
Aku naik ke dalam angkot yang berhenti di depan mobil milik dokter songong itu, aku susah payah menahan tawa saat dokter itu memohon agar aku tak mengadu pada suamiku.
Tingkah nya sangat lucu bukan?
Tapi ucapan dokter itu tidak benar, aku mana mungkin mengadu pada dia yang tak pernah melihat aku ada di samping nya.
Mau menangis darah sekalian pun, ia tak akan pernah peduli pada ku.
Harapan ku sudah tidak ada lagi untuk nya, ternyata berharap pada manusia itu lebih menyakitkan, lebih baik berharap pada Allah SWT, karena kita tak akan pernah kecewa jika berharap pada Allah SWT.
Aku sampai di persimpangan jalan menuju rumah ku.
"Audia kamu harus siap dengan kenyataan ini!"
Aku terus berjalan menelusuri jalan aspal ini, sekitar beberapa meter aku jalan, akhirnya aku sampai di rumah.
"Assalamualaikum, Audia pulang!" aku mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam!"
Bunda mana?, suara nya ada tapi orang nya tidak kelihatan!.
"Bunda... Audia letak belanjaan bunda di atas meja ya!" ujar ku sedikit teriak.
"Ya... ya...!"
Aku juga ikut ke belakang, pasti bunda lagi di belakang rumah.
"Bunda!" ujar ku
"Iya, apa?" ujar bunda yang sedang meniup-niup api di tungku.
Lah bunda ngapain masak di tungku?, tidak biasanya.
"Bunda kenapa masak di tungku, kompor kan ada!"
"Gas abis, ayah sedang beli gas, tapi sampai sekarang belum balik juga!"
Aku mengangguk kecil, sebelum ada kompor gas, bunda selalu masak di tungku perapian ini, seperti orang zaman-zaman dulu.
...
Aku masih mondar-mandir di sofa ruang tv ini, kalau aku jemput Audia tapi aku juga gengsi sama dia, tapi kalau tidak aku jemput apa kata ayah dan bunda nya nanti.
"What should I do?'
Aku mengaruk-garuk kepala ku, kenapa Audia harus pergi sih?
Jika sudah begini siapa yang repot? aku juga yang repot kan!
Mama sama papa, kenapa harus menjauhi ku seperti ini sih, Aquila juga begitu, orang-orang di rumah ini pada menjauhiku.
"Damn it!"
Aku menggusar-gusar wajah ku dengan frustasi nya, Audia... Audia... kenapa kamu selalu menyusahkan saya?
"Abang!"
__ADS_1
Aku melihat ke arah suara yang memanggil ku, sudah dua hari ini adik ku ini mendiami ku sekarang ia baru mau berbicara dengan ku.
"Abang terlalu gengsi, sebenarnya Abang mau kan cari mbak Audia dan membawa dia kembali lagi ke sini!"
"Abang jangan menyiksa diri Abang juga dong, cukup bang jangan buat mbak Audia merasa tak di anggap lagi sama Abang, Abang sudah jauh berbeda, dulu Abang sangat baik dan murah hati, tapi sekarang apa bang?
"Abang jangan terlalu gengsi, terlalu gengsi akan menyebabkan penyakit bang!"
Setelah berucap seperti itu Aquila langsung pergi dari hadapan ku, iiih sok bijak sekali bocah itu!
Aku sebenarnya ingin mencari Audia kok, tapi aku juga malu dengan orang tua nya.
Kalau sudah begini aku harus apa?
Malam harinya aku bersama yang lain nya sedang makan malam di meja yang sama, mereka mendiami ku, kecuali mbak Anas.
"Nav, lo libur? tanya mbak Anas
"Iya!"
"Tumben, biasanya lo libur cuma sehari, lah sekarang tumben lo libur selama satu minggu, ada apa emang nya?"
Tidak mungkin aku bilang alasan nya untuk mencari Audia yang ada aku pasti di tertawa kan oleh mama sama papa, selama ini kan aku selalu cuek dan tak pernah menganggap dia ada, terus sekarang masa aku mengatakan jika aku mau cari Audia.
