Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 33


__ADS_3

Alina yang melihat itu, sangat terkeju, dengan derain air


mata Alina membantu Selli, membawa momsky ke atas berangka. Cukup lama Selli


mencoba menyadarkan Momsky nya. Hingga akhirnya Momsky tersadar dengan


memanggil nama putranya Devano.


“Devan, putraku. Hiks, hiks,hik.” Momsky kembali menangis


sambil memeluk Selli di sampinnya.


Mendengar suara tanggis Momskynya, Selli pun berkata. “Sabar


Moms, semuanya pasti akan baik-baik saja.” Mengusap belakang Momsky “Alina tak


akan membiarkan kakak kenapa-napa.” Namun di dalam hati Selli juga begitu


sangat takut setelah masuk melihat keadaan kakaknya di ruangan perawatan.


“Alina mana Sell?” melihat sekeliling ruangan yang tengah di


tempati saat ini. “Momsky tau, kalau Alina saat ini pasti sangat terpukul


dengan semua ini. Dia butuh dukungan dari kita.” Menatap wajah Selli yang


terlihat sedikit panik.


Mendengar itu Selli pun berkata. “Saat ini Alina berada di


ruangan pemeriksaan, dan mungkin saat ini, dia sudah memindahkan Devano keruang


perawatan.”


Belum lama Selli mengatakan itu, pintu ruangan yang tengah


mereka tempati terbuka, dengan wajah sembab, mata sedikit bengkak. Alina


mendorong pintu tersebut lalu masuk, lalu melihat ke arah Momsky dan juga


Selli.


“Momsky.” Alina berlari memeluk Momsky, lalu kembali


menangis dengan suara sesegukan Alina berkata dalam pelukan Momsky “Moms, aku


tak bisa melihat keadaan Devano seperti ini. Hatiku sakit!,” Dengan nada suara


yang terdengar sangat menyakitkan “Aku tak bisa Moms melihat keadaannya seperti


ini.” Menangis.


Mendengar ucapan Alina, Momsky mengelus pelan belakang


Alina, lalu bekata. “Sabar Alin, kita harus kuat, kalau kita selemah ini,


bagaimana dengan Devano?”


Mendengar ucapan Momsky, Alina memeluk erat Momsky. Selli


yang melihat itu ikut menangis. Setelah bebarapa lama, pintu kamar yang di


tempati Alina dan Momsky di ketuk, lalu masuk seorang Dokter cantik. Alina melihat


kearah Dokter tersebut lalu berkata.


“Dokter.” Melepas pelukan “Dokter Anisa. Silahkan masuk, apa


ada perkembangan?” menatap ke arah dokter Anisa “Apa perlu kita melakukan


oprasi?” itulah pertanyaan-pertanyaan yang Alina tanyakan.


Dokter Anisa tersenyum hangat melihat ke arah ketiga

__ADS_1


perempuan yang ada di hadapannya, lalu berkata. “Iya, kita harus segera


melakukan oprasi. Dan kita juga harus mencari beberapa kantong darah, karna


pasien kehilangan banyak darah.”


Mendengar ucapan Dokter Anisa, Alina melihat ke arah Momsky


dsn juga Selli, lalu berkata. “Mom, Sell, sekarang aku keluar, aku mau ke bank


darah, untuk mengambil darah.” Setelah mengatakan itu Alina berjalan keluar


bersama Dokter Selli.


Alina berjalan ke arah bank darah, sementara Dokter Anisa


berjalan ke arah ruangan oprasi. Namun tampa Alina ketahui, Devano sadar, dan


mendapati Dokter Anisa tengah berada di sampingnya.


“Dokter.” Memanggil.


Dokter Anisa yang mendengar itu, melihat ke arah Devano,


dengan senyuman Dokter Anisa berkata. “Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar, apa


kamu tau? semua keluargamu sangat mengkhawatirkanmu, dan lebih


mengkhawatirkanmu adalah calon istrimu, Alina, dia begitu sangat mencintaimu.”


Dokter Anisa mengatakan semuanya dengan senyuman kebahagiaan, karna melihat


pasiennya tersadar sebelum oprasi.


Mendengar semua ucapan Dokter, Devano tersenyum, lalu


berkata. “Dokter berjanjilah padaku” meraih tangan Dokter Anisa “Jika terjadi


sesuatu yang buruk denganku, berjanjilah kalau kamu akan menjaga Alinaku dengan


kotak dari dalam kantong celananya “Dan satu lagi, jika oprasiku gagal. Aku ingin


menyumbangkang jangtungku untuk orang yang membutuhkan, berjanjilah, Dokter


akan melakukan semua ini, tampa sepengetahuan Alina.” Setelah mengatakan itu


Devano melepaskan pegangan tanganny.


