I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 71. Anas & Wisnu


__ADS_3

Saat mau balik lagi ke Jakarta, Anas masih mencari Wisnu, ia merasa di hantui karena pernah berbuat salah pada Wisnu, tidak biasanya Anas seperti ini, mau dia menyakiti hati siapapun ia tidak pernah peduli contoh nya Audia yang sering ia sakiti, tapi berbeda untuk saat ini Anas merasa bersalah sangat dengan Wisnu.


"Anas lo nggak mau balik apa!" ujar Mila saat Mila mau naik ke mobil yang membawa mereka ke kampung ini.


"Anas!" ujar Mila lagi karena Anas tidak menjawab.


Anas menoleh ke sana ke sini untuk mencari Wisnu, entah kapan lagi ia akan ke mari mungkin ini terakhir kalinya Anas akan ke sini setelah enam bulan waktu itu.


"Apa dia tidak mau menemui gue, gue merasa bersalah waktu padanya, kenapa juga gue harus menyinggung dia waktu itu!" batin Anas


Anas menghela napas apa mungkin dia tidak akan bertemu lagi setelah pertemuan terakhir waktu itu.


"Anas lo mau tinggal di sini apa?" ujar Mila saat mobil akan mau berangkat.


"Gue... gue mau di sini aja mil, nanti gue akan hubungi keluarga gue, gue mau nginap di sini untuk beberapa hari!" ujar Anas


"Lo yakin nas?" tanya Mila dengan muka serius


"Yakin!" jawab Anas dengan lebih serius lagi.


"Nanti kalau lo kenapa-napa gimana, siapa yang akan bertanggung jawab apa lagi tim medis tidak akan ke sini lagi!" ujar Mila


"Tenang saja, gue akan jaga diri gue baik-baik!" ujar Anas bertekad bulat.


Anas melihat kepergian teman-teman nya itu, ia benar-benar tinggal untuk sementara di kampung ini padahal dia juga tidak mengenal orang-orang sini, demi ingin bertemu dengan Wisnu, Anas bertekad untuk nginap beberapa hari di sini.


Hal pertama yang Anas lakukan ialah ia mau mencari Wisnu di kampung ini, Anas mencari Wisnu tidak sendirian ia di temani oleh Nini, Anas bertemu dan berteman dengan Nini di kampung ini, Nini merupakan orang asli di kampung ini, jadinya Anas tidak perlu khawatir untuk sesat karena Nini ada.


"Mbak dokter di sini mau mencari kang Wisnu ya!" ujar Nini


"Iya saya punya urusan dengan dia, oh iya kamu panggil mbak Anas saja!" ujar Anas


"Ya mbak Anas!" ujar Nini


Walaupun mereka belum kenal betul tapi mereka sudah akrab saja, Nini melihat Anas dari atas sampai bawah ia memperhatikan Anas dengan seksama.


"Ada urusan apa kang Wisnu dengan mbak Anas ini?" batin Nini


"Apa kamu tau dimana rumah Wisnu?" tanya Anas


"Tau, apa mbak Anas mau bertemu dengan nya!" ujar Nini

__ADS_1


Anas mengangguk seraya tersenyum, kini mereka berjalan kaki menuju rumah Wisnu yang lumayan jauh dari balai kampung itu, mata Anas tidak teralihkan dari indahnya pemandangan di kampung ini, banyak keindahan alam di kampung ini yang masih tersembunyi dari masyarakat banyak.


"Kampung ini masih segar ya, saya suka dengan tempatnya!" ujar Anas


"Iya begitulah mbak, saya juga suka dengan keindahan alam di sini!" ujar Nini


Lama mereka berjalan akhirnya mereka berdua sampai di halaman rumah yang sangat sederhana itu, Anas menatap intens rumah yang mereka singgahi itu.


"Apa Wisnu tinggal di rumah yang tidak layak di huni ini?" batin Anas


"Mbak ini rumah kang Wisnu, mungkin sekarang dia lagi bekerja sebentar lagi dia akan pulang!" ujar Nini


"Apa ayahnya tidak ada di sini?" tanya Anas menunjuk rumah sederhana ini.


Nini tersenyum kecil, "ayah kang Wisnu sudah meninggal dunia sejak 2 bulan yang lalu mbak!" ujar Nini


Anas sedikit kaget dengan ucapan Nini, apa yang di bilang Nini itu benar jika ayahnya Wisnu sudah tiada?


