I Love You Pilot

I Love You Pilot
part 25. Putri Kita Masih Kecil


__ADS_3

Kurang lebih Arnav menempuh perjalanan dari Jepang menuju Jakarta Indonesia selama 7 jam 30 menit, mereka sekarang sudah mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta.


Senyum Arnav merekah saat ia sudah kembali ke tanah air.


"Alhamdulillah!" ujar nya


Arnav menuju ke kamar hotel nya untuk istirahat kembali, ia akan terbang besok pagi pada jam 07. 30 wib.


Entah kenapa ia sangat ingin untuk pulang, Arnav menelepon supir pribadi nya yang akan menjemput nya di bandara sekarang ini.


Kini Arnav sedang menunggu supir nya itu di luar Bandara.


"Nav!" panggil Irfan


"Hmm!'


"Lo pulang?" tanya nya


"Iya, jadwal penerbangan kita malam ini kan tidak ada, jadi gue mau pulang aja, jarak rumah gue juga nggak terlalu jauh!"


"Lo tenang aja, gue akan sampai di sini lagi tepat pada waktu nya kok!" ujar Arnav


"Oke lah!" ujar Irfan menepuk bahu teman sesama profesi nya itu.


Arnav menatap jalan ibu kota ini yang sangat ramai walaupun hari sudah larut.


"Di rumah aman-aman aja kan pak?" tanya Arnav ke supir pribadi nya itu.


"Iya tuan, di rumah aman kok, tapi... nyonya Audia--!"


"Pak awas!" ujar Arnav saat ia melihat nenek-nenek yang akan menyeberangi jalan. Beruntung saja pak Dadang mengerem mobil tepat waktu, kalau tidak nenek itu akan tertabrak oleh mobil ini.


"Astagfirullah...!" ujar pak Dadang gemetaran, sedangkan Arnav langsung turun dan membantu nenek-nenek itu menyeberangi jalan.


"Lain kali hati-hati pak!" ujar Arnav


"Iya, maaf tuan!"


Mobil kembali di jalankan oleh pak Dadang, tapi pak Dadang tidak jadi mengatakan jika nyonya Audia nya sudah pergi.


Sampai di depan pintu gerbang, entah kenapa senyum Arnav merekah begitu saja, pak Dadang selaku supir nya hanya diam saja.


"Makasih ya pak, pak Dadang boleh istirahat!" ujar Arnav lalu masuk ke dalam rumah nya.


Sudah di pastikan jika semua orang di rumah ini sudah tidur, karena waktu sudah menunjukkan sudah larut malam.


Arnav menuju kamar nya, ia membuka pintu kamar nya.


"Assalamualaikum!" lirih nya.


Arnav mengerutkan keningnya saat lampu kamar nya mati, lampu tidur nya juga tidak hidup.


"Kenapa begitu gelap?" gumam nya.


"Apa Audia suka mematikan lampu kamar ini dan tidak menghidupkan lampu tidur?"

__ADS_1


Lalu Arnav menghidupkan sakelar lampu, ia tidak melihat siapa pun di kamar nya ini.


"Audia kemana?


Arnav tidak begitu mencemaskan nya, ia hanya berpikir jika Audia tidur dengan adik bungsu nya.


🌼🌼🌼


POV Audia.


Ini sudah sangat larut malam tapi aku masih saja tidak bisa tidur, mata ku ini rasanya tidak mengantuk sama sekali.


Aku berusaha menutup mata ku agar aku cepat tidur dan besok pagi bisa membantu ayah dan bunda.


Tangan ini tak sengaja menyenggol bingkai foto yang aku bawa tadi.


"Eh!"


Aku mengambil bingkai foto itu lalu aku mengambil dan mengusap foto yang tertera dalam bingkai itu.


"Ha, kamu mas, entah kenapa aku memikirkan kamu, sedangkan kamu tidak pernah menerima aku!"


Aku tersenyum kecut sambil mengusap foto itu, lalu foto itu aku peluk.


"Sampai sekarang aku masih berharap jika kamu bisa menerima aku, aku tidak minta banyak mas, hanya satu itu saja permintaan ku!"


Aku kembali menutup mataku, tidak terasa azan subuh berkumandang rasanya aku baru sebentar tidur, tapi sudah terjaga saja.


