
Pagi menjelang siang mbak Anas masuk ke kamar rawat mama sambil membawa alat pengukur tekanan darah dan juga ada beberapa alat rumah sakit lain nya.
"Kita harus cek tekanan darah mama dulu ya, kalau tekanan darah mama sudah normal berarti mama sudah boleh pulang!" ujar mbak Anas
Aku berdiri di samping lain mama, mbak Naya hari ini tidak bisa datang karena ia harus mengurus anak-anak nya juga.
"Mama sudah boleh pulang kan?" tanya mama mertua ku kepada mbak Anas
"Nanti sore aku akan kembali lagi cek tekanan darah mama, soalnya tekanan darah mama masih belum normal!" ujar mbak Anas membuat mama sedih kembali.
"Mama mau pulang saja Anas, di sini mama capek berbaring mulu!" ujar mama
"Tidak bisa begitu ma...!" ujar mbak Anas
"Iya ma, mama istirahat saja dulu dengarkan saja kata mbak Anas!" ujar ku
"Tapi mama capek tidur di sini mulu Audia!" ujar mama
Aku tau mama pasti sangat bosan hanya tidur lalu duduk, kalau di perbolehkan mama untuk jalan-jalan ke taman rumah sakit ini menggunakan kursi roda pasti akulah yang bersemangat untuk menemani mama.
"Apa mama boleh jalan-jalan menggunakan kursi roda mbak?" tanya ku kepada mbak Anas
Mbak Anas menatap ku dengan tatapan dingin, "boleh, tapi siapa yang menemani mama, aku tidak bisa karena aku harus memeriksa pasien lain nya!" ujar mbak Anas sangat dingin.
"Biar aku saja!" ujar ku bersemangat seraya tersenyum pada mama, mama juga sangat senang saat aku mengajak mama untuk ke taman rumah sakit ini menggunakan kursi roda
"Biar aku yang ambil kursi roda nya!" ujar mas Arnav
Aku mendorong kursi roda mama ke taman rumah sakit ini, "di sini saja!" ujar mama, aku memberhentikan kursi roda itu di tempat bangku taman.
"Bagaimana mama senang tidak aku bawa jalan-jalan ke taman ini?" tanya ku
"Senang banget, di dalam mama bosan banget!" ujar mama sangat berbinar
Aku duduk di bangku taman itu sambil melihat-lihat orang yang juga ada di sini, mata ku tertuju pada gadis kecil yang lagi duduk di kursi roda pula.
"Kasihan sekali gadis kecil itu ma!" ujar ku menunjuk gadis kecil itu raut wajahnya sangat sedih dan begitu pucat.
Mama mengikuti arah pandang ku, "oh gadis kecil itu, dia masih kecil seperti itu tapi Allah SWT sudah mengujinya dengan penyakit yang sangat parah!" ujar mama
"Gadis kecil itu kamar rawatnya berdekatan dengan kamar mama, dia juga pasien Anas!"
Aku mengangguk kecil, aku berpamitan dengan mama untuk menghampiri gadis kecil itu.
__ADS_1
"Hai...!" sapa ku seraya melambai-lambaikan tangan ku pada nya. Dia menoleh sekilas lalu menundukkan kembali kepala nya dengan sedih.
Aku duduk di bangku berdekatan dengan kursi roda nya, ku ambil tangan nya yang kurus itu tapi tidak mengurangi kecantikan alami dari wajah nya itu, dia sangat pucat dan juga lemas.
"Adek manis namanya siapa?" tanya ku sangat hati-hati dan lembut.
"Aura!" jawab nya
"Nama yang sangat bagus dan cantik seperti orang nya!" puji ku agar dia mau tersenyum, tapi dia tambah sendu dan mata nya sudah berkaca-kaca.
"Aura tidak cantik lagi kak, lihatlah wajah aura sangat pucat seperti mayat hidup!" ujar nya sudah mulai menangis.
Aku jadi iba dengan gadis kecil yang berkisaran baru berumur 10 tahun ini, wajah sedih nya itu membuat hati ku pilu akan apa yang ia rasakan sekarang ini.
"Kamu tetap cantik!" ujar ku
"Orang tua aura kemana?" tanya ku, dari tadi gadis kecil ini hanya sendiri duduk di kursi roda nya ini tanpa ada yang menunggu nya.
