
"Devan,ayo kita turun."
Alina pun berjalan ke arah tangga di ikuti oleh Devano di belakangnya. Alina perlahan menurungi satu persatu anak tangga. Namun tiba -tiba Alina hampir saja terjatu kalau saja Devano tak segera menarik tangan Alina masuk ke dalam pelukannya.
"Aaaaa," ucap Alina ketika hampir jatuh.
Alina pun menatap ke arah Devano, begitu pun dengan Devano balas melihat ke arah Alina sehingga akhirnya pandangan mereka berdua bertemu. Alina merasakan sesuatu yang aneh bergejolak dalam dadanya. Sementara Devano merasa jangtungnya berdetak tak karuan ketika menatap mata Alina sayu, Alina yang begitu sangat indah. Cukup lama Alina berada dalam pelukan sambil melihat ke arah wajah Devano hingga, deheman Aran menyadarkan ke duanya.
"Ehemm," Suara deheman Aran menyadarkan ke duanya.
Mendengar deheman Aran, dengan segera Alina melespaskan pegangan tanganya dari lengan Devano. Sementara Devano merasa terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuh Aliana.
"Maaf,Alin," ucap Devano pelan sambil melihat ke arah Alina.
"Tak, masalah,Van,terimah kasih telah menolongku."
Setelah Devano melepas pelukannya. Alina berjalan ke arah kamarnya sambil memegan dadanya. Di dalam hati Alina berkata.
"Ada apa ini?, kenapa jangtungku berdetak tak karuan seperti ini. Sepertinya aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku."
Setelah sampai di dalam kamar Alina merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu tertidur sejenak. karna waktu menunjukkan sudah sedikit sore. Pas jam 5.30. Alina terbangun dari tidurnya, kemudian berangjak dari tempat tidur lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri. Setelah selesai Alina pun bersiap dengan mengenakan seragam khusus pelayan kemudian keluar dari kamarnya menuju ke ruangan Cafe lalu kembali bekerja seperti biasanya.
Waktu terus berlalu, hari berganti hari bulan berganti bulan. Kini Alina telah bekerja di Cafe Devano selama delapan bulan. Hubungan keduanya semakin terlihat dekat. bahkan Alina merasa tak nyaman bila tak melihat Devano dalam sehari begitupun yang Devano rasakan.
Seperti hari ini entah apa yang merasuki Alina sehingga dia melakukan hal yang aneh seperti itu.
Siang ini Alina berada di taman kampus sendiri. Alina duduk sambil melamunkan Devano. Namun Alina tak pernah menyadari kalau saat ini Devano datang menghampirinya. Devano pun bertanya pada Alina.
"Kamu sedang memikirkan apa?" Tanya Devano. Alina pun langsung menjawab pertanyaan Devano.
"Aku sedang memikirkanmu Van," Ucap Alina belum sadar dengan apa yang dia katakan pada Devano.
"Apa!, kamu memikirkanku," Ucap Devano sambil tesenyum ke arah Alina.
__ADS_1
"Iya, Van, tadi aku berkata apa?" Ucap Alina sedikit gugup.
Devano pun tersenyum mendengar pertanyaan Alina, sambil duduk di sampinya lalu menatap ke arah wajah Alina. Kemudian berkata.
"Alin, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu?"
"Apa,! Van,katakan saja yang ingin kamu katakan padaku. Aku akan menjadi pendengar yang baik," Ucap Alina sambil tersenyum lembut pada Devano.
Melihat senyuman Alina hati Devano menjadi hangat seperti ada sesuatu yang besar membuat Devano langsung mengatakan apa yang ingin di ucapkannya.
"Alina, mulai besok aku tak akan mengajar lagi di kampus ini. Aku ingin kembali ke kuala lumpur untuk mengurus bisnis Daddyku. Saat ini beliau sedang tak sehat dan dia ingin aku yang mengurus perusahaannya di sana." Berkata sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Devano akan kembali ke negara asalnya. Hati Alina merasa sangat sedih, Alina ingin mengeluarkan air matanya, namun dia menahannya. Alina tak ingin memperlihatkan perasaan yang sebenarnya terhadap Devano. Alina pun berkata.
