
Setelah menenangkan Aran. Alina mengetuk pintu ruangan, lalu
masuk ke dalam ruangan dokter yang selalu menangani kondisi kesehatan ibu Aran.
Melihat seorang wanita muda masuk ke dalam ruangannya.
Dokter itu pun
berkata. “Maaf, anda mencari siapa Nona?” menatap ke arah Alina.
“Maaf, Dokter, perkenalkan nama saya Dokter Alina dari
sulawesi.” Mengulurkan tangan dan Dokter itu pun menyambut hangat uluran tangan
Alina.
“Dokter Alina, Dokter ahli bedah yang terkenal di sulawesi
itu kan? Wao, sebuah keberuntungan besar di kunggjungi oleh seorang Dokter
seperti anda.” Tersenyum ramah.
Awalnya Dokter itu tak percaya, karna melihat penampilan
Alina yang tak seperti pada Dokter pada umumnya yang hanya berpakaian santai
seperti yang Alina kenakan saat ini. Namun di saat Alina mengeluarkan kartu
tanda pengenalnya. Dokter itu percaya padanya.
“Jadi maaf Dokter, apa yang membuat anda datang kemari.” Tanya
Dokter tersebut.
“aku keluarga dari pasien yang bernama ibu Hera. Tadi aku
memeriksa penyakit usus buntunya, nampaknya penyakitnya semakin parah dan harus
segera melakukan oprasi.” Alina menjelaskan.
“Iya, aku sudah menyarankan kepada putrinya Aran, agar
ibunya segera di oprasi. Namun karna tak ada biaya, kami menundanya.” Melihat ke
arah Alina.
“Segera siapkan kamar oprasinya Dok. Dan untuk soal biaya.
Dokter tak perlu menkhawatirkannya, biar aku yang mengurus semuanya. Dan jika
Dokter dan pihak rumah sakit ini mengijinkan, biar aku yang melakukan oprasi
ini.”
“Baiklah saya akan segera menyuruh asisiten saya untuk
menyiapkan kamar ruangan oprasi. Dan untuk meminta ijin kepada pihak rumah
sakit, sebaiknya kita ke ruangannya.” Mengajak Alina untuk bertemu dengan pemilik
rumah sakit.
Setelah kamar oprasi tengah di siapkan. Surat ijin dari
pihak rumah sakit telah Alina kantongi. Alina mengatakan kepada para suster
untuk menyarankan kepada pasien yang bernama Ibu Hera untuk segera berpuasa
karna sebentar malam dokter akan melakukan oprasi terhadapnya.
Malam pun tiba, Kini Alina
__ADS_1
tengah berada di dalam ruangan ganti baju, setelah mengganti bajunya. Alina keluar,
lalu berjalan ke arah kamar dimana Ibu Aran di rawat.
Melihat Alina masuk ke dalam ruangan yang di tempati ibunya.
Aran pun berkata. “Alina, apakah ibuku tidak akan kenapa-napa? Aku merasa
sangat takut Alin, terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu.” Meneteskan air mata.
Mendengar ucapan Aran. Alina pun berkata. “Aran” memegan
bahu “Apa kamu percaya padaku? Semuanya pasti baik-baik saja. Ada aku yang akan
mendampingi Ibu di dalam ruangan oprasi. Bahkan aku sendiri yang akan melakukan
oprasi itu. Kamu tenang dan berdoa ya” tersenyum hangat “Agar oprasiny lancar,”
Setelah mengatakan itu Alina berjalan keluar dari dalam
ruanagan mengikuti para suster yang tengah mendorong berangka yang di tempati
oleh Ibu Hera saat ini.
Waktu menunjukkan pukul 22:00, sudah hampir 3 jam Alina
berada di dalam ruangan oprasi, dan itu membuat Aran semakin panik, tak berenti
berjalan ke sana kemari sesekali melihat ke arah pintu ruangan oprasi. Memastikan
apa oprasinya sudah selesai.
Setelah beberapa saat pintu Ruangan oprasinya terbuka dan
keluarlah Alina dan para suster yang lainnya. Alina membuka masker yang Ia
kenakan lalu melihat ke arah Aran yang kini tengah berdiri melihat ke arahnya.
mendekat, setelah sampai di depan aran, Alina pun berkata.
