
Melihat wajah terkejut wanita yang tengah duduk di hadpannya
yang tidak lain adalah Ibu Alina, tersenyum karna menurut Arga pasti Alina
telah menceritakan semuanya kepada ibunya, terlihat jelas dari wajahnya yang
terkejut.
“Maaf, Bu, kedatanganku kemari ingin menemui Alina.” Tersenyum
“Aku ingin menpertanyakan kenapa ia sampai mengundurkan diri dari rumah sakit?”
Arga menatap ke arah Arisa yang kini tengah melihat ke arahnya.
“Maaf, Nak Arga. Alina tidak ada di rumah. Dan soal
pengunduran dirinya, Ibu kurang tau, karna belum sempat bertanya, karna sewaktu
Alina pulang ke rumah, Ibu melihat, sepertinya Alina habis menangis terlihat
jelas dari matnya yang merah dan wajah juga terlihat sembab” Arisa mengatkan semua
yang di lihatnya.
Karna benar hari itu Arisa melihat wajah Alina terlihat
sangat sedih, dan itu membuatnya tidak bertanya lansung kepada putrinya, dan
menunggu untuk hari esok, namun ternyata keesokan harinya Alina malah pamit
untuk pergi untuk menenangkan dirinya.
“Kemana Bu?”
“Aduh, soal itu, ibu kurang tau. Karna sewaktu Alina pamit,
dia cuman bilang ke ibu, kalau ia hanya ingin pergi beberapa hari untuk
menenangkan dirinya.” Arisa mengatakan semuanya, tampa ada satupun yang di
tutupinya.
Dengan wajah kecewa Arga pulang dari rumah Alina dan lansung
kembali ke rumah mewahanya, karna jarak antara rumah Alina dengan rumahnyan
tidaklah terlalu jauh.
Arga berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang
terlihat begitu sangat sedih, sedih dan tidak menyangka semuany akan terjadi
seperti ini. Arga mendudukkan tubuhnya di sopa yang ada di ruangan tamunya,
sambil memikirkan Alina yang memeluknya dua minggu yang lalu, Alina yang
menyentuhnya dengan begitu sangat pelan dan lembut. Namun karna kebodohannya
sendiri, kini Alina pergi meninggalkan dan tidak tau mengenai keberadaan saat
ini.
“Ah, kamu memang sangat bodoh Ga! Karna kebodohanku sendiri
gadis yang kamu cintai kini telah pergi meninggalkanmu.” Mengacak rambut “Ah,
kemana aku harus mencari Alina sekarang?” berpikir “Apa Alina ke jakarta?”
hanya itu yang terlintas dalam pikiran Arga saat ini “Hari ini aku harus segera
ke jakarta dan meminta maaf kepada Alina, aku tidak perduli! Alina mencintaiku
hanya karna jantung ini.” Menyentuh bagian jantungnya “Yang jelasnya aku
mencintainya, sangat mencintainya dan setelah aku menemukannya, aku tidak akan
pernah melepaskan dan membiarkannya pergi jauh dariku.” Arga beranjak dari
duduknya setelah mengatakan itu, karna ingin segera bersiap untuk segera ke
__ADS_1
Bandara Makasar.
Tepat jam 7 malam Arga sampai di rumahnya yang berada di
kota Jakarta, dengan perasaan lelah Arga berjalan ke arah kamarnya dan masuk
dan berjalan ke arah balkom kamarnya dan melihat ke arah Cafe yang terbilang
cukup jauh dari ruamhnya, namun setelah menggunakan teropon Cafe itu terlihat
sangat dekat.
“Ah, semoga Alina ada di Cafe itu?” berharap “Aku tidak akan
pernah membiarkannya pergi lagi jika aku menemukannya.” Setelah mengatakan itu
Arga berjalan ke arah kamar mandi untuk segera membersikan diri.
Setelah membersikan diri Arga mulai bersiap untuk pergi ke cafe
milik Alina, karna ingin memastikan apa benar Alina ada di sana. Dengan senyum
ceria Arga berjalan ke luar dari rumahnya, dan melajukan mobilnya untuk segera
pergi Cafe.
