Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab.31


__ADS_3

Hari berganti hari tak terasa hari pernikahan Alina dan Devano semakin dekat. Arisa mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Karna hari pernikahan Alina tinggal seminggu lagi.


Sementara Alina mulai sibuk dengan tugasnya di rumah sakit. Pasien demi pasien, Alina mulai menjalankan tugasnya sebagai seorang Dokter ahli bedah di rumah sakit yang ada di kota tempat tinggalnya.


Karna kesibukan. Alina sering lupa memberi kabar pada Devano. Dan itu membuat Devano semakin berfikir kalau calon istrinya mulai menjauh darinya.


Devano menatap layar Hapenya, melihat apakah ada panggilan dari orang yang sangat Ia rindukan. Namun Ia kembali kecewa setelah melihat layar Hapenya, dan tak menemukan panggilan ataupun pesan dari calon istrinya.


Hingga akhirnya Devano, memutuskan, untuk menghubungi calon istrinya melalui panggilan Vidio call. Dan lagi -lagi Devano kembali kecewa karna Alina tak mengankat panggilan Vidio callnya.


"Ah, Alin" mengacak rambutnya "Kenapa kamu tak mengankat panggilanku? apa kamu tau?" menatap poto Alina yang ada di layar Hapenya "Kalau aku sangat merindukanmu."


Setelah beberapa menit Hape Devano berdering dan itu adalah panggilan Vidio call dari orang yang sangat Ia rindukan.


Dengan wajah yang ceria Devano, menggeser tombol hijau, dan terlihat wajah Alina yang sedang tersenyum melihat ke arahnya.


"Sayang, aku minta maaf" tersenyum hangat "Aku sangat sibuk dengan tugasku di sini, kamu jangan marah ya" memasang wajah lucu "Aku sangat merindukanmu. Emmua" setelah mengatakan itu Alina mencium layar di Hapenya.


Melihat itu, Devano tersenyum senang. Awalnya Devano ingin pura -pura marah. Namun semua rencana itu lenyap seketika ketika melihat tingkah lucu Alina.


Devano tersenyum lalu berkata.


"Alin, aku juga sangat merindukanmu, dan sangat mencintaimu." setelah mengatakan itu Devano menatap wajah Alina yang kini tengah tersenyum lembut padanya.


"Kamu udah makan sayang?" tanya Alina pelan.


"Belum, kamu? apa uda makan?" jawab Devano pelan.


"Belum, aku belum makan," ucap Alina manja.


"Ya, sudah, kalau semua pekerjaan kamu udah selesai, sekarang kita keluar makan. Eh, maksud aku kita makan bersama sambil Vidio call. Ya, itu maksud aku." Devano menjelaskan.


Awalnya Alina sangat senang dengan apa yang Devano katakan. Karna Ia mengira Devano tengah berada di negara kelahirannya. Namun setelah mendengar semua penjelasannya, Alina tau kalau Devano masih berada di negara kelahirannya.

__ADS_1


Lima hari menjelang pernikahan, Momsky dan Selli saat ini telah berada di rumah Arisa, untuk membantu semua persiapan untuk pernikahan Alina dan Devano.


Sementara Devano, menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum Ia berangkat ke kota kelahiran calon istrinya.


Setelah semua pekerjaannya selesai, Devano mulai bersiap untuk ke bandara, karna malam ini Ia akan ke berangkat ke kota pare -pare.


Devano, terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya. Senyuman itu tak pernah luntur dari bibirnya. Wajahnya selalu terlihat ceria daripada hari -hari sebelumnya.


Di dalam pesawat Devano membuka kotak yang berwarna biru yang ada di tangannya. Devano tersenyum melihat cincin berlian yang ada di dalam kotak warna biru tersebut, disana terlihat jelas nama Devalina yang terukir.


Setelah puas memandangi cincin berlian tersebut Devano menutup kotak warna biru itu. Lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya.


Dengan wajah ceria Devano menyandarkan kepalanya di sandaran tempat duduknya. Lalu mencoba untuk tidur, karna beberapa hari ini Ia kurang tidur, hanya untuk menyelesaikan semua tugas kantornya.


