Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 56


__ADS_3

Melihat wajah terkejut wanita yang tengah duduk di hadpannya


yang tidak lain adalah Ibu Alina, tersenyum karna menurut Arga pasti Alina


telah menceritakan semuanya kepada ibunya, terlihat jelas dari wajahnya yang


terkejut.


“Maaf, Bu, kedatanganku kemari ingin menemui Alina.” Tersenyum


“Aku ingin menpertanyakan kenapa ia sampai mengundurkan diri dari rumah sakit?”


Arga menatap ke arah Arisa yang kini tengah melihat ke arahnya.


“Maaf, Nak Arga. Alina tidak ada di rumah. Dan soal


pengunduran dirinya, Ibu kurang tau, karna belum sempat bertanya, karna sewaktu


Alina pulang ke rumah, Ibu melihat, sepertinya Alina habis menangis terlihat


jelas dari matnya yang merah dan wajah juga terlihat sembab” Arisa mengatkan semua


yang di lihatnya.


Karna benar hari itu Arisa melihat wajah Alina terlihat


sangat sedih, dan itu membuatnya tidak bertanya lansung kepada putrinya, dan


menunggu untuk hari esok, namun ternyata keesokan harinya Alina malah pamit


untuk pergi untuk menenangkan dirinya.


“Kemana Bu?”


“Aduh, soal itu, ibu kurang tau. Karna sewaktu Alina pamit,


dia cuman bilang ke ibu, kalau ia hanya ingin pergi beberapa hari untuk


menenangkan dirinya.” Arisa mengatakan semuanya, tampa ada satupun yang di


tutupinya.


Dengan wajah kecewa Arga pulang dari rumah Alina dan lansung


kembali ke rumah mewahanya, karna jarak antara rumah Alina dengan rumahnyan


tidaklah terlalu jauh.


Arga berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang


terlihat begitu sangat sedih, sedih dan tidak menyangka semuany akan terjadi


seperti ini. Arga mendudukkan tubuhnya di sopa yang ada di ruangan tamunya,


sambil memikirkan Alina yang memeluknya dua minggu yang lalu, Alina yang


menyentuhnya dengan begitu sangat pelan dan lembut. Namun karna kebodohannya


sendiri, kini Alina pergi meninggalkan dan tidak tau mengenai keberadaan saat


ini.


“Ah, kamu memang sangat bodoh Ga! Karna kebodohanku sendiri


gadis yang kamu cintai kini telah pergi meninggalkanmu.” Mengacak rambut “Ah,


kemana aku harus mencari Alina sekarang?” berpikir “Apa Alina ke jakarta?”


hanya itu yang terlintas dalam pikiran Arga saat ini “Hari ini aku harus segera


ke jakarta dan meminta maaf kepada Alina, aku tidak perduli! Alina mencintaiku


hanya karna jantung ini.” Menyentuh bagian jantungnya “Yang jelasnya aku


mencintainya, sangat mencintainya dan setelah aku menemukannya, aku tidak akan


pernah melepaskan dan membiarkannya pergi jauh dariku.” Arga beranjak dari


duduknya setelah mengatakan itu, karna ingin segera bersiap untuk segera ke

__ADS_1


Bandara Makasar.


Tepat jam 7 malam Arga sampai di rumahnya yang berada di


kota Jakarta, dengan perasaan lelah Arga berjalan ke arah kamarnya dan masuk


dan berjalan ke arah balkom kamarnya dan melihat ke arah Cafe yang terbilang


cukup jauh dari ruamhnya, namun setelah menggunakan teropon Cafe itu terlihat


sangat dekat.


“Ah, semoga Alina ada di Cafe itu?” berharap “Aku tidak akan


pernah membiarkannya pergi lagi jika aku menemukannya.” Setelah mengatakan itu


Arga berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri.


Setelah membersikan diri Arga mulai bersiap untuk pergi ke cafe


milik Alina, karna ingin memastikan apa benar Alina ada di sana. Dengan senyum


ceria Arga berjalan ke luar dari rumahnya, dan melajukan mobilnya untuk segera


pergi Cafe.


