
Arga yang melihat wajah Dokter Nisa yang terlihat sedih,
merasa penasaran dengan nama Dokter yang di cintai oleh pemilik jantung yang
tengah bersarang di tubuhnya. Bahkan Arga berpikir kalau Dokter yang ada di
hadapannya adalah orang yang di cintai pemilik jantung yang tengah bersarang di
tubuhnya.
“Dokter boleh aku tau siapa nama Dokter itu?” Arga menatap
wajah Dokter Nisa dengan penuh harap agar Dokter Nisa mengatakan semuanya tentang
siapa nama Doker itu.
“Maaf, Pak, sesuai Amanah beliau, saya tidak akan pernah
mengatakannya, bahkan kekasih dari pemilik jantung yang ada di dalam diri anda tidak
mengetahuinya.” Dokter Anisa tersenyum hangat ketika selesai mengatakan itu.
“Ah, Dokter begitu amat. Aku ini pemilik rumah sakit ini
Dokter, jadi tolong katakan siapa nama Dokter itu? Atau jangan-jangan Dokter
adalah orangnya.” Arga kembali menatap ke arah wajah Dokter Nisa yang kini
tengah tersenyum melihat ke arahnya.
Dokter Anisa tertawa melebar, setelah mendengar kata yang
keluar dari mulut Arga, yang menyatakan kalau dialah Dokter itu.
Hahaha.
“Bapak, ada-ada saja. Saya ini sudah menikah pak, uda punya
anak lagi.” Dokter Anisa kembali tertawa melebar setelah mengatakan itu, karna
merasa begitu sangat lucu dengan apa yang tengah di katakan oleh pemilik rumah
sakit yang tengah duduk di hadapannya.
Setelah beberapa saat pintu ruangan yang di tempati Arga
terbuka, Alina masuk ke dalam ruangannya dan mendapati Arga tengah berbicara
dengan Dokter Anisa.
“Arga. Maaf Pak.” Alina merasa canggun memanggil nama pemilik
rumah sakit di depan Dokter Anisa “Bapak, ngpain di sini?” Alina tersenyum sambil berjalan ke arah
lemari, untuk mengambil pakaian gantinya.
Namun sebalum Alina masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti
pakaiannya, Alina berbalik melihat ke arah Arga dan dokter Nisa yang kini
tengah melihat ke arahnya.
“Maaf, pak, kalau boleh aku tau? Kenapa anda berada di dalam
ruanganku?” Alina nampak sangat bingun melihat ke arah Arga yang berada di
dalam ruangannya yang terbilang masih pagi.
“Aku mencarimu Alin.” Kata-kata itu sontak keluar dari dalam
mulut Arga, dan membuat Dokter Anisa melihat ke arahnya, tak percaya dengan apa
yang dirinya dengar.
Bahkan Dokter Nisa beragrumen dengan pemikirannya sendiri,
__ADS_1
yang mengatakan bahwa, jantung Devano yang bersarang di dalam tubuh pemilik
rumah sakit ini kembali berdetak untuk Alina. Dan mungkin ini yang dinamakan Ikatan Hati itulah yang saat ini tengah
di pikiran Dokter Anisa.
Alina yang mendengar ucapan Arga yang mencarinya membulatkan
matanya, bingun kenapa Arga mencarinya di jam kerja seperti ini.
“Mencari saya Pak? Kenapa? Apa ada sesuatu yang darurat?”
itulah Alina, setiap ada seseorang mencarinya pasti yang di pikirkannya hanya
ada kata Darurat.
“Hehehe, tidak ada Alin? Aku hanya ingin mengajakmu sarapan
pagi.” Arga cengegesan ketika mengatakan itu karna tidak tau harus berkata apa.
Di tambah adanya Dokter Anisa yang tidak berhenti melihat ke arahnya.
Sebulan telah berlalu, Arga semakin dekat dengan Alina,
bahkan Arga mulai merasakan cinta yang dalam untuk Alina. Namun Alina masih
menaruh jarak di antara mereka berdua, meskipun Alina juga merasakn getaran
yang hebat ketika bersama Arga.
Seperti sore ini, Arga ingin mengajak Alina jalan-jalan di
kotanya. Namun dengan lembut Alina menolak ajakan Arga, karna tidak ingin
terlalu larut dalam perasaan yang tengah di rasakannya saat bersama Arga. namun
Alina merasakan rindu bila tidak bersama Arga dalam sehari.
