
Alina yang melihat itu, sangat terkeju, dengan derain air
mata Alina membantu Selli, membawa momsky ke atas berangka. Cukup lama Selli
mencoba menyadarkan Momsky nya. Hingga akhirnya Momsky tersadar dengan
memanggil nama putranya Devano.
“Devan, putraku. Hiks, hiks,hik.” Momsky kembali menangis
sambil memeluk Selli di sampinnya.
Mendengar suara tanggis Momskynya, Selli pun berkata. “Sabar
Moms, semuanya pasti akan baik-baik saja.” Mengusap belakang Momsky “Alina tak
akan membiarkan kakak kenapa-napa.” Namun di dalam hati Selli juga begitu
sangat takut setelah masuk melihat keadaan kakaknya di ruangan perawatan.
“Alina mana Sell?” melihat sekeliling ruangan yang tengah di
tempati saat ini. “Momsky tau, kalau Alina saat ini pasti sangat terpukul
dengan semua ini. Dia butuh dukungan dari kita.” Menatap wajah Selli yang
terlihat sedikit panik.
Mendengar itu Selli pun berkata. “Saat ini Alina berada di
ruangan pemeriksaan, dan mungkin saat ini, dia sudah memindahkan Devano keruang
perawatan.”
Belum lama Selli mengatakan itu, pintu ruangan yang tengah
mereka tempati terbuka, dengan wajah sembab, mata sedikit bengkak. Alina
mendorong pintu tersebut lalu masuk, lalu melihat ke arah Momsky dan juga
Selli.
“Momsky.” Alina berlari memeluk Momsky, lalu kembali
menangis dengan suara sesegukan Alina berkata dalam pelukan Momsky “Moms, aku
tak bisa melihat keadaan Devano seperti ini. Hatiku sakit!,” Dengan nada suara
yang terdengar sangat menyakitkan “Aku tak bisa Moms melihat keadaannya seperti
ini.” Menangis.
Mendengar ucapan Alina, Momsky mengelus pelan belakang
Alina, lalu bekata. “Sabar Alin, kita harus kuat, kalau kita selemah ini,
bagaimana dengan Devano?”
Mendengar ucapan Momsky, Alina memeluk erat Momsky. Selli
yang melihat itu ikut menangis. Setelah bebarapa lama, pintu kamar yang di
tempati Alina dan Momsky di ketuk, lalu masuk seorang Dokter cantik. Alina melihat
kearah Dokter tersebut lalu berkata.
“Dokter.” Melepas pelukan “Dokter Anisa. Silahkan masuk, apa
ada perkembangan?” menatap ke arah dokter Anisa “Apa perlu kita melakukan
oprasi?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang Alina tanyakan.
Dokter Anisa tersenyum hangat melihat ke arah ketiga
__ADS_1
perempuan yang ada di hadapannya, lalu berkata. “Iya, kita harus segera
melakukan oprasi. Dan kita juga harus mencari beberapa kantong darah, karna
pasien kehilangan banyak darah.”
Mendengar ucapan Dokter Anisa, Alina melihat ke arah Momsky
dsn juga Selli, lalu berkata. “Mom, Sell, sekarang aku keluar, aku mau ke bank
darah, untuk mengambil darah.” Setelah mengatakan itu Alina berjalan keluar
bersama Dokter Selli.
Alina berjalan ke arah bank darah, sementara Dokter Anisa
berjalan ke arah ruangan oprasi. Namun tampa Alina ketahui, Devano sadar, dan
mendapati Dokter Anisa tengah berada di sampingnya.
“Dokter.” Memanggil.
Dokter Anisa yang mendengar itu, melihat ke arah Devano,
dengan senyuman Dokter Anisa berkata. “Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, apa
kamu tau? semua keluargamu sangat mengkhawatirkanmu, dan lebih
mengkhawatirkanmu adalah calon istrimu, Alina, dia begitu sangat mencintaimu.”
Dokter Anisa mengatakan semuanya dengan senyuman kebahagiaan, karna melihat
pasiennya tersadar sebelum oprasi.
Mendengar semua ucapan Dokter, Devano tersenyum, lalu
berkata. “Dokter berjanjilah padaku” meraih tangan Dokter Anisa “Jika terjadi
sesuatu yang buruk denganku, berjanjilah kalau kamu akan menjaga Alinaku dengan
kotak dari dalam kantong celananya “Dan satu lagi, jika oprasiku gagal. Aku ingin
menyumbangkang jangtungku untuk orang yang membutuhkan, berjanjilah, Dokter
akan melakukan semua ini, tampa sepengetahuan Alina.” Setelah mengatakan itu
Devano melepaskan pegangan tanganny.
