
Setelah Arga dan Aldo selesai makan malam, keduany keluar di
depan rumah, mereka melihat begitu banyak pasangan muda mudi berjalan, bahkan
ada yang mengendari motornya menuju arah pantai karna malamini bertepatan
dengan malam minggu.
Itulah kota Pare-pare yang terkenal dengan sebutan malam
Minggu, karna setiap malam Minggu pantai Lakessi terlihat bagitu sangat ramai,
layaknya pasar malam, di sana terdapat penjual pakaian, mainan bahkan alat
kosmetic lainnya, dan begitu keindahanyang lainnya yang bisa di nikmati ketika
Malam minggu.
“Ga, ke sana yu.” Aldo menunjuk arah tempat yang terlihat
begitu sangat ramai.
“Ayo.” Arga mengangukkan kepalanya setuju dengan ajakan
Aldo.
Mereka berdua pun berjalan ke arah pasar yang terletak pas
di pinggir pantai tersebut, mereka berdua hanya mengenkan pakaian santai,
bahkan Arga hanya mengenakan sandal jepit dan itu membuatnya terlihat seperti
warga kota Pare-pare yang sebenarnya.
Setelah merasa lelah berkeliling menikmati suasana keindahan
malam Minggu di kota Pare-pare, Arga dan Aldo duduk dipinggir pantai sambil
menikmati jagun bakar.
“Ga, aku ingin melihat dimana Monumend Cinta sejati Ainun
Habibie.” Aldo melihat ke arah Arga ketika mengatakan itu.
“Nanti setelah pulang kita akan singgah di situ.” Arga
kembali melanjutkan makan jagunnya ketika selesai mengatakan itu pada Aldo.
Aldo tak berhenti mengambil gambar dirinya setelah sampai di
Monumend cinta sejati Habibie Ainun. Dan bahkan Aldo sampai memanjat hanya
untuk mengambil gamabarnya dari dekat bersama Monument tersebut.
Melihat tingkah konyol Aldo, Arga terkekeh karna melihat
sahabatnya itu seperti ikan dalam aquarium yang kehabisan air.
“Hahaha.” Arga tertawa saat melihat Aldo hampir terjatuh
masuk ke dalam kolam yang mengeliling Monument tersebut.
Hanya dengan berjalan kaki mereka berdua kembali ke rumah
Arga. sebenarnya Aldo masih ingin melihat semua keindahan yang ada di kota
Pare-pare, namun karna Arga merasa terlalu leleh hingga akhirnya Aldo mengalah
dan memilih mengikuti Arga pulang.
“Besok kamu bisa mengelilingi kota ini. Dan untuk besok kamu
tak perlu menemaniku ke rumah sakit.” Arga mengatakan itu karna melihat wajah
__ADS_1
Aldo yang terlihat kesal.
“Benarkah? Besok aku tak perlu ikut denganmu ke Rumah sakit?”
Arga tersenyum senang ketika mengatakan itu.
“Benar! Kamu juga bisa menggunakan motorku yang ada di dalam
garasi, dan jangan lupa aktipkan GPS hapemu agar kamu tidak kesasar nantinya.” Arga
menjelaskan semuanya kepada Aldo agar nantinya Aldo tidak mengalami masalah
ketika mulai jalan-jalan di kota Pare-pere.
Seperti yang Arga rencanakan siang ini ia akan ke Rumah
sakit, mengunjungi sekaligus melihat situasi Rumah sakitnya yang kini tengah di
renovasi ulang. Arga ingin melihat sudah berapa persen yang telah selesai.
Sebegai seorang pemilik satu-satu dari seluruh harta warisan
kedua orang tuanya, Arga haruslah ektra hati-hati dalam semua hal yang tengah
Ia urus.
Setelah memasuki ruangan depan Rumah sakitnya Arga di sambut
hangat oleh seluruh, pengurus-pengurus rumah sakitnya tampa terkecuali, dengan
sambutan hangat Arga di ajak oleh salah satu pengurus rumah sakitnya untuk
melihat-lihat situasi area rumah sakit dan lanjut memeriksa bagian-bagian Rumah
sakit yang tengah di renovasi.
Dengan senyuman Arga mendengar semua kata-kata yang keluar
dari salah satu pengurus rumah sakitnya, yang menjelaskan bahwa rumah sakitnya
bahkan cara Dokter dan Suster di akui oleh semua pasien lain.
