Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 35


__ADS_3

Alina menarik nafasnya, lalu membuangnya secara perlahan. Alina


pun berkata. “Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ah, Devan, andai saja


kamu masih ada bersamaku, pasti saat ini kita yang tengah mengelolah Cafe ini


bersama.” Tersenyum sambil melihat sekelilin halaman Cafe.


Alina mendorong pintu Cafe, lalu masuk, dan di sambut hangat


oleh Pak Rahmat. Karna selama Devano meninggal, Pak Rahmat menjadi  orang yang sangat Alina percaya untuk


mengelolah bisnis Cafe tersebut. Dan bahkan Momsky sangat setuju dengan itu.


Melihat Alina masuk ke dalam Cafe, pak Rahmat pun berkata. “Dokter


Alina.” Tersenyum hangat berjalan ke arah Alina.


Alina pun tersenyum, lalu menyalimi tangan pak Rahmat. Karna


itulah yang selalu Alina lakukan jika Ia bertemu dengan orang yang lebih tua


darinya.


Alina pun berkata. “Panggil Alina saja Pak Rahmat.” Tersenyum


hangat “Anggap aku sebagai putrimu. Oya bagaimana dengan keadaan Cafe, apa


semuanya baik dan lencar?” melihat sekeliling dalam ruangan Cafe yang mulai


ramai di kunjungi oleh para pelanggan.


Dengan segera Pak Rahmat berkata. “Alhamdulillah, semuanya


berjalan lancar tampa ada kendala apapun.”


Mendengar ucapan Pak Rahmat Alina pun berkata. “Syukurlah


Pak Rahmat, aku senang mendengarnya. Aku akan berada di ini selama aku masih


cuti, untuk membantu Pak Rahmat.”


Karna itulah yang selalu Alina lakukan setiap tahun dirinya


selalu mengambil cuti selama sebulan dan itu Ia gunakan untuk berkunjung ke


negara Devano, sekaligus membawa bunga ke makan Devano, setelah itu Ia akan


menghabiskan waktunya di CafeVan, untuk membantu Pak Rahmat.


Setelah mengatakan itu. Alina berjalan ke arah kamar yang


biasa Devano tempati. Alina mengelus tombol kunci yang ada di pintu kamar


Devano. Kemudian memencet kata sandinya yang tak lain adalah namanya sendiri. Pelan-pelan


Alina membuka pintu kamar lalu masuk. Alina menatap seluruh sekelilin kamar,


lalu matanya tertuju pada binkai poto yang terpajang di  kamar Devano. Alina berjalan ke arah bingkai


poto tersebut, lalu merainya, dengan senyuman Alina mengusap bingkai poto


tersebut, karna di dalam poto ada potonya dan juga poto Devano ya tengah


berbahagia. Karna saat itu Devano melamar Alina, di saat Alina usai menjalani


wisuda kedokterannya.


Alina kembali meletakkan bingkai poto tersebut pada


tempatnya, lalu berjalan kearah tempat tidur. Disana Alina melihat dirinya


tengah terlelap bersama Devano  di

__ADS_1


sampinnya, waktu itu hari pertama Alina menerima cinta Devano. Alina terlihat


sangat  sedih ketika mengingat semua


moment terindahnya bersama calon suaminya itu. Dan tampa Alina sadari sepasang


bola kristal kembali membasahi wajah cantiknya.


Alina mengusap air mata yang ada di wajahnya, lalu berjalan


ke arah kamar mandi untuk membersikan dirinya. Melakukan perjalanan yang cukup


jauh membuat tubuhnya terasa lengket. Setelah selesai membersikan diri, Alina


merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur,untuk istirahat sejenak. Karna Alina


berencana ingin menjadi pelayan sebentar malam. Mungkin karna merasa sangat


lelah, tak butuh waktu lama kini Alina mulai terlelap.


“Sayang apa yang kamu


lakukan dengan dirimu? Cobahlah buka hatimu untuknya.” Tersenyum melihat wajah


Alina “Apa kau tau? Di dalam dirinya ada diriku. Dia akan melakukan apa saja


untukmu. Dan karna mencintaimu dia akan membuat namamu di pergelangan


tangannya. Cintanya  sama besarnya


seperti aku mencintaimu. Alina aku sangat, sangat mencintaimu.”


