Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 9


__ADS_3

Tok, tok, tok, Suara pintu kamar Alina di ketuk oleh Devano. Namun tak ada tanda -tanda kalau Alina akan membuka pintu. Devano pun memutar kenop kamar Alina.


"Yah, terkunci, bagaimana ini?,aku juga tak tau nomor telponnya," Ucap Devano berjalan menuju ke arah kamarnya.


Sementara Alina di dalam kamarnya. Baru saja menyelesaikan ritual mandinya.


"Segar dan Frees,sudah tak berbau lagi, seperti yang di ucapkan pak Dosen alias Devano Miller sang pemilik CafeVan. Namun dia orangnya baik, perhatian dan juga terbuka. Aku senang memiliki bos,dosen dan juga teman seperti dia. Semoga ke depannya dia selalu baik seperti ini," Ucap Alina sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit basah.


Hingga malam tiba Alina keluar dari kamarnya mengenakan pakaian seragam khusus pelayang. Alina mulai menyusun semua perlengkapan yang akan di pakai ketika banyak tamu. Karna CafeVan termasuk Cafe yang paling ramai ketika malam, apalagi saat malam minggu seperti ini. Mulai jam 6 sore sudah terlihat begitu sangat ramai begitu banyak pasangan muda mudi yang datang ke Cafe tempat Alina bekerja dan baru kali ini Devano duduk manis di kursi bagian kasir. Devano sengaja karna ingin melihat langsung kegiatan Alina.


"Senangnya aku bisa melihatnya tersenyum seperti itu," Ucap Devano sambil melihat ke arah Alina yang sedang berbicara pada sesama pelayang yang bekerja di dalam Cafenya.


Para pelayan berbisik tentang Bos tampan mereka yang kini sedang duduk di bagian kasir. Salah satu di antara mereka pun berkata.


"Gila,aku baru tau kalau pemilik CafeVan ini adalah seorang pemuda tampan. Aku tak pernah menduga.Hampir setahun aku bekerja di Cafe ini, baru kali ini aku melihatnya."


"Iya, dengar -dengar juga sih, kalau bos tampan kita ini seorang dosen di tempat kamu kuliah Alina, apa benar itu?," Tanya salah satu pelayan pada Alina.


"Iya, meman benar," Ucap Alina santai sambil tersenyum ramah pada teman kerjanya.


Malam semakin larut. Namun para tamu yang datang di Cafe Devano semakin ramai. Devano pun melihat ke arah Alina yang sedang sibuk melayani tamu. Devano merasa sedikit khawatir melihat wajah Alina yang terlihat sedikit pucat hingga akhirnya Devano memanggil Alina.


"Alina." Teriak Devano, membuat para pelayan melihat ke arah Alina. Lalu berkata.


"Di panggil tu, sama bos tampan, sana cepeten."


Alina pun tersenyum mendengar ucapan temannya. lalu segera menjawab panggilan bosnya.


"Iya, pak, ada apa?." Tanya Alina sambil berjalan mendekat ke arah Devano yang masih sibuk.


Tampa melihat ke arah Alina. Devano pun berkata.

__ADS_1


"Masuk,dan bantu saya mengurus ini," Ucap Devano sambil memperlihatkan struk dan nomor antrian para pelanggannya.


"Baik pak," Ucap Alina masuk sambil mendorong pintu kaca pembatas antara ruangan kasir dan ruangan Cafe.


Alina pun berdiri di samping Devano karna kursi tempat duduk untuk kasir hanya ada satu. Melihat Alina berdiri yang mulai membatunya Devano pun bersiri dari kursinya lalu menyuruh Alina untuk duduk.


"Duduk lah, aku mau keluar sebentar," Ucap Devano sambil berdiri dari kursinya lalu berjalang keluar dari ruangan kasir. Sementara Alina langsung duduk dan mengambil alih pekerjaan Devano.