"Kapan kamu akan kembali Van?,aku harap setelah kamu sampai di sana kamu tak melupakanku," Ucap Alina sambil tersenyum manis melihat ke arah Devano.
Devano pun menarik nafasnya lalu membuangnya dengan pelan. Huppp, hemmm. Kemudian berkata.
"Cafe kamu," Ucap Alina membenarkan ucapan Devano.
"Apa,hari ini kamu masih ada jadwal kuliah." Tanya Devano.
"Tak ada lagi."
"Kalau begitu ayo kita pulang bersama." Ajak Devano sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu duluan saja jalannya, bentar lagi aku nyusul,"
"Memang kenapa?, kamu tak mau berjalan bersama denganku?"
"Tidak Devan, bukan begitu maksud aku, aku hanya takut pada semua mahasiswi yang mengidolakanmu, aku takut mereka akan membuliku habis -habisan. Cuman itu maksud aku tak lebih.
"Oo, jadi kamu takut mereka."
__ADS_1
"Ya, jelas aku takut, ini bukan kota aku, aku hanya termasuk perantau di kota metropolitan ini," Ucap Alina pelan sambil tersenyum.
"Baik lah, sekarang aku jalan duluan.Aku menunggumu di luar gerban sekolah."
"Baik," Ucap Alina singkat sambil mengangukkan kepalanya.
Devano pun berjalan menjauh dari tempat Alina duduk. Sementara Alina menatap ke arah depan sambil meneteskan air mata. Alina pun berkata pada dirinya sendiri.
"Apa yang terjadi padaku?, kenapa aku merasa sangat sedih ketika Devano berkata, dia akan kembali ke negaranya. Hiks, hiks, hiks, aku sangat sedih mendengarkannya. Aku merasa tak rela kalau dia harus pergi dariku. ada apa dengan hatiku?, apakah aku mencintai Devano atau tidak?, namun satu yang pasti, aku tak rela di pergi jauh dariku."
Sementara di gerban sekolah. Devano berkata di dalam mobilnya sambil mengacak rambutnya.
"Alina, sebenarnya aku tak rela meninggalkanmu, aku tak ingin jauh darimu, aku sangat,sangat sangat mencintaimu. Apakah aku harus mengatakan perasaanku padamu sebelum aku pergi?, namun apakah Alina akan membalas perasaan yang aku miliki padanya?, Alina aku tak tau apakah aku sanggup menjalani hari -hariku tampa melihatmu,"
Setelah itu, Alina pun berjalan ke luar dari kampusnya menuju gerban kampus karna di sanalah Devano sedang menunggunya.
"Maaf Devan, aku lama."
"Tak,masalah, sekarang masuklah," Ucap Devan sambil membukakan pintu mobilnya pada Alina.
Alina pun masuk ke dalam mobil Devano lalu duduk. Sementara Devano perlahan melajukan mobilnya menuju ke Cafenya. Devano melihat sejenak ke arah Alina lalu kembali melihat ke arah depan. Devano pun berkata dalam hati.
"Kenapa mata Alina terlihat merah dan bengkak?, apa dia habis menangis atau bagaiman?,"
Karna rasa penasaran hingga akhirnya Devano pun memberanikan diri bertanya pada Alina.
"Alina, mata kamu kenapa merah kaya gitu?,"
"Hem, mata merah," Ucap Alina sambil melihat ke arah kaca spion mobil Devano.
"Oh, ini, tadi ada sesuatu yang memasuki mataku ketika aku mau ke sini, dan aku tak tau kalau ternyata saat ini mataku terlihat sangat merah." Bohong Alina pada Devano.
"Oh, aku fikir kamu menangis, karna aku mau kembali ke negaraku. Canda Devano pada Alina dan itu membuat Alina sedikit kesal.
__ADS_1