
Alina pun berjalan keluar dari kamar mandi. Lalu menhampiri Selli yang sedang membaca majalah di atas tempat tidur, Selli menyandarkan kepalanya di sandaran tempat tidur dan sekali -kali melihat ke arah Alina.
"Selli." panggil Alina.
"Iya. ada apa?" Selli melihat ke arah Alina.
"Boleh aku tidur?, aku sangat lelah dan juga mengantuk." Alina melihat ke arah Selli dengan pandangan mata sendu. matanya terasa sangat berat karna mengantuk. Dan Selli pun bisa melihat rasa lelah yang di alami Alina karna terlihat jelas dari cara Alina berjalan.
"Istirahatla, aku juga sangat lelah, seharian di rumah sakit." Selli meregankan otot -otot tubuhnya lalu merebahkan diri di atas tempat tidur.
Setelah beberapa saat ke duanya pun terlelap. Hingga pagi Alina bangun lebih awal. Alina melihat ke arah Selli yang masih nyaman dengan tidur nyenyaknya. Alina pun beranjak dari tempat tidur kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersikan diri. Setelah selesai dengan ritual mandinya Alina pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek selutut dan juga baju kaos. Seperti biasanya Alina selalu berpakaian santai sama waktu berada di dalam Cafe Devano.
Setelah selesai Alina berjalan ke luar dari kamarnya, lalu melihat sekelilin ruangan yang masih nampak sepi. Alina merasa takut sendiri melihat rumah Devano yang sangat besar.
__ADS_1
"Ih, aku takut." Alina berlari menuju ke arah dapur, dan di sana Alina melihat semua pelayan Devano sedang sibuk menyiapkan segala keperluan majikannya di pagi hari.
"Pagi, semua." Sapa Alina pada semua pelayan yang ada di dapur. Alina tersenyum manis melihat semua para pelayan.
"Pagi, Nona," ucap kepala pelayan yang telah mengenal Alina. Ada juga di antara mereka yang tak tau Alina, sambil bertanya kepada temannya yang lain.
"Siapa gadis ini? apa dia tamu Nona Selli?, kalau temannya Non Selli tak mungkin berpakaian seperti itu," ucap salah satu pelayan yang ada di dalam ruangan masak.
"Hus, kalian jangan bicara kurang ajar seperti itu, apa kalian tau siapa dia?." Kepala pelayan yang ada di ruangan dapur tersenbut menegur para pelayan yang lainnya yang sedang bergosip tentang Alina.
"Namanya Nona Alina. Dia adalah calon istri tuan muda Devano."
"Apa!," ucapan serentak, itu keluar dari mulut para pelayan yang telah bergosip tentang Alina. Mereka semua nampak terkejut mendengar ucapan kepala pelayan mereka.
__ADS_1
"Iya, jadi aku berharap pada kalian bersikap sopanla padanya. jika kalian masih ingin bekerja di rumah ini." ucap kepala pelayan menjelaskan.
"Iya, iya, baik lah," ucap serentak para pelayan tersebut. Mereka semua sangat menyayangi pekerjaan mereka sebagai seorang pelayan di rumah Devano. Selain itu majikan mereka sangat baik, juga tidak pelit untuk mengeluarkan gaji tambahan buat mereka.
Alina pun tersenyum. Lalu ikut bergabung denga para pelayan tersebut.
"Nona, mau ngapain?." tanya kepala pelayan yang bernama Marina.
"Aku ingin ikut bergabun masak bersama kalian, oya semua, kenalkan namaku Alina." Alina melambaikan tangannya pada semua pelayan yang ada di dapur.
"Hei, senang bisa mengenalmu," ucap semua pelayan.
"Maaf, nona kami tak bisa, kami takut dengan majikan kami," ucap Marina.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, aku sendiri yang akan bertanggun jawab bila itu terjadi." Alina menepuk pelan bahu Marina sambil tersenyum