberikan dot itu pada anaknya, Adnan tidak mau menerima dot yang Audia berikan pada anaknya itu.


"Hiks...Buna... mimik susu hiks...Buna... nan au susu hiks...Buna!" tangis Adnan membuat Audia pusing dengan kemauan anaknya ini.

__ADS_1


"Adnan mungkin mau mimik dari sumbernya bunda!" ujar Arnav tau maksud dari anaknya itu.


Audia membuka kancing baju bagian atasnya dan Adnan meminum susu dari sumbernya lagi, Audia menghela nafas karena putra dan suaminya ini bersamaan demam nya, tidak biasnya Audia repot seperti ini.


Arnav memperhatikan putra nya itu sambil mengusap-usap kepala Adnan, Audia melirik Arnav yang lagi senyum-senyum itu.


"Mas...!" tegur Audia tau dengan otak liar suaminya ini, sudah sakit seperti itu Arnav masih saja berpikir liar.


"Apa?" tanya Arnav tanpa dosa


Audia beranjak dari sana ia duduk di sofa yang ada di dalam kamar mereka itu, lebih baik menjauh dari pada berdekatan dengan suaminya itu. Adnan sudah selesai minum susunya ia sekarang juga sudah tidur, Audia meletakkan Adnan di box bayi.


Audia mengahmpiri suaminya itu, ia mengecek suhu tubuh Arnav menggunakan punggung tangan nya, suhu tubuh Arnav sangat panas sama seperti waktu dulu itu.


"Makan apa sih kamu mas?, demam kayak gini lagi, kamu kalau kerja jangan terlalu capek banget!" protes Audia


"Nggak tau!" ujar Arnav memeluk kaki Audia yang ia selonjoran di samping Arnav


"Imun tubuh kamu itu gampang turun karena kamu kerja nggak pernah istirahat, aku tau kamu itu cinta sama profesi pilot kamu itu, tapi kamu harus tau juga dengan kondisi kamu!" ujar Audia mengusap kepala suaminya itu.


"Udah waktunya sakit bunda...!" ujar Arnav, ada-ada saja jawaban yang di berikan oleh Arnav ini.


"Ayah makan dulu ya!" ujar Audia membawakan bubur yang ia buat tadi untuk Arnav.


Arnav mengangguk menerima suapan bubur itu, Arnav menghabiskan sarapan nya, baru saja bubur itu ia habiskan kini ia malah memuntahkan bubur itu lagi.


"Huek!" Arnav memuntahkan bubur itu lagi


"Huek!"


Audia memijat tengkuk leher suaminya itu, setelah memuntahkan isi perutnya kini Arnav kembali lagi ke atas ranjang.


"Kerokin dong bunda, kayaknya ayah masuk angin deh!" ujar Arnav


Audia dengan senang hati melakukan apa yang di minta suaminya itu, Audia mengeroki punggung Arnav, punggung Arnav sudah banyak garis-garis merah akibat di kerokin oleh Audia.

__ADS_1


"Bunda sakit nih, pelan-pelan napa, bunda nggak ikhlas kerokin aku?" protes Arnav


"Astagfirullah... ayah gimana sih, yang namanya di kerokin ya sakit kayak gini yah!" ujar Audia mulai jengah dengan Arnav banyak protes gini.


Selesai Audia mengeroki punggung suaminya itu kini Adnan putra nya yang rewel kembali, baru yang satu tidak rewel eh yang satu lagi malah rewel.


"Ayah...!" ujar Audia tidak sanggup lagi sudah dari tadi Audia tidak bisa istirahat untuk sebentar saja.


"Ayah juga demam sayang jadi nggak bisa bantu kamu!" ujar Arnav dengan suara lirih


Audia menghela nafas, ia berusaha untuk bisa tenang menghadapi situasi seperti ini, menjadi seorang ibu muda tidak mudah bagi Audia untuk menjalani sendiri, ia masih butuh bantuan dari orang sekitar nya.


"Adek mau apa ha?" ujar Audia mengendong tubuh mungil Adnan


"Hiks... Buna... tit la nan... la nan tit buna... hiks...!" bayi berumur satu tahun lima bulan itu mengadu pada bunda nya kalau kepalanya merasa sakit.


"Iya... anak bunda sakit ya kepala nya, aduh... kasihan sekali anak bunda!" ujar Audia memijat kecil kepala putra nya itu.


Apa lagi suhu tubuh Adnan juga panas sama seperti ayah nya, Adnan terus saja menangis di gendongan bunda nya itu.


"Yah kata bunda aku kalau anak kecil demam baiknya di beri air kelapa deh yah!" ujar Audia


"Iya, ayah pernah dengar dari mama kayak gitu juga, tapi siapa yang beliin kepala muda nya?" tanya Arnav


Tidak mungkin Arnav yang pergi membeli dalam keadaan demam seperti ini juga, Audia berpikir siapa lah yang bisa membantu mereka, semua keluarga nya sangat jauh dari mereka.


Begitulah kerepotan seorang ibu mereka tidak tau lelah sedikit pun demi keluarga nya.


...


Bersambung...


**Ntah nyambung ntah tidak author tidak tau, ini akibat dari pikiran author yang terus tertuju pada ujian akhir sekolah nanti, semoga kalian suka deh sama alur kali ini.


Ig : purna_yudiani

__ADS_1


fb : purna yudiani


Rekomendasi untuk kalian cerita baru author bukan baru juga sih tapi lebih menarik lho, dengan judul : (pernikahan siri seorang dokter) skuyy lah jangan lupa baca😘**


__ADS_2