
Alina menarik nafasnya, lalu membuangnya secara perlahan. Alina
pun berkata. “Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ah, Devan, andai saja
kamu masih ada bersamaku, pasti saat ini kita yang tengah mengelolah Cafe ini
bersama.” Tersenyum sambil melihat sekelilin halaman Cafe.
Alina mendorong pintu Cafe, lalu masuk, dan di sambut hangat
oleh Pak Rahmat. Karna selama Devano meninggal, Pak Rahmat menjadi orang yang sangat Alina percaya untuk
mengelolah bisnis Cafe tersebut. Dan bahkan Momsky sangat setuju dengan itu.
Melihat Alina masuk ke dalam Cafe, pak Rahmat pun berkata. “Dokter
Alina.” Tersenyum hangat berjalan ke arah Alina.
Alina pun tersenyum, lalu menyalimi tangan pak Rahmat. Karna
itulah yang selalu Alina lakukan jika Ia bertemu dengan orang yang lebih tua
darinya.
Alina pun berkata. “Panggil Alina saja Pak Rahmat.” Tersenyum
hangat “Anggap aku sebagai putrimu. Oya bagaimana dengan keadaan Cafe, apa
semuanya baik dan lencar?” melihat sekeliling dalam ruangan Cafe yang mulai
ramai di kunjungi oleh para pelanggan.
Dengan segera Pak Rahmat berkata. “Alhamdulillah, semuanya
berjalan lancar tampa ada kendala apapun.”
Mendengar ucapan Pak Rahmat Alina pun berkata. “Syukurlah
Pak Rahmat, aku senang mendengarnya. Aku akan berada di ini selama aku masih
cuti, untuk membantu Pak Rahmat.”
Karna itulah yang selalu Alina lakukan setiap tahun dirinya
selalu mengambil cuti selama sebulan dan itu Ia gunakan untuk berkunjung ke
negara Devano, sekaligus membawa bunga ke makan Devano, setelah itu Ia akan
menghabiskan waktunya di CafeVan, untuk membantu Pak Rahmat.
Setelah mengatakan itu. Alina berjalan ke arah kamar yang
biasa Devano tempati. Alina mengelus tombol kunci yang ada di pintu kamar
Devano. Kemudian memencet kata sandinya yang tak lain adalah namanya sendiri. Pelan-pelan
Alina membuka pintu kamar lalu masuk. Alina menatap seluruh sekelilin kamar,
lalu matanya tertuju pada binkai poto yang terpajang di kamar Devano. Alina berjalan ke arah bingkai
poto tersebut, lalu merainya, dengan senyuman Alina mengusap bingkai poto
tersebut, karna di dalam poto ada potonya dan juga poto Devano ya tengah
berbahagia. Karna saat itu Devano melamar Alina, di saat Alina usai menjalani
wisuda kedokterannya.
Alina kembali meletakkan bingkai poto tersebut pada
tempatnya, lalu berjalan kearah tempat tidur. Disana Alina melihat dirinya
tengah terlelap bersama Devano di
__ADS_1
sampinnya, waktu itu hari pertama Alina menerima cinta Devano. Alina terlihat
sangat sedih ketika mengingat semua
moment terindahnya bersama calon suaminya itu. Dan tampa Alina sadari sepasang
bola kristal kembali membasahi wajah cantiknya.
Alina mengusap air mata yang ada di wajahnya, lalu berjalan
ke arah kamar mandi untuk membersikan dirinya. Melakukan perjalanan yang cukup
jauh membuat tubuhnya terasa lengket. Setelah selesai membersikan diri, Alina
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur,untuk istirahat sejenak. Karna Alina
berencana ingin menjadi pelayan sebentar malam. Mungkin karna merasa sangat
lelah, tak butuh waktu lama kini Alina mulai terlelap.
“Sayang apa yang kamu
lakukan dengan dirimu? Cobahlah buka hatimu untuknya.” Tersenyum melihat wajah
Alina “Apa kau tau? Di dalam dirinya ada diriku. Dia akan melakukan apa saja
untukmu. Dan karna mencintaimu dia akan membuat namamu di pergelangan
tangannya. Cintanya sama besarnya
seperti aku mencintaimu. Alina aku sangat, sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu Devan.” Menaikkan tangan “Jangan
pergi tinggalkan aku sendiri. Devaaannn.”
