
Alina yang mendapat pelukan erat seperti itu dari orang yang
di kenalnya tak lain adalah Arga, merasa begitu sangat terkejut, namun disisi
keterkejutannya Alina merasa begitu sangat nyaman mendapat pelukan seperti itu
dari pemuda yang di kenalnya sebulan yang lalu di Jakarta.
Jedderrrr.
Jantung Alina berdetak begitu sangat kencang ketika Arga
memeluknya dengan sangat erat.
“Maaf.” Arga melepas pelukannya dari tubuh Alina, lalu
menatapnya Alina dengan begitu banyak pertanyaan, karna gadis yang ada di
hadapannya saat ini tengah mengenakan pakaian berwarna putih, layaknya seperti
seorang Dokter.
“Hem.” Tersenyum “Tidak masalah.” Alina melihat ke arah
Arga, tak percaya kalau mereka bisa bertemu lagi di kotanya, kota kelahirannya.
“Hai.” Arga merasa bingun harus berkata apa kepada Alina,
karna kebingungannya Arga sampai mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hai, juga.” Alina juga ikut merasa bingun dengan tingkah
Arga, yang terlihat salah tingkah.
Kekikukan yang terjadi di antara mereka, sungguh begitu
sangat terlihat di tambah Arga memeluk Alina dengan sangat erat.
“Kamu mau kemana?” untuk menghilangkan kekikukannya Arga
mulai mencairkan suasana.
“Aku mau ke kantin untuk makan” mengelus perut “Aku sangat
kelaparan.” Alina tersenyum melihat ke arah Arga yang kini tak berhenti melihat
ke arahnya.
“Makan ya.” Arga masih terlihat bingun melihat Alina.
“Iya, makan. Makan yu, aku sangat kelaparan.” Alina menarik
tangan Arga menuju arah kantin Rumah Sakit.
Arga tak berhenti melihat tangan Alina yang kini tengah
memegan tangannya. Tampa memperdulikan orang-orang yang telah melihat ke arah
mereka berdua.
Alina juga tak menyadari kalau pemuda yang tengah tangannya
tarik adalah pemilik dari Rumah sakit yang di tempatinya bekerja.
Seteleh sampai di dalam kantin rumah sakit, Alina melepas
tangan Arga, lalu duduk di kursi, sementara Arga masih berdiri mematung masih
tak percaya kalau wanita yang selama dua minggu di carinya kini tengah berada
di hadapannya. Bahkan sampai menarik tangannya masuk ke dalam kanting rumah
sakit.
“Halo.” Melambaikan tangan “Arga. duduk. Kamu kenapa? Seperti
orang bingun seperti itu.” Alina melihat ke arah Arga yang kini masih setia
berdiri melihatnya.
“Hem, iya ada apa?” Arga melihat ke arah Alina, lalu duduk
__ADS_1
berhadapan dengannya. Arga tak berhenti melihat ke arah wajah Alina dan itu
membuat Alina berkata.
“Apa ada sesuatu yang aneh dengan wajahku?” Alina menyentuh
wajahnya ketika selesai mengatakan itu pada Arga.
“Tdak ada yang aneh, cuman kamu terlihat begitu sangat
cantik.” Arga tak menyadri yang tengah di ucapkannya karna masih sibuk
memandang wajah Alina.
“Apa!” Alina yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut
Arga ikutan bingun.
“Hem, apa yang aku katakan barusan?” mengelak “Ah, sudahlah
lupakan saja, sekarang kamu bisa jelaskan kenapa kamu ada di sini? Apa ada
keluarga kamu yang sakit? Siapa?” Arga mengeluarkan begitu banyak pertanyaan
karna masih penasaran kenapa Alina bisa ada di sini di kota yang di tempatinya
saat ini.
Hahaha.
Alina tertawa melebar mendengar semua pertenyaan yang keluar
dari mulut Arga. Alina menutup mulutnya dengan kedua tangannya karna suara
tawanya hampir memenuhi ruangan kantin.
“Arga, Arga. apa kamu tidak tau?” Kembali tertawa “Kota ini
adalah kota kelahiranku, aku besar di sini dan tinggal di sini juga.