“Aku juga sangat mencintaimu Devan.” Menaikkan tangan “Jangan


pergi tinggalkan aku sendiri. Devaaannn.”


Dengan keringat membasahi seluruh wajahnya. Alina terbangun dari


tidurnya, dengan menyebut nama Devano. Alina mengusap seluruh keringat yang ada


mimpi.


“Ah, sudahlah semuanya hanya mimpi. Aku juga sangat


mencintaimu Devan, aku selalu berharap kamu akan kembali lagi dan hidup


bersamaku.”


Setelah mengatakan itu. Alina melihat ke arah jam yang


tengah melingkar di tangannya. “Ini sudah jam delpan.” Sedikit terkejut “Astaga


aku tertidur begitu sangat lama.” Beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke


arah westapel untuk membersikan wajahnya.


Setelah selesai membersikan wajahnya, Alina mengganti


pakaiannya, karna malam ini Alina berencana ingin menghabiskan waktunya untuk


melayani para pelanggan yang datang ke CafeVan.


Dengan riasan wajah yang terlihat sangat natural, dan baju


kaos berwarna putih di padukan dengan celana jeans robek-robek di bagian lutut


dan pahanya,dan sentuhan terakhir Alina mengenakan topi yang sama dengan para


pelayan yang lainnya. Dan semua itu membuat Alina terlihat sangat cantik dan


menawan beda dari para pelayan yang lainnya.


Alina berjalan keluar dari dalam kamar yang tengah Ia

__ADS_1


tempati,lalu berjalan ke arah meja, dimana para pelayan yang lainnya tengah


menunggu pesanan para pelanggan.


Alina pun berkata kepada para pelayan. “Ada yang bisa aku


bantu?” tersenyum ramah.


Mendengar suara yang tak asing bagi mereka semua mata pelayan


berbalik melihat ke arahnya. Dan mereka semua serentak berteriak memanggil


namanya. “Dokter Alina.” Berteiak sambil berlari memeluk Alina.


Melihat sambutan hangat yang di tunjukkan para pelayan yang


bekerja di dalam CafeVan, membuat Alina merasa sangat terharu. Alina tak


berhenti melihat ke sana-kemari, mencari pelayan yang tak lain adalah Aran,


sahabat sekaligus teman baiknya. Karna tak menemukan Aran, Alina akhirnya


bertanya kepada semua pelayan yang ada di hadapannya.


“Kemana Aran? Apa dia sudah berhenti bekerja?” melihat ke


arah pelayan yang ada di hadapannya.


“Aran kembali ke rumah orang tuanya, katanya ibunya sakit. Jadi


dia izin tidak masuk bekerja untuk beberapa hari.”


“Baiklah, apa di antara kalian ada yang mengetahui alamat


rumahnya? Kalau ada yang tau, beritahu aku alamatnya dimana?”


“Aku tau Dokter.” Salah satu pelayan menulis alamat di


kertas lalu menyerahkannya pada Alina.


Setelah mengambil kertas yang tertuliskan alamat Aran. Alina


pun berkata. “Terimakasih.” Memasukkan kertas ke dalam kanton celananya.


Para pelayan semakin sibuk melayani para pelanggan yang


masuk ke dalam Cafe. Begitu pun dengan Alina yang mulai sibuk melayani. Hingga akhirnya


salah satu pelanggan memanggilnya.


“Emba.” Teriak pemuda itu.


Alina yang kebetulan lewat di sampin pemuda itu, berbalik. “Kamu!!”


menunjuk arah pemuda yang tengah duduk di hadapannya.


Mendengar ucapan Alina pemuda itu pun menyengitkan dahi


bingun dengan pelayan yang tengah berdiri di hadapannya, pemuda itu pun


berkata. “Maaf, Mba. Apa Mba mengenalku?” melihat ke arah Alina, lalu melihat


ke arah Aldo yang tengah duduk di hadapannya.


Mendengar ucapan pemuda yang tengah duduk di hadapannya. Alina


pun membuka topi yang Ia kenakan, lalu melihat ke arah pemuda yang ada di


hadapannya.


Melihat gadis yang tengah membuka topi di hadapannya. Bukannya


terkejut. Pemuda itu malah menertawai Alina. Pemuda itu pun berkata. “Hai,

__ADS_1


gadis jelek! Jadi kamu bekerja disini?” tersenyum mengejek.


__ADS_2