Waktu terus berlalu tak terasa saat ini Devano telah sampai di bandara Sultan Hasanuddin Makasar. Dengan wajah ceria Devano berjalan keluar dari dalam bandara sambil menarik koper yang Ia bawa dari Malaysia.


Devano pun menyewa mobil beserta dengan supirnya.


Untuk membawanya ke kota pare-pare. Di dalam perjalanan Devano tak berenti melihat keluar. Ia sangat mengagumi kota yang Ia kunjungi saat ini.


Setelah menempuh jarak perjalanan sekitar dua jam.


Mobil yang Devano tumpangi saat ini tengah berada di perbatasan kota Barru, Pare-pare.


"Sedikit lagi sampai." Guman Devano tersenyum melihat keluar jendela.


Namun setelah sampai di kota yang bernama Palanro.


Sebuah mobil melaju dengan sangat kencan keluar dari lorong, menuju arah jalan poros.


Dengan kecepatan sangat tinggi Mobil itu menabrak Mobil yang Devano tumpangi, dan itu membuat benturan yang sangat keras di tambah adanya mobil truk yang menabrak dari belakan.


Mobil yang Devano tumpangi terguling-guling sebanyak tiga kali. Kecelakaan tak bisa lagi dihindari dan saat ini Devano berada dalam keadaan kepala di bawah, kaki di atas.

__ADS_1


"Ahh" ringgis Devano ketika merasa sebuah benda menusuk perutnya.


Karna merasa kesakitan, pelan-pelan penglihatan Devano mulai memburam.


Ia mulai melihat banyak warga yang mendekat ke arah mobilnya. Bankan di antara mereka ada yang berkata.


"Supirnya telah meninggal."


Namun sebelum Devano kehilangan kesadaran. Ia memanggil nama Alina. "Alina, Ali-na. Aku sangat mencintaimu." setelah mengatakan itu Devano mulai tak sadarkan diri.


*****


Dirumah sakit Alina tak berhenti merasa gelisa, perasaan yang tengah rasakan sangat lain dari pada biasanya. Mulai dari pagi sampai siang ini Alina tak berenti memegan dadanya.


Berungtung siang ini Ia tak memiliki jadwal oprasi.


Dengan perasaan gelisa Alina melihat layar Hapenya, lalu mengetik pesan untuk Devano.


"Sayang, kamu udah sampai di mana?" pesan terkirim. Namun tak ada balasan.


Alina tambah gelisa. Untuk menghilangkang rasa gelisanya, Alina berjalan keluar dari ruangannya, menuju arah kantin. Karna Ia berfikir siapa tau bergabun dengan para Dokter yang lainnya kegelisahannya itu akan menghilang.


Dengan langkah pelan, sambil memegan dadanya yang tak berenti berdetak tak karuan, bahkan seluruh tubuh Alina saat ini tengah bergetar.


"Aku kenapa? apa yang terjadi denganku?" duduk di kursi kantin "Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Apa aku kekurangan darah? atau kurang makan?" Alina hanya bisa mengatakan itu karna akhir-akhir ini Ia memang kurang makan dan kurang tidur karna kesibukannya di


Rumah sakit.


Alina berangjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah pembuatan kopi yang tengah di siapkan oleh pemilik kantin rumah sakit tersebut. Alina mulia mengaduk kopi di dalam cangkir yang ada di tangannya, lalu ingin mencoba kopi tersebut. Namun dengan tiba-tiba cangkir kopi yang ada di tangan Alina tiba-tiba jatuh.


"Ahh, apa ini?" kembali memegan dadanya yang kembali berdetak tak karuan "Perasaan ini! kenapa dengan diriku?" mengusap wajahnya yang tiba-tiba basah karna air matanya. "Aku kenapa?" setelah mengatakan itu Alina berlari kecil keluar dari dalam kantin, menuju arah ruangan kerjanya. Dengan langkah cepat Alina masuk ke dalam ruanganya...


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2