Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 40


__ADS_3

Setelah menenangkan Aran. Alina mengetuk pintu ruangan, lalu


masuk ke dalam ruangan dokter yang selalu menangani kondisi kesehatan ibu Aran.


Melihat seorang wanita muda masuk ke dalam ruangannya.


 Dokter itu pun


berkata. “Maaf, anda mencari siapa Nona?” menatap ke arah Alina.


“Maaf, Dokter, perkenalkan nama saya Dokter Alina dari


sulawesi.” Mengulurkan tangan dan Dokter itu pun menyambut hangat uluran tangan


Alina.


“Dokter Alina, Dokter ahli bedah yang terkenal di sulawesi


itu kan? Wao, sebuah keberuntungan besar di kunggjungi oleh seorang Dokter


seperti anda.” Tersenyum ramah.


Awalnya Dokter itu tak percaya, karna melihat penampilan


Alina yang tak seperti pada Dokter pada umumnya yang hanya berpakaian santai


seperti yang Alina kenakan saat ini. Namun di saat Alina mengeluarkan kartu


tanda pengenalnya. Dokter itu percaya padanya.


“Jadi maaf Dokter, apa yang membuat anda datang kemari.” Tanya


Dokter tersebut.


“aku keluarga dari pasien yang bernama ibu Hera. Tadi aku


memeriksa penyakit usus buntunya, nampaknya penyakitnya semakin parah dan harus


segera melakukan oprasi.” Alina menjelaskan.


“Iya, aku sudah menyarankan kepada putrinya Aran, agar


ibunya segera di oprasi. Namun karna tak ada biaya, kami menundanya.” Melihat ke


arah Alina.


“Segera siapkan kamar oprasinya Dok. Dan untuk soal biaya.


Dokter tak perlu menkhawatirkannya, biar aku yang mengurus semuanya. Dan jika


Dokter dan pihak rumah sakit ini mengijinkan, biar aku yang melakukan oprasi


ini.”


“Baiklah saya akan segera menyuruh asisiten saya untuk


menyiapkan kamar ruangan oprasi. Dan untuk meminta ijin kepada pihak rumah


sakit, sebaiknya kita ke ruangannya.” Mengajak Alina untuk bertemu dengan pemilik


rumah sakit.


Setelah kamar oprasi tengah di siapkan. Surat ijin dari


pihak rumah sakit telah Alina kantongi. Alina mengatakan kepada para suster


untuk menyarankan kepada pasien yang bernama Ibu Hera untuk segera berpuasa


karna sebentar malam dokter akan melakukan oprasi terhadapnya.


 Malam pun tiba, Kini Alina

__ADS_1


tengah berada di dalam ruangan ganti baju, setelah mengganti bajunya. Alina keluar,


lalu berjalan ke arah kamar dimana Ibu Aran di rawat.


Melihat Alina masuk ke dalam ruangan yang di tempati ibunya.


Aran pun berkata. “Alina, apakah ibuku tidak akan kenapa-napa? Aku merasa


sangat takut Alin, terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu.” Meneteskan air mata.


Mendengar ucapan Aran. Alina pun berkata. “Aran” memegan


bahu “Apa kamu percaya padaku? Semuanya pasti baik-baik saja. Ada aku yang akan


mendampingi Ibu di dalam ruangan oprasi. Bahkan aku sendiri yang akan melakukan


oprasi itu. Kamu tenang dan berdoa ya” tersenyum hangat “Agar oprasiny lancar,”


Setelah mengatakan itu Alina berjalan keluar dari dalam


ruanagan mengikuti para suster yang tengah mendorong berangka yang di tempati


oleh Ibu Hera saat ini.


Waktu menunjukkan pukul 22:00, sudah hampir 3 jam Alina


berada di dalam ruangan oprasi, dan itu membuat Aran semakin panik, tak berenti


berjalan ke sana kemari sesekali melihat ke arah pintu ruangan oprasi. Memastikan


apa oprasinya sudah selesai.


Setelah beberapa saat pintu Ruangan oprasinya terbuka dan


keluarlah Alina dan para suster yang lainnya. Alina membuka masker yang Ia


kenakan lalu melihat ke arah Aran yang kini tengah berdiri melihat ke arahnya.


mendekat, setelah sampai di depan aran, Alina pun berkata.


