
Merasa bosan aku di rumah sebesar ini, aku meminta pak Dadang mengantarkan ku ke rumah mertua ku, di sana ada Aquila yang bisa aku ajak bicara.
Semenjak aku dari kampung ke sini lagi di jemput oleh mas Arnav waktu itu, aku tak pernah berkunjung ke rumah mertua ku.
Mas Arnav beralasan jika dia tak mau melihat aku di caci maki oleh mbak Anas, dan sekarang lah baru mas Arnav mengizinkan untuk pergi ke rumah mertua ku.
"Pak antar saya ke rumah utama ya!" ujar ku
"Baik nyonya!" ujar pak Dadang membuka kan pintu mobil untuk ku.
Kami melewati jalan yang lumayan ramai, beginilah kota Jakarta jalannya pasti selalu ramai kendaraan yang lalu lalang.
Tidak lama aku tiba di rumah utama, pak Dadang membuka pintu mobil untuk ku, untuk yang kedua kalinya aku menginjakkan kaki ku di sini lagi, dulu aku pikir jika aku tak akan pernah menginjakkan kaki ku di sini lagi, tetapi itu hanya khayalan ku saja.
Rumah sebesar ini nampak seperti sepi saja, apakah semua orang tidak ada?.
Ting tong ting tong
Aku memencet tombol bel yang berada di samping pintu besar ini, tidak membutuhkan waktu lama art membukakan pintu ini.
"Nona Audia!" pekik bik Nunung
Sampai aku memicingkan mataku karena teriakan bik Nunung ini.
"Assalamualaikum... bik Nunung!" ujar ku memberi salam.
"Wa'alaikumussalam...!" jawab bik Nunung dengan lebay nya
"Sehat bik?" tanya ku
"Alhamdulillah bibik sehat banget malahan!" ujar bik Nunung
"Mari masuk nona!" ujar bik Nunung menuntun aku masuk ke dalam rumah.
Aku duduk di sofa ruang tamu ini, kelihatan sepi sekali rumah ini, kalau Aquila jam segini pasti masih sekolah.
"Mama mana bik?" tanya ku
Wajah bik Nunung seketika berubah sendu, aku yang semulanya tersenyum jadi hilang senyum ku, "mama mana bik?" tanya ku sekali lagi.
"Nyonya... nyonya... nyonya anu nona...!" ujar bik Nunung memainkan ujung jarinya.
"Mama kenapa bik?" tanya ku dengan suara lebih kerasa dan aku langsung berdiri.
"Nyon--nyonya suu--sudah dua ha--hari ini saa--sakit nona!" ujar bik Nunung berbatu-batu.
"Astagfirullah alhazim...!" aku langsung mengucap istighfar karena terkejut, kenapa semua orang tak memberi tau ku jika mama sakit.
"Kalian egois!" bentak ku
"Sekarang mama mana?" tanya ku
"Di rumah sakit Melati Hospital nona!"
__ADS_1
Aku langsung berlari keluar rumah, kenapa mereka tak memberi tahu kami jika mama sakit, mereka sungguh egois.
"Pak kita ke rumah sakit Melati Hospital!" ujar ku
"Siapa yang sakit nyonya?
"Sudah bapak jangan banyak nanya!" bentak ku, aku bukanya mau marah-marah pada mereka tapi aku sedikit kesal karena semua orang tak memberitahu kami kalau mama sakit.
Aku tidak habis pikir dengan mereka, kemana pikiran mereka sampai-sampai aku dan mas Arnav tidak di beri tahu nya.
"Hiks...hiks...hiks...!" aku menangis karena sedih saja gitu, semua orang tak menganggap kami ada, saudara macam apa mereka.
Mobil memasuki pekarangan rumah sakit Melati Hospital ini, aku langsung turun dan menanyakan dimana ruang rawat mama.
"Ruang rawat bu Ima ada di ruang VIP nomor 1!"
Aku langsung saja buru-buru pergi ke ruang yang telah di beri tahu resepsionis tadi, aku sampai di depan pintu kamar ini.
Cklekk
Aku membuka pintu kamar rawat mama, semua mata tertuju pada ku, di dalam ruangan ini ada papa, mbak Anas, dan mbak Naya, lalu mama sedang terbaring di brankar.
"Audia!" ujar papa Tejo
"Assalamualaikum!" aku mengucapkan salam terlebih dahulu, aku masih berdiri di ambang pintu air mata ku menetas saat melihat mama mertua ku terbaring lemas di atas brankar.