Mendengar semua ucapan Devano, Dokter Anisa berkata. “Anda


pasti akan sembuh dan pulih, dan melanjutkan pernikahan kalian yang tertunda


ini.” Dokter Anisa sedikit menyemangati walaupun Ia tau,oprasi yang akan Ia


lakukan kemungkinan kecil akan berhasil.


Dua jam telah berlalu, kini Devano tengah berada di dalam


ruangan oprasi. Sementara Alina tengah bersama dengan semua anggota keluarganya


di depan kamar ruangan oprasi. Alina tak bisa mendampingi Dokter Anisa


melakukan oprasi, karna Ia tak sanggup melihat Devano tengah bertarung nyawa


antara hidup dan matinya.


Cukup lama mereka semua menunggu, diluar kamar oprasi. Hingga


akhirnya pintu kamar terbuka, dan keluarlah Dokter Anisa. Dengan langkah pelan


Dokter Anisa berjalan keluar. Melihat Dokter Anisa berjalan keluar dari dalam


kamar oprasi dengan segera Alina berjalang ke arahnya.

__ADS_1


Alina pun berkata. “Dokter, bagaimana keadaan Devan? Apa oprasinya


berjalan lancar?” melihat Dokter Anisa terdiam mendengar semua pertanyaannya,


Alina kembali berkata. “Dokter, apa semuanya baik-baik saja?” setelah


mengatakan itu tangisan Alina pecah, Alina mengerti dengan kediaman Dokter


Anisa.


Alina berlari masuk ke dalam ruangan oprasi, sementara yang


lainnya ingin ikut masuk, namun perawat melarang mereka masuk. Setelah sampai


di samping berangka yang tengah Devano tempati saat ini. Alina menatap nanar


kain putih yang tengah menutupi semua bagian  tubuh Devano. Alina meneteskan air mata, lalu membuka kain putih yang


tengah menutupi wajah Devano saat ini.


“Devan” menangis “Devan, aku tak percaya ini. Hem. Apa kamu


lupa? esok lusa adalah hari pernikahan kita? Hari bahagia kita, hari yang


selalu kita nanti-nantikan. Apa kamu lupa? Sekarang kamu bangun ya sayang”


mengusap wajahnya “Kita pulang kerumah, dan kita akan segera menikah.”


Setelah mengatakan itu, tanggisan Alina kembali pecah. “Devan,


bangun.” Mengguncang tubuh Devano yang kini tak bernyawa lagi “Devan bangun,


aku mohon bangun.” Menangis “Devan bangun jangan tinggalakan aku sendiri,


aku  sangat mencintaimu, hiks,hiks,hiks.”


Alina memeluk tubuh Devano dengan sangat erat.


Mendengar suara tangisan Alina yang menggema di dalam


ruangan oprasi, Dokter Anisa kembali masuk ke dalam. Dokter Anisa pun berkata.


“Alina, sabar, ikhlaskan semuanya.” Mengelus rambut Alina “Allah


pasti punya rencana yang baik untukmu. Aku tau kamu merasa sangat terpukul. Namun


apa kamu tau? Devano pasti akan sangat sedih jika melihatmu seperti ini.”


Setelah mengatakan itu Dokter Anisa membantu Alina berjalan


keluar dari dalam ruangan oprasi. Dan di sambut dengan tangisan seluruh anggota


keluarganya.


Hari pernikahan yang selama ini Alina nantikan kini hanya


tinggal kenangan. Kematian Devano menyimpang sejuta luka di dalam hatinya. Bahkan


Ia berfikir tak akan pernah jatuh cinta lagi. Alina begitu sangat trpuruk


semenjak kematian Devano, impian yang selama ini, Ia impikan bersama Devano,


kini telah menjadi kenangan, kenanagan yang tak akan pernah bisah Alina lupakan


seumur hidup.


Dua tahun telah berlalu, kini Alina tengah berdiri di


hadapan makam Devano, dengan mengenakan pakaian berwarna hitam, lengkap dengan


kecamata hitam dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Alina mengelus lembut


batu nisan yang terukir Nama orang yang sangat Ia cintai.

__ADS_1


 


 


__ADS_2