
Aku sangat kaget saat mas Arnav kelihatan frustasi saat telepon genggam nya berbunyi, entah kenapa ia dari tadi mengumpat terus.
"Kenapa sih selalu aja ada gangguan nya!" gerutu mas Arnav melihat telepon nya itu.
"Mama!" gumam nya sedikit menjauh dari ku, ia mengangkat telepon nya itu.
"Assalamualaikum ma!"
"Wa'alaikumussalam!"
"Kamu kemana saja nak... mama sudah khawatir sama kamu, telepon di matiin bikin Mama cemas saja, kamu dimana sebenarnya?"
"Aku di restoran ma... bersama Audia, mama bikin gangguin aku aja, sudah ya ma aku lagi sibuk, i love you mama, maaf ma... nanti aku akan cerita ke mama, love you mom!"
Mas Arnav kembali lagi ke tempat ku ia mematikan telepon nya dan memasukkan nya ke dalam kantong celana nya.
"Mama bilang apa mas?" tanya ku
"Tidak bilang apa-apa!" ujar nya kembali menggenggam tangan ku.
Aku menaikan sebelah alisku lalu ia tersenyum sangat manis pada ku.
"Mas kenapa?" tanya ku.
Bukan nya jawab tapi ia malah terus memperhatikan ku, kenapa dari tadi ada yang berbeda dengan dia sih?
Dan dari tadi kenapa dia kelihatan kesal karena ada yang menganggu kami, ada apa ini dengan dia seperti nya ada yang salah dengan dia.
Aku melepas satu genggaman tangan dia dari tangan ku, karena dia menggenggam tangan ku dua-duanya, ku rasakan kening nya apakah dia sakit karena dia dari tadi kayak aneh saja
"Mas kamu kenapa sih?" tanya ku setelah memeriksa kening nya, wajah nya nampak jutek lagi aku menaikan sebelah asilku seraya tersenyum pada nya, lalu wajah jutek nya itu kembali berubah jadi senyum yang sangat manis.
"Aku mencintaimu!" ujar nya
Aku langsung terdiam seluruh tubuhku langsung mematung karena ucapan dia barusan.
Deg deg deg jantung ku deg-degan saat ia mengungkapkan perasaan nya pada ku, ini apakah nyata atau aku bermimpi?
"Maaf selama ini aku tidak menganggap kamu, maaf selama ini aku tidak peduli dengan mu, aku laki-laki yang tak pandai menghargai perasaan kamu, aku laki-laki b*doh karena aku sangat egois.
Aku memang laki-laki yang tidak baik untuk kamu, tapi aku ingin hidup bersama mu, izinkan aku untuk memperbaiki sikap ku selama ini pada mu. Aku sangat menyesal Audia karena aku mensia-siakan kamu waktu itu kini aku menyadari bahwa kamu sangat penting bagi ku, mungkin selama ini kamu mencintai ku tapi aku tak mau menerima nya pada waktu itu.
Maafkan aku Audia maafkan aku, aku ingin hidup bersama mu, izinkan aku Audia izinkan aku mencintaimu setulus hati ku, izinkan aku ada di dekatmu sampai kapan pun itu!"
Aku tidak bisa berkata apa-apa aku menatap mata hitam dengan bulu mata tebal itu di mata nya tak ada kebohongan sedikit pun, apakah ini benar?.
"Kamu tidak bercanda kan mas?" tanya ku, ia menggelengkan kepalanya, sebutir air bening menitik dari pelupuk mata ku.
"Benaran mas?" tanya ku lirih
"Aku tidak berbohong karena ini soal hati!" ujar nya.
Aku tidak bisa berucap karena rasanya lidah ku ini seakan kelu saat ingin berucap. Dia menghapus air mata ku yang sempat tumpah, aku menangis karena bahagia karena ia benar-benar mengungkapkan perasaan nya pada ku.
Dia tersenyum lalu memeluk ku aku juga memeluk dia.
__ADS_1
"Aku ingin hidup bersama kamu, izinkan aku mencintaimu setulus hatiku!" lirih nya
Aku melepas pelukan ku dari dia ku tatap lagi wajah nya itu.
"Aku juga mencintaimu!" ujar ku
Dia tambah menggenggam tangan ku aku terus saja menangis.
"Jangan nangis terus aku tidak suka lihat nya!" ujar nya menghapus air mata ku.
"Aku terharu sekaligus bahagia mas...!" ujar ku juga menghapus air mata ku.
Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jas nya lalu ia memberi ku sebuah kotak perhiasan, kenapa dia begitu hobi memberikan aku hadiah berupa perhiasan, tadi di mobil ia juga memberi aku cincin berlian.
"Kenapa hobi sekali kamu beri aku hadiah?" tanya ku masih terisak kecil.