“Tenanglah, semuanya berjalan lancar. Sebentar lagi ibu akan


segera di pindahkan ke kamar yang telah di siapkan. Baiklah aku ganti baju


dulu, seteah itu, aku akan ke ruangan Ibu.”


Setelah mengatakan itu Alina berjalan ke arah, ruangan


tempat ganti baju untuk segera menganti bajunya karna saat ini, pakaian yang Ia


kenakan berbau bahan kimia.


Melihat berangka ibunya di dorong keluar dari dalam ruangan


oprasi. Aran mendekat ke arah Ibunya yang mulai nampak sadar, lalu ikut


mendorong berangka yang di tempati ibunya. Namun Aran nampak sangat heran


ketika para suster mendorong berangka ibunya menuju lorog kamar dimana di sana


hanya ada kamar Elit VIV. Dengan rasa bingun Aran bertanya.


“Suster, kenapa ibuku di bawa kemari? Kamarnya kan di seblah


sana.” Menunjuk arah di mana tempat kamar sebelumnya.


Mendengar ucapan putri dari pasien yang tengah di dorongnya,


suster itu pun berkata. “Pihak rumah sakit menyiapkan ini untuk Ibu anda, karna


Dokter Alina telah menjadi tamu kehormatan di rumah sakit ini. Di tambah Dokter

__ADS_1


Alina juga telah membantu tugas para Dokter Bedah di rumah sakit kami ini.” Suster


menjelaskan.


Aran yang mendengar penjelasan Suster yang ada di hadapannya


itu pun tersenyum, tak menyangka Alina telah menolongnya dengan begitu sangat


banyak. Mengingat Alina hanya temannya dan tak ada hubungan apapun selain kata


pertemanan. Namun pertolongan yang Alina lakukan sangat jarang di lakukan oleh


keluarga sendiri. Itulah yang terlintas dalam benak Aran saat ini.


Aran masuk ke dalam ruangan VIV yang di tempati Ibunya. Aran


melihat sekeliling dalam kamar yang nampak terlihat lebih bersi, rapi dan wangi


daripada kamar yang di tempati sebelumnya.


Setelah beberapa saat Alina masuk ke dalam ruangan, yang di


tempati Ibu Aran saat ini. Melihat Alina masuk kedalam kamar yang tengah ia


tempati saat ini. Aran berlari memeluk Alina dengan sangat erat.


“Terimakasih Alin. Kamu memang sahabat aku yang paling baik.


Orang lain tak akan melakukan hal seperti yang telah kamu lakukan untuk ibuku. Aku


sangat bersyukur karna Allah telah mempertemukanku dengan gadis sebaik dirimu.”


Aran begitu sangat terharu karna kebaikan yang di berikan


Alina terhadapnya dan juga Ibunya.


“Sudahlah Aran.” Menepuk bahu “Terhadap sesama kita harus


saling menolong, walaupun orang lain jika sangat membutuhkan, aku akan dengan


senang hati membatunya. Apalagi kamu sahabatku dan juga sahabat Devano.” Melepas


pelukan.


Setelah menemui Aran dan juga Ibunya. Alina izin pamit


pulang. “Oya, Aran aku pamit pulang dulu ya. Besok aku akan kesini lagi, unuk


memeriksa keadaan Ibu. Kalau ada apa-apa kepada Ibu tolong kamu kabari aku ya.”


Setelah pamit dengan Aran kini Alina tengah berada di depan


rumah sakit. Namun tak ada satupun taxi yang lewat di hadapnnya. Mungkin karna


telalu larut malam jadi kendaraan di sekitar rumah sakit sedikit lenggang.


Alina melihat ke sana ke mari, namun tak melihat satu mobil


angkutan umum lewat di depannya. Namun ada satu mobil berwarna hitam tengah


melewatinya.


Mobil itu pun berhenti dan keluar pemuda yang seperti Alina


kenal.


“Hai, Mba pelayan.” Menyapa hangat “Apa kamu mau pulang? Kalau


mau mari aku antar karna jalanan yang kita lewati satu jalur. Dan jika anda mau


mari aku antar pulang.” Berkata sopan terhadap Alina.

__ADS_1


__ADS_2