Dengan keringat membasahi seluruh wajahnya. Alina terbangun dari
tidurnya, dengan menyebut nama Devano. Alina mengusap seluruh keringat yang ada
mimpi.
“Ah, sudahlah semuanya hanya mimpi. Aku juga sangat
mencintaimu Devan, aku selalu berharap kamu akan kembali lagi dan hidup
bersamaku.”
Setelah mengatakan itu. Alina melihat ke arah jam yang
tengah melingkar di tangannya. “Ini sudah jam delpan.” Sedikit terkejut “Astaga
aku tertidur begitu sangat lama.” Beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke
arah westapel untuk membersikan wajahnya.
Setelah selesai membersikan wajahnya, Alina mengganti
pakaiannya, karna malam ini Alina berencana ingin menghabiskan waktunya untuk
melayani para pelanggan yang datang ke CafeVan.
Dengan riasan wajah yang terlihat sangat natural, dan baju
kaos berwarna putih di padukan dengan celana jeans robek-robek di bagian lutut
dan pahanya,dan sentuhan terakhir Alina mengenakan topi yang sama dengan para
pelayan yang lainnya. Dan semua itu membuat Alina terlihat sangat cantik dan
menawan beda dari para pelayan yang lainnya.
Alina berjalan keluar dari dalam kamar yang tengah Ia
__ADS_1
tempati,lalu berjalan ke arah meja, dimana para pelayan yang lainnya tengah
menunggu pesanan para pelanggan.
Alina pun berkata kepada para pelayan. “Ada yang bisa aku
bantu?” tersenyum ramah.
Mendengar suara yang tak asing bagi mereka semua mata pelayan
berbalik melihat ke arahnya. Dan mereka semua serentak berteriak memanggil
namanya. “Dokter Alina.” Berteiak sambil berlari memeluk Alina.
Melihat sambutan hangat yang di tunjukkan para pelayan yang
bekerja di dalam CafeVan, membuat Alina merasa sangat terharu. Alina tak
berhenti melihat ke sana-kemari, mencari pelayan yang tak lain adalah Aran,
sahabat sekaligus teman baiknya. Karna tak menemukan Aran, Alina akhirnya
bertanya kepada semua pelayan yang ada di hadapannya.
“Kemana Aran? Apa dia sudah berhenti bekerja?” melihat ke
arah pelayan yang ada di hadapannya.
“Aran kembali ke rumah orang tuanya, katanya ibunya sakit. Jadi
dia izin tidak masuk bekerja untuk beberapa hari.”
“Baiklah, apa di antara kalian ada yang mengetahui alamat
rumahnya? Kalau ada yang tau, beritahu aku alamatnya dimana?”
“Aku tau Dokter.” Salah satu pelayan menulis alamat di
kertas lalu menyerahkannya pada Alina.
Setelah mengambil kertas yang tertuliskan alamat Aran. Alina
pun berkata. “Terimakasih.” Memasukkan kertas ke dalam kanton celananya.
Para pelayan semakin sibuk melayani para pelanggan yang
masuk ke dalam Cafe. Begitu pun dengan Alina yang mulai sibuk melayani. Hingga akhirnya
salah satu pelanggan memanggilnya.
“Emba.” Teriak pemuda itu.
Alina yang kebetulan lewat di sampin pemuda itu, berbalik. “Kamu!!”
menunjuk arah pemuda yang tengah duduk di hadapannya.
Mendengar ucapan Alina pemuda itu pun menyengitkan dahi
bingun dengan pelayan yang tengah berdiri di hadapannya, pemuda itu pun
berkata. “Maaf, Mba. Apa Mba mengenalku?” melihat ke arah Alina, lalu melihat
ke arah Aldo yang tengah duduk di hadapannya.
Mendengar ucapan pemuda yang tengah duduk di hadapannya. Alina
pun membuka topi yang Ia kenakan, lalu melihat ke arah pemuda yang ada di
hadapannya.
Melihat gadis yang tengah membuka topi di hadapannya. Bukannya
terkejut. Pemuda itu malah menertawai Alina. Pemuda itu pun berkata. “Hai,
__ADS_1
gadis jelek! Jadi kamu bekerja disini?” tersenyum mengejek.