Aku pergi keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi, kamar mandi hanya satu di rumah ku ini, itupun berada di dekat dapur.


"Eeh, Audia sudah bangun saja!" ujar ayah sedikit kaget karena aku.


"Iya yah! ujar ku


"Ayah ke mushola dulu! ujar ayah menjulurkan tangannya padaku, lalu aku menyambut tangan ayahku.


"Iya ayah, hati-hati! ujar ku.


Aku mengambil air wudhu setelah itu aku melaksanakan shalat subuh, selesai sholat aku pergi ke dapur lagi untuk membantu bunda.


"Bunda!' sapa ku.


"Mau bantu bunda atau mau merepotkan saja hm?" sindir bunda.


Aku nyengir, bunda masih ingat lagi dengan sikap ku dulu, aku kalau membantu bunda pasti selalu merepotkan bunda, bukanya membantu bunda, tapi aku malah bikin repot, ada-ada saja tingkah aku dulu.


"Ya... bantu bunda lah! ujar ku.


"Bantu apa? tanya bunda, karena bunda sudah lebih dulu selesai memasak nya.


"Bantu makan aja deh kalau gitu! ujar ku sambil nyengir.


Bunda hanya geleng-geleng kepala, aku juga ikut tertawa kecil.


Yang aku heran kan semenjak aku datang ke sini, bunda sama ayah tidak menanyakan soal mas Arnav, apa mereka tau?

__ADS_1


"Wah... bunda sudah masak banyak nih! ujar Yudia sudah siap dengan seragam sekolah nya.


"Iya, makan gih nanti kamu sekolah nya telat! ujar bunda.


Benar seperti nya mereka sudah tau dengan masalah ku selama ini, bunda sama ayah seperti nya tidak mau membicarakan ini padaku, pasti ayah yang suruh bunda agar bunda tidak bertanya-tanya soal mas Arnav pada ku.


Kini aku bersama bunda lagi pergi ke sawah, aku bersama bunda membawa makan siang untuk ayah yang lagi di sawah.


"Ayah...! teriak ku.


Ayah sekarang lagi jauh di tengah-tengah pematang sawah, aku melambai-lambaikan tangan ku pada ayah.


"Ayah... aku sama bunda bawain ayah makan siang! ujar ku.


"Ayahku sayang... putri kecil mu bawakan makanan!" ujar ku lirih, tak terasa mataku berkaca-kaca, saat aku mengucapkan kata-kata pas aku masih kecil dulu.


Saat kecil dulu aku bersama bunda sering ke sawah membawakan ayah makan siang.


"Putri kecil ayah bawakan apa itu? tanya ayah.


Aku tersenyum lebar ternyata ayah masih ingat kata-kata yang sering ia ucapkan waktu itu.


"Aku bawakan ayah ikan goreng! ujar ku.


"Haha...! tawa ayah


Aku mengerutkan keningku kenapa ayah malah tertawa?.


"Ayahh...! rengek ku seperti anak kecil.


"Hmm... ayah tertawa karena ayah merasa jika kamu masih seperti anak kecil, putri kecil ayah dulu masih kecil ternyata, buktinya kamu masih seperti anak kecil. Ayah jadi inget waktu dulu-dulu itu, sekarang putri kecil ayah sudah besar dan sudah memiliki keluarga sendiri!" ujar ayah di akhir kalimat nya seperti sendu.


"Ayah... anggap saja Audia ini putri kecil ayah, Audia masih merasa kecil kok ayah, buktinya saja Audia masih bergantung pada kalian!" ujar ku


"Hmm... iya putri kecil ayah...!"


Kami duduk di gubuk yang terbuat dari bambu di tengah-tengah sawah ini.


"Bunda tidak nyangka saja putri kecil bunda dulu sudah sebesar ini!" ujar bunda.


"Tidak bunda, putri kita masih kecil! ujar ayah.


"Iya, aku merasa aku masih kecil! timpal ku.


Aku sangat bahagia saat ini karena aku bisa berkumpul lagi dengan kedua orang tua ku, seakan beban pikiran ku hilang begitu saja.


...


Bersambung...


Yang mau berteman dengan author silahkan follow Instagram author, nanti author konfirmasi πŸ‘Œ


Ig : purna_yudiani


fb : purna yudiani

__ADS_1


__ADS_2