
Arnav sudah sampai di rumah nya ia tersenyum kecil karena tidak sabar akan bertemu dengan istri tercinta nya.
"Assalamualaikum!" ujar Arnav waktu masuk ke rumah besar orang tua nya ini.
Mereka masih tinggal bersama kedua orang tuanya, karena Arnav sering pergi jadi Audia di suruh tinggal di sini saja, apa lagi Audia saat ini sedang mengandung.
"Wa'alaikumussalam!" jawab mama Ima
Kebetulan juga mama Ima lagi menunggu suaminya pulang kerja, papa Tejo hari ini pulang nya agak lambat dari biasa nya.
Arnav terlebih dahulu menghampiri mama nya itu lalu mengecup punggung tangan mama nya dan tidak lupa juga Arnav juga mengecup pipi mama nya, layaknya seorang anak kecil yang bermanja dengan ibu nya, seperti itulah Arnav sekarang ini.
"Mama sehat?" tanya Arnav
"Alhamdulillah sehat!" jawab mama Ima
"Mana yang lain ma?" tanya Arnav
"Kamar mereka masing-masing!"
"Mama kenapa belum istirahat?" tanya Arnav
"Nungguin papa kamu!" jawab mama Ima
Arnav mengangguk ia duduk menemani mama nya terlebih dahulu, mama Ima tak mempermasalahkan itu.
"Mama senang akhirnya kamu mengakui jika Audia hamil anak kamu!" ujar mama Ima
Arnav mengangguk kecil sambil tersenyum memikirkan kebodohan nya waktu itu, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu, apa salah nya dari awal ia mengakui jika itu anak nya, jika pikiran kotor mempengaruhi pikiran ya jadinya seperti itu, bisa saja ia tak mengakui itu anak nya.
Miris sekali!
Arnav pergi ke kamar nya untuk melihat Audia, dari satu minggu ini ia tak pernah melihat wajah ayu istrinya itu.
Arnav membuka pintu kamar nya ia tertegun saat melihat Audia yang sedang berzikir seraya mengusap perut nya. Arnav sangat tertegun melihat kepiawaian istrinya itu saat berzikir, ia jadi makin bersalah saat tidak mengakui jika itu darah daging nya sendiri.
"Astagfirullah alhazim..." suara Audia sangat merdu saat mengucapakan istighfar itu sebanyak 3x Audia duduk di sofa yang pastinya dapat dengan jelas Arnav melihat nya, apa lagi ia duduk mengarah ke arah pintu.
__ADS_1
"Subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah, subhanallah..." ia juga membaca tasbih sebanyak 33x
Lalu Audia melanjutkannya membaca dzikir, ia terus tersenyum mengusap perut nya itu, "Laa hawla walaa quwwata illa billah, Laa hawla walaa quwwata illa billah, Laa hawla walaa quwwata illa billah, Laa hawla walaa quwwata illa billah, Laa hawla walaa quwwata illa billah, Laa hawla walaa quwwata illa billah..."
Arnav masuk ke dalam kamar itu, Audia langsung melihat ke arah pintu karena ia melihat bayangan orang, ia berhenti berdzikir karena Arnav, Arnav menyuruh Audia untuk melanjutkan. Audia mencium punggung tangan suaminya itu.
"Ayah sudah pulang?" ujar Audia membuat Arnav tersenyum dengan panggilan baru istri nya itu terhadap nya.
"Sudah bunda!" ujar Arnav juga mengubah panggilan untuk istri nya itu.
"Bunda sehat?, anak kita juga sehat?" tanya Arnav langsung jongkok di hadapan Audia seraya mengusap lembut perut Audia.
"Alhamdulillah sehat ayah!" jawab Audia mengusap pipi Arnav
Arnav mengecup perut Audia beberapa kali lalu ia baru mengubah posisi duduk nya, ia duduk di sofa tempat Audia duduk.
Arnav mengecup pipi dan kening istrinya sangat lama, ia benar-benar sangat rasa bersalah.
"Maafin aku bunda!" lirih Arnav
"Ayah... kenapa minta maaf terus?" tanya Audia mengusap pipi suaminya itu.
"Kamu sudah sering minta maaf, aku juga sudah memaafkan kamu, kita tidak perlu memikirkan yang sudah berlalu yang kita pikirkan saat ini adalah kesehatan anak kita ini!" ujar Audia
Arnav mengangguk mata nya sudah berair sedikit, Audia membantu menghapus air mata itu.
