I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 70. POV Anas (Mencari Wisnu)


__ADS_3

6 bulan kemudian...


Semenjak hari itu Anas bersama Wisnu tidak pernah bertemu lagi, saat Anas balik ke Jakarta pun Wisnu tidak pernah berkunjung ke balai pos kampung itu, sebenarnya Anas merasa bersalah dengan apa yang ia ucapkan waktu itu, Anas sebenarnya tidak bermaksud menyinggung tentang kehidupan Wisnu waktu itu.


Entah hari ini keberuntungan rumah sakit tempat Anas bekerja atau apa ia juga tidak tau, yang pasti pemerintah menugaskan rumah sakit tempat Anas bekerja itu datang untuk memeriksa kesehatan warga kampung itu lagi.


Sudah 6 bulan lebih Anas tidak ke sana lagi karena memang ia tidak ada tugas untuk ke sana, tapi kali ini pemerintah menugaskan rumah sakit tempat Anas bekerja untuk kembali ke sana.


Anas tersenyum kecil, ia berharap bisa bertemu dengan Wisnu kembali, ia ingin meminta maaf tentang waktu itu.


Saat ini mereka dalam perjalanan menuju kampung itu, Anas tidak sabar cepat sampai di kampung itu.


"Kenapa nas?" tanya Mila teman satu tim Anas


"Nggak!" jawab Anas


"Senyum-senyum kayak ada di sembunyikan dari gue!" ujar ibu dua anak itu.


"Nggak papa mil!" ujar Anas


Sementara Mila teman Anas sudah memiliki 2 orang anak, sedangkan Anas belum juga mendapatkan pasangan.


"Oh iya, gue mau kenalin lo sama seseorang, lo mau nggak?" ujar Mila


"Siapa?" tanya Anas


"Adalah, dia teman gue, pekerjaan nya tentara, umurnya nggak beda jauhlah sama lo!" ujar Mila


"Nanti aja deh!" ujar Anas


Setiap kali teman Anas mau mengenalkan Anas dengan teman lelakinya, Anas pasti akan menolaknya, entah kenapa Anas tidak tertarik dengan teman lelaki yang di perkenalkan oleh teman-temannya itu kepada nya.


"Kapan nas, ingat umur nanti lo di cap perawan tua lho!" ingatkan Mila


"Nanti aja!" jawab Anas


"Iya nantinya itu kapan nas, lo udah pantas berkeluarga!" ujar Mila


"Ck! decak Anas


Entah kenapa juga Anas malas untuk membahas tentang pernikahan, ia tidak hobi untuk membahas tentang jodoh.

__ADS_1


...


Saat ini keluarga kecil yang selalu membuat orang iri itu sedang bermain-main di taman belakang rumah mereka, Arnav mengejar putra nya itu yang sudah tubuh menjadi bocah yang sangat pintar dan lucu saja, bulan depan putra mereka itu akan berulang tahun yang ke-2.


Audia yang sudah lelah bermain dengan putra nya itu lebih memilih untuk beristirahat, ia membuatkan Arnav jus jeruk biar suaminya bisa bertenaga lagi untuk bermain dengan putra mereka.


Apa lagi Adnan tidak pernah bosan mengerjai ayahnya itu, Adnan yang sangat lincah itu sering menjahili ayahnya.


"Istirahat dulu mas, Adnan!" ujar Audia


"Iya, bunda!" ujar Arnav


"Yah, alah!" suara cadel Adnan itu membuat kedua orang tuanya gemas.


"Iya, ayah ngaku kalah, kamu nya terlalu lincah! ujar Arnav mengendong tubuh mungil Adnan.


Mereka bertiga duduk di bangku taman itu, Adnan duduk di tengah-tengah mereka, sementara Arnav meminum jus jeruk yang di buatkan oleh Audia.


"Bagaimana kabar mbak Anas, mas?" tanya Audia


"Mas juga tidak tau sayang, kita kan jarang ke rumah mama!"


"Apa mbak Anas udah dapat calon ya mas?"


"Mas pusing sama mbak Anas itu, dia selalu menolak saat mas mau mengenalkan dia sama teman mas, padahal teman mas itu sangat cocok untuk nya!"


