
Mendengr ucapan sahabatnya pemuda itu pun berkata. “Aku tak
akan pernah melepaskanmu, meskipun kamu sendiri yang memintanya. Karna selamanya
aku ingin bersamamu.” Pemuda itu tertawa lepas ketika mengatakan itu pada
sahabatnya. Pemuda itu melihat ke arah wajah sahabatnya yang kini mulai merasa
tak enak.
Dengan segara Aldo mendekatkan wajahnya kepada sahabatnya
itu lalu berkata. “Apa kamu baik-baik saja.” Berbisik “Aku ini masih normal,
ingin memiliki kekasih dan juga pendampin hidup. Jika aku bersamamu selamanya. Kapan
aku bisa memiliki keluarga sendiri? Apa kamu pemuda normal?” aldo mengatakan
itu dengan nada suara pelan.
Mendengar ucapan sahabatnya dengan segara pemuda itu
berkata. “Apa! Maksud kamu apa dengan kata-katamu barusan?” menatap tajam ke
arah Aldo “Apa kamu mengira aku menyukai sesama jenis.” Memainkan kedua
tangannya di hadapan Aldo “Sudah gila kamu ya!” melempar sapu tangan yang
tengah di siapkan di atas mejanya ke arah wajah Aldo.
Melihat sahabatnya
melemparnya dengan sapu tangan dengan segera Aldo menangkap sapu tangan
tersebut, sebelum mengenai wajahnya.
Pemuda itu kembali berkata. “Namaku Arga Wirawan Hadi. Keluarga
yang paling terkaya di Bali menyukai sesama jenis. Ini adalah kata konyol yang
pernah keluar dari mulutku.” Arga melihat ke arah Aldo yang kini tengah melihat
ke arahnya “Aku pemuda yang sangat tampan di sukai dan di gemari oleh para kaum
Hawa.” Bangga dengan dirinya sendiri “Memiliki otot besar dan tubuh yang kekar,
masa memilih menyukai lawan jenis.” Tertawa sambil melihat ke arah Aldo “Itukan
namanya gila!”
Dan memang benar semua yang tengah Arga katakan. Selain kaya,
tampan bertubuh atletis. Arga juga satu-satunya pewaris dari semua kekayaan
kedua orang tuanya.
Arga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan juga kaya.
Dia berdarah Jerman, Bali. Ibunya berasal dari Jeraman sementara Ayahnya warga
asli Bali. Kedua orang tuanya adalah seorang pebisnis yang terhandal di Bali.
Keluarga Wirawan Hadi memiliki usaha Grup Waka. Basis Operasional
di Bali. Mendirikan PT. Gde & Kadek Brothers. Bidang usaha pari wisata
(penginapan, biro perjalanan,restorand kefe, kapal pesiar, dan penerbangan). Group
Bounty (Bounty vila Rumah Manis, Bounty Cruises, Paddy’s Cafe, Sari Club,
__ADS_1
Bounti Mall. Dan masih banyak usaha yang lainnya, dan salah satu yang peling
penting. Rumah Sakit yang ditempati Alina bekerja sebagai Dokter bedah, itu
adalah salah satu Rumah Sakit, milik keluarga Wirawan Hadi yang terletak di
kota Pare-pare. Di pare-pare keluarga Wirawan Hadi juga memiliki rumah mewah
yang tidak jauh dari Rumah Sakit miliknya.
Malam semakin larut, para pengunjung Cafe mulai pulang
kerumah masing-masing. Namun tidak dengan kedua pemuda tampan yang berada di
dalam Cafe tersebut. Kedua pemuda itu tak berhenti berbicara dan bercanda
hingga lupa waktu untuk pulang. Melihat itu, Alina berjalan mendekat ke arah ke
dua pemuda tersebut.
Dengan sangat sopan Alina pun berkata. “Maaf, Tuan Cafenya
sudah mau kami tutup.” Tersenyum tipis yang membawa kesan ramah terhadap
pelanggannya.
Mendengar ucapan Alina. Aldo melihat sekelilin dalam ruangan
Cafe dan memang benar saat ini, hanya mereka berdua yang berada di dalam Cafe,
bahkan sebagian kursi tengah berada di atas meja, karna para pelayan yang
lainnya mulai membersikan dalam ruangan Cafe.
