
Aku terus saja menangis sampai-sampai aku bertekuk lutut di hadapan nya, aku seperti ini karena aku memang tidak mengkhianati cinta dia, aku benar-benar ingin ia percaya pada ku.
"Berdiri Audia!" ujar mama mertua ku
Aku menggeleng tidak mau aku harus mendapatkan kepercayaan mas Arnav lagi, aku tidak ingin seperti ini lagi, bodoh memang bodoh tapi aku tidak punya pilihan lain lagi.
Mas Arnav tidak mempedulikan ku ia lebih pergi meninggalkan ku, aku mengejar nya sampai ke kamar.
"Mas tolong percaya pada ku!" ujar ku
"Percaya bagaimana Audia harus bagaimana ha?" tanya nya
Aku juga bingung harus bagaimana mas andai kamu tau aku hampir gila karena kamu tidak percaya pada ku.
"Perlu tes DNA?" tanya ku
Ini ide yang sangat gila menurut ku karena tes DNA ini tidak main-main untuk usia kehamilan ku yang baru beberapa minggu, tapi aku harus memberi dia bukti agar dia mau percaya pada ku.
"Kamu tidak percaya pada ku?, mari kita buktikan dengan cara tes DNA!" ujar ku.
Dia menatap ku lalu menggeleng ia mendekati ku lalu mendekap erat tubuh ku, aku menangis di pelukan nya.
"Hiks... aku tidak membohongi mu, aku tidak pernah mengkhianati kamu hiks... aku mohon percaya pada ku hiks...!"
"Aku percaya pada kamu!" ujar nya membenamkan kepalanya di leher ku.
Aku berhenti menangis, antara percaya dan tidak percaya dia mau mempercayai ku sedangkan tadi dia tidak mempercayai ku, kebohongan apa lagi ini?
"Maafkan aku, aku salah tidak percaya pada mu aku minta maaf Audia, mata hatiku seakan tertutup karena syok saat mendengarkan kamu hamil anak kita!" ujar nya
Aku sedikit tersenyum karena dia mau mengakui jika anak yang aku kandung anak nya.
"Aku terlalu egois dengan diri ku sendiri sehingga aku gelap mata dan tidak mempercayai kamu, aku minta maaf aku tidak ingin kehilanganmu lagi, cukup waktu itu saja yang aku rasakan!" ujar nya
Aku merasakan mas Arnav menangis sehingga air matanya membasahi jilbab ku, ia menyembunyikan nya dari ku.
"Aku laki-laki yang terlalu bodoh karena tidak mempercayai kamu, maafkan aku!" ujar nya lirih
Aku mengusap punggung nya itu dengan lembut, akhirnya dia mau mempercayai ku, aku tadinya juga sempat syok karena dia tidak percaya pada ku.
Lama ia mendekap erat tubuh ku, aku sampai tidak bisa bernapas oleh pelukan yang begitu erat ini, tidak ada yang bicara, aku sedikit melepaskan pelukan nya ini tapi dia malah tidak pergerakan sama sekali.
"Mas!" ujar ku menepuk punggung nya
__ADS_1
"Mas kamu tidur?" tanya ku
Benar saja dia tidur di bahu ku, aku susah payah menyeret tubuh nya, ada-ada saja kelakuan mas Arnav ini, sudah menangis eh malah tidur.
"Makasih kamu sudah percaya pada ku!"
Aku mengusap sisa air mata nya itu, ternyata hati kamu juga lemah mas, aku pikir kamu orang nya kuat ternyata kamu mudah rapuh.
Apa sebab nya kamu tidak percaya pada ku mas?
...
Aku kembali lagi ke kamar, sudah sore tapi dia belum juga bangun, aku mengusap dahinya yang berkeringat itu.
"Audia!" ujar nya dengan suara berat
Aku menghentikan gerak tangan ku di dahinya itu, aku hanya diam saat dia memanggil nama ku.
"Sayang!" ujar nya
"Apa?" tanya ku
"Kamu tidak meninggalkan aku kan?" tanya nya
"Tidak mas, tidak mungkin aku pergi dari kamu sementara anak kita membutuhkan ayah nya!" ujar ku.