"Mungkin bukan jodoh mbak Anas mas, aku sih percaya aja sama mbak Anas kalau dia bisa mencari pasangan yang tepat untuk nya!"


"Aamiin... semoga saja mbak Anas lekas di pertemukan dengan jodohnya, mas sebenarnya kasihan sih sama mbak Anas, dia sering jadi bahan gunjingan ibu-ibu kompleks!"


Anas selalu menjadi bahan gibahan ibu-ibu kompleks rumahnya, bagaimana tidak Anas di gibahi terus, di umurnya yang tidak lagi muda lagi itu seharusnya sudah memiliki pasangan.


Ibu-ibu kompleks ini kadang suka julid sama tetangga nya, ngapain pusing-pusing repoti dan kepoin hidup orang, yang ada malah nambah dosa.


Anas yang selalu jadi bahan gibahan ibu-ibu kompleks rumahnya hanya diam saja, diam bukan berarti kalah ya tapi Anas hanya menjaga nama baik keluarga nya saja, tidak perlu membalas mulut julid ibu-ibu itu, yang ia pikirkan hanya kebahagiaan dirinya saja, Anas tidak mau mendengarkan mulut julid basi ibu-ibu itu.


Walaupun Anas sudah berumur 32 tahun tapi wajahnya masih awet muda lho, wajahnya saja masih seperti umur 25 tahun, umur boleh tua tapi semangat tetap jiwa muda!


"Iya, aamiin... ya mas, semoga mbak Anas di jodohkan dengan laki-laki baik dan bertanggung jawab dan menerima mbak Anas apa adanya!"


...

__ADS_1


Anas sampai di kampung itu pada jam 15.00 wib, mereka semua sudah berkumpul di balai pos kampung itu, Anas sedang celingak-celinguk mencari seseorang yang selama ini ia cari.


"Anas, buruan mulai, kita seperti biasa periksa bapak-bapak lansia!" ujar Mila


"Iya mil, lo duluan aja gue mau ke sana dulu!" ujar Anas


"Kemana?" tanya Mila


"Ada lah!" ujar Anas


Sebenarnya Anas ingin mencari Wisnu karena ia tidak melihat Wisnu ada di sini, pikir Anas mungkin Wisnu berada di posko kesehatan nomor 2 dan 3 tapi Anas tidak menemukan Wisnu.


"Kenapa dia tidak ke sini lagi, apa ayahnya tidak ke sini untuk cek kesehatan?" batin Anas.


Anas bingung harus mencari Wisnu kemana lagi, apa lagi dia tidak mengenal orang-orang di kampung ini, apakah takdir Anas tidak bertemu dengan dia lagi?


"Anas buruan bantu gue!" lirih Mila saat Anas sudah di sana.


Anas menghela napas ia membantu Mila, tapi Anas tidak fokus dengan pekerjaan nya pandangan matanya terus menelisik orang-orang di sini.


"Apa dia tidak ke sini lagi?" batin Anas


Karena Mila di panggil oleh tim medis yang lain, jadinya Anas yang memeriksa bapak-bapak lansia ini.


"Rileks aja pak, napasnya jangan di tahan agar pemeriksaan tekanan darah bapak lancar!"


"Bapak selama ini punya riwayat penyakit jantung ya?" tanya Anas saat melihat kuku bapak-bapak itu berwarna ungu.


"Iya dok!" ujar bapak itu


"Ini harus di tindak lanjuti pak, jangan anggap sepele, bapak bisa pergi ke rumah sakit untuk mengecek lebih lanjut keadaan bapak!" ujar Anas


"Saya tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit besar dok, saya pasrah saja dengan hidup saya!" ujar bapak itu sudah patah semangat


Anas yang mendengarkan kata-kata patah semangat dari bapak itu jadi merasa iba, ia merasakan perih pada hulu hatinya saat mengingat perkataan nya yang pernah menyakiti Wisnu.


"Insyaallah saya bisa membantu bapak untuk berobat, bapak bisa menghubungi nomor saya dan pergi ke rumah sakit xxx!" ujar Anas memberikan kartu namanya pada bapak itu.


Anas sangat kasihan dengan bapak itu, kalau dia berada di posisi bapak itu mungkin dia tidak sanggup juga.


...

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2