 Arga terlihat sangat


bahagia ketika melihat Alina tengah sibuk melayani para pengunjung di dalam


Cafe, meskipun saat ini dirinya masih berada di atas mobilnya, Arga hanya


melihat Alina dari jendela kaca mobilnya berhubug Cafe dindin Cafe hanya


menggunakan kaca tembus pandan dan itu membuat Arga tidak susah untuk melihat


ke dalam.


Arga mulai memikirkan cara, bagaimana ia akan menemui Alina


tampa membuatnnya merasa terkejut dan juga bisa membuatnya pergi lagi. Hingga akhirnya


“Semoga cara ini berhasil.”


Arga melajukan mobilnya kembali menuju arah rumahnya dan


mulai menyusun rencananya dengan tukan kebun yang selalu ada di rumahnya.


Dengan wajah berkeringat seorang pria tua masuk ke dalam


Cafe. “Ada yang bisa membantuku.” Berteriak dan itu membuat pengunjung yang ada


didalam Cafe melihat ke arah pria itu.


Alina yang mendengar teriakan pria itu, berjalan mendekat ke


arahnya, dan berkata. “Iya, pak. Ada yang bisa aku bantu?” memegan bahu pria


yang kini terlihat panik.


“Tolong! Majikan saya, tadi tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan


diri.” Pria itu sedikit memohon.


 Mendengar itu Alina


merasa sedikit terkejut, tampa berpikir lagi, Alina lansung berkata. “Dimana


majikan anda sekarang Pak?”


“Di rumah. Aku meninggalkannya sendiri dan mencari seseorang


yang bisa membantuku.”


“Baiklah, sekarang kita ke rumah majikan bapak dan semoga


tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya.” Setelah mengatakan itu Alina mulai


berjalan, namun pria itu kembali berkata.

__ADS_1


“Maaf, nama anda siapa Nak?” ingin memastikan kalau yang di


targetkan memang sudah benar.


“Alina Pak.”


“Pas.” Berkata pelan, namun masih terdengar jelas di telinga


Alina.


Mendengar ucapan pria itu, Alina berbalik dan berkata. “Maaf,


pak, barusan anda berkata apa?”


“Tidak, Nak. Aku tidak mengatakan apapun.” Mengelak dari


pertanyaan Alina, karna pria itu takut Alina akan mengetahui rencananya dan


juga rencana majikannya.


Sewaktu Alina masuk ke dalam mobil, pria itu. Alina mulai


merasa ada keganjalan dengan pria ini. Namun mengingat kewajibannya sebagai


seoarang Dokter, mengabaikan hal seperti ini bukannya sikap propsional.


Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, mobil itu kini


tengah memasuki sebuah halaman rumah mewah dan berhenti pas di depan pintu


utama.


Pria itu turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Alina,


“Silahkan Nak.” Masih memperlihatkan wajah rasa takutnya, takut terjadi sesuatu


yang buruk dengan majikannya.


Alina turun dari mobil dan mulai mengikuti langkah pria itu


sampai di depan pintu dan lansung membukakan pintu untuk Alina.


“Silahkan masuk Nak.” Mendorong pintu dan mempersilahkan


Alina masuk.


Alina mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah


tersebut, dan merasa sedikit takut setelah melihat ke dalam rumah yang hanya di


terangi oleh lilin. Alina berbalik dan ingin bertanya kepada pria yang


membawanya ke rumah ini. Namun pria itu tibah-tibah menghilang.


“Kemana bapak yang tadi?” melihat ke belaka, namun yang di


carinya tidak ketemu.


Meski merasa takut, Alina melangkahkan kakinya masuk ke


dalam rumah mewah tersebut karna ingin segera menolong majikan bapak yang tadi,


di dalam ruangan Alina meleihat begitu banyak lilin yang menyalah di lantai,


bahkan bau semerbak bunga mawar tercium jelas di hidungnya.


“Halo, permisi, ada orang?” Alina terus melangkah masuk ke


dalam rumah.


Dan tiba-tiba sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya,


Alina begitu sangat syok dan juga terkejut dengan tangan yang telah memeluknya


dari belakang.


“Lepaskan!!” Alina berusa melepas tangan yang telah


melingkar sempurna di perutnya.

__ADS_1


__ADS_2