Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.45


__ADS_3

Alina yang mendapat pelukan erat seperti itu dari orang yang


di kenalnya tak lain adalah Arga, merasa begitu sangat terkejut, namun disisi


keterkejutannya Alina merasa begitu sangat nyaman mendapat pelukan seperti itu


dari pemuda yang di kenalnya sebulan yang lalu di Jakarta.


Jedderrrr.


Jantung Alina berdetak begitu sangat kencang ketika Arga


memeluknya dengan sangat erat.


“Maaf.” Arga melepas pelukannya dari tubuh Alina, lalu


menatapnya Alina dengan begitu banyak pertanyaan, karna gadis yang ada di


hadapannya saat ini tengah mengenakan pakaian berwarna putih, layaknya seperti


seorang Dokter.


“Hem.” Tersenyum “Tidak masalah.” Alina melihat ke arah


Arga, tak percaya kalau mereka bisa bertemu lagi di kotanya, kota kelahirannya.


“Hai.” Arga merasa bingun harus berkata apa kepada Alina,


karna kebingungannya Arga sampai mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Hai, juga.” Alina juga ikut merasa bingun dengan tingkah


Arga, yang terlihat salah tingkah.


Kekikukan yang terjadi di antara mereka, sungguh begitu


sangat terlihat di tambah Arga memeluk Alina dengan sangat erat.


“Kamu mau kemana?” untuk menghilangkan kekikukannya Arga


mulai mencairkan suasana.


“Aku mau ke kantin untuk makan” mengelus perut “Aku sangat


kelaparan.” Alina tersenyum melihat ke arah Arga yang kini tak berhenti melihat


ke arahnya.


“Makan ya.” Arga masih terlihat bingun melihat Alina.


“Iya, makan. Makan yu, aku sangat kelaparan.” Alina menarik


tangan Arga menuju arah kantin Rumah Sakit.


Arga tak berhenti melihat tangan Alina yang kini tengah


memegan tangannya. Tampa memperdulikan orang-orang yang telah melihat ke arah


mereka berdua.


Alina juga tak menyadari kalau pemuda yang tengah tangannya


tarik adalah pemilik dari Rumah sakit yang di tempatinya bekerja.


Seteleh sampai di dalam kantin rumah sakit, Alina melepas


tangan Arga, lalu duduk di kursi, sementara Arga masih berdiri mematung masih


tak percaya kalau wanita yang selama dua minggu di carinya kini tengah berada


di hadapannya. Bahkan sampai menarik tangannya masuk ke dalam kanting rumah


sakit.


“Halo.” Melambaikan tangan “Arga. duduk. Kamu kenapa? Seperti


orang bingun seperti itu.” Alina melihat ke arah Arga yang kini masih setia


berdiri melihatnya.


“Hem, iya ada apa?” Arga melihat ke arah Alina, lalu duduk

__ADS_1


berhadapan dengannya. Arga tak berhenti melihat ke arah wajah Alina dan itu


membuat Alina berkata.


“Apa ada sesuatu yang aneh dengan wajahku?” Alina menyentuh


wajahnya ketika selesai mengatakan itu pada Arga.


“Tdak ada yang aneh, cuman kamu terlihat begitu sangat


cantik.” Arga tak menyadri yang tengah di ucapkannya karna masih sibuk


memandang wajah Alina.


“Apa!” Alina yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut


Arga ikutan bingun.


“Hem, apa yang aku katakan barusan?” mengelak “Ah, sudahlah


lupakan saja, sekarang kamu bisa jelaskan kenapa kamu ada di sini? Apa ada


keluarga kamu yang sakit? Siapa?” Arga mengeluarkan begitu banyak pertanyaan


karna masih penasaran kenapa Alina bisa ada di sini di kota yang di tempatinya


saat ini.


Hahaha.


Alina tertawa melebar mendengar semua pertenyaan yang keluar


dari mulut Arga. Alina menutup mulutnya dengan kedua tangannya karna suara


tawanya hampir memenuhi ruangan kantin.


“Arga, Arga. apa kamu tidak tau?” Kembali tertawa “Kota ini


adalah kota kelahiranku, aku besar di sini dan tinggal di sini juga.


