Ikatan Hati

Ikatan Hati
Bab. 37


__ADS_3

Mendengr ucapan sahabatnya pemuda itu pun berkata. “Aku tak


akan pernah melepaskanmu, meskipun kamu sendiri yang memintanya. Karna selamanya


aku ingin bersamamu.” Pemuda itu tertawa lepas ketika mengatakan itu pada


sahabatnya. Pemuda itu melihat ke arah wajah sahabatnya yang kini mulai merasa


tak enak.


Dengan segara Aldo mendekatkan wajahnya kepada sahabatnya


itu lalu berkata. “Apa kamu baik-baik saja.” Berbisik “Aku ini masih normal,


ingin memiliki kekasih dan juga pendampin hidup. Jika aku bersamamu selamanya. Kapan


aku bisa memiliki keluarga sendiri? Apa kamu pemuda normal?” aldo mengatakan


itu dengan nada suara pelan.


Mendengar ucapan sahabatnya dengan segara pemuda itu


berkata. “Apa! Maksud kamu apa dengan kata-katamu barusan?” menatap tajam ke


arah Aldo “Apa kamu mengira aku menyukai sesama jenis.” Memainkan kedua


tangannya di hadapan Aldo “Sudah gila kamu ya!” melempar sapu tangan yang


tengah di siapkan di atas mejanya ke arah wajah Aldo.


 Melihat sahabatnya


melemparnya dengan sapu tangan dengan segera Aldo menangkap sapu tangan


tersebut, sebelum mengenai wajahnya.


Pemuda itu kembali berkata. “Namaku Arga Wirawan Hadi. Keluarga


yang paling terkaya di Bali menyukai sesama jenis. Ini adalah kata konyol yang


pernah keluar dari mulutku.” Arga melihat ke arah Aldo yang kini tengah melihat


ke arahnya “Aku pemuda yang sangat tampan di sukai dan di gemari oleh para kaum


Hawa.” Bangga dengan dirinya sendiri “Memiliki otot besar dan tubuh yang kekar,


masa memilih menyukai lawan jenis.” Tertawa sambil melihat ke arah Aldo “Itukan


namanya gila!”


Dan memang benar semua yang tengah Arga katakan. Selain kaya,


tampan bertubuh atletis. Arga juga satu-satunya pewaris dari semua kekayaan


kedua orang tuanya.


Arga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan juga kaya.


Dia berdarah Jerman, Bali. Ibunya berasal dari Jeraman sementara Ayahnya warga


asli Bali. Kedua orang tuanya adalah seorang pebisnis yang terhandal di Bali.


Keluarga Wirawan Hadi memiliki usaha Grup Waka. Basis Operasional


di Bali. Mendirikan PT. Gde & Kadek Brothers. Bidang usaha pari wisata


(penginapan, biro perjalanan,restorand kefe, kapal pesiar, dan penerbangan). Group


Bounty (Bounty vila Rumah Manis, Bounty Cruises, Paddy’s Cafe, Sari Club,

__ADS_1


Bounti Mall. Dan masih banyak usaha yang lainnya, dan salah satu yang peling


penting. Rumah Sakit yang ditempati Alina bekerja sebagai Dokter bedah, itu


adalah salah satu Rumah Sakit, milik keluarga Wirawan Hadi yang terletak di


kota Pare-pare. Di pare-pare keluarga Wirawan Hadi juga memiliki rumah mewah


yang tidak jauh dari Rumah Sakit miliknya.


Malam semakin larut, para pengunjung Cafe mulai pulang


kerumah masing-masing. Namun tidak dengan kedua pemuda tampan yang berada di


dalam Cafe tersebut. Kedua pemuda itu tak berhenti berbicara dan bercanda


hingga lupa waktu untuk pulang. Melihat itu, Alina berjalan mendekat ke arah ke


dua pemuda tersebut.


Dengan sangat sopan Alina pun berkata. “Maaf, Tuan Cafenya


sudah mau kami tutup.” Tersenyum tipis yang membawa kesan ramah terhadap


pelanggannya.


Mendengar ucapan Alina. Aldo melihat sekelilin dalam ruangan


Cafe dan memang benar saat ini, hanya mereka berdua yang berada di dalam Cafe,


bahkan sebagian kursi tengah berada di atas meja, karna para pelayan yang


lainnya mulai membersikan dalam ruangan Cafe.