"Mama!" lirih ku
Aku sedikit berlari ke tempat mama berbaring, ku lihat wanita paruh baya itu dengan tatapan sendu.
Mama Ima memaksakan senyum di balik wajah pucat nya ini, "mama tidak apa-apa!" ujar mama Ima sangat lirih
"Hiks... tapi mama pucat begini!" tangis ku langsung pecah saat aku memeluk mama mertua ku.
"Hiks... Mama kenapa sampai seperti ini ma hiks... mama...!" aku tak bisa menahan tangis ini.
"Mama kan sudah bilang mama baik-baik saja!" ujar mama mengusap punggung ku dengan lembut.
"Kenapa mama tak memberi tahu ku kalau mama sakit?" tanya ku.
"Audia sebaiknya mama jangan di ajak bicara dulu!" ujar mbak Anas
Aku melepas pelukan ku lalu aku melihat mbak Anas dan mbak Naya yang tidak suka dengan ku, mereka berdua sering menatap tidak suka pada ku.
Aku sedikit menghindar dari mereka, lalu papa Tejo menghampiri ku.
"Kamu tau mama di rawat di sini dari mana?" tanya papa
"Bik Nunung pa! jawab ku
Papa mengangguk kecil, "papa keluar sebentar, kamu jaga mama ya!" ujar papa
"Baik pa!" ujar ku
__ADS_1
Papa pergi keluar sementara aku dan yang lain di kamar ini, mbak Anas menghampiri ku.
"Cih!, datang lagi si cewek kampung kayak Lo ini!" ujar nya mendorong bahu ku.
"Mbak!" ujar ku
Dia tersenyum sinis lalu mbak Naya juga ke tempat ku, mereka berdua seakan mau menyerang ku saja.
"Kenapa lo ke sini?"
"Sudah bagus Lo minggat ke kampung halaman lo itu!" ujar mbak Anas dengan sinis nya.
Mbak Naya tersenyum sinis sambil memangku tangannya ke dada nya, aku tau mereka tidak suka dengan ku.
"Cewek kampungan seperti lo itu nggak pantas hadir di keluarga kita, kita itu beda kasta beda derajat!" ujar mbak Naya ikut-ikutan memojokkan ku.
"Astagfirullah alhazim... mbak ngomong apan sih!" ujar ku
"Gue nyesel punya ipar kayak Lo, gue pikir ipar gue orang kaya tapi beda jauh dengan keluarga gue, adek gue tidak beruntung dapatin cewek udik kayak Lo itu!"
Aku tetap sabar aku tidak mau melawan mereka ini.
"Mbak kenapa tidak beri tahu aku kalau mama sakit?" ujar ku mengalihkan pembicaraan
"Haha... itu bukan urusan Lo, lo siapa gue siapa, tidak ada untung dan ruginya kalau gue beri tahu mama gue sakit ke lo, Lo itu hanya jadi beban buat keluarga gue, udah hidup miskin numpang hidup lagi dengan adek gue, kasihan gue sebenarnya sama Arnav adik gue!" ujar mbak Anas semakin menjadi-jadi menghina ku.
Air mata ku menitik begitu saja penghinaan yang ku dapatkan dari kakak ipar ku begitu menyakitkan, aku tau aku ini hanya gadis biasa tapi apakah dia tak punya perasaan sedikit pun.
"Aku memang gadis desa yang kalian ucapkan, tapi penghinaan kalian barusan sama saja menghina adik kalian sendiri!" aku berlari keluar dari kamar mama itu.
Aku duduk di kursi tunggu sambil sesenggukan, kenapa orang miskin selalu di hina?
Apa salah kami?
"Hiks... hiks... hiks...!"
Sudah mereka tak memberi tahu kami tentang mama sakit, sekarang mereka berdua menghina ku dengan keji nya.
"Hiks... mas Arnav... hiks...!" aku tidak tau harus mengadu dengan siapa di sini, aku hanya bisa mengadu pada mas Arnav, tapi dia sekarang lagi kerja.
"Oh my god... kenapa kamu selalu ketemu dengan saya?"
Aku menghapus air mataku saat seseorang berbicara dengan ku, aku melihat dokter Adam lah yang ada di samping ku.
"Kamu!"
"Iya aku!" ujar nya
"Nangis lagi!"
"Gaje!" ujar ku
...
__ADS_1
Bersambung...