"Baru pulang kok mellow!" ledek Audia
"Mas terlalu b*doh sayang!" ujar Arnav masih memikirkan soal yang sudah berlalu.
"Memang!" jawab Audia
Arnav menatap istri nya itu sementara ia hanya tersenyum kecil, "karena kamu selalu memikirkan soal yang sudah berlalu itu, aku aja yang di sakiti sudah memaafkan kamu, sudah berdamai dengan masa lalu itu, aku takut stress memikirkan hal bodoh itu, masa kamu orang yang menyakiti aku tidak bisa melupakan nya!" ujar Audia
Arnav langsung diam, bukanya Audia dengan mudah melupakan sakit yang di toreh kan oleh Arnav pada nya, ia masih sangat sakit hati jika mengingat itu semua, bohong jika ia tak sakit hati.
Ia berusaha menghibur diri nya agar luka itu tak lagi merusak pikiran nya, ia juga bersikap seolah-olah sakit hati itu sudah hilang, tapi nyata nya sangat susah untuk hilang begitu saja.
__ADS_1
Seorang perempuan disakiti berkali-kali ia masih mampu memaafkan kesalahan orang itu, mereka juga mampu menyembunyikan luka itu, mereka sangat kuat saat menerima luka itu, nyatanya di dalam lubuk hati yang paling dalam ia sangat rapuh bahkan tak sanggup untuk menerima nya.
"Udah ah ayah nggak asik, masa baru pulang gini langsung mellow, apa kata anak kita nanti kalau ayah nya sering mellow gini!" ujar Audia masih mampu untuk menghibur orang lain sedangkan diri nya masih dalam keadaan sakit hati, luka itu bahkan belum kering, di tambah lagi Arnav yang seolah membuka luka itu lagi.
Tidak seharusnya Arnav membuka luka itu lagi, tapi ia juga merasa bersalah.
"Ayah nggak mellow kok!" ujar Arnav mengubah ekspresi wajah nya menjadi bahagia.
"Lanjutin dzikir nya, ayah mau mandi dulu!" ujar Arnav mengusap kepala istri nya.
"Mau aku siapin air panas untuk berendam?" tanya Audia
"Tidak usah, mas bisa sendiri!" ujar Arnav
Arnav meninggalkan Audia di sofa itu, ia lebih memilih untuk mandi agar semua pikiran buruk ini menjauh dari nya.
Audia menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu, lalu ia duduk kembali di sofa itu, Audia termenung saat masalah itu menghantui pikiran nya lagi.
"Jika kamu tau aku masih sangat sakit hati mas, aku tidak sanggup berdiri saat kepercayaan kamu tidak ada untuk ku tapi aku tetap berusaha untuk tetap kuat, di luar aku mampu melihat keceriaan ku pada orang lain, tapi di hatiku aku sangat rapuh mas!" tidak terasa cairan bening mengalir di pipi mulus nya itu.
Bertepatan itu Arnav keluar dari kamar mandi, Arnav sadar kalau istrinya itu sedang menangis.
"Bunda baju ayah mana?" tanya Arnav padahal ia sudah melihat baju nya di atas tempat tidur.
Audia kaget ia menghapus air mata nya itu, hati Arnav sangat sakit melihat kesedihan istrinya itu, tidak sepantasnya ia menyakiti hati istri nya itu yang kedua kali, ia sadar jika Audia masih memikirkan perihal waktu itu, dimana kepercayaan nya tidak ada pada istri nya sendiri.
"Itu di atas tempat tidur mas, mau bunda ambilkan juga?" ujar Audia dengan senyum palsu
"Eh, iya, maaf, maaf ayah tidak melihat nya!" ujar Arnav berpura-pura tidak tau dengan kesedihan istrinya itu, ia juga tak mungkin menanyakan kesedihan istrinya itu, kesedihan istrinya itu memang berawal dari kesalahan Arnav.
"Ayah mau makan?" tanya Audia
"Tidak usah, ayah mau istirahat sama bunda aja!" ujar Arnav
Mereka berdua merehatkan tubuh mereka yang sudah melakukan aktivitas sangat banyak di waktu siang hari.
...
__ADS_1
Bersambung...