“Apa!” Arga terkejut mendengar apa yang di katakan Alina


“Lalu siapa yang sakit? Kenapa kamu ada di rumah sakit di


jam seperti ini?” Arga masih bingun, kenapa Alina ada di rumah sakit di jam


seperti ini, dan pakaian yang Alina kenakan sama seperti pakaian yang di


kenakan oleh dokter pada umumnya.


Tampa menjawab pertanyaan Arga, Alina mengeluarkan kartu


Idicartnya dan menberikannya kepada Arga.


Arga yang melihat Alina mengeluarkan sebuah kartu dari dalam


kanton bajunya, segera mengambilnya dan melihat nama yang tertera dalam kartu Idicart


tersebu.


Dokter. Alina Ahli specialis bedah. Itulah ni nama yang


tertera di dalam kartu idicart yang ada di tangan Arga.


“Benarkah?” Arga tak percaya dengan apa yang tengah ia baca.


“Tentu saja.” Alina tersenyum melihat wajah Arga yang terlihat


terkejut.


“Nah, sekarang kamu jelaskan ke aku, kenapa kamu sampai ada


di sini? Di kota ini, di kota kelahiranku.” Alina menatap wajah Arga ketika


menanyakan itu, karna Alina juga merasa begitu sangat penasan kenapa Arga bisa


berada di kota yang di tempatinya.


Mendengar pertanyaan Alina, Arga mengaruk kepalanya bingun


ingin mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

__ADS_1


Melihat wajah Arga yang terlihat bingun, Alina tersenyum


memandangi wajah Arga yang sesekali tersenyum melihat ke arahnya.


“Ahh, aku tau.” Tersenyum “Kamu kesini untuk mencariku kan?”


Alina bercanda sambil tersenyum ketika mengatakan itu, sengaja karna melihat


wajah Arga yang selalu terlihat bingun “Katakan! Kenapa kamu sampai ada di


sini?” Alina menyentuh pergelangan tangan Arga.


“Sebenarnya.” Memegan dahi “Sebenarnya, Ah, aku harus bilang


apa?” melihat ke arah Alina.


“Ya, sudah katakan saja, kamu tak perlu sunkan padaku.”


Alina tersenyum.


“Sebenarnya aku datang kemari, ingin mengunjungi Rumah sakitku.


Dan rumah sakit ini adalah milik keluargaku.”


Mendengar kata yang keluar dari dalam mulut Arga, Alina merasa


begitu sangat terkejut tak percaya, karna keterkejutan Alina yang tengah meminum


air tak sengaja menyemburkan seluruh isi air dalam mulutnya ke wajah Arga


Byurrr.


Uhukk, uhukk.


Alina terbatuk ketika selesai mengeluarkan semua isi air


dalam mulutnya.


“Maaf, maaf.” Dalam batuk Alina tak berhenti meminta maaf


karna telah menyembur wajah Arga dengan Air dari dalam mulutnya.


“Tidak masalah.” Arga mengeluarkan sapu tangannya dari dalam


saku jasnya lalu melap seluru wajahnya yang terkena semburan air dari dalam


mulut Alina.


Setelah batuknya Reda, Alina kembali meminta maaf, atas


perlakuaannya terhadapa pemilik Rumah sakit tersebut.


“Maafkan aku ya Ga. Aku tak sengaja melakukannya. Maaf banget.”


Alina mengatupkan tangannya melihat ke arah Arga yang ada di hadapannya.


“Santai saja Alin, kamu kan tak sengaja melakukannya.” Arga


tersenyum. “Maaf Alin,sebenarnya aku tidak pantas menanyakan ini. Tapi karna


aku penasaran jadi aku ingin menanyakannya. Boleh?” melihat serius ke arah


wajah alina.


“Boleh, mau tanya apa?” Alina berkata santai meliat ke arah


Arga.


“Di sini kamu menjadi seorang dokter, lalu kenapa kamu menjadi


pelayan Cafe di kota jakarta?” Arga menatap serius ke arah wajah Alina, menanti


jawaban yang keluar dari dalam mulutnya.


“Hem, setiap tahun aku memang ke sana, setelah mengambil


cuti. Karna biasa aku selalu menhabiskan semua liburanku untuk


berjalan-jalan,untuk membuang semua rasa penatku. Cafe itu adalah milikku,


milik ca...” Alina tak melanjutkan kata-katany dan memilih membahas soal yang  lain.

__ADS_1


__ADS_2