I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 46. Merasa Tak Dianggap Oleh Keluarga Sendiri


__ADS_3

Malam ini aku yang nungguin mama di rumah sakit, aku sendiri yang memaksa untuk temani mama di rumah sakit.


Sementara itu papa aku suruh istirahat di rumah saja, mbak Anas dan mbak Naya juga ikut pulang, jam menunjukkan pukul 22.30 wib aku belum bisa memejamkan mata ku.


Mata ku terus terfokus pada mama yang sudah nyenyak tidur.


"Cepat sembuh ya ma, biar kita bisa kumpul bareng lagi!"


Aku tak mau tidur lebih dulu sebelum mas Arnav tiba di sini, tapi ini sudah jam setengah sebelas malam kenapa mas Arnav belum juga datang. Apa jadwal nya padat hari ini?


Mata ku sebenarnya sudah sangat berat tapi aku ingin melihat mas Arnav terlebih dahulu.


Aku mengeluarkan telepon genggam ku dari dalam tas ku, aku ingin menelepon mas Arnav ingin menanyakan dia ada di mana sekarang.


Headphone nya aktif tapi belum ia angkat, apa mungkin dia lagi ada urusan.


"Assalamualaikum...!" aku kaget saat suara nya itu terdengar dari sebalik telepon yang terhubung ini. Aku kira dia tak mengangkat telepon dari ku ternyata dia mengangkat nya.


"Wa'alaikumussalam!"


"Mama bagaimana keadaan nya sayang?"


"Alhamdulillah keadaan mama baik-baik saja mas, kamu sekarang ada di mana?"


"Aku masih di Bandara Soekarno Hatta, satu jam lagi aku akan sampai!"


"Kenapa? kangen ya sama suami kamu ini haum?"


Mulai lagi dia ge'er nya kan, siapa juga yang kangen sama dia, dasar mas pilot kepedean!


"Kepedean tingkat tinggi sekali kamu ya mas pilot!" ujar ku di sebalik telepon.


"Harus!" ujar nya


"Coba kamu tutup mata kamu!" titah nya


"Untuk apa?" tanya ku heran


"Tutup aja dulu!"


"Baiklah!"


Aku menutup mataku sesuai dengan apa yang ia perintahkan, awas saja kalau dia aneh-aneh, eh mana bisa dia aneh-aneh kan dia masih di Bandara.


"Udah belum?" tanya ku telepon kami masih terhubung.


"Nggak sabaran kamu ya!" ujar nya


"Nanti aku ketiduran mas kalau nutup mata kayak gini!" protes ku.


"Bentar jangan buka dulu!" ujar nya


Aku masih menutup mata ku sesuai dengan instruksi yang ia ucapkan. Aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang.


"Kangen ya sama aku!" bahkan suara bariton itu tepat terdengar di telinga ku, aku membuka mata ku ternyata dagu nya sudah menempel di bahu ku.


"Mas...!" pekik ku langsung mas Arnav menutup mulut ku dengan tangan nya.


"Mama bisa bangun sayang!" ujar mas Arnav usai melepaskan tangan nya dari mulut ku, aku melihat mama yang tak terganggu dengan pekikan ku tadi.


Mas Arnav membawa aku ke luar kamar ia menyuruh aku duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat mama ini.

__ADS_1


Aku ingin protes dengan mas Arnav yang omongan nya selalu bohong pada ku, tadi pas di telepon ia bilang kalau dia akan sampai satu jam lagi, tapi belum sampai lima menit dia sudah sampai saja.


"Bohong!" ujar ku memukul tangan nya


"Bohong?" beo nya


"Kapan kamu sampai sini, tadi kamu bilang kamu akan sampai satu jam lagi, terus baru lima menit kemudian kamu udah ada aja di sini, kan itu namanya bohongin aku!" protes ku.


Dia tersenyum memandangi ku lalu tangan nya mengusap pipi ku, "sudah protes nya?" ujar nya


"Belum!" ujar ku


"Kamu kenapa sering marah-marah tidak jelas gini sih sayang? tanya nya


Iya juga ya aku juga tidak tau kenapa aku sering marah-marah tidak jelas gini sama mas Arnav.


"Nggak tau!" ujar ku


Mas Arnav menyenderkan kepalanya di bahu ku, eh eh mas Arnav bikin jantung ku deg-degan saja. Dia selalu begitu selalu bikin orang jantungan.


"Mama sakit semenjak kapan?, kenapa aku baru tau nya sekarang?" tanya mas Arnav


Inilah yang aku takutkan dia pasti akan menanyakan kapan mama sakit nya, aku juga tak mungkin berbohong pada nya.


"Dua hari yang lewat mas!" jawabku


"Dua hari yang lewat?" beo nya lalu ia menyingkirkan kepala nya dari bahu ku, ia memandangi ku.


