
Arnav sangat ingin bercerita dengan Irfan ia juga ingin mendapatkan saran dan nasehat dari teman nya itu.
Sebelum sesi mereka yang akan menerbangkan pesawat tujuan Jakarta ia berencana pergi ke kamar Irfan.
Arnav sampai di depan pintu kamar hotel Irfan, ia tidak langsung masuk malahan Arnav lagi berpikir hal apa yang akan ia ceritakan pada Irfan nanti nya.
"Curhat nggak curhat nggak!" gumam Arnav di depan pintu kamar Irfan.
Arnav tidak jadi curhat ke Irfan ia sedikit malu dengan masalah nya dengan Audia, Arnav pergi dari sana.
Cklekk
Irfan membuka pintu kamar nya itu belum juga Arnav jauh dari sana tapi Irfan sudah mengejar Arnav.
"Bro!" ujar Irfan memukul bahu Arnav
"Ngapain di luar? abis dari mana Lo? tanya Irfan.
"Cari angin!" dusta Arnav
Irfan tidak percaya begitu saja ia melihat Arnav berdiri di depan pintu kamar nya tadi, tapi Arnav tak kunjung masuk maka nya Irfan lah yang menghampiri Arnav
"Butuh teman curhat?" ujar Irfan menawarkan jasa teman curhat.
Arnav berhenti di depan pintu kamar nya di pikir-pikir lagi tidak ada salahnya Arnav curhat pada Irfan selama ini ia juga sering curhat dengan Irfan ini.
Arnav tidak mengucapkan sesuatu ia masuk ke kamar nya di ikuti oleh Irfan. Arnav duduk di kasur nya sementara Irfan langsung berhamburan di atas kasur itu.
"Uuh... capek gue langsung hilang!" ujar Irfan sudah menemukan kasur untuk istirahat nya, dari tadi entah apa yang ia lakukan di kamar nya.
"Gue numpang tidur ya!" ujar Irfan memeluk guling yang ada di kasur milik Arnav ini.
Arnav tidak mempermasalahkan itu ia juga sering berbagi ranjang dengan teman nya ini, tapi kalian jangan berpikir aneh-aneh ya, mereka hanya berteman kok tidak ada yang lain.
"Bentar!" cegah Arnav
"Curhat aja gue denger kok!" ujar Irfan sudah tau maksud dan tujuan teman nya ini.
"Gue nggak tau mulai cerita dari mana dulu!" ujar Arnav
__ADS_1
"Ck!" Irfan berdecak kesal
"Cerita dari mana enak nya dulu!" saran Irfan
Arnav menghela nafas panjang ia juga tidak tau dari mana ia akan bercerita. Irfan dari tadi menunggu Arnav bercerita tapi Arnav tak kunjung bercerita.
"Mulai woy jangan melamun mulu!" ujar Irfan.
"Iya ini gue mau cerita!" ujar Arnav
"Gue tidak tau fan kenapa akhir-akhir ini hati gue tidak tenang ya saat gue kepikiran dengan nama dia, gue rasa ada salah deh dengan hati gue ini!"
"Lo kan tau gue tidak cinta sama istri gue sendiri, dari pertama gue nikah sampai sekarang gue belum menyukai gadis itu, di mata gue ada saja kesalahan yang gue lihat, tapi akhir-akhir ini gue sedikit gelisah saat gue tak melihat nya sebentar saja!"
"Malam tadi saja gue tak melihat batang hidungnya, kira-kira gue kenapa ya fan? tanya Arnav
"Ah itu namanya cinta tumbuh di hati batu lo itu!" ujar Irfan sangat santai memberikan jawaban nya.
"Apa mungkin?" tanya Arnav
"Tapi gue sering kali membentak dan sering tak acuh juga sama dia gue juga sering tak menganggap dia ada di sisi gue, gue sangat jahat juga sama dia!" ujar Arnav
"Fix itu cinta naf cinta...!" ujar Irfan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu lagi.