Dengan segaera Aldo berkata. “Oh, astaga, karna ke asyikan
berbicara kami lupa waktu maaf kan kami Mba.” Aldo mulai berangjak dari
Dengan santainya Arga
berkata. “Aku masih mau minum kopi di sini. Karna minum kopi di sini, aku tak
merasa mengantuk, tolong buatkan aku secankir kopi yang seperti tadi ya Mba
pelayan.” Melihat sekilas ke arah Alina lalu kembali melihat ke arah Hapenya.
Mendengar ucapan pemuda yang ada di hadapannya, dengan
segara Alina berkata. “Maaf, Cafenya sudah mau kami tutup.” mengulang kata “Dan
soal kopi yang ingin anda pesan, untuk saat ini stoknya sudah habis. Namun untuk
besok kami akan usahakan kopi itu ada lagi.”
Mendengar ucapan Alina, Aldo mengeluarkan beberapa lembar
uang dari dalam dompetnya untuk membayar tagihan minuman dan makanan yang
tengah Ia makan bersama Arga. setelah itu Aldo menarik tangan Arga untuk segera
keluar dari dalam Cafe. “Ayo Ga, kita pulang! Ini memang sudah sangat larut. Besok
pagi kita harus segera menemui kelien kita.
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aldo. Arga pun
berdiri dari duduknya dengan rasa sedikit kesal, karna keinginnannya tidak
terwujudkan. Itulah Arga pemuda yang palin tidak suka dengan apa yang dia
__ADS_1
inginkannya, namun tidak terwujudkan ibarat kata Arga sangat membenci kata
penolakan. Karna mulai dari kecil hingga dewasa semua keinginan Arga selalu di
turuti oleh kedua orang tuanya. Namun Arga bukanlah pemuda yang cengen dan
sombong, dengan apa yang semua dimiliki kedua orang tuanya. Justru Arga adalah
pemuda yang sangat baik, cuman terkatang Arga selalu merasa ada yang aneh
dengan dirinya, semenjak pencangkokan jantung yang pernah Arga jalani, sikapnya
mulai berubah-ubah dan itulah yang selalu membuatnya merasa sangat kesal.
Melihat kedua pemuda berjalan keluar dari dalam Cafe. Alina pun
tak berhenti mengumpat sendiri. Mungkin karna merasa sangat kesal dengan pemuda
yang satunya itu. “Dasar pemudah aneh! Memang dia fikir dirinya itu siapa?”
tertawa “Mengatai aku pelayan jelek. Memangnya dia merasa dirinya itu tampan? Hem,
tampan seperti itu ma, ramai di pasaran.” Setelah mengatakan itu Alina berbalik
badan.
Dan tampa sepengetahuan Alina pemuda yang dia katai, berdiri
tepat di belakangnya. Melihat wajah pemuda yang tengah berdiri tepat di
belakangnya, Alina memegan dadanya karna merasa sangat terkejut.
Alina pun berkata. “Kamu lagi! Ngapain kamu kembali lagi?”
sedikit meninggikan nada suaranya.
Tampa menjawab pertanyaan Alina pemuda itupun lansung mengambil
hapenya yang tertinggal di atas meja. Tampa bergerak dari tempatnya berdiri dan
itu membuat wajah Alina dan wajah pemuda itu, berdekatan sangat dekat, dan itu
membuat jantung keduanya berdetak tak karuan.
Setelah mengambil Hapenya pemuda itupun berlalu dari hadapan
Alina. Namun belum bebarapa langkah pemuda berjalan. Pemuda itu kembali
berbalik arah melihat Alina, lalu berkata.
“Apa yang barusan kamu katakan soal wajahku?” menatap santai
ke arah wajah Alina “Ham, wajahku ramai di pasaran ya? Benarkah?”tersenyum
sinis.
Setelah mengatakan itu pada Alina pemuda itu melanjutkan
langkahnya keluar dari dalam Cafe.
*****
Sewaktu berjalan keluar dari dalam Cafe. Arga dan Aldo
berjalan ke arah mobil. Namun sebelum Arga membuka pintu mobilnya. Arga
mencari-cari keberadaan hapenya itu.
“Ah, hapeku tertinggal di dalam.” Menutup wajahnya dengan ke
__ADS_1
dua tangannya “Tunggu, aku masuk sebentar mengambilnya.” Kembali berjalan masuk
ke dalam Cafe.