"Kamu tidak suka?" tanya nya lalu wajah nya berubah masam.
"Tidak, tapi kenapa begitu sering? ujar ku
Dia menundukkan kepalanya, "aku tidak tau harus beri kamu apa tapi maukah kamu menerima hadiah ku ini!" ujar nya memberikan kotak perhiasan itu pada ku.
"Aku suka, kamu jangan menundukkan kepala kamu, aku jadinya tidak kelihatan dengan wajah tampan kamu itu!" ujar ku sedikit menggoda dia agar dia tak marah lagi.
Dia langsung mendongak menatap ku aku tersenyum sangat manis pada nya, "mulai bisa menggoda ku!" ujar nya
Aku mengangguk saja.
"Oh my god... akhirnya...!" teriakan seseorang membuat aku melihat di sekeliling kami.
Aku terkejut saat ada seorang laki-laki yang juga tampan, siapakah dia kenapa ada orang di sini, dan kenapa dia berteriak seperti orang kesenangan?
"Irfaann...!" geram mas Arnav menyebut laki-laki itu dengan sebutan Irfan.
"Akhirnya gue bisa membimbing Lo sampai ke titik ini juga, nggak sia-sia perjuangan gue nav, berhasil juga ternyata didikan gue ke elo! ujar pria itu.
"Lain kali lo bisa sharing ke gue nanti gue akan beri saran dan masukan nya ke lo, ah gue ikut bahagia nav!" ujar pria itu tak jelas maksudnya.
Lalu pria itu pergi saja dari sini, siapkan dia?
"Siapa mas?" tanya ku
"Orang gila!" ujar mas Arnav
"Tapi apa maksud dia kenapa dia bilang bisa membimbing mas sampai ke titik ini dan hasil didikan nya, apa maksud nya mas?" tanya ku.
"Bukan siapa-siapa, kita pulang!" ujar nya.
Mas Arnav kembali jutek ia jalan lebih dulu dari ku, iih dia kenapa lagi coba?
"Mas tunggu!" ujar ku, langkah kaki panjangnya itu tak bisa ku imbangi aku tertinggal jauh oleh nya.
"Iiih kenapa lagi dia sih?" gerutu ku kadang sikap dia tak menentu sama sekali.
"Mas kamu kenapa ninggalin aku sih?" protes ku saat aku sudah di dekat nya, dia tak menjawab.
__ADS_1
Hening
Aku melihat di sekeliling ku di sini tidak ada orang sepi sekali. Aku langsung menyambar pipi mas Arnav satu kecupan mendarat di pipi mulus nya itu.
Mata nya langsung membola karena terkejut oleh ulah ku, aku hanya nyengir tanpa dosa saja.
"Nakal sekali!" lirih nya memegang pipi nya yang aku sambar tadi.
"Pulang yuk capek nih!" keluh ku
"Yakin mau pulang dulu! ujar nya
Aku mengangguk sambil memasang wajah memelas.
"Ana Uhibbuka Fillah!" ujar nya
"Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu!" jawab ku dengan tersenyum, terima kasih kamu telah mencintai ku karena Allah, semoga Allah juga mencintaimu karena kamu telah mencintai ku karena-Nya.
...
1 bulan kemudian...
Aku terus saja melihat ke luar pagar rumah untuk menanti kepulangan mas Arnav, sudah satu minggu ini dia bekerja dan belum balik juga.
"Pulang dong mas aku kangen!" gumam ku sambil cemberut saja.
Dia selalu begitu pulang nya tidak menentu kan aku kangen juga sama dia, kenapa seorang pilot itu pulang nya sangat lama sih?
Aku masuk ke dalam kamar capek juga nungguin orang yang tiada pasti itu. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
"Assalamualaikum!"
Aku membuka mataku karena seseorang mengucapkan salam, aku tersenyum karena orang itu ialah mas Arnav.
"Aku kangen!" ujar ku langsung turun dari tempat tidur.
"Jawab dulu salam dari aku!" ujar nya
"Lupa, wa'alaikumussalam... suami ku yang lelah bekerja!" ujar ku mencium punggung tangan nya.
"Kangen!" ujar ku menatap dia yang mengerutkan keningnya.
"Aku enggak!" ujar nya melepas pelukan ku dari nya
"Kok gitu?" protes ku percuma dong aku kangenin dia tapi dia tak kangen juga sama aku.
"Jahat!" ujar ku memukul dada nya.
"Mas Arnav nggak cinta lagi sama aku?" ujar ku memukul tangan nya.
Dia tersenyum sangat manis lalu mencubit pipi ku dengan gemas.
"Aku kangen kamu juga, Ana Uhibbuka Fillah!" ujar nya sangat manis semanis gula merah.
...
__ADS_1
Bersambung...