"Tapi gue tidak yakin!" ujar Arnav
"Bodoh amat gue bilang itu cinta ya cinta, jadi cowok jangan kaku amat!" ujar Irfan.
Arnav mengerutkan keningnya ia mengusap kasar wajah nya, senyum Arnav sedikit merekah saat ia kepikiran kalau ia cinta dengan istri nya.
"Mau gue ajarin Lo cara mengungkapkan perasaan kepada seorang wanita!" ujar Irfan
"Boleh deh!" ujar Arnav sangat antusias
Irfan tersenyum dengan kegigihan nya urusan hati hadapi aja dengan Irfan dia akan tau sifat dan karakter wanita.
"Hal pertama yang harus lo lakuin itu beri perhatian lebih pada wanita yang lo suka, lo juga bisa beri dia hadiah setiap wanita pasti akan suka di beri hadiah!" ujar Irfan
Arnav mengerutkan keningnya ia tidak percaya apa yang di bilang oleh Irfan, mana mungkin wanita suka dengan hadiah pikiran Arnav.
__ADS_1
"Terlalu lebay nggak sih?" ujar Arnav tidak setuju dengan saran Irfan menurut Arnav saran yang di berikan oleh teman nya itu sangat lebay.
"Terserah lo!" ujar Irfan menabok kepala Arnav dengan bantal guling.
Arnav mana mungkin memberikan perhatian lebih atau memberikan Audia hadiah langsung, yang ada Audia akan semakin curiga dengan nya. Apa lagi sikap Arnav yang sangat berubah drastis.
Irfan banyak memberikan saran dan pengertian pada Arnav tapi tidak satupun yang mau Arnav lakuin.
"Istri gue orang nya kalem gue aja nggak tau sifat aslinya kayak gimana, gue kadang juga susah untuk membaca pikiran nya!" terang Arnav pada Irfan.
"Gue selama ini juga tak pernah ngobrol secara akrab dengan nya, ah gue mungkin sangat payah!" lirih Arnav
Irfan mencibirkan bibir bawah nya, "ah masa lo nggak pernah ngobrol akrab sama dia, berarti selama ini lo nggak pernah nyentuh dia gitu?" sewot Irfan memukul kepala Arnav dengan bantal guling lagi.
Arnav hanya mengangguk kecil saja, "gue masih belum bisa menerima kenyataan ini fan!" ujar Arnav
"Sampai kapan?"
"Nggak tau!" ujar Arnav.
Irfan semakin geram dengan teman nya ini masa jadi cowok kaku amat, udah punya istri cantik seperti Audia tapi dia malah menyia-nyiakan nya dasar b*doh!
Tidak membutuhkan waktu lama-lama lagi Irfan langsung saja mengajarkan Arnav untuk menyatakan perasaan cinta pada istri nya itu.
"Pokoknya lo harus nyatain perasaan lo sama istri lo, gue tau Lo suka sama istri lo sendiri tapi lo nya aja yang nggak peka dengan diri lo sendiri!"
"Gue pites baru tau rasa Lo!" ujar Irfan menepuk pundak Arnav.
"Nanti kita sampai di Jakarta kita akan adain rencana yang sangat matang, agar lo tembak hati istri lo itu!" ujar Irfan tangan nya menirukan sebuah pistol akan mau di tembakan.
"Jangan menyesal jika istri lo tidak ada di samping Lo lagi, gue sebagai teman hanya bisa menasehati lo!" ujar Irfan.
Arnav hanya mengangguk paham saja ia banyak mendapat saran dan pengertian dari teman nya ini, apa lagi Irfan sudah mengajarkan gimana cara menyatakan perasaan cinta kepada seorang wanita.
"Nanti malam gue akan menyatakan perasaan cinta ini" ujar Arnav.
....
Bersambung...
__ADS_1
Ig : purna_yudiani