Setelah kepergian Devano. Alina mulai sibuk dengan para pelanggan yang membayar tagihan mereka. Setelah beberapa Saat Devano masuk dengan seseorang yang sedang membawa kursi yang mirip yang pakai Alina.


"Terimah kasih," Ucap Devano pada orang yang membantunya mengankat kursi itu sambil memberikan tip padanya.


"Terimah kasih kembali mas, kalau ada sesuatu yang di perlukan jangan lupa mampir di tokoh kami. Kalau begitu saya permisi mas," Ucapnya.


Setelah kepergian orang itu. Devano mulai duduk di kursi yang baru saja di belinya.


"Sangat cocok duduk berdua di ruangan ini bersamamu Alina," Ucap Devano pelan.


"Ini,minum dulu biar aku yang melanjutkannya," Ucap Devano sambil memberikan segelas jus dan juga sebotol air mineral pada Alina.


Alina pun melihat ke arah Devano lalu beralih ke tangan Devano yang mengulurkan jus dan juga air mineral. Alina pun dengan segera menyambar jusnya lalu meminumnya sampai tandas. karna sedari tadi tenggorokannya memang sudah terasa sangat kering.


"Ah, segarnya," Ucap Alina ketika jus yang ada di gelas sudah habis di minumnya.


"Terimah kasih ya jusnya, apa ini ngak kepotong dengan gajiku?," Tanya Alina sambil tertawa.


Mendengar ucapan Alina.Devano tersenyum lebar mendengarnya. lalu berkata.


"Alina, Alina, kamu itu lucu banget sih," Ucap Devano sambil mengacak rambut Alina. dan itu di lihat oleh beberapa pelayan Cafe yang sibuk melayani para tamu.


"Lihat tu Alina, dekat banget ya sama bos tampan kita,"

__ADS_1


"Iya, ya, aku juga pengen sedekat itu sama bos tampan kita."


"Kalian sih,sirik saja, biarkan saja itu menjadi urusan mereka, mau mereka punya hubungan apa tidak itu juga tak akan mengangu kalian iyakan, sebaiknya kita kembali bekerja nanti kita kena marah sama Pak.Rahmat mau?." Bela salah satu pelayan Cafe yang bernama Aran dia adalah salah satu pelayan yang dekat baik dengan Alina.


"Ya, enggak mau lah, kita kan betah bekerja di tempat ini, selain gajinya cukup tinggi,kita juga bisa menjumpai pemuda -pemuda tampan di sini,iya ngak?."


"Betul," Ucap salah satu pelayan Cafe sambil menaikkan ke dua tangannya.


Malam semakin larut jam di dindin ruangan Cafe sudah menunjukkan angka1.30 dini hari. para pelanggan Cafe juga sudah pulang semua. Alina pun memengan lehernya karna merasa sangat pegal.


"Emmm, cape banget," Ucap Alina sambil merentangkang ke dua tangannya. Devano pun yang melihat kelelahan yang di alami Alina pun berkata.


"Masuk lah,istirahat di kamarmu."


"Trus kamu?."


"Aku ingin mengurus ini dulu." Tungjuk Devano pada uang yang telah menumpuk besar di dalam tong besinya.


"Ooo, boleh aku bantu?."


"Boleh, asal tak membuatmu tambah kelelaham."


"Baik lah, berhubung besok aku libur kuliah. Tidak masalah aku membantumu sedikit," Ucap Alina sambil tersenyum manis.


Sementara para pelayan yang lain, sudah ada yang pulang ke rumahnya. Dan yang lainnya sudah pada masuk ke dalam kamar masing. Kini hanya tinggal Alina yang belum masuk kedalam kamarnya.


"Ayo, kita akan menghitung semuanya di dalam kamarku." Ajak Devano.


"Di dalam kamarmu?," Ucap Alina sedikit terkejut.


"Kamu tenang saja, aku tak akan macam -macam sama kamu."

__ADS_1


__ADS_2