Dan bahkan pengurus rumah sakit juga mengatakan kalau mereka
memiliki seorang Dokter Ahli Bedah yang terkenal dengan kebaikan dan ke ramahannya,
bahkan tak segan-segan turun merawat sendiri pasien yang pernah di oprasinya.
“Maaf, siapa nama Dokternya jika ada waktu aku ingin
menemuinya dan berterimakasih banyak kepadanya.” Arga melihat ke arah pengurus
rumah sakitnya ketika mengatakan itu.
“Untuk saat ini, sepertinya anda taidak bisa menemuinya. Karna
saat ini pasti Dokternya tengah istirahat karna tadi subuh tadi telah melakukan
tindakan oprasi.” Pengurus itu menjelaskan.
“Baiklah tidak masalah.” Arga tersenyum ketika mengatakan.
“Nah, ini ruangan Dokternya.” Pengurus rumah sakit berdiri
tepat di depan pintu ruangan Alina.
Arga melihat ke arah pintu. Namun tiba-tiba jangtungnya kembali
berdetak tak karuan ketika melihat ke arah pintu ruangan tersebut.
“Aku kenapa?” Arga memegan bagian jantungnya lau berkata
pelan sambil melihat nama Dokter yang tertera di atas pintu.
__ADS_1
“R. Dokter Alina.” Itulah nama yang Arga baca.
Nama yang tidak asing bagiku, namun itu tak mungkin Alina
yang aku kenal itulah yang ada di dalampikiran Arga saat ini. Setelah merasa
cukup mengelilingi rumah sakitnya, jantungnya juga mulai berdetak tak karuan Arga
meminta agar dirinya di antar menuju ruangannya.
Setelah sampai dalam ruangannya Arga duduk di kursi
kebesarannya, sambil memikirkan nama Alina, nama yang selalu membuat jantungnya
berdetak tak karuang.
“Siapa Dokter Alina ini? Kenapa jantungku selalu berdetak tak
karuan setelah mendengar nama Alina? Apakah dia Alina yang sama? Alina yang
menjadi pelayan di sebuah Cafe di Jakarta? Ah itu tidak mungkin dirinya, tapi
kenapa jangtung ini merasakan hal yang sama, sama yang aku rasakan terhadap
Alina gadis Jelek yang aku temui di Jakarta.” Arga menatap langit-langit
ruangannya ketika mengatakan semua itu.
Mungkin karna penasaran dengan nama Alina. Arga keluar dari
ruangannya lalu berjalan ke arah dimana letak ruangan Dokter Alina.
Jangtung Arga kembali berdetak tak karuan ketika berada di
depan pintu ruangan Alina, dengan rasa penasaran Arga mengetuk pintu lalu
masuk, dan mendapati wajah orang lain yang tengah terbaring di atas berangka
dan bukanlah wajah Alina yang dia kenal.
Melihat wajah orang lain yang tertidur di atas berangka,
dengan segera Arga keluar dari ruangan tersebut namun tak kembali ke ruangannya
melainkan berjalan-jalan, sambil melihat para pasien yang telah menjalani
perawatan.
Sementara Alina yang berada di dalam kamar mandi, mendengar
suara ketukan pintu ruangannya segera keluar, lalu melihat sekelilin dan tidak
menemukan siapapun kecuali Dokter Anisa yang tengah tertidur di atas berangka.
“Siapa tadi yang mengetuk pintu ruanganku.” Alina berjalan
ke arah tempat duduknya sambil mengatakan itu.
Karna merasa lapar Alina berjalan keluar dari ruangannya,
lalu berjalan ke arah kanting namun di saat Alina ingin berbelok arah tiba-tiba
seorang pemuda menabrak tubuhnya dan itu membuatnya hampir terjatuh.
Pemuda yang melihat Alina yang hampir terjatuh, dengan
segera menarik tanganya dan menahan pinggul Alina agar tidak terjatuh. Hingga akhirnya
mata mereka berdua bersitatap cukup lama mata mereka saling menatap, hingga tampa
berkata apapun Arga menarik tubuh Alina masuk ke dalam pelukannya.
Arga tak mengerti dengan apa yang tengah ia lakukan, namun
__ADS_1
satu hal yang tengah di rasakannya ia sangat merindukan Alina,