“Tenanglah, semuanya berjalan lancar. Sebentar lagi ibu akan
segera di pindahkan ke kamar yang telah di siapkan. Baiklah aku ganti baju
dulu, seteah itu, aku akan ke ruangan Ibu.”
Setelah mengatakan itu Alina berjalan ke arah, ruangan
tempat ganti baju untuk segera menganti bajunya karna saat ini, pakaian yang Ia
kenakan berbau bahan kimia.
Melihat berangka ibunya di dorong keluar dari dalam ruangan
oprasi. Aran mendekat ke arah Ibunya yang mulai nampak sadar, lalu ikut
mendorong berangka yang di tempati ibunya. Namun Aran nampak sangat heran
ketika para suster mendorong berangka ibunya menuju lorog kamar dimana di sana
hanya ada kamar Elit VIV. Dengan rasa bingun Aran bertanya.
“Suster, kenapa ibuku di bawa kemari? Kamarnya kan di seblah
sana.” Menunjuk arah di mana tempat kamar sebelumnya.
Mendengar ucapan putri dari pasien yang tengah di dorongnya,
suster itu pun berkata. “Pihak rumah sakit menyiapkan ini untuk Ibu anda, karna
Dokter Alina telah menjadi tamu kehormatan di rumah sakit ini. Di tambah Dokter
__ADS_1
Alina juga telah membantu tugas para Dokter Bedah di rumah sakit kami ini.” Suster
menjelaskan.
Aran yang mendengar penjelasan Suster yang ada di hadapannya
itu pun tersenyum, tak menyangka Alina telah menolongnya dengan begitu sangat
banyak. Mengingat Alina hanya temannya dan tak ada hubungan apapun selain kata
pertemanan. Namun pertolongan yang Alina lakukan sangat jarang di lakukan oleh
keluarga sendiri. Itulah yang terlintas dalam benak Aran saat ini.
Aran masuk ke dalam ruangan VIV yang di tempati Ibunya. Aran
melihat sekeliling dalam kamar yang nampak terlihat lebih bersi, rapi dan wangi
daripada kamar yang di tempati sebelumnya.
Setelah beberapa saat Alina masuk ke dalam ruangan, yang di
tempati Ibu Aran saat ini. Melihat Alina masuk kedalam kamar yang tengah ia
tempati saat ini. Aran berlari memeluk Alina dengan sangat erat.
“Terimakasih Alin. Kamu memang sahabat aku yang paling baik.
Orang lain tak akan melakukan hal seperti yang telah kamu lakukan untuk ibuku. Aku
sangat bersyukur karna Allah telah mempertemukanku dengan gadis sebaik dirimu.”
Aran begitu sangat terharu karna kebaikan yang di berikan
Alina terhadapnya dan juga Ibunya.
“Sudahlah Aran.” Menepuk bahu “Terhadap sesama kita harus
saling menolong, walaupun orang lain jika sangat membutuhkan, aku akan dengan
senang hati membatunya. Apalagi kamu sahabatku dan juga sahabat Devano.” Melepas
pelukan.
Setelah menemui Aran dan juga Ibunya. Alina izin pamit
pulang. “Oya, Aran aku pamit pulang dulu ya. Besok aku akan kesini lagi, unuk
memeriksa keadaan Ibu. Kalau ada apa-apa kepada Ibu tolong kamu kabari aku ya.”
Setelah pamit dengan Aran kini Alina tengah berada di depan
rumah sakit. Namun tak ada satupun taxi yang lewat di hadapnnya. Mungkin karna
telalu larut malam jadi kendaraan di sekitar rumah sakit sedikit lenggang.
Alina melihat ke sana ke mari, namun tak melihat satu mobil
angkutan umum lewat di depannya. Namun ada satu mobil berwarna hitam tengah
melewatinya.
Mobil itu pun berhenti dan keluar pemuda yang seperti Alina
kenal.
“Hai, Mba pelayan.” Menyapa hangat “Apa kamu mau pulang? Kalau
mau mari aku antar karna jalanan yang kita lewati satu jalur. Dan jika anda mau
mari aku antar pulang.” Berkata sopan terhadap Alina.
__ADS_1