"Ayah sama bunda mana peduli dengan aura, yang mereka pedulikan hanya uang dan uang, sampai kapan pun aura tak di anggap nya, sakit sekali pun mereka juga tak peduli dengan aura!" ujar gadis itu sudah menitikkan air mata nya.
"Kenapa bilang begitu sayang?, ayah sama bunda kamu pasti sangat peduli dengan kamu, mereka berkerja kan untuk kamu, uang yang mereka cari untuk biaya rumah sakit kamu ini!" ujar ku
Dia menggeleng-nggelengkan kepalanya, sungguh malang sekali nasib gadis kecil ini, di umur nya yang segini sudah mendapatkan penyakit leukemia dan lebih parah lagi orang tua nya tidak menganggap diri nya.
"Aura mau sembuh atau mau seperti ini saja?" tanya ku.
Ku dengar cerita dari mama tadi kata nya gadis ini tak ingin sembuh karena dia lelah dengan penyakit yang ia derita.
Gadis itu tampak sendu dan menggelengkan kepalanya, "aura lelah kak, aura mau istirahat lebih lama saja!" ujar nya
Tenggorokan ku rasa tercekik menahan tangis, ingin aku menangis saat gadis ini berucap seperti tadi.
"Tidak, jangan bilang seperti itu sayang, kamu harus sembuh buktikan pada ayah dan bunda kamu nantinya!" ujar ku memberi semangat untuk nya.
"Aura kita harus kembali ke kamar!" ujar suster yang menjemput gadis kecil ini
Gadis itu mengangguk, "sampai jumpa lagi aura!" ujar ku melambaikan tangan ku.
Kini aku kembali ke tempat mama, "betul kan gadis itu tak ingin sembuh!" ujar mama
Aku mengangguk kini aku mengajak mama ke kamar rawat lagi, mama kembali berbaring di atas brankar.
"Mama istirahat ya!" ujar ku
__ADS_1
Semenjak kami masuk ke dalam kamar rawat ini lagi aku tak melihat mas Arnav, kemana dia?, mama sudah tertidur pulas lalu baru aku pergi ke luar untuk mencari mas Arnav, apa dia kembali ke Bandara lagi.
Di luar dia juga tidak ada kemana dia sebenarnya.
"Nyari aku ya!" tiba-tiba saja dia muncul di belakang ku seraya memeluk ku, Aku memutar tubuh ku untuk melihat nya.
"Nyari aku ya... udah kangen aja sama aku sampai-sampai kamu pusing mencari keberadaan suami ganteng kamu ini!" ujar nya sangat pede
Aku tersenyum kecil lalu tangan ku sudah mencubit perut nya itu, "dari mana saja hm? tanya ku
Dia memutar bola matanya lalu seketika mencium sekilas pipi ku.
"Dari hati kamu!" ujar nya
Aku memukul dada nya itu aku ngomong serius dia malah bercanda.
Kami duduk di kursi tunggu depan kamar rawat mama ini.
...
Sore harinya mama sudah boleh pulang, sampai di rumah utama mama langsung istirahat.
Kepala ku dari tadi pagi sampai sekarang masih terasa berat, biasanya aku tidak pernah seperti ini, kalau sakit sekali pun aku masih tetap kelihatan tidak pucat, tapi kenapa wajah ku sangat pucat sekali.
"Mas aku ke kamar dulu!" pamit ku, sementara mas Arnav masih mau ngobrol dengan papa.
Sampai nya aku di kamar aku mengambil lipstik dari dalam tas ku, lalu aku memakai nya karena aku sangat pucat sekali.
"Sayang!" aku terperanjat saat mas Arnav membuka pintu secara tiba-tiba saat aku lagi memakai lipstik ku.
"Eh mas!" ujar ku
Aku langsung buru-buru memasukkan kembali lipstik ku itu, dia menghampiri ku lalu ia mendudukkan meja rias itu tatapan mata nya seakan mengintrogasi diri ku.
"Kamu sakit?" tanya nya
Aku menggeleng cepat, "tidak!" ujar ku, lalu ia memegang pipi ku, "kelihatan pucat sekali, kamu sakit udia?" tanya lagi, aku tetap menggelengkan kepalaku.
"Kamu ah nggak usah lebay, aku nggak papa, aku hanya ingin istirahat aja capek!" ujar ku lalu menyingkirkan tangan nya dari wajah ku.
Entahlah, aku merasa diriku tidak sakit tapi kepala ini rasanya sangat berat apa lagi aku merasa ada yang aneh saja.
...
__ADS_1
Bersambung...