Dengan segaera Aldo berkata. “Oh, astaga, karna ke asyikan


berbicara kami lupa waktu maaf kan kami Mba.” Aldo mulai berangjak dari


 Dengan santainya Arga


berkata. “Aku masih mau minum kopi di sini. Karna minum kopi di sini, aku tak


merasa mengantuk, tolong buatkan aku secankir kopi yang seperti tadi ya Mba


pelayan.” Melihat sekilas ke arah Alina lalu kembali melihat ke arah Hapenya.


Mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya, dengan


segara Alina berkata. “Maaf, Cafenya sudah mau kami tutup.” mengulang kata “Dan


soal kopi yang ingin anda pesan, untuk saat ini stoknya sudah habis. Namun untuk


besok kami akan usahakan kopi itu ada lagi.”


Mendengar ucapan Alina, Aldo mengeluarkan beberapa lembar


uang dari dalam dompetnya untuk membayar tagihan minuman dan makanan yang


tengah Ia makan bersama Arga. setelah itu Aldo menarik tangan Arga untuk segera


keluar dari dalam Cafe. “Ayo Ga, kita pulang! Ini memang sudah sangat larut. Besok


pagi kita harus segera menemui kelien kita.


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aldo. Arga pun


berdiri dari duduknya dengan rasa sedikit kesal, karna keinginnannya tidak


terwujudkan. Itulah Arga pemuda yang palin tidak suka dengan apa yang dia

__ADS_1


inginkannya, namun tidak terwujudkan ibarat kata Arga sangat membenci kata


penolakan. Karna mulai dari kecil hingga dewasa semua keinginan Arga selalu di


turuti oleh kedua orang tuanya. Namun Arga bukanlah pemuda yang cengen dan


sombong, dengan apa yang semua dimiliki kedua orang tuanya. Justru Arga adalah


pemuda yang sangat baik, cuman terkatang Arga selalu merasa ada yang aneh


dengan dirinya, semenjak pencangkokan jantung yang pernah Arga jalani, sikapnya


mulai berubah-ubah dan itulah yang selalu membuatnya merasa sangat kesal.


Melihat kedua pemuda berjalan keluar dari dalam Cafe. Alina pun


tak berhenti mengumpat sendiri. Mungkin karna merasa sangat kesal dengan pemuda


yang satunya itu. “Dasar pemudah aneh! Memang dia fikir dirinya itu siapa?”


tertawa “Mengatai aku pelayan jelek. Memangnya dia merasa dirinya itu tampan? Hem,


tampan seperti itu ma, ramai di pasaran.” Setelah mengatakan itu Alina berbalik


badan.


Dan tampa sepengetahuan Alina pemuda yang dia katai, berdiri


tepat di belakangnya. Melihat wajah pemuda yang tengah berdiri tepat di


belakangnya, Alina memegan dadanya karna merasa sangat terkejut.


Alina pun berkata. “Kamu lagi! Ngapain kamu kembali lagi?”


sedikit meninggikan nada suaranya.


Tampa menjawab pertanyaan Alina pemuda itupun lansung mengambil


hapenya yang tertinggal di atas meja. Tampa bergerak dari tempatnya berdiri dan


itu membuat wajah Alina dan wajah pemuda itu, berdekatan sangat dekat, dan itu


membuat jantung keduanya berdetak tak karuan.


Setelah mengambil Hapenya pemuda itupun berlalu dari hadapan


Alina. Namun belum bebarapa langkah pemuda berjalan. Pemuda itu kembali


berbalik arah melihat Alina, lalu berkata.


“Apa yang barusan kamu katakan soal wajahku?” menatap santai


ke arah wajah Alina “Ham, wajahku ramai di pasaran ya? Benarkah?”tersenyum


sinis.


Setelah mengatakan itu pada Alina pemuda itu melanjutkan


langkahnya keluar dari dalam Cafe.


*****


Sewaktu berjalan keluar dari dalam Cafe. Arga dan Aldo


berjalan ke arah mobil. Namun sebelum Arga membuka pintu mobilnya. Arga


mencari-cari keberadaan hapenya itu.


“Ah, hapeku tertinggal di dalam.” Menutup wajahnya dengan ke

__ADS_1


dua tangannya “Tunggu, aku masuk sebentar mengambilnya.” Kembali berjalan masuk


ke dalam Cafe.


__ADS_2