Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 10


__ADS_3

"Kamu tenang saja,aku tak akan macam -macam padamu," Ucap Devano sambil tersenyum.


Mendengar ucapan Devano. Alina pun mengangukkan kepala dan mulai mengikuti arah langkah Devano. Sesampai di hadapan kamar. Devano menyuru Alina untuk membuka pintu.


"Alin, tolong buka pintu dong."


Alina pun mendekat ke arah pintu lalu mulai memutar knop pintu kamar Devano. Namun pintu kamar Devano terkunci.


"Van, kata sandi kamar kamu apa?." Tanya Alina.


Mendengar pertanyaan Alina Devano berkata dalam hati.


"Mampus aku, apa yang akan kukatakan padanya?, soal kata sandi kamarku ini, kemarin malam aku baru menggantinya dengan namanya"


"Vano, kata sandi kamar kamu apa?"


Tanya Alina lagi.


Devano pun tersenyum nyengir di hadapan Alina lalu berkata.


"Maaf ya, Alina, kamu jangan marah sama aku, kemarin malam aku lupa dengan kata sandi kamarku, lalu aku menggantinya dengan nama kamu,maaf ya."


"Oo, tidak apa kok, aku tak marah, justru bagus, aku tau kata sandi kamar kamu, aku akan bebas masuk ke dalam kalau kamu tak ada di dalam kamar, aku akan membobol lemarai besi kamu di dalam. Lalu membawa kabur semua uang kamu," Ucap Alina sambil tertawa kecil. lalu memencat kata sandi kamar Devano lalu masuk.


Setelah masuk ke dalam kamar Devano. Alina tertegun melihat isi yang ada di dalam kamar Devano. Kamar Devano begitu sangat luas bahkan bisa di bilang kamar Devano lebih luas daripada rumahnya yang ada di selatan. di dalamnya terdapat sebuah rangjang berukurang king size, sofa yang cukup besar kalau untuk aku karna di rumahku cuman ada sebuah kursi pelastik. kulkas, lemari jepara yang sangat besar beserta lemari hias. Di dalam kamar Devano semuanya lengkap kalau menurutku.


"Sempurna."


Melihatku terdiam Devano, pun memanggilku.


"Alin,sini,kita mulai menyusun uangnya."

__ADS_1


"Ha, i, iya baik," Ucap Alina gugup sambil berjalan ke arah tempat tidur. karna di sanalah Devano menuang semua uangnya di atas tempat tidur.


Alina mulai menyusun dan menghitung. Sementara Devano sibuk menulis semua pengeluaran dan pemasukan di Cafenya. Sesekali Devano melihat ke arah Alina yang sudah mulai sering menguap.


"Sedikit lagi," Ucap Alina sambil menyusun uang.


Setelah uangnya hampir selesai di hitung Alina menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur Devano dan tampa sengaja Alina tertidur sambil memegan beberapa lembar uang. Devano yang melihat Alina tertidur pun, dengan segera mengambil uang yang ada di tangan Alina lalu mencoba merebahkan tubuh Alina dengan sangat pelan. Setelah berhasil merebahkan tubuh Alina tampa membuat terbangun.Devano pun menarik selimut untuk menutupi semua tubuh Alina. Setelah selesai Devano tersenyum senang melihat ke arah Alina yang sedang terlelap dalam kamarnya. Devano pun berkata dalam hati.


"Kapan aku bisa terlelap di sampingmu sambil memelukmu Alina?."


Setelah selesai Devano mengambil sisa uang yang belum terhitung. dan langsung memasukkannya ke dalam lemari besinya.


"Aku juga sangat lelah dan juga mengantuk," Ucap Devano sambil berjalan ke arah sopa kemudian merebahkan tubuhnya lalu tertidur.


Hingga pagi ke duanya masih berdamai dengan mimpinya. Hingga siang Alina pun mengeliat lalu bangun. Alina mulai melihat sekeliling dan matanya tertuju pada Devano yang masih terlelap sambil melipat tangannya di dadanya.