"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun!" ujar Anas seraya menutup mulutnya karena tidak menyangka saja


"Kamu serius Nini?" tanya Anas


"Serius mbak, untuk apa Nini berbohong!" ujar gadis berumur 20 tahunan itu


"Mbak jika Nini tinggal dulu bagaimana, Nini masih ada pekerjaan, tidak apa-apa kan Nini tinggal?" ujar Nini


"Tidak apa-apa!" jawab Anas


Anas duduk di teras rumah sederhana itu, Anas duduk di bangku yang terbuat dari bambu itu, ia menunggu Wisnu pulang bekerja.


"Pantesan saja dia tidak ke balai kampung tadi, ayahnya saja sudah meninggal dunia, kasihan sekali dia!" batin Anas


Anas mengelilingi rumah ini dengan matanya, ia menghela napas, "selama ini dia tinggal di rumah tak layak huni ini, kasihan juga dia!" lirih Anas merasa iba dengan kehidupan Wisnu


...


Wisnu pulang ke rumahnya menggunakan motor butut peninggalan ayahnya, Wisnu melihat Anas dari kejauhan.


"Itu, apakah itu dokter Anas? gumam Wisnu


Wisnu mengucek-ngucek matanya menggunakan sebelah tangan nya, satu tangannya mengendalikan stang motor yang ia bawa.

__ADS_1


"Benar, itu dia mau ngapain dia ke sini?"


Wisnu semakin dekat dengan rumahnya, Anas melihat ke Wisnu yang memarkirkan motor nya di halaman rumahnya, Wisnu membuka pintu rumahnya tanpa menyapa Anas terlebih dahulu, Wisnu akan masuk ke dalam rumahnya tapi langsung di cegat oleh Anas.


"Kamu tidak melihat saya?" ujar Anas


Wisnu menghela napas ia menatap Anas dengan tatapan datar tanpa ekspresi apa pun, "kamu mau apa ke sini?, kalau kamu mau menghina saya silahkan kamu angkat kaki dari rumah saya!" ujar Wisnu ingin menutup pintu rumahnya itu, tapi Anas malah menyelonong masuk ke dalam rumah Wisnu itu.


Wisnu menghela napas kasar ia membuka pintu rumahnya itu lebar-lebar supaya nantinya warga di sini tidak menuduh mereka macam-macam, kan ini saja tatapan warga kampung itu sudah berubah melihat Wisnu dan dokter cantik itu.


"Kamu sebenarnya mau apa?" tanya Wisnu membuka ucapan


Anas menghela napas, "kamu marah sama saya yang waktu itu?, kalau iya saya minta maaf, saya tidak bermaksud menghina kamu, kamu saja yang berucap seperti itu, padahal saya hanya ingin berteman dengan kamu!" ujar Anas menyampaikan maksud dan tujuannya mencari Wisnu.


Mereka saling diam, sampai Anas memulai untuk bicara lagi, "oh iya, maaf saya menyinggung kamu, apa benar kalau ayah kamu sudah meninggal?" tanya Anas


Wisnu mengangguk kecil dengan ekspresi wajah sedih, "ayah saya meninggal 2 bulan yang lalu!" ujar Wisnu


"Maaf saya tidak bermaksud mengingatkan itu lagi, saya turut berduka!" ujar Anas


Wisnu mengangguk, mereka kembali diam, Anas mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena dia bingung mau tidur di mana malam ini.


"Kenapa?" tanya Wisnu


"Tidak!" jawab Anas


Wisnu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Anas, "silahkan di minum, saya tidak punya minuman sesuai selera mu, tapi saya hanya punya teh saja!" ujar Wisnu meletakkan secangkir teh di hadapan Anas.


"Tidak masalah, saya tidak meminta yang sesuai selera saya, memang kamu tau minuman apa yang saya suka!" ujar Anas meminum teh buatan Wisnu itu.


"Biasanya orang kaya minumnya jus!" ujar Wisnu


Anas tertawa renyah dengan ucapan Wisnu itu, "lucu sekali pemikiran orang desa, kaya atau miskin sama-sama minum air mineral!" ujar Anas sambil tersenyum manis


Wisnu memperhatikan setiap inci lekuk senyum manis Anas itu.


"Tidak ada bandingannya, senyumnya sangat manis!" batin Wisnu.


...


Bersambung...

__ADS_1


maaf kalau ceritanya nggak nyambung 🙏🙏


__ADS_2