Arga terlihat sangat
bahagia ketika melihat Alina tengah sibuk melayani para pengunjung di dalam
Cafe, meskipun saat ini dirinya masih berada di atas mobilnya, Arga hanya
melihat Alina dari jendela kaca mobilnya berhubug Cafe dindin Cafe hanya
menggunakan kaca tembus pandan dan itu membuat Arga tidak susah untuk melihat
ke dalam.
Arga mulai memikirkan cara, bagaimana ia akan menemui Alina
tampa membuatnnya merasa terkejut dan juga bisa membuatnya pergi lagi. Hingga akhirnya
“Semoga cara ini berhasil.”
Arga melajukan mobilnya kembali menuju arah rumahnya dan
mulai menyusun rencananya dengan tukan kebun yang selalu ada di rumahnya.
Dengan wajah berkeringat seorang pria tua masuk ke dalam
Cafe. “Ada yang bisa membantuku.” Berteriak dan itu membuat pengunjung yang ada
didalam Cafe melihat ke arah pria itu.
Alina yang mendengar teriakan pria itu, berjalan mendekat ke
arahnya, dan berkata. “Iya, pak. Ada yang bisa aku bantu?” memegan bahu pria
yang kini terlihat panik.
“Tolong! Majikan saya, tadi tiba-tiba terjatuh dan tidak sadarkan
diri.” Pria itu sedikit memohon.
Mendengar itu Alina
merasa sedikit terkejut, tampa berpikir lagi, Alina lansung berkata. “Dimana
majikan anda sekarang Pak?”
“Di rumah. Aku meninggalkannya sendiri dan mencari seseorang
yang bisa membantuku.”
“Baiklah, sekarang kita ke rumah majikan bapak dan semoga
tidak terjadi sesuatu yang buruk dengannya.” Setelah mengatakan itu Alina mulai
berjalan, namun pria itu kembali berkata.
__ADS_1
“Maaf, nama anda siapa Nak?” ingin memastikan kalau yang di
targetkan memang sudah benar.
“Alina Pak.”
“Pas.” Berkata pelan, namun masih terdengar jelas di telinga
Alina.
Mendengar ucapan pria itu, Alina berbalik dan berkata. “Maaf,
pak, barusan anda berkata apa?”
“Tidak, Nak. Aku tidak mengatakan apapun.” Mengelak dari
pertanyaan Alina, karna pria itu takut Alina akan mengetahui rencananya dan
juga rencana majikannya.
Sewaktu Alina masuk ke dalam mobil, pria itu. Alina mulai
merasa ada keganjalan dengan pria ini. Namun mengingat kewajibannya sebagai
seoarang Dokter, mengabaikan hal seperti ini bukannya sikap propsional.
Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, mobil itu kini
tengah memasuki sebuah halaman rumah mewah dan berhenti pas di depan pintu
utama.
Pria itu turun dari mobil, dan membukakan pintu untuk Alina,
“Silahkan Nak.” Masih memperlihatkan wajah rasa takutnya, takut terjadi sesuatu
yang buruk dengan majikannya.
Alina turun dari mobil dan mulai mengikuti langkah pria itu
sampai di depan pintu dan lansung membukakan pintu untuk Alina.
“Silahkan masuk Nak.” Mendorong pintu dan mempersilahkan
Alina masuk.
Alina mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah
tersebut, dan merasa sedikit takut setelah melihat ke dalam rumah yang hanya di
terangi oleh lilin. Alina berbalik dan ingin bertanya kepada pria yang
membawanya ke rumah ini. Namun pria itu tibah-tibah menghilang.
“Kemana bapak yang tadi?” melihat ke belaka, namun yang di
carinya tidak ketemu.
Meski merasa takut, Alina melangkahkan kakinya masuk ke
dalam rumah mewah tersebut karna ingin segera menolong majikan bapak yang tadi,
di dalam ruangan Alina meleihat begitu banyak lilin yang menyalah di lantai,
bahkan bau semerbak bunga mawar tercium jelas di hidungnya.
“Halo, permisi, ada orang?” Alina terus melangkah masuk ke
dalam rumah.
Dan tiba-tiba sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya,
Alina begitu sangat syok dan juga terkejut dengan tangan yang telah memeluknya
dari belakang.
“Lepaskan!!” Alina berusa melepas tangan yang telah
melingkar sempurna di perutnya.
__ADS_1