"Haa, aku tertidur di sini?,di kamar Devano," Ucap Alina berangjak dari tempat tidur menuju ke arah Devano yang masih setia dengan mimpinya.


Alina pun kembali ke tempat tidur. Untuk mengambil selimut lalu berjalan kembali ke arah Devano. lalu menyelimuti seluruh tubuh Devano kemudian berjalan keluar dari kamar Devano dengan cara mengedap -ngedap takut jika seseorang melihatnya. Alina tak ingin ada kesalah pahaman terjadi di dalam Cafe Devano.


"Aman," Ucap Alina ketika sampai di dalam kamarnya sambil mengelus dadanya.


Setelah masuk kamar, Alina bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersikan diri. lalu keluar kamar menuju dapur khusus untuk para pelayan yang tinggal di dalam Cafe Devano, untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Sesampai di dapur Alina di sapa oleh Aran.


"Siang, Alina."


"Siang juga Aran, kamu lagi ngapain?." Tanya Alina.


"Aku lagi mau masak sesuatu, namun aku bingun mau masak apa?,aku bosan makan masakan lezat terus." Kata Aran.


"Iya, aku juga pengen, oya bagaimana kalau kita masak ala menu di selatan aku?,apa kamu mau." Tanya Alina.

__ADS_1


"Tapi, aku kan tak tau rasa masakan yang ada di selatan Alina."


"Tenang saja,kamu cukup membantuku selebihnya serahkan padaku," Ucap Alina sambil menepuk dadanya.


"Baik, lah kalau begitu. Aku ingin mencoba masakan yang ada di selatan," Ucap Aran senang.


"Baik lah, sekarang kita ke pasar terdekat yang ada di dekat sini dulu. Kita akan mencari semua bahan -bahan nya,lalu pulan untuk memasaknya.


"Oky, kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ajak Aran.


Ke duanya pun pergi ke pasar yang tak jauh dari Cafe yang mereka tempati tinggal. Setelah semua bahan -bahan yang akan di gunakan Alina memasak sudah lengkap mereka berdua pun pulang dengan berjalan kaki. Sesampai di dalam dapur mereka berdua pun mulai sibuk bertempur dengan peralatan alat memasak. Hampir sejam mereka memasak.


"Akhirnya," Ucap Aran sambil menghirup aroma masakan yang telah tertata rapi di atas meja makan.


Alina yang melihat tingkah Aran pun cuman bisa tersenyum melihatnya.Aran pun kemabali berkata.


"Hari ini kita akan makan besar Alina. Wao, ini sangat banyak, apa kita bisa menghabisi semuanya?." Tanya Aran.


"Kita, coba saja dulu, kalau ada yang tersisa kita tinggal memasukkannya saja ke dalam lemari es."


Setelah ke asyikan berbicara tiba -tiba ada suara mengagetkan mereka berdua.


"Aku, mencium bau masakan yang sangat lezat, wanginya sampai masuk ke dalam kamarku, apa kalian mengetahuinya dari mana asal bau harum itu?," Tanya Devano.


"Bukan dari masakan ini pak,!" Ucap Aran sambil menunjuk ke arah meja makan.


Devano pun melihat ke arah meja makan yang berisi masakan yang telah tertata rapi.


"Makanan sebanyak ini?, apa kalian berdua sanggup menghabiskannya?, kalau ngak sanggup biar aku bantu menhabiskannya," Ucap Devano tertawa lepas di depan Alina dan Aran.


Melihat tingkah bosnya Aran sedikit terkejut. Karna baru kali ini Aran melihat secara dekat sifat dan tingkah laku bosnya yang terbilang cukup ramah. Aran pun berkata.

__ADS_1


"Bapak, mau makan sama kita berdua?," Ucap Aran sambil menunjuk dirinya dan juga Alina.


"Tentu saja, ayo kita makan, aku sangat lapar," Ucap Devano sambil menarik kursi lalu duduk.


__ADS_2