"Nav!"
"Hmm!'
"Malah bengong, mbak nanya lho!"
"Iya, aku pengen istirahat aja!" jawab ku
Aku mengerutkan keningku, kenapa mbak Anas tidak terlalu suka sama Audia, cara ngomong nya aja sudah beda.
"Nggak usah cari dia mah, buang aja ke kampung halaman nya, cewek lain masih banyak, cari istri kok orang kampung!" ujar mbak Anas
Aku tambah panas mendengar omongan mbak Anas yang sangat menyakitkan bagi ku, apa selama ini mbak Anas membenci Audia?
"Anastasya!" bentak papa
"Jaga ucapan kamu!"
"Lah, lah, papa kenapa belaian si cewek kampung itu sih, nggak guna banget!" ujar mbak Anas sinis.
"Mbak!" ujar ku
Kini aku yang membentak mbak Anas, jadi selama aku kerja, istriku di perlakukan dengan tidak baik di rumah ini.
Audia selalu di tindas, aku baru tau fakta sebenarnya baru sekarang, istri ku selalu tertekan gara-gara orang-orang yang tidak menyukai nya.
"Mbak kalau ngomong di jaga ya mulut nya!" timpal Aquila.
"Adek gue pada di cuci ya otak nya sama cewek kampungan itu, cih nggak banget dah!"
Emosi ku semakin mengembu saat mbak Anas menghina istri ku.
"Mbak jahat banget!" ujar Aquila
__ADS_1
"Gue bukan jahat, tapi gue cuma mengingatkan kalian!"
"Anastasya, apa yang kamu ucapkan itu, mama baru tau ya jika selama ini kamu selalu menindas Audia!"
"Kakak ipar macam apa kamu! ujar mama
"Udahlah ma... ngapain belain gadis itu!" ujar mbak Anas
"Cukup mbak, mbak menghina istri ku sama saja mbak menghina diri ku!" ujar ku melempar piring ke lantai untuk meluapkan emosi ku.
Prang
Piring pun pecah dan beling nya berserakan di mana-mana, aku meninggalkan meja makan, aku kembali ke kamar.
"Apa yang aku lakukan selama ini, istri ku tersiksa tinggal di sini, sementara aku tak acuh saja sama dia!"
Ya Tuhan...
Aku mengusar wajahku, apa aku susul saja Audia ke kampung nya?
Ya, aku harus susul Audia biar bagaimanapun ia masih istri sah ku.
Aku baru tau sekarang kalau Audia sering tertekan di dekat mbak Anas, aku pikir selama ini baik-baik saja, ternyata tidak, selama ini Audia juga tak pernah mengeluh pada ku.
Suami macam apa aku selama ini, aku laki-laki paling bod*h!
Aku kembali lagi ke bawah, kali ini aku mau menjemput Audia, akan aku coba untuk mulai membuka hati ku untuk dia.
"Ya Allah... semoga Audia masih mau menerima hamba mu yang pendosa ini!"
Malam ini juga aku berangkat ke kampung Audia.
"Tuan mau saya supirin? tanya pak Dadang.
"Tidak usah pak, biar saya saja!"
Tanpa berpikir lagi aku melajukan mobil yang aku bawa, urusan Audia yang tidak mau menerima ku lagi itu urusan belakangan saja, aku harus mencoba nya dulu.
"Maaf Audia, saya memang laki-laki yang tidak baik untuk kamu, tapi saya berjanji saya akan mulai mencintai mu!"
...
Malam ini cuacanya sangat terang, aku duduk di teras rumah sambil menikmati angin malam.
Aku tersenyum melihat bintang kecil yang berkelip-kelip di langit terang akibat cahaya bulan.
"Mas Arnav, ha dia apa kabar?"
"Sampai sekarang ia belum juga menjemput ku, berarti ia benar-benar tidak menganggap ku, sudahlah Audia, dia sudah punya kehidupan nya sendiri!"
...
Bersambung...
jangan lupa follow Instagram author ya
Ig : purna_yudiani
__ADS_1
fb : purna yudiani