“Apa!” Arga terkejut mendengar apa yang di katakan Alina
“Lalu siapa yang sakit? Kenapa kamu ada di rumah sakit di
jam seperti ini?” Arga masih bingun, kenapa Alina ada di rumah sakit di jam
seperti ini, dan pakaian yang Alina kenakan sama seperti pakaian yang di
kenakan oleh dokter pada umumnya.
Tampa menjawab pertanyaan Arga, Alina mengeluarkan kartu
Idicartnya dan menberikannya kepada Arga.
Arga yang melihat Alina mengeluarkan sebuah kartu dari dalam
kanton bajunya, segera mengambilnya dan melihat nama yang tertera dalam kartu Idicart
tersebu.
Dokter. Alina Ahli specialis bedah. Itulah ni nama yang
tertera di dalam kartu idicart yang ada di tangan Arga.
“Benarkah?” Arga tak percaya dengan apa yang tengah ia baca.
“Tentu saja.” Alina tersenyum melihat wajah Arga yang terlihat
terkejut.
“Nah, sekarang kamu jelaskan ke aku, kenapa kamu sampai ada
di sini? Di kota ini, di kota kelahiranku.” Alina menatap wajah Arga ketika
menanyakan itu, karna Alina juga merasa begitu sangat penasan kenapa Arga bisa
berada di kota yang di tempatinya.
Mendengar pertanyaan Alina, Arga mengaruk kepalanya bingun
ingin mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
__ADS_1
Melihat wajah Arga yang terlihat bingun, Alina tersenyum
memandangi wajah Arga yang sesekali tersenyum melihat ke arahnya.
“Ahh, aku tau.” Tersenyum “Kamu kesini untuk mencariku kan?”
Alina bercanda sambil tersenyum ketika mengatakan itu, sengaja karna melihat
wajah Arga yang selalu terlihat bingun “Katakan! Kenapa kamu sampai ada di
sini?” Alina menyentuh pergelangan tangan Arga.
“Sebenarnya.” Memegan dahi “Sebenarnya, Ah, aku harus bilang
apa?” melihat ke arah Alina.
“Ya, sudah katakan saja, kamu tak perlu sunkan padaku.”
Alina tersenyum.
“Sebenarnya aku datang kemari, ingin mengunjungi Rumah sakitku.
Dan rumah sakit ini adalah milik keluargaku.”
Mendengar kata yang keluar dari dalam mulut Arga, Alina merasa
begitu sangat terkejut tak percaya, karna keterkejutan Alina yang tengah meminum
air tak sengaja menyemburkan seluruh isi air dalam mulutnya ke wajah Arga
Byurrr.
Uhukk, uhukk.
Alina terbatuk ketika selesai mengeluarkan semua isi air
dalam mulutnya.
“Maaf, maaf.” Dalam batuk Alina tak berhenti meminta maaf
karna telah menyembur wajah Arga dengan Air dari dalam mulutnya.
“Tidak masalah.” Arga mengeluarkan sapu tangannya dari dalam
saku jasnya lalu melap seluru wajahnya yang terkena semburan air dari dalam
mulut Alina.
Setelah batuknya Reda, Alina kembali meminta maaf, atas
perlakuaannya terhadapa pemilik Rumah sakit tersebut.
“Maafkan aku ya Ga. Aku tak sengaja melakukannya. Maaf banget.”
Alina mengatupkan tangannya melihat ke arah Arga yang ada di hadapannya.
“Santai saja Alin, kamu kan tak sengaja melakukannya.” Arga
tersenyum. “Maaf Alin,sebenarnya aku tidak pantas menanyakan ini. Tapi karna
aku penasaran jadi aku ingin menanyakannya. Boleh?” melihat serius ke arah
wajah alina.
“Boleh, mau tanya apa?” Alina berkata santai meliat ke arah
Arga.
“Di sini kamu menjadi seorang dokter, lalu kenapa kamu menjadi
pelayan Cafe di kota jakarta?” Arga menatap serius ke arah wajah Alina, menanti
jawaban yang keluar dari dalam mulutnya.
“Hem, setiap tahun aku memang ke sana, setelah mengambil
cuti. Karna biasa aku selalu menhabiskan semua liburanku untuk
berjalan-jalan,untuk membuang semua rasa penatku. Cafe itu adalah milikku,
milik ca...” Alina tak melanjutkan kata-katany dan memilih membahas soal yang lain.
__ADS_1