Dan Arga yang mendapat penolakan seperti itu merasa begitu
sangat sedih, bahkan jantungnya juga ikut terasa begitu sakit ketika dirinya
“Alin” Arga berlari ke arah Alina yang ingin masuk ke dalam
mobilnya.
“Iya, ada apa Pak.” Alina berbalik melihat ke arah Arga yang
kini tengah berdiri di belakannya.
“Ya, ampun Alin, kalau kita cuman berdua seperti ini, kamu
tidak perlu memanggil aku bapak. Aku merasa seperti bapak kamu, padahal umur
kita tidak jauh beda.” Arga tersenyum ketika selesai mengatakan itu.
“Iya, Pak Arga maaf.” Alina tersenyum menias ketika selesai
mengatakan itu.
Arga yang mendengar ucapan Alina, terkeke, karna merasa
sangat lucu ketika Alina memanggilnya pak Arga.
“Jalan yu” Arga mengajak Alina pergi jalan-jalan.
“Aduh, maaf Ga, aku merasa sangat lelah.” Alina menolak
ajakan Arga, karna tidak ingin terlalu dekat-dekat dengan Arga, karna bagi
Alina hanya itu cara yang tepat untuk mengendalikan perasaanya sendiri, karna
selama sebulan ini Alina merasa dirinya terlalu dekat dengan Arga dan Alina
tidak ingin itu berlarut-larut. Tampa melanjutkan perkataanya Alina masuk ke
__ADS_1
dalam mobilnya, lalu melajukannya keluar dari parkiran rumah Sakit,
meninggalkan Arga yang masih berdiri sendiri sambil memegan dadanya.
Arga yang mendapat penolakan seperti itu merasa begitu
sangat kecewa dan sakit hati, dan itu membuat jantungnya terasa begitu sangat
sakit, sakit yang membuatnya susah bernapas.
Uah, uah, uah
Arga mencoba menormalkan pernapasannya sambil memegan daerah
jantungnya, yang terasa begitu sakit, karna merasa sangat sakit Arga hampir terjatuh
tersunkur di parkiran, namun beruntung keamanan rumah sakit berlari
menghampirinya.
“Pak, bapak kenapa?” keamanan rumah sakit terlihat begitu
sangat panik ketika melihat pemilik rumah sakit susah bernapas.
Dokter Anisa yang melihat, Arga di topang oleh keamanan
rumah sakit berjalan ke arahnya. Arga yang melihat Dokter Anisa berada di
depannya berkata.
“Dokter.” Nada suara terputus “Tolong aku, aku tidak bisa
bernapas, jantungku terasa begitu sangat sakit.” Arga mengatakan itu dengan
nada suara terputus-putus.
Mendengar ucapan Arga, dengan segera Dokter Anisa berteriak
kepada suster agar segera membawa berangka rumah sakit, untuk membawa tubuh
Arga masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Setelah sampai di dalam ruangan perawata, Dokter Nisa mulai
memeriksa, apa yang membuat jantung Arga terasa begitu sangat sakit, bahkan
Dokter Nisa melakukan Citisken untuk mengetahui penyebab yang mengakibatkan
jantung Arga sakit setelah sekian lama.
Namun Dokter Nisa tidak menemukan apapun yang mengakibatkan
Arga merasa kesakitan seperti itu, namun karna penasaran akhirnya Dokter Anisa
bertanya dengan apa yang tengah membuatnya merasa sakit seperti itu.
Setelah di pindahkan keruangan VIV, Arga mendapat perawatan
yang khusus, selaku pemilki rumah sakit. Dokter Anisa turun tangan merawat Arga
yang kini tengah terbaring karna merasa sangat sakit di bagian jantungnya.
“Maaf, Pak sebenarnya apa yang membuat anda seperti ini? Aku
sudah memeriksa semuanya, namun semuanya terlihat normal, cuman jantung anda
yang berdetak terlalu kencang.” Dokter Nisa tersenyum ramah melihat ke arah
Arga yang kini tengah terbaring di atas berangka rumah sakit, ketika selesai
mengatakan itu.
“Aku juga tidak tau Dokter, entah apa yang telah terjadi
denganku, setelah Alina menolak ajakanku rasanya jantungku terasa begitu sangat
__ADS_1
sakit dan ingin meledak.” Arga mengatakan sebenarnya yang membuatnya seperti
itu.