"Maafkan aku Audia, aku terlalu egois maafkan aku, aku bahkan tidak percaya dengan anak yang kamu kandung itu adalah anak kita, entah kemana pikiran ku ini, aku laki-laki bodoh yang tidak mengakui jika anak ini anak kita!"
Aku mengusap punggung nya, hati ku sudah senang karena dia percaya pada ku, ketika dia tidak percaya tadi membuat aku sakit hati.
...
Pagi harinya aku muntah-muntah lagi karena aku tak suka bau parfum mas Arnav, parfum nya sangat menyengat sekali membuat perut ku jadi eneg.
Aku memuntahkan isi perut ku, mas Arnav memijit tengkuk ku, aku terus muntah di wastafel, aku juga membutuhkan dia sekarang, tapi bau parfum nya itu bikin perut ku bergejolak saja.
"Udah?" tanya nya
Aku menggelengkan kepalaku, aku sedikit mendorong tubuh nya.
"Jauh-jauh aja kamu dari ku, bau parfum kamu itu lho mas bikin aku tambah mual!" aku memberi tahu nya
"Yakin?, nanti kamu butuh aku gimana?" ujar nya
__ADS_1
"Tinggal manggil aja!" ujar ku
Selesai muntah-muntah tadi kini aku duduk di sofa sambil menghirup bau minyak kayu putih, bau nya bikin aku rileks tidak seperti bau parfum mas Arnav yang bikin aku mual terus.
Pintu kamar di buka oleh mas Arnav, ia berdiri di ambang pintu seraya menatap ku, aku melihat nya juga, ingin dekat dengan nya, tapi bau parfum dia bikin aku eneg.
"Aku boleh masuk?" tanya nya
Kalau masuk ya tinggal masuk aja, ngapain juga dia meminta izin kepada ku dulu, jelas ini kamar nya bukan kamar siapa-siapa.
"Masuk aja kali mas, ngapain minta izin!" ujar ku
Dia masuk ke kamar lalu pintu kamar di tutup nya lagi, ia masih berdiri di dekat pintu, kasihan sekali kamu mas, mau dekat dengan ku eh bau parfum nya bikin aku mual.
"Boleh ke tempat kamu nggak?" tanya lagi
Aku mengerutkan keningku, masa harus minta izin lagi sih?, tinggal ke sini aja apa susah nya.
Aku mengangguk saja walaupun bau parfum nya itu sudah menusuk indra penciuman ku, aku berusaha menahan nafas agar aku tidak mual lagi.
"Boleh duduk?" tanya nya menunjuk sofa yang kosong di sebelah ku.
Aku mengangguk lagi, padahal aku sudah tidak tahan lagi ingin muntah.
"Masih mual?" tanya nya
Aku mengangguk lagi sebagai jawaban nya, aku berlari ke kamar mandi untuk membuang isi perut ini, menyiksa sekali.
"Aku keluar aja deh!" ujar nya saat aku sudah kembali ke tempat nya.
Aku menggeleng tidak setuju ia pergi dari sini, aku kan kangen juga sama dia, tapi dia malah mau pergi lagi.
"Tapi kamu mual lho jika bersama aku!" ujar nya
Aku menutup mulut ku karena mual ini menyusul lagi, aah... dasar bikin menyiksa aku saja, ah kamu kenapa sih nak bikin bunda tersiksa gini, bunda ingin bermanja-manja sama ayah kamu lho.
"Anak kamu ini lho mas!" rengek ku ingin memeluk nya tapi tidak bisa.
"Aku juga tidak tau!" ujar mas Arnav menggeleng-nggelengkan kepalanya
Aku cemberut memanyunkan bibir ku, mas Arnav juga tak bisa apa-apa selain menatap ku iba.
Hati sudah senang karena ia percaya pada ku, tapi masalah nya ini anak tidak mau bunda nya berdekatan dengan ayah nya. Nak jangan kayak gitu dong...!
__ADS_1
...
Bersambung...