"Iya!" ujar ku


"Kenapa aku baru tau tadi? tanya nya


"Aku juga tidak tau mas!" ujar ku


"Mereka menganggap aku apa?, aku ini keluarga mereka juga tapi kenapa mereka malah menyembunyikan kalau mama sakit, aku merasa mereka tak menganggap ku, aku kecewa sama mereka!" ujar mas Arnav sangat kesal.


Kan ini aja mas Arnav sangat kesal dan merasa kecewa juga, sama hal nya dengan aku yang merasa kesal juga.


Aku mengusap punggung mas Arnav, "mungkin mereka tidak mau menganggu kerja kamu mas, positif thinking aja mas!" ujar ku.


"Tapi kan aku merasa diri ku ini tak di anggap!" ujar nya


"Sama hal nya dengan aku yang tak pernah kamu anggap dulu mas, sakit kan itulah yang aku rasakan setiap harinya!" ujar ku


Mas Arnav langsung bungkam dengan kata-kata aku tadi, seperti itulah rasanya tidak di anggap oleh orang terdekat kita, sakit memang iya sakit.


"Maaf!" ujar nya


"Tidak masalah, aku bukan mengungkit masa lalu kita waktu itu, aku hanya mengutarakan seperti itulah rasanya tidak di anggap itu, kamu tidak perlu minta maaf karena masa lalu itu sudah usai kita sudah membuka lembaran baru kita!" ujar ku


"Terima kasih Audia!" ujar nya


Aku mengangguk kecil kami kembali ke kamar mama lagi, aku duduk di sofa yang ada di kamar rawat mama ini, sementara mas Arnav duduk di kursi samping brankar mama.


"Cepat sembuh mama!"


"Arnav sayang mama!"


Aku terus saja memperhatikan mas Arnav yang menggenggam tangan mama dengan sayang nya, aku sangat beruntung memiliki kamu mas.


Mas Arnav kembali duduk di dekat ku, ia mengambil kepala ku lalu kepala ku bersandar di bahu nya.

__ADS_1


"Tidurlah!" ujar nya


Tidur seperti ini rasanya tidak nyaman sekali lagi, "tidak nyaman tidur seperti ini mas!" ujar ku


"Kepala nya letak di sini saja!" ujar mas Arnav menepuk-nepuk paha nya, aku menurut saja karena mata ini sudah sangat ngantuk.


"Masih tidak enak?" tanya nya


"Baru nyaman mas!" ujar ku lalu menutup mata ku, tangan mas Arnav mengusap kepala ku dengan lembut sampai-sampai aku terlelap.


...


Terasa ada orang yang lagi menepuk-nepuk pipi ku, tidur ku jadi terganggu oleh nya, siapa lah yang jahil pada ku padahal aku baru tidur.


"Kamu sholat atau tidak?" suara yang sangat aku kenal itu membuat aku membuka mata ku.


"Udah pagi aja?" tanya ku dengan suara serek


"Iya, ini sudah jam setengah enam!" ujar nya


"Kamu sudah sholat?" tanya ku


"Udah, kamu di bangunin susah banget!" ujar nya


Aku bangkit dari tidurku rasanya kepala ku ini sangat berat, apa lagi mata ku ini masih berat, seperti nya aku sakit juga deh.


"Kenapa?" tanya mas Arnav saat melihat aku lagi memegang kepala ku.


"Tidak!" bohong ku, aku tak ingin menjadi beban mas Arnav bertambah lagi karena mama sudah sakit juga.


Aku mengambil wudhu di kamar mandi yang berada di kamar rawat mama ini, ku lihat wajah ku di cermin, "pucat sekali!" aku memegang wajah ku, iya ini wajah ku sangat pucat sekali.


"Aduh... kepala ku berat sekali!" aku memegangi kepala ku yang sempoyongan.


Aku terduduk di dalam kamar mandi ini badan ku terasa lemas juga, sudah lama aku duduk di kamar mandi ini kini aku keluar dari kamar mandi ini.


"Kenapa lama?" tanya mas Arnav sudah menunggu ku di depan pintu kamar mandi.


"Abis buang air!" ujar ku berbohong aku menuju ke tempat sajadah yang sudah di gelar oleh mas Arnav, aku jalan sedikit sempoyongan.


"Audia, kamu tidak apa-apa?" tanya mas Arnav


"Tidak papa mas!" ujar ku


Aku melaksanakan shalat subuh yang sudah telat karena aku terlalu lama di dalam kamar mandi tadi.


Selesai sholat aku melihat mama yang sudah bangun juga.


"Mama sudah bangun!" ujar ku duduk di kursi yang ada di samping brankar tempat mama tidur.


"Sudah!" jawab mama dengan suara lemas


"Ma, mama merasakan apa sekarang?" tanya mas Arnav


"Mama baik-baik saja!" ujar mama mertua ku.


Aku menatap wajah mama yang sudah mulai segar, tidak seperti kemarin lagi, kemarin wajah mama sangat pucat.


...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2