Mendengar semua ucapan Devano, Dokter Anisa berkata. “Anda
pasti akan sembuh dan pulih, dan melanjutkan pernikahan kalian yang tertunda
ini.” Dokter Anisa sedikit menyemangati walaupun Ia tau,oprasi yang akan Ia
lakukan kemungkinan kecil akan berhasil.
Dua jam telah berlalu, kini Devano tengah berada di dalam
ruangan oprasi. Sementara Alina tengah bersama dengan semua anggota keluarganya
di depan kamar ruangan oprasi. Alina tak bisa mendampingi Dokter Anisa
melakukan oprasi, karna Ia tak sanggup melihat Devano tengah bertarung nyawa
antara hidup dan matinya.
Cukup lama mereka semua menunggu, diluar kamar oprasi. Hingga
akhirnya pintu kamar terbuka, dan keluarlah Dokter Anisa. Dengan langkah pelan
Dokter Anisa berjalan keluar. Melihat Dokter Anisa berjalan keluar dari dalam
kamar oprasi dengan segera Alina berjalang ke arahnya.
__ADS_1
Alina pun berkata. “Dokter, bagaimana keadaan Devan? Apa oprasinya
berjalan lancar?” melihat Dokter Anisa terdiam mendengar semua pertanyaannya,
Alina kembali berkata. “Dokter, apa semuanya baik-baik saja?” setelah
mengatakan itu tangisan Alina pecah, Alina mengerti dengan kediaman Dokter
Anisa.
Alina berlari masuk ke dalam ruangan oprasi, sementara yang
lainnya ingin ikut masuk, namun perawat melarang mereka masuk. Setelah sampai
di samping berangka yang tengah Devano tempati saat ini. Alina menatap nanar
kain putih yang tengah menutupi semua bagian tubuh Devano. Alina meneteskan air mata, lalu membuka kain putih yang
tengah menutupi wajah Devano saat ini.
“Devan” menangis “Devan, aku tak percaya ini. Hem. Apa kamu
lupa? esok lusa adalah hari pernikahan kita? Hari bahagia kita, hari yang
selalu kita nanti-nantikan. Apa kamu lupa? Sekarang kamu bangun ya sayang”
mengusap wajahnya “Kita pulang kerumah, dan kita akan segera menikah.”
Setelah mengatakan itu, tanggisan Alina kembali pecah. “Devan,
bangun.” Mengguncang tubuh Devano yang kini tak bernyawa lagi “Devan bangun,
aku mohon bangun.” Menangis “Devan bangun jangan tinggalakan aku sendiri,
aku sangat mencintaimu, hiks,hiks,hiks.”
Alina memeluk tubuh Devano dengan sangat erat.
Mendengar suara tangisan Alina yang menggema di dalam
ruangan oprasi, Dokter Anisa kembali masuk ke dalam. Dokter Anisa pun berkata.
“Alina, sabar, ikhlaskan semuanya.” Mengelus rambut Alina “Allah
pasti punya rencana yang baik untukmu. Aku tau kamu merasa sangat terpukul. Namun
apa kamu tau? Devano pasti akan sangat sedih jika melihatmu seperti ini.”
Setelah mengatakan itu Dokter Anisa membantu Alina berjalan
keluar dari dalam ruangan oprasi. Dan di sambut dengan tangisan seluruh anggota
keluarganya.
Hari pernikahan yang selama ini Alina nantikan kini hanya
tinggal kenangan. Kematian Devano menyimpang sejuta luka di dalam hatinya. Bahkan
Ia berfikir tak akan pernah jatuh cinta lagi. Alina begitu sangat trpuruk
semenjak kematian Devano, impian yang selama ini, Ia impikan bersama Devano,
kini telah menjadi kenangan, kenanagan yang tak akan pernah bisah Alina lupakan
seumur hidup.
Dua tahun telah berlalu, kini Alina tengah berdiri di
hadapan makam Devano, dengan mengenakan pakaian berwarna hitam, lengkap dengan
kecamata hitam dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Alina mengelus lembut
batu nisan yang terukir Nama